Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Masuk ke Dunia yang Asing
Malam itu tidak ada kata-kata lagi yang terucap. Hanya suara napas yang tersendat, dan isak tangis yang berusaha ditahan agar tidak terdengar hingga ke luar kamar. Larasati duduk bersandar di dinding kayu yang tipis, memeluk lututnya erat seolah itu satu-satunya tempat yang masih memberinya rasa aman. Agung duduk tak jauh darinya, menatap sosok istrinya dengan mata yang merah dan basah. Ia tidak berani lagi mendekat, takut setiap gerakannya hanya akan terasa seperti kebohongan baru bagi wanita yang paling ia cintai di dunia ini.
Sepanjang malam, ribuan kenangan berputar di kepala Larasati. Saat mereka berbagi sepotong tempe goreng untuk makan malam karena uangnya tinggal sedikit. Saat Agung membetulkan genteng kamar kosnya yang bocor di tengah hujan, lalu turun dengan pakaian basah kuyup namun tersenyum bangga karena atapnya sudah tidak bocor lagi. Saat ia terjaga di tengah malam karena sakit perut, dan Agung tanpa banyak bicara berlari membelikannya obat dengan kaki telanjang karena sepatunya tertinggal. Semua itu terasa begitu nyata, begitu tulus—namun kini diselimuti bayang-bayang fakta bahwa pria di hadapannya bisa saja membelikan rumah sakit seandainya ia mau.
Pagi datang membawa cahaya yang terasa menyilaukan dan dingin. Bel pintu berbunyi tepat pukul delapan pagi. Saat Agung membukanya, terlihat dua orang sopir berseragam rapi berdiri di samping mobil hitam yang sama persis dengan yang datang kemarin. Di dalamnya sudah menunggu Pak Haryo dengan wajah yang tidak sabar, namun kini ada sedikit kelembutan yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya.
"Kita harus pergi sekarang, Agung. Semua sudah disiapkan," ucap Pak Haryo singkat.
Agung menoleh ke arah Larasati yang masih berdiri kaku di sudut kamar. "Lar... Ikutlah aku. Jangan mengambil keputusan saat hatimu sedang terluka. Lihatlah sendiri siapa aku sebenarnya, bukan dari cerita orang lain, tapi dari apa yang akan kau lihat dengan matamu sendiri. Jika setelah itu kau masih ingin pergi... aku akan melepaskanmu, apa pun yang terjadi."
Kata-kata itu terucap dengan suara yang begitu rendah namun penuh kepasrahan. Larasati mengangkat wajahnya, menatap pria yang semalam ia yakini sebagai satu-satunya tempat bersandar seumur hidup. Perlahan ia mengangguk pelan. Ia harus tahu. Ia harus memastikan sendiri apakah cinta yang ia pelihara selama ini hanya terbentuk di atas kebohongan, ataukah ia benar-benar milik hati yang sama.
Perjalanan menuju kediaman keluarga Wijaya terasa begitu panjang dan sunyi. Mobil melaju mulus di jalanan ibukota, melewati gedung-gedung pencakar langit yang namanya sering ia dengar di berita—ternyata semuanya milik keluarga suaminya. Saat gerbang besi tinggi berukir indah terbuka perlahan, mata Larasati terbelalak tak percaya. Sebuah rumah yang lebih mirip istana berdiri megah di tengah hamparan taman yang luas dan tertata rapi. Puluhan pelayan berdiri berbaris dengan rapi, membungkuk hormat saat mobil mereka melintas.
Saat turun dari mobil, semua mata tertuju padanya. Tatapan yang beragam: ada rasa heran, ada rasa tidak percaya, dan ada pula tatapan yang jelas-jelas meremehkan melihat pakaian sederhana yang ia kenakan—baju katun biasa dan sandal jepit yang sudah agak usang. Rasa malu dan rendah diri tiba-tiba menyeruak ke dadanya. Ia merasa seperti semut yang tersesat di antara gedung kaca yang dingin.
Namun tangan Agung segera meremas tangannya erat, seolah ingin mengalirkan seluruh kekuatan yang ia miliki kepada istrinya. "Jangan takut. Kau adalah nyonya rumah ini. Tidak ada yang berani memperlakukanmu dengan buruk selama aku ada di sini," bisiknya pelan tepat di samping telinga Larasati.
Di ruang tamu yang begitu luas dengan perabotan ukir kayu jati asli dan lampu gantung kristal yang berkilauan, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya yang anggun namun wajahnya tampak tidak senang. Itu adalah Ibu Saras, ibu kandung Agung.
"Jadi ini wanita yang membuatmu rela membuang waktu dua tahun hidup seperti pengemis?" ucap Ibu Saras dengan nada yang dingin dan tajam, tanpa menyapa sedikitpun. "Kau sadar tidak, Nak? Kau bukan hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga nama baik seluruh keluarga kita. Apa yang akan dikatakan rekan bisnis ayahmu? Pewaris tunggal Wijaya menikah dengan anak orang biasa yang bahkan tidak punya rumah sendiri?"
Kata-kata itu melukai Larasati jauh lebih dalam daripada sekadar sindiran. Ia merasa ingin lari dan menghilang saat itu juga. Namun sebelum ia sempat bergerak, Agung melangkah maju berdiri tepat di hadapan ibunya, melindungi Larasati di belakang punggungnya.
"Bu," suara Agung bergetar namun tegas. "Selama dua tahun ini, Bu dan Ayah sibuk memastikan aku bertemu wanita yang layak menurut kalian