NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir

​Kamar di lantai tiga kedai The Golden Clam terasa pengap, namun Muzan Kibutsi sama sekali tidak mempedulikannya. Ia duduk bersila di atas ranjang kayunya, jubah hitamnya disampirkan di sandaran kursi. Mata hitamnya terpejam rapat. Di sekelilingnya, dunia nyata memudar, digantikan oleh jangkauan pandangan x-ray hitam putih 360 derajat yang dipancarkan melalui mata bonekanya, Neji Hyuga.

​Neji saat ini berdiri tanpa suara di atas atap genteng merah sebuah bangunan kosong yang berbatasan langsung dengan tembok tinggi pangkalan Angkatan Laut Cabang 153. Tidak ada satu pun prajurit jaga yang menyadari keberadaannya. Berkat penambahan 250 Poin Kekuatan Mental dari Achievement pelayaran, Muzan kini bisa mempertahankan sinkronisasi Byakugan dalam waktu yang lama tanpa merasakan sakit kepala sedikit pun. Otaknya memproses ratusan aliran informasi visual bagaikan komputer super yang baru saja di- upgrade.

​Melalui Byakugan, Muzan mengamati drama yang sedang berlangsung di jalanan dekat alun-alun kota.

​Monkey D. Luffy, sang tokoh utama dunia ini, baru saja melompat melintasi tembok pangkalan dan berhadapan langsung dengan Roronoa Zoro yang terikat di salib. Muzan menonton dengan saksama interaksi tersebut. Ia melihat seorang gadis kecil bernama Rika memanjat pagar, menawarkan dua buah onigiri (nasi kepal) yang dibuatnya dengan susah payah untuk Zoro.

​Lalu, sesuai dengan ingatan Muzan akan alur asli cerita, Helmeppo—putra Kapten Morgan yang berpakaian rapi dan berwajah arogan—muncul bersama beberapa prajurit. Helmeppo merebut onigiri itu, membuangnya ke tanah, dan menginjak-injaknya hingga hancur bercampur debu tanah. Gadis kecil itu menangis dan dilempar keluar lapangan oleh prajurit Angkatan Laut.

​Muzan, melalui tubuh Neji yang dingin, hanya mengamati. Tidak ada kemarahan atau rasa keadilan yang terpantik di hatinya melihat penindasan Helmeppo.

​Helmeppo adalah parasit yang hidup dari reputasi ayahnya, batin Muzan menganalisis. Tapi parasit seperti dialah yang menggerakkan roda konflik. Tanpa kesombongannya, Zoro tidak akan pernah ditangkap, dan Luffy tidak akan pernah memiliki alasan kuat untuk menghancurkan pangkalan ini.

​Setelah Helmeppo pergi dengan tawa meremehkan, Muzan melihat Luffy berjalan mendekati Zoro, memungut onigiri yang sudah hancur lebur bersimbah tanah itu, dan menyuapkannya ke mulut Zoro atas permintaan sang pendekar pedang.

​Tekad yang menakutkan, pikir Muzan. Orang-orang seperti mereka rela memakan tanah demi memegang janji. Mereka digerakkan oleh prinsip abstrak seperti harga diri dan mimpi. Mereka adalah pedang bermata dua yang sangat tajam, namun mudah dimanipulasi jika kau memahami pola pikir mereka.

​Muzan menggeser pandangan Byakugan-nya mengikuti pergerakan Luffy dan Coby yang menuju ke sebuah restoran di kota. Di sana, Helmeppo dengan congkaknya mengumumkan kepada para pelanggan bahwa ia akan melanggar janjinya pada Zoro dan berencana mengeksekusi pendekar pedang itu besok pagi, alih-alih melepaskannya setelah sebulan seperti yang disepakati.

​Bagi Luffy, kebohongan dan ketidakadilan terhadap temannya adalah dosa yang tak terampuni.

