Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
Cahaya biru dari layar laptop berukuran empat belas inci itu menjadi satu-satunya sumber penerangan yang hidup di dalam kamar pojok lantai bawah yang sempit. Jam di sudut layar komputer menunjukkan pukul dua dini hari, namun Kirana sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda ingin memejamkan mata.
Di atas meja lipat kecil yang disandarkan ke dinding, puluhan lembar catatan tulis tangan berserakan rapi di sebelah buku-buku tebal bertemakan manajemen bisnis, strategi pemasaran digital, dan dasar-dasar akuntansi keuangan mikro. Buku-buku itu dibeli secara daring menggunakan uang tunai hasil penjualan maharnya beberapa hari lalu, dikirim langsung ke sebuah alamat penjemputan di luar rumah agar tidak terlacak oleh staf rumah tangga keluarga Pratama.
Sejak memutuskan untuk melepaskan seluruh fasilitas suaminya, Kirana tahu persis bahwa modal uang tunai di dalam amplop cokelat itu tidak akan bertahan selamanya. Jika ia ingin benar-benar melangkah keluar dari rumah besar ini tanpa menoleh ke belakang dan bertahan hidup di dunia nyata, ia membutuhkan senjata yang jauh lebih kuat daripada sekadar rasa sakit hati: sebuah keahlian profesional dan kemandirian finansial yang mutlak.
Ia tidak ingin lagi menjadi wanita naif yang hanya duduk menunggu di rumah, mengandalkan belas kasihan atau nafkah dari seorang suami yang sibuk mengejar kejayaan korporat.
Di layar laptopnya, sebuah kursus *online* bersertifikasi internasional tentang manajemen bisnis ritel sedang diputar dengan kecepatan normal. Suara instruktur asing yang menjelaskan konsep rantai pasokan dan analisis keuangan mengalir melalui *earphone* yang terpasang di telinganya. Kirana mendengarkan setiap kalimat dengan konsentrasi penuh, mencatat poin-poin penting menggunakan pena hitam dengan gerakan tangan yang cepat dan teratur.
Setiap detik yang ia habiskan di depan layar itu adalah bentuk pelarian sekaligus pembangunan benteng pertahanan dirinya. Di saat otaknya bekerja keras mencerna angka-angka rumit dan strategi bisnis, ruang untuk mengenang masa lalunya yang hancur perlahan-lahan menyempit.
*Tok... tok... tok...*
Suara ketukan pelan di pintu kamar pojok menghentikan gerakan tangan Kirana sejenak.
Wanita itu bahkan tidak menoleh ke arah pintu. Ia tahu persis siapa pemilik tangan yang mengetuk pintu itu dengan frekuensi yang hampir sama setiap harinya selama seminggu terakhir.
Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Arka berdiri dengan kepala bersandar lemas pada dinding koridor yang dingin. Pria itu sudah mengenakan piyama tidur, rambutnya basah oleh keringat dingin, dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat dari hari ke hari. Sudah belasan jam Kirana mengurung diri di dalam ruangan itu tanpa keluar barang sedetik pun—tidak untuk makan siang, tidak untuk makan malam, bahkan tidak untuk sekadar menghirup udara segar di luar jendela.
"Kirana..." suara Arka terdengar serak, parau, dan nyaris seperti bisikan putus asa yang tertahan di tenggorokan. "Buka pintunya, kumohon... Kamu sudah di dalam sana selama lebih dari empat belas jam. Bi Inah bilang kamu belum makan apa pun sejak pagi kemarin. Kalau kamu membenciku, hukum aku... tapi jangan sakiti tubuhmu sendiri seperti ini."
Tidak ada jawaban dari dalam kamar.
Suara instruktur dari *earphone* yang dikenakan Kirana terus mengalir pelan, seolah-olah mengabaikan kehadiran pria yang sedang memohon di balik daun pintu.
Arka merosot perlahan, duduk bersimpuh di atas lantai marmer koridor yang dingin dengan lutut menekuk ke dada. Ia membenamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya, sementara bahunya bergetar hebat menahan isak tangis yang tak lagi bersuara.
"Aku mohon..." bisik Arka lagi, air matanya menetes membasahi lantai. "Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku... Apakah kamu ingin aku pergi dari rumah ini? Apakah kamu ingin aku sujud di kakimu? Asalkan kamu tidak mengurung diri dan menyiksa dirimu seperti ini... aku akan menuruti apa pun, Kirana..."
Di dalam kamar pojok, Kirana menarik napas dalam-dalam. Jari-jarinya yang memegang pena sedikit mengerat, dan untuk sepersekian detik, tatapannya menerawang kosong ke arah dinding putih di hadapannya. Suara tangisan tertahan dari suaminya di luar sana terdengar sangat jelas menembus kayu pintu yang tipis.
Ada rasa perih yang sempat mencubit dinding hatinya—sisa-sisa kenangan dari masa lalu ketika suara itu dulunya adalah tempat ia berlindung dan mencari rasa aman.
Namun, Kirana dengan cepat menggelengkan kepalanya pelan. Ia mengangkat tangan kirinya, mencabut *earphone* dari telinganya, lalu menatap layar laptop yang masih menampilkan grafik analisis keuangan yang rumit. Tidak ada ruang bagi rasa iba. Rasa iba pada masa lalu adalah racun yang membunuh kewarasannya perlahan-lahan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tanpa bersuara sedikit pun, Kirana kembali memasang *earphone* ke telinganya, mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer, dan meneruskan catatan belajarnya dengan fokus yang dingin dan tak tergoyahkan.
Di luar pintu, setelah menunggu sekian lama dalam keheningan yang menyiksa tanpa mendapatkan respons apa pun, Arka akhirnya menyadari bahwa usahanya sekali lagi berbuah sia-sia. Dengan langkah gontai dan tubuh yang seolah kehilangan seluruh tulangnya, pria itu bangkit berdiri, menyeret kakinya kembali ke lantai atas—meninggalkan dirinya sendiri di dalam kuburan penyesalan yang ia bangun di atas keangkuhannya sendiri, sementara Kirana di dalam kamar sempit itu terus menempa dirinya menjadi wanita baru yang tak tersentuh oleh air mata maupun ratapan.