Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - Prosedur Darurat Siang Hari
Bab 13 - Prosedur Darurat Siang Hari
Pukul satu siang tepat.
Di dalam ruang rapat direksi Wijaya Group, suasana mendadak senyap saat Dean Galang Wijaya meletakkan pena Montblanc miliknya ke atas meja. Rapat evaluasi kuartal pertama yang seharusnya berjalan selama dua jam ke depan dihentikan secara sepihak oleh sang CEO.
Dua menit yang lalu, sebuah pesan dari Rian—supir pribadi Sinta—masuk ke ponsel pribadi Dean. Rian melaporkan bahwa hari ini tidak ada jadwal pengantaran atau penjemputan domestik karena Nona Sinta mengajukan izin sakit ke pihak Rumah Sakit Santika.
Mendengar kata "sakit", sistem pemrosesan logika di kepala Dean mendadak mengalami korsleting massal. Wajah tampannya tetap sekaku manekin, namun dia langsung berdiri, mengancingkan jas biru dongkernya dengan gerakan super cepat, lalu menatap para direksi yang membeku ketakutan.
"Rapat ditutup. Lanjutkan pembahasan melalui memo digital. Saya ada urusan mendesak dengan prioritas urgensi seratus persen," ucap Dean kaku dengan suara berat andalannya.
Sebelum para direksi sempat menjawab, Dean sudah melangkah tegap keluar ruangan, mengabaikan Anita yang berlari kecil mengejarnya sambil membawa map jadwal sore.
"Pak Dean! Jadwal pertemuan dengan investor pukul tiga sore bagaimana?" tanya Anita panik, napasnya memburu.
"Batalkan atau ganti ke hari Senin. Jadwal saya siang ini tidak bisa diganggu," potong Dean dingin, langsung masuk ke dalam lift pribadi tanpa menoleh sedikit pun pada sekretarisnya yang berdiri melongo dengan wajah kesal.
Sepanjang perjalanan dari Sudirman menuju Kuningan di dalam mobil Alphard yang dikemudikan Pak Rudi, Dean terus menatap layar tabletnya, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada grafik saham. Di balik wajah manekinnya, otak korporat Dean sedang sibuk melakukan simulasi terburuk.
[POV Dean]
Detak jantung saya berada di angka seratus delapan belas denyut per menit. Ini adalah indikator kecemasan tingkat tinggi pada sistem kardiovaskular saya. Berdasarkan analisis medis dasar, jika Nona Sinta sampai mengajukan izin absen darurat dari rumah sakit, artinya kondisi fisiknya mengalami penurunan drastis hingga berada di bawah batas operasional normal. Apakah infeksi virus? Atau dehidrasi akut akibat aktivitas semalam? Memori saya memutar ulang kejadian semalam di mana saya menuntut fisiknya bekerja melewati batas waktu efisiensi demi memulihkan kerugian waktu di sofa. Saya mendeteksi adanya rasa bersalah sebesar delapan puluh lima persen di dalam hipotalamus saya. Jika terjadi kerusakan permanen pada sistem kesehatan istri saya, ini akan menjadi kegagalan manajerial terbesar dalam hidup saya. Pak Rudi harus menaikkan kecepatan mobil sebesar dua puluh kilometer per jam agar kami tiba lebih cepat.
Begitu lift pribadi penthouse berdenting di lantai teratas, Dean langsung keluar dengan langkah tegap yang sangat terburu-buru. Dia membuka pintu utama tanpa suara, menolak asistensi dari kepala pelayan, dan langsung melangkah lebar menembus koridor menuju kamar tidur utama.
Cklek!
Dean membuka pintu kamar dengan sekali sentakan, bersiap menghadapi skenario terburuk di mana istrinya mungkin sedang terkulai lemas di atas kasur dengan kompres di dahi atau infus darurat.
Namun, pemandangan di dalam kamar justru membuat seorang CEO Wijaya Group membeku total di ambang pintu.
Kamar utama yang biasanya rapi dan sunyi itu kini terasa sangat berisik. Musik pop bertempo cepat dan ceria sedang mengalun cukup kencang dari pengeras suara nirkabel di sudut ruangan. Kamar utama penthouse ini memang dirancang dengan material kedap suara kelas satu, sehingga Sinta sama sekali tidak takut dentuman musiknya akan terdengar sampai ke telinga para pelayan di luar.
Namun, yang membuat Dean terpaku adalah sosok wanita di tengah kasur king-size tersebut. Sinta sedang duduk bersila dengan sangat santai. Penampilannya saat ini benar-benar jauh dari kata anggun, kalem, apalagi penurut. Dia hanya mengenakan kaos oblong putih kedodoran yang longgar dan celana pendek katun rumahan. Rambut sebahunya dikuncir asal-asalan ke atas.
Di atas pangkuannya, terdapat sebuah nampan kayu kecil. Dan di atas nampan itu, sebungkus mi instan kuah rasa soto yang asapnya masih mengepul hangat sedang tersaji di dalam mangkuk keramik. Sinta sedang memegang sumpit dengan pipi yang menggembung penuh karena asyik mengunyah kerupuk.
Sinta tersentak kaget sampai hampir tersedak saat pintu kamarnya dibuka paksa. Matanya membelalak sempurna, menatap suaminya yang berdiri kaku di ambang pintu dengan setelan jas formal lengkap dan napas yang sedikit memburu.
Gila! Kok Pak Suami udah pulang jam segini?! batin Sinta langsung menjerit heboh.