​Muzan melihat Luffy meregangkan lengannya ke belakang—memanfaatkan kekuatan Gomu Gomu no Mi—dan menghantamkan tinju karetnya tepat ke wajah Helmeppo, membuat pemuda arogan itu terpental menabrak meja kayu hingga hancur. Kepanikan meledak di dalam restoran. Helmeppo, dengan hidung berdarah dan menangis tersedu-sedu, berlari kabur sambil berteriak bahwa ia akan melaporkan hal ini kepada ayahnya, Kapten Morgan.

​Muzan tersenyum tipis di dalam kamarnya yang gelap. "Sempurna. Umpan telah dimakan. Kekacauan akan segera dimulai."

​Muzan menarik sebagian kesadarannya dari Neji dan membuka matanya sendiri. Ia menatap jam dinding. Sore telah berganti senja. Besok pagi adalah waktu eksekusi Zoro, dan juga waktu di mana Morgan akan mengerahkan seluruh pasukannya ke lapangan terbuka. Itu adalah jendela waktu yang paling sempurna untuk menyusup.

​"Sistem," panggil Muzan.

​«"Sistem siap, Host."»

​"Aku ingin mengonfirmasi sesuatu. Saat ini, sistem mampu mengonversi mata uang Belly fisik secara langsung menjadi Counter Belly jika aku menyentuhnya secara langsung. Jika aku menggunakan bonekaku untuk menyentuh uang tersebut, apakah uang itu bisa terserap ke dalam sistem?"

​«"Memproses pertanyaan... Konfirmasi: Ya. Boneka (Puppets) dianggap sebagai ekstensi fisik dan spiritual dari Host. Host memiliki radius Inventory interaktif sejauh 5 meter dari posisi fisik setiap boneka yang sedang dipanggil. Semua objek mati atau mata uang yang disentuh oleh boneka dapat langsung ditransfer ke dalam sistem, selama Host menghendakinya melalui perintah mental."»

​Mata Muzan berkilat oleh ambisi. "Bagus. Sangat brilian. Dengan begini, aku bahkan tidak perlu membawa tubuh lemahku ini ke dalam zona bahaya hanya untuk memungut koin."

​Malam itu, Muzan menghabiskan waktunya bermeditasi, memfokuskan pikirannya untuk melatih peralihan cepat antara dua boneka. Ia mensimulasikan skenario di mana ia harus mengendalikan Neji untuk membuka brankas, sementara di detik yang sama, ia harus melepaskan Zenitsu untuk melakukan serangan kilat. Dengan 336 Poin Mental yang dimilikinya, Muzan menemukan bahwa ia tidak perlu memegang kendali 100% pada kedua boneka di saat bersamaan. Ia bisa memberikan "Perintah Latar Belakang" (Background Command) pada satu boneka, membiarkan sistem mengeksekusi gerakan dasar yang berulang, sementara ia fokus pada boneka yang membutuhkan respons dinamis.

​Keesokan paginya. Fajar menyingsing di Kota Shells, namun udara terasa sangat berat.

​Penduduk kota mengunci pintu rumah mereka rapat-rapat. Tidak ada satu pun yang berani turun ke jalan. Suara derap sepatu laras prajurit Angkatan Laut bergema di seluruh penjuru pangkalan Cabang 153. Ratusan prajurit berbaju putih dan bersenapan berbaris rapi di halaman tengah pangkalan, membentuk formasi mengelilingi salib tempat Roronoa Zoro terikat.

​Di kamar penginapan, Muzan berdiri di dekat jendela. Ia telah mengenakan jubah hitamnya, memastikan wajahnya tertutup kerudung, sekadar tindakan pencegahan jika ada penembak jitu yang mengintai dari kejauhan.

​"Waktunya dimulai. Keluarkan Neji dan Zenitsu."

​Dua pilar cahaya bermanifestasi di dalam ruangan sempit itu. Di sebelah kanannya, Neji Hyuga berdiri tegak dengan mata putihnya yang kosong. Di sebelah kirinya, Zenitsu Agatsuma berdiri dengan kepala tertunduk, berada dalam kondisi tidur lelapnya, tangan kanannya sudah bertumpu pada gagang pedang Nichirin.

