NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##9

Malam telah melingkupi langit Los Angeles. Dari lantai tertinggi gedung pencakar langit Downtown LA, pemandangan gumpalan cahaya kota memantul megah di balik dinding kaca Penthouse.

Dapur dan ruang keluarga bernuansa marmer itu terasa lebih hening dari biasanya, hanya dihiasi denting instrumen musik jazz pelan yang terputar dari speaker pintar.

Di area konter dapur, Braxton sedang berdiri dengan santai. Kemeja kampusnya sudah berganti dengan kaos polos warna hitam yang pas di tubuhnya dan celana kain santai.

Pria itu sibuk menyeduh dua cangkir teh chamomile hangat untuk menetralisir rasa manis dari kue yang mereka makan sore tadi.

Tak lama kemudian, terdengar gesekan pintu kamar yang terbuka.

Lux melangkah keluar dari koridor. Hari ini, secara terencana dan penuh intensitas, ia sengaja mengenakan pakaian tidurnya yang paling berani—sebuah silk slip dress berwarna merah marun bertali amat tipis dengan belahan dada rendah dan potongan paha yang cukup tinggi.

Tato artistik yang melilit di sepanjang bahu, tulang selangka, hingga paha mulusnya terpampang nyata tanpa celah.

Selama dua bulan terakhir, kombinasi pakaian 'kurang bahan' dan tato-tato liar Lux selalu sukses membuat Braxton naik darah, melayangkan protes keras, melemparinya dengan jaket tebal, atau sekadar memandangnya dengan tatapan tertahan yang memicu perdebatan panas.

Dan malam ini, setelah rentetan insiden di toko kue sore tadi yang membuat perasaan Lux bergejolak aneh, Lux bermaksud memancing reaksi Braxton kembali. Ia ingin mengembalikan dinamika 'perang' yang biasa agar benteng pertahanan dirinya yang sempat goyah sore tadi bisa kokoh kembali.

Lux melangkah mendekati konter dapur dengan gaya acuh tak acuh yang dibuat-buat, sengaja menuang segelas air dingin tepat di samping Braxton.

Namun, reaksi yang ditunggu-tunggu Lux sama sekali tidak terjadi.

Braxton yang sedang mengaduk teh hangatnya hanya melirik Lux sekilas—sebuah lirikan santai yang amat biasa, tanpa rasa terkejut, tanpa kening berkerut, dan tanpa nada protes.

Pria itu bahkan menyunggingkan senyum tipis yang amat ramah sebelum kembali fokus mengangkat kantong teh dari cangkirnya.

"Cangkirmu yang di sebelah kiri, Lux. Hati-hati, masih sedikit panas," ucap Braxton halus, suaranya terdengar begitu tenang dan biasa saja.

Lux mematungkan diri. Tangannya yang memegang gelas air mendadak membeku di udara. Mata abu-abu Lux membelalak kecil, menatap Braxton dari samping dengan pandangan yang sarat akan rasa bingung dan terkejut.

Hah? Hanya begitu? batin Lux dengan benak yang mendadak dipenuhi tanda tanya besar.

Tidak ada lemparan jaket tebal. Tidak ada omelan bahwa ia berpakaian seperti orang di pantai. Tidak ada tuduhan bahwa ia sengaja memancing birahi. Braxton bersikeras mengabaikan penampilannya, seolah-olah Lux malam ini hanya mengenakan daster atau piyama tertutup rapat.

Lux berdehem pelan, sengaja memutar tubuhnya hingga gaun sutra tipis itu tersingkap sedikit lebih tinggi di paha, memamerkan lekuk tubuh dan ukiran tatonya secara terang-terangan di bawah pendar lampu dapur. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi konter, menatap Braxton yang kini santai menyesap tehnya.

"Kau... tidak ingin mengomentari apa pun malam ini?" tanya Lux, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar dingin dan datar.

Braxton mendongak, menatap istrinya dengan sepasang mata cokelatnya yang jernih. Senyum hangat masih menghiasi bibirnya.

"Mengomentari apa?" tanya Braxton polos. "Tehnya kurang manis? Atau kuemu masih tersisa di kulkas?"

Dada Lux mendadak berdesir risih. Sikap tak acuh dan respons kelewat biasa dari Braxton justru memicu rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Selama dua bulan ini, perhatian dan kejengkelan Braxton adalah satu-satunya konstanta yang mengisi hari-harinya di Penthouse. Ketika fokus itu mendadak hilang dalam semalam, ada rasa hampa dan tersenggol yang membakar harga dirinya.

Lux mengepalkan jarinya di belakang punggung. Pikiran-pikiran liar yang terakumulasi dari kejadian sore tadi di mana Braxton dikelilingi mahasiswi-mahasiswi cantik berpakaian anggun di kampus mulai merayapi logikanya.

