Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Night
Malam hari semakin larut. Night masih belum tidur. Dia berdiri menyandar di pagar balkon sambil meminum kopi dan menatap langit Kosmik yang sangat indah, dipenuhi pendar cahaya bintang yang menenangkan.
Ayyasy yang kebetulan lewat di koridor lantai dua melihat sosok Night sendirian di sana. Ia pun melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Belum tidur, Night? Besok kan kita harus persiapan latihan lagi," panggil Ayyasy pelan sambil ikut menatap langit.
Night tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya. "Gak bisa tidur, Yas. Langit malam ini mirip banget sama langit waktu gue masih kecil... tenang, tapi bikin kenangan lama bermunculan."
Ayyasy menoleh, menangkap raut kesedihan yang mendalam di wajah Night. "Lu lagi ada masalah? Kalau mau cerita, gue siap dengerin kok."
Night menghela napas panjang, menghembuskan uap kopi hangatnya ke udara malam. Ia mengangguk pelan, membuang pandangannya jauh ke masa lalu.
"Sepuluh tahun yang lalu," mulai Night bercerita dengan sudut pandangnya sendiri. "Waktu umur gue masih lima tahun, gue tinggal bertiga bareng ayah sama ibu gue. Tapi... bisa dibilang rumah itu gak pernah berasa kayak rumah. Ayah gue jarang pulang. Dia seorang pemabuk dan penjudi berat. Setiap kali pulang habis kalah judi, dia cuma bisa marah-marah, ngamuk, dan ngambil uang ibu gue secara paksa. Ibu gue sering dipukuli dan disakiti di depan mata gue sendiri, sementara gue cuma bisa sembunyi di sudut kamar sambil nangis, gak bisa berbuat apa-apa."
Ayyasy terdiam, mendengarkan dengan penuh rasa empati.
"Ibu gue kerja keras sendirian dari pagi sampai malam demi bisa kasih gue makan, sampai fisiknya makin hari makin lemah dan sakit-sakitan," lanjut Night, suaranya terdengar makin berat. "Pas itu. Pas malam yang paling mengerikan dalam hidup gue. Ayah gue pulang dengan emosi yang meledak-ledak. Dia kalah judi besar-besaran. Tapi kali ini, dia gak cuma mau ngambil uang... dia secara gila berniat mau seret dan jual gue ke pasar gelap demi bayar utang-utangnya."
Ayyasy membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ibu pasang badan," bisik Night, matanya memerah menahan gemuruh emosi. "Dengan tubuhnya yang kurus dan sakit-sakitan, ibu peluk gue rapat-rapat, nahan serangan ayah dan menolak menyerahkan gue. Pertengkaran hebat terjadi malam itu. Ayah yang udah kalap akhirnya membongkar lemari, merampas semua emas kawin dan sisa uang simpanan ibu, lalu pergi ninggalin rumah gitu aja."
Night menunduk, meremas cangkir kopinya. "Gak lama setelah ayah pergi... di depan mata gue, ibu menghembuskan napas terakhirnya. Ibu meninggal malam itu juga karena fisiknya yang udah gak sanggup nahan sakit dan trauma. Gue yang waktu itu masih lima tahun cuma bisa nangis dan terpaku. Tetangga sekitar langsung datang, membantu memandikan, mengkafankan, mensholatkan, dan menguburkan ibu malam itu juga."
Suasana balkon terasa sangat hening. Ayyasy tidak menyangka di balik sosok Night yang tenang dan kuat, tersimpan masa lalu yang begitu kelam.
"Gue bingung harus ke mana setelah ibu meninggal," sambung Night lagi. "Tapi malam itu juga, ada seorang nenek tua datang nyamperin gue. Dia ngajak gue tinggal di rumah gubuk tuanya yang sangat sederhana. Nenek itu merawat gue dengan tulus, kasih gue makan, dan membiayai sekolah gue dari nol sampai gue lulus SD. Gue udah anggap nenek itu sebagai satu-satunya keluarga yang gue punya."
Night menghentikan ceritanya sejenak, lalu merogoh saku jaketnya. "Tapi takdir berkata lain. Tepat seminggu sebelum gue masuk SMP, Nenek tutup usia. Sebelum meninggal, dia ngasih gue sebuah warisan peninggalan..."
Night mengeluarkan sebuah kartu hitam tebal mengkilap dengan ukiran simbol khusus dan menyodorkannya ke Ayyasy.
Ayyasy mengambil kartu tersebut dan memperhatikannya secara saksama. Matanya mendadak membelalak sempurna, lidahnya kufur seketika.
"B-bentar... ini kan Black Card khusus pimpinan tertinggi organisasi besar Zenith! Berarti lu kaya raya dong?! Ini kan cuma dimiliki sama petinggi mafia terbesar di kota Zenith!" seru Ayyasy kaget setengah mati.
Night terkekeh pelan melihat reaksi kaget Ayyasy. "Iya, gue juga kaget setengah mati waktu itu. Sebelum wafat, Nenek nyuruh gue buat pergi ke Kota Zenith dan menempati rumah nomor 10. Dia nyuruh gue merawat dan tinggal di sana. Gue yang gak tahu apa-apa akhirnya nurut dan pindah ke Zenith."
Night meneruskan penjelasannya dari sudut pandangnya. "Samle di sana, gue mikir rumah nomor 10 itu bakal kayak rumah biasa. Dan bener aja, wujudnya rumah komplek dua lantai dengan halaman belakang yang sangat luas. Tapi yang bikin kaget, saat gue masuk, halaman dan ruang tamunya udah dipenuhi puluhan pria berjubah dan berjas hitam yang berdiri berbaris rapi. Mereka tunduk dan nyambut gue sebagai tuan baru. Ternyata... Nenek gue dulu adalah ketua utama dari organisasi mafia terpandang di Zenith."
Ayyasy menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar tidak menyangka fakta di balik kehidupan rekannya itu. "Gila... jadi selama ini lu tinggal di markas mafia besar?"
"Iya, gue tinggal di rumah itu sampai sekarang," jawab Night tersenyum tipis. "Kalau gue butuh bantuan, keamanan, atau fasilatas apa pun, gue tinggal telepon seluruh pasukan mafia peninggalan Nenek. Tapi... gue orangnya mandiri. Gue gak mau terus-terusan bergantung sama nama besar Nenek atau kekuatan pasukan itu kalau gue masih bisa berdiri pakai kaki gue sendiri."
Night memasukkan kembali black card tersebut ke dalam jaletnya dan menatap Ayyasy mantap. "Pahitnya masa lalu itu yang nempa gue sampai bisa punya kekuatan Miracle dan berdiri di sini bareng kalian semua. Gue mau lindungi teman-teman gue, biar gak ada lagi orang yang harus kehilangan keluarganya kayak gue dulu."
Ayyasy menepuk bahu Night dengan penuh rasa hormat. "Lu keren benget, Night. Gue bangga bisa bertarung di samping lu. Sekarang, lu gak usah merasa sendirian lagi. Kita semua—32 Miracle—adalah keluarga lu."
Night menoleh ke arah Ayyasy, lalu mengangguk tulus. Rasa sesak di dadanya perlahan terangkat, digantikan oleh kehangatan dan kesiapan penuh untuk menghadapi pertempuran besar melawan Darking esok hari.