​Muzan mentransfer kesadarannya. Tiga puluh persen kepada Neji, dan sepuluh persen kepada Zenitsu sekadar untuk membuatnya standby di atas atap, sementara sisa enam puluh persen fokus pada observasi keseluruhan.

​Neji segera melesat keluar dari jendela dengan gerakan shunpo yang nyaris tak bersuara, melompati atap-atap rumah hingga ia tiba kembali di tembok belakang markas Angkatan Laut. Zenitsu menyusul tak lama kemudian, mengambil posisi bersembunyi di balik menara jam kota yang memiliki pandangan langsung ke arah lapangan eksekusi.

​Melalui Byakugan Neji, Muzan melihat situasi pangkalan. Seluruh lorong, koridor, dan ruang penjagaan di lantai bawah markas benar-benar kosong melompong. Kapten Morgan, dalam arogansi dan kemarahannya karena ada warga sipil yang berani memukul putranya, telah memerintahkan setiap prajurit di pangkalan itu untuk berkumpul di lapangan guna menyaksikan eksekusi sang Pemburu Bajak Laut. Tidak ada seorang pun yang menjaga ruang bawah tanah.

​Bahkan jika ada, mereka bukanlah ancaman bagi Byakugan.

​"Neji, masuk ke ruang bawah tanah. Amankan brankasnya," perintah Muzan dalam hatinya.

​Tubuh Neji meluncur turun dari tembok seperti bayangan. Ia menyusup melalui jendela ventilasi yang terbuka di bagian belakang dapur pangkalan, mendarat dengan suara seringan jatuhnya bulu burung. Berjalan di lorong pangkalan, Neji bahkan tidak perlu mengintip di balik sudut dinding; penglihatan 360 derajatnya memastikan tidak ada titik buta.

​Sementara Neji menuruni tangga menuju ruang bawah tanah, Muzan memfokuskan pendengaran Zenitsu ke arah alun-alun lapangan.

​Di lapangan eksekusi, situasi telah mencapai titik didih.

​Kapten Morgan, dengan kapak besinya yang mengerikan mengkilap di bawah sinar matahari pagi, berdiri menjulang di depan barisan pasukannya. Rahang bawah besinya (seperti halnya Barts, namun versi Morgan jauh lebih kokoh karena buatan militer) bergerak saat ia berteriak memberi komando.

​Di depan Morgan, Helmeppo bersembunyi di balik kaki ayahnya sambil menunjuk ke arah Zoro.

​Dan di tiang salib itu, Coby sedang menangis sambil mencoba membuka ikatan tali tebal yang melilit tubuh Zoro dengan tangan gemetar. Peluru nyasar baru saja melewati kepala Coby, ditembakkan oleh prajurit yang diperintahkan Morgan.

​"Kalian pikir kalian bisa melawan otoritas keadilanku?!" raung Kapten Morgan, suaranya menggema ke seluruh alun-alun. "Aku adalah Kapten Angkatan Laut! Apapun yang kulakukan adalah benar! Pangkat adalah segalanya di dunia ini! Bidik mereka berdua!"

​Ratusan prajurit Angkatan Laut, meski wajah mereka berkeringat dingin karena keraguan, tidak punya pilihan selain mengangkat senapan flintlock mereka dan membidik lurus ke arah Zoro dan Coby. Jika mereka menolak, Morgan akan menebas mereka menjadi dua bagian saat itu juga.

​"T-Tunggu! Luffy belum kembali membawa pedangku!" teriak Zoro, matanya membelalak melihat ratusan moncong senapan mengarah padanya. Di saat seperti ini, bahkan Zoro yang sekuat monster pun tidak akan selamat dari rentetan ratusan peluru sekaligus dalam keadaan terikat.

​Coby menutup matanya, memeluk tubuh Zoro sambil menangis pasrah. "Maafkan aku, Zoro-san... Luffy-san..."

​"TEMBAAAAK!!!" teriak Morgan tanpa ampun.

​DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

​Ratusan tembakan meledak secara bersamaan. Asap mesiu mengepul tebal menutupi barisan penembak. Suara desingan peluru timah membelah udara, meluncur dengan kecepatan mematikan menuju sasarannya.

​Namun, beberapa saat sebelum peluru-peluru itu menembus daging Coby dan Zoro, sebuah siluet manusia melompat jatuh dari atas atap gedung markas dengan kecepatan tinggi. Siluet itu mendarat tepat di depan salib kayu.

​Pemuda bertopi jerami. Monkey D. Luffy.

​Luffy merentangkan kedua tangan dan kakinya lebar-lebar, membusungkan dadanya ke depan, mengambil napas dalam-dalam hingga perutnya menggembung seperti balon raksasa.

​"GOMU GOMU NO... FUSEN (BALON KARET)!!!"

​Ratusan peluru timah itu menghantam tubuh Luffy. Alih-alih menembus kulitnya dan menciptakan lautan darah, peluru-peluru itu justru tertahan oleh kulit dan ototnya yang telah berubah menjadi karet elastis yang sangat padat. Tubuh Luffy meregang ke dalam, menyerap seluruh momentum kinetik peluru-peluru tersebut, sebelum akhirnya merenggang kembali ke luar dengan kekuatan lenting yang luar biasa.

​"KEMBALIKAN!!" teriak Luffy sambil tertawa lebar.

​SYUUUT! TRANG! BUGH!

​Ratusan peluru itu memantul kembali ke segala arah. Para prajurit Angkatan Laut menjerit panik, berjatuhan saat peluru-peluru nyasar mengenai senapan dan baju pelindung mereka. Asap mesiu berhamburan.

​Morgan melebarkan matanya tak percaya. Rahang besinya berderit. "B-Bocah itu... Dia pemakan Buah Iblis! Sialan, jangan panik! Isi ulang senapan kalian!"

​Di ruang bawah tanah, Muzan yang merasakan getaran tembakan dari atas, mengarahkan Neji untuk mempercepat langkahnya.

​Neji akhirnya tiba di ujung koridor bawah tanah. Di hadapannya, berdiri sebuah pintu brankas baja raksasa yang tertanam langsung ke dalam dinding batu solid. Pintunya setebal sepuluh sentimeter, dilindungi oleh sistem penguncian mekanis roda gigi ganda yang sangat rumit. Membuka pintu ini secara paksa dengan ledakan atau memotongnya dengan pedang (kecuali oleh Zoro pasca- timeskip) akan memakan waktu berjam-jam dan membuat keributan yang pasti akan menarik perhatian seluruh pangkalan.

​Tapi bagi Muzan, ini hanyalah permainan anak-anak.

​Muzan mengaktifkan Byakugan Neji. Penglihatannya menembus pelat baja tebal itu. Di dalam pintu, ia bisa melihat susunan delapan roda gigi tembaga, per-per spiral, dan lima silinder pengunci (pin) yang menahan pintu agar tidak terbuka.

​Untuk membuka pintu ini, seseorang membutuhkan kunci khusus yang saat ini tergantung di pinggang Kapten Morgan, atau mereka harus merusak mekanisme pin tersebut dari dalam.

​"Seni bela diri klan Hyuga. Juken (Tinju Suci)," gumam Muzan dalam benaknya. "Teknik ini dirancang untuk memancarkan chakra menembus kulit musuh dan langsung menyerang organ dalam tanpa melukai bagian luar. Jika diaplikasikan pada benda mati..."

​Melalui Neji, Muzan memfokuskan energi staminanya (pengganti chakra di dunia ini) ke telapak tangan kanan boneka tersebut. Neji mengambil kuda-kuda rendah. Jari telunjuk dan jari tengahnya disatukan.

​Matanya yang berhias urat menatap tajam ke titik buta di balik pintu baja—tepat di mana lima silinder pengunci itu berjejer.

​Neji melangkah maju secepat kilat dan menghantamkan dua jarinya ke permukaan pintu baja luar.

​TAP!

​Suara ketukannya sangat pelan, nyaris tak terdengar. Permukaan baja di luar sama sekali tidak penyok atau lecet sedikit pun.