Detik itu juga, rasa panik langsung menyerang Sinta. Bukan karena dia takut ketahuan sedang asyik mendengarkan musik kencang, tapi dia takut setengah mati akan dimarahi habis-habisan karena berani membawa makanan berminyak dan makan langsung di atas kasur tempat mereka tidur! Belum lagi penampilannya yang super berantakan ini sudah meruntuhkan CV "gadis anggun nan kalem" yang dia bangun dengan susah payah selama satu bulan ini.
Suasana mendadak hening selama beberapa detik, hanya diiringi suara musik pop ceria yang masih berdentum di sudut kamar.
"P-Pak Dean?" cicit Sinta, berusaha mengontrol keterkejutannya dan menurunkan sumpitnya dengan gerakan luar biasa canggung. "Kenapa... kenapa Anda sudah pulang? Ini baru jam setengah dua siang."
Dean tidak langsung menjawab. Mata hitamnya yang tajam menatap lurus ke arah Sinta, memperhatikan penampilannya yang berantakan dari rambut hingga celana pendeknya, sebelum pandangannya turun mengunci mangkuk mi instan di atas ranjang. Kedua daun telinga Dean yang semula kaku mendadak berangsur memerah pekat karena menyadari bahwa kepanikan massal di kepalanya sejak di kantor tadi... ternyata murni merupakan kesalahan interpretasi data. Istrinya tidak sedang kritis, melainkan sedang menggelar pesta mi instan pribadi.
Dean berdeham pendek, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan kaku untuk menutupi rasa malunya yang teramat sangat, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dengan wajah yang kembali dilempengkan sekuat tenaga.
"Rian melaporkan bahwa kamu mengajukan izin absen sakit ke rumah sakit hari ini," ucap Dean dengan suara berat andalannya yang datar tanpa intonasi. "Berdasarkan standar operasional keselamatan domestik, saya wajib melakukan inspeksi langsung untuk memastikan tidak adanya risiko fatal pada kesehatan istri sah saya."
Mendengar kata "inspeksi" dan melihat wajah kaku suaminya yang ternyata pulang cepat murni karena panik mengira dirinya sakit, Sinta langsung merasa bersalah sekaligus canggung. Dia menurunkan nampan mi instannya ke atas kasur dengan sangat hati-hati, takut memicu kemarahan sang CEO.
"Maaf, Pak Dean... saya tidak sakit parah," jawab Sinta dengan nada selembut mungkin, mencoba menyelamatkan sisa-sisa kedok anggunnya walaupun posisinya sudah kalah telak. "Saya hanya... tubuh saya rasanya sangat lelah dan pegal-pegal semua karena kejadian semalam. Saya kurang tidur, jadi saya tidak kuat untuk berdiri tegak di rumah sakit hari ini. Karena itulah saya izin libur untuk memulihkan tenaga sambil bersantai di kamar."
Mendengar pengakuan dari istrinya mengenai dampak "aktivitas semalam", ketegangan di bahu tegap Dean langsung runtuh total. Pria seksi itu tertegun, menatap Sinta yang kini merona merah menahan canggung di balik kaos oblong besarnya.
Dean melangkah mendekat ke sisi ranjang, berdiri tepat di samping Sinta, lalu menatap mangkuk mi instan kuah di atas kasur dengan pandangan menilai yang sangat kaku.
"Makan siang di atas ranjang tidur memiliki risiko tinggi terhadap higienitas kasur akibat potensi tumpahan noda," kritik Dean lempeng tanpa dosa, matanya beralih menatap Sinta lurus-lurus. "Dan sebagai mahasiswi kedokteran, kamu seharusnya tahu bahwa mengonsumsi makanan instan dengan kadar natrium tinggi seperti ini sangat tidak sehat dan tidak efisien untuk pemulihan sel otot yang kelelahan, Nona Sinta."
Sinta menahan napas sejenak. Tuh kan, beneran dikhotbahin soal mi instan gak sehat! batinnya menggerutu gemas, meski dia tidak bisa membantah karena ucapan Dean memang benar secara medis.
sebelum Sinta sempat merespons, Dean sudah mengulurkan tangannya yang besar, mengambil alih nampan berisi mi instan itu dari atas kasur, lalu menaruhnya dengan rapi di atas nakas.
Detik berikutnya, Dean mendudukkan tubuh kekarnya di tepi kasur tepat di hadapan Sinta, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma parfum wood-nya yang mahal kembali menguasai indra penciuman Sinta.
"Namun, karena penurunan produktivitas fisik kamu hari ini murni disebabkan oleh intensitas tindakan biologis saya yang melewati batas estimasi semalam," lanjut Dean dengan muka paling lempeng sedunia, menatap lurus ke dalam mata cokelat Sinta.
"Maka berdasarkan asas keadilan domestik, saya bertanggung jawab penuh untuk memulihkan performa kamu. Istirahatlah kembali. Saya akan menemani kamu di kamar ini sampai jam istirahat selesai."
Sinta terpaku di tempatnya duduk, menatap wajah kaku suaminya yang kini sudah bersiap ikut bersandar di ranjang bersamanya. Rasa panik karena takut dimarahi tadi langsung menguap, digantikan oleh debaran aneh yang membuat pipinya terasa panas.
Sinta baru menyadari satu hal: di balik seluruh pasal operasional dan omongannya yang menyebalkan tentang mi instan, suaminya yang sekaku kanebo kering ini... ternyata bisa bertingkah sangat manis dan protektif dengan caranya sendiri.