"Pakaianku," cetus Lux terang-terangan, menunjuk gaun tipis yang dikenakannya. "Kau biasanya akan mengamuk atau melempariku dengan jaket tebal jika aku keluar kamar dengan pakaian seperti ini. Kenapa malam ini kau diam saja?"

Braxton meletakkan cangkir tehnya ke atas meja konter dengan denting halus. Ia menatap Lux dari atas ke bawah secara perlahan, namun tatapannya sama sekali tidak mengandung kejahilan atau kemarahan.

"Oh, itu," sahut Braxton pelan seraya tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir... selama dua bulan ini aku mungkin terlalu banyak melarangmu. Ini rumahmu juga, Lux. Jika kau merasa nyaman dengan pakaian itu saat santai di rumah, untuk apa aku terus meributkannya? Aku tidak ingin membuatmu merasa tertekan di rumah kita sendiri."

Penjelasan Braxton yang begitu dewasa dan pengertian itu bukannya meredakan ketegangan di dada Lux, melainkan justru semakin memperkeruh badai emosi di dalam dirinya. Sikap 'toleran' dan mengalah dari Braxton terasa bagaikan sebuah jarak dingin yang sengaja diciptakan pria itu.

Lux terkekeh hambar, menyandarkan kedua tangannya di konter dapur, memajukan tubuhnya menantang Braxton dengan mata yang berkilat tajam namun tersirat kerapuhan yang tersembunyi.

"Atau kau sudah bosan melihatku?" tembak Lux tanpa basa-basi, suaranya sedikit bergetar oleh rasa cemburu dan risih yang berusaha ditahannya mati-matian.

Braxton menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu, Lux?"

Lux menyipitkan matanya, memutar ingatan pada mahasiswi-mahasiswi bergaun anggun di toko kue sore tadi.

"Kau sudah memiliki kekasih, kan?" sembur Lux, melayangkan tuduhan gila yang melintas di kepalanya. "Kekasihmu di kampus lebih seksi dariku? Lebih anggun? Tidak bertato dan tidak memakai baju kurang bahan seperti ini, makanya kau mendadak tidak tertarik lagi menegurku?!"

Keheningan mendadak jatuh menyelimuti area dapur.

Braxton mematung mendengar tuduhan bertubi-tubi yang terlontar dari bibir istrinya. Ia menatap Lux yang kini berdiri dengan dada naik-turun memburu amarah, menyadari betapa liarnya spekulasi yang sedang berputar di dalam kepala gadis bertato di depannya ini.

Rasa risih, rasa cemburu yang tak disadari, serta gengsi tinggi yang menyelimuti sikap Lux terpampang begitu nyata di mata Braxton.

Bukannya marah atas tuduhan tak berdasar itu, sudut bibir Braxton justru perlahan terangkat.

Tatapan matanya yang tadi datar kini melembut drastis, dipenuhi oleh kehangatan murni dan rasa kasih sayang yang begitu dalam. Pria yang biasanya dipenuhi oleh ego narsis itu mendadak menjelma menjadi sosok pria dewasa yang amat pengertian.

Braxton melangkah pelan memutari konter dapur.

Lux refleks bersiap untuk mundur, namun Braxton bergerak lebih cepat. Pria itu tidak mengunci atau memojokkan Lux seperti biasanya. Dengan gerakan yang amat lembut dan hati-hati, Braxton meraih kedua pergelangan tangan Lux, menghentikan kepalan jemari istrinya yang tegang.

"Lux..." panggil Braxton dengan suara yang amat rendah, dalam, dan menenangkan.

"Lepaskan," desis Lux, berusaha memalingkan wajahnya ke samping karena tidak sanggup menatap intensitas di mata cokelat Braxton.

"Tatap aku, Lux," pinta Braxton lembut, jemarinya mengusap pelan kulit pergelangan tangan Lux yang hangat.

Lux menahan napasnya, perlahan memutar pandangannya kembali menatap Braxton.

Braxton menatap langsung ke dalam mata abu-abu Lux yang menyimpan gejolak emosi. Ia tidak tertawa atau mengejek, melainkan menatap Lux dengan kejujuran murni.

"Aku tidak memiliki kekasih," tegas Braxton lambat namun sangat mantap. "Tidak di kampus, tidak di luar sana, dan tidak di mana pun. Satu-satunya wanita yang terikat secara sah dalam hidupku saat ini adalah wanita yang sedang berdiri di depanku."

Jantung Lux berdesir hebat mendengar ketegasan itu.

Braxton perlahan mengangkat satu tangannya, menyibak sehelai rambut panjang Lux yang menghalangi bahunya, membiarkan jemarinya mengusap lembut ukiran tato di bahu mulus istrinya. Sentuhan itu tidak lancang, melainkan penuh dengan rasa hormat dan kekaguman yang tulus.