​Namun, Muzan memancarkan gelombang energi yang sangat tajam dan terkonsentrasi tepat menembus pelat baja, langsung mengenai mekanisme di dalamnya.

​KRAK... KLING... KLINTING!

​Suara logam patah bergema samar dari dalam pintu. Gelombang Juken itu telah menghancurkan kelima silinder pengunci mekanis menjadi serpihan kecil, merusak per spiral pengamannya dalam satu serangan internal yang sempurna.

​Neji meraih tuas kemudi roda brankas, dan dengan sedikit dorongan santai, roda itu berputar dengan bebas.

​KREEEK...

​Pintu baja berat itu terbuka ke luar.

​Hembusan udara pengap dan aroma debu kertas serta karat tembaga menyambut hidung Neji. Namun, pemandangan di dalam ruang brankas itu cukup untuk membuat mata Muzan (di kedainya) melebar penuh kepuasan.

​Ruangan berukuran empat kali empat meter itu dipenuhi oleh tiga peti kayu besar yang tutupnya terbuka. Di dalamnya, tumpukan uang kertas Belly yang diikat rapi tertata bagaikan batu bata. Di sudut ruangan, ada kantong-kantong kulit berisi koin emas dan beberapa perhiasan mutiara hasil sitaan paksa. Ini adalah darah dan keringat rakyat Kota Shells yang diperas oleh Morgan selama bertahun-tahun.

​Tanpa membuang waktu, Muzan memerintahkan Neji untuk melangkah masuk dan merentangkan kedua tangannya.

​"Sistem. Serap semuanya."

​Begitu ujung jari Neji menyentuh tumpukan uang kertas pertama, sebuah cahaya keemasan langsung menyelimuti seluruh isi brankas tersebut. Dalam hitungan kurang dari lima detik, puluhan ribu lembar uang kertas, koin emas, dan perhiasan menguap menjadi partikel digital dan tersedot ke dalam tubuh boneka itu, dikirimkan langsung melintasi ruang angkasa ke dalam Inventory Muzan.

​Layar holografik sistem di hadapan wajah Muzan di kamar kedai meledak dengan notifikasi beruntun.

​«"Mata uang fisik terdeteksi. Mengonversi ke dalam Belly Counter..."»

«"Nilai Uang Kertas terkonversi: 2.450.000 Belly."»

«"Nilai Koin Emas dan Perhiasan terkonversi: 850.000 Belly."»

«"Total Perolehan: 3.300.000 Belly."»

«"Saldo Belly saat ini: 4.069.850 Belly."»

​Muzan nyaris tertawa. Empat juta Belly! Angka itu setara dengan empat putaran gacha karakter berperingkat Legenda, atau empat puluh putaran karakter Tingkat Kuat. Kekayaan ini adalah fondasi yang selama ini ia idam-idamkan untuk membangun prajurit bayangannya.

​«"DING!"»

«"PENGUMUMAN PENTING: Akumulasi Belly Host telah melampaui 1.000.000."»

«"Fitur [Shop] berhasil dibuka! Host kini dapat membeli item utilitas, peningkatan sistem, dan material perbaikan menggunakan Belly."»

​"Luar biasa," bisik Muzan. Namun ia segera menekan antusiasmenya. Misinya belum selesai. Harta sudah diamankan, kini saatnya merebut 'kepala' sang naga, sebelum bocah karet itu mengambilnya.

​Muzan segera menarik kembali Neji ke dalam Puppet Storage. Ia tidak bisa meninggalkan jejak apa pun di ruang brankas. Siapapun yang menemukan brankas itu terbuka nanti hanya akan mengira itu sihir, karena kuncinya tidak rusak dari luar.

​Kini, Muzan memindahkan sembilan puluh persen fokusnya kepada sang pengguna Petir yang sedang bersembunyi di balik menara jam.

​Di lapangan eksekusi, keadaan semakin kacau balau.

​Luffy baru saja memberikan tiga pedang Zoro yang ia curi dari dalam pangkalan. Zoro dengan cepat memotong talinya sendiri. Kini, Roronoa Zoro berdiri berdampingan dengan Monkey D. Luffy, mengikatkan bandana hitamnya ke kepala, siap untuk membantai siapapun yang menghalangi mereka.

​Melihat pasukannya ragu-ragu dan ketakutan menghadapi pemakan Buah Iblis dan monster pedang, kesabaran Kapten Morgan akhirnya habis. Urat-urat marah bermunculan di kepalanya yang botak.

​"KUMPULAN PRAJURIT SAMPAH! MUNDUR KALIAN SEMUA!" raung Morgan, melangkah maju dengan langkah bumi yang berat.

​Morgan mengangkat tangan kanannya yang berupa kapak besi raksasa tinggi-tinggi ke udara. Otot bisep dan pundaknya menggembung hingga merobek kemeja putihnya.

​"Satu pemakan Buah Iblis dan satu pemburu bayaran rendahan... Jangan berpikir kalian bisa mengalahkan seorang Kapten Angkatan Laut! Aku adalah hukum di pulau ini! Pangkatku membuktikan keunggulanku!"

​Luffy memutar-mutar lengannya, bersiap meluncurkan tinjunya. Zoro menggigit Wado Ichimonji di mulutnya, mengambil posisi Santoryu.

​Morgan mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh ke arah Luffy dan Zoro. Ayunan kapak itu sangat cepat dan memiliki massa yang begitu besar hingga menciptakan tekanan angin kencang yang menggores tanah berbatu sebelum bilahnya benar-benar menyentuh tanah.

​"MATI KALIAN!!!" teriak Morgan dengan mata memerah.

​Di saat itulah, Muzan Kibutsi menarik pelatuknya.

​Di atas menara jam yang berjarak ratusan meter dari lapangan, mata Zenitsu Agatsuma terbuka. Meski pupil madunya masih tertutup bayangan rambut kuningnya, aura statis meledak di sekeliling tubuhnya. Udara di menara jam itu mendadak menjadi sangat kering. Percikan listrik keemasan menyambar-nyambar di udara kosong bagaikan naga kecil yang mengamuk.

​Zenitsu mengambil posisi kuda-kuda merendah. Tangan kirinya memegang sarung pedang, tangan kanannya mencengkeram gagang Nichirin.

​Ia mengambil napas panjang. Udara yang terhisap ke paru-parunya bersuara seperti guntur yang teredam. Oksigen itu dialirkan dengan tekanan gila ke otot-otot kakinya, membuat setiap serat otot di sana bergetar menahan energi kinetik yang masif.

​"Zoro, bersiaplah!" teriak Luffy melihat kapak Morgan yang nyaris membelah kepala mereka.

​Zoro menyilangkan kedua pedangnya untuk menangkis.

​Namun, tak satu pun dari mereka—baik Luffy, Zoro, Morgan, maupun ratusan prajurit Angkatan Laut di sana—sempat bereaksi terhadap apa yang terjadi selanjutnya.

​Terdengar suara gemuruh guntur yang memekakkan telinga dari arah langit, meskipun hari itu sangat cerah tanpa awan sedikit pun.

​ZZZTTTT—BAMMM!

​Sebuah kilatan cahaya keemasan yang luar biasa terang meledak dari atas menara jam. Kilatan itu melesat membelah udara dalam satu garis lurus diagonal yang sempurna, bergerak dengan kecepatan yang memanipulasi ruang dan waktu itu sendiri. Kecepatannya jauh melampaui suara, jauh melampaui kemampuan mata manusia untuk memprosesnya.

​Itu bukanlah bayangan. Itu adalah manifestasi murni dari petir.

​"Pernapasan Petir, Bentuk Pertama: Petir Kilat dan Kilatan (Hekireki Issen)!"

​Suara ledakan sonic boom tercipta ketika Zenitsu memecahkan penghalang suara.

​Di lapangan bawah, kapak raksasa Kapten Morgan tinggal berjarak sepuluh sentimeter dari dahi Luffy.