"Dan soal pakaianmu..." lanjut Braxton, suaranya terdengar begitu romantis dan hangat di telinga Lux, "...kau salah besar jika berpikir aku tidak tertarik atau bosan melihatmu."

Lux meneguk ludahnya, tenggorokannya terasa mengering.

"Lalu... kenapa kau diam saja dari tadi?"

Braxton tersenyum hangat, menundukkan kepalanya sedikit hingga hembusan napas hangatnya beradu dengan pipi Lux.

"Karena selama dua bulan ini, aku baru menyadari satu hal," bisik Braxton tulus. "Setiap kali aku mengomelimu atau melemparimu dengan jaket tebal, aku melakukannya bukan karena aku benci melihat penampilanmu. Aku melakukannya karena pertahanan diriku yang berjuang keras setiap hari agar tidak menyentuhmu."

Deg!

Kata-kata Braxton menghantam dada Lux bagaikan dentuman keras. Wajah Lux mendadak merona merah padam, tatapannya membeku total.

"Aku pria normal, Lux," lanjut Braxton dengan tatapan mata yang begitu dalam. "Melihat istriku sendiri berkeliaran dengan pakaian seperti ini dan tato yang indah di seluruh tubuhnya... itu adalah ujian terbesar bagiku setiap hari. Malam ini, aku mencoba diam dan bersikap biasa bukan karena aku berpaling pada wanita lain, tapi karena aku belajar untuk menghormati batasanmu. Aku tidak mau kau berpikir bahwa aku adalah pria mesum yang hanya memandangkan tubuhmu."

Braxton menggenggam jemari tangan Lux, membawanya perlahan dan meletakkannya tepat di atas dada kirinya—di mana detak jantung Braxton teraba berdegup kencang dan tidak beraturan.

"Kau bisa rasakan ini?" bisik Braxton lembut. "Jantungku berdetak segila ini setiap kali kau berada dekat denganku. Jadi jangan pernah berpikir ada wanita lain yang lebih seksi, lebih menarik, atau lebih berarti darimu. Tidak ada, Lux. Hanya kau."

Dunia di sekitar Lux serasa berhenti berputar.

Sentuhan dada keras Braxton di telapak tangannya, ketukan detak jantung pria itu yang nyata dan liar, serta kejujuran tanpa topeng dari ucapan Braxton membuat seluruh benteng kebencian dan rasa curiga yang dibangun Lux selama dua bulan ini runtuh menjadi abu seketika.

Tidak ada lagi pangeran kampus narsis yang suka memancing emosinya. Yang berdiri di depannya saat ini adalah seorang suami yang amat dewasa, pengertian, dan secara terang-terangan menyerahkan hatinya di hadapan Lux.

Lux terpaku kaku. Keberanian dan mulut tajamnya yang biasanya siap melayangkan makian mendadak melenyap tanpa sisa. Pipinya terbakar hangat, dan matanya bergetar menatap ketulusan di sepasang mata cokelat Braxton.

"Kau... kau pembual besar," bisik Lux lemah, mencoba menarik tangannya namun Braxton menahannya dengan lembut di dadanya.

"Aku tidak pernah membohongimu soal perasaanku, Lux," sahut Braxton pelan, menyunggingkan senyum hangat yang amat menawan. "Jadi, Nyonya Desmon... apakah kau masih merasa risih karena aku tidak mengomeli pakaianmu malam ini?"

Lux menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajahnya yang merona merah ke arah lain karena tidak sanggup menahan pesona dan kehangatan yang memancar dari Braxton.

"Terserah kau saja," gumam Lux pelan, suara galaknya kini berganti menjadi bisikan canggung yang amat manis. "Aku... aku mau minum tehku."

Braxton terkekeh renyah—sebuah tawa hangat yang sarat akan rasa kebahagiaan. Ia merilis genggaman tangannya secara perlahan, menyodorkan cangkir teh hangat ke tangan Lux.

Lux menyambar cangkir teh itu dengan cepat dan langsung menyesapnya, berusaha keras menutup-nutupi rona merah di wajahnya dan detak jantungnya sendiri yang kini tidak kalah liar dari detak jantung Braxton.

Braxton menyandarkan punggungnya di konter dapur, menyesap tehnya sendiri sambil menatap istrinya dengan binar mata penuh kasih sayang.

Di bawah pendar lampu Penthouse yang hangat dan keheningan malam Los Angeles, rahasia di antara mereka tidak lagi terasa seperti beban.

Pernikahan rahasia yang dimulai dari kesalahan medis dan taruhan bodoh itu perlahan telah bertransformasi—menjalin dua jiwa yang berbedal menjadi satu ikatan nyata yang tak lagi bisa dipisahkan oleh apa pun.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!