​Tiba-tiba, sebuah garis cahaya emas yang menyilaukan melintas tepat di antara Luffy dan Morgan. Garis cahaya itu begitu terang hingga memaksa semua orang di lapangan untuk memejamkan mata mereka secara refleks.

​Angin badai yang sangat tajam menyapu lapangan, menerbangkan topi-topi prajurit Angkatan Laut dan membuat jubah Morgan berkibar keras.

​Lalu, keheningan mutlak terjadi selama setengah detik.

​Zoro, yang memiliki refleks sedikit lebih baik dari manusia biasa, adalah orang pertama yang membuka matanya. Pandangannya tidak terarah pada Morgan, melainkan menoleh tajam ke arah belakang Morgan, berjarak sekitar lima belas meter di ujung lapangan.

​Di sana, dalam kepulan debu tipis dan sisa-sisa percikan listrik kuning yang menari-nari di bebatuan, berdiri sesosok pemuda berambut kuning terang. Pemuda itu mengenakan haori segitiga berwarna kuning-jingga. Posisinya membelakangi Morgan, lututnya sedikit ditekuk, dan ia sedang dalam gerakan menyarungkan kembali pedang Nichirin-nya.

​KLIK.

​Suara tsuba pedang yang membentur sarungnya bergema pelan namun sangat jernih di tengah alun-alun yang hening.

​Tepat saat bunyi klik itu terdengar, bunyi mengerikan menyusul dari arah Kapten Morgan.

​KRAAAK... TRANGGG!

​Kapak besi raksasa yang tertanam di lengan Morgan, senjata kebanggaan yang diyakininya tidak bisa dihancurkan, tiba-tiba terbelah menjadi dua dengan potongan diagonal yang sangat mulus bagaikan cermin. Bagian atas kapak seberat puluhan kilogram itu meluncur jatuh, menghantam tanah di samping kaki Luffy dengan dentuman keras.

​Morgan mematung. Matanya melotot menatap potongan pangkal kapaknya. Ia tidak merasakan apa-apa. Ia tidak melihat siapa yang menebasnya. Ia hanya melihat cahaya kuning.

​Lalu, sebuah garis tipis muncul menyilang di dada Morgan yang bidang. Dari bahu kiri hingga pinggang kanannya.

​"U... Uhk..."

​Darah menyembur layaknya air mancur merah dari luka tebasan tersebut. Morgan kehilangan seluruh tenaganya. Matanya berputar ke atas, dan tubuh raksasanya ambruk tertelungkup ke tanah dengan suara deburan keras, tepat di hadapan Monkey D. Luffy yang masih berdiri melongo dengan tangan terangkat.

​Luffy mengerjapkan matanya. Zoro menurunkan pedangnya, keringat dingin membasahi pelipisnya saat ia menatap punggung pemuda berambut kuning itu.

​"Dia..." bisik Zoro tak percaya, ingatannya kembali pada insiden di Toroa semalam. "Pemuda petir itu... Dia mengikutiku ke sini?!"

​Di dalam kamar kedainya, Muzan bersandar di kursi, napasnya memburu akibat ledakan adrenalin ganda—dari mencuri brankas hingga mengeksekusi serangan kilat yang menguras kapasitas otaknya secara ekstrem. Namun, wajahnya tersenyum lebar. Sangat lebar.

​Panel notifikasi sistem di hadapannya berkedip marah dengan warna-warni yang meriah.

​«"DING!"»

«"MISI UTAMA SELESAI: FAJAR ERA BARU."»

«"Evaluasi: Luar biasa! Host berhasil mencuri panggung utama, menyelamatkan alur penting, mengalahkan Kapten Morgan, DAN merebut brankas pangkalan!"»

«"Hadiah didistribusikan: 50.000 Belly ekstra, 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)."»

«"PENGUMUMAN PENTING: Fitur [Collection: Fraksi] berhasil dibuka!"»

​Muzan Kibutsi telah resmi menuliskan namanya—atau lebih tepatnya, nama boneka-bonekanya—dalam sejarah pembuka era bajak laut yang baru. Dan ini barulah permulaan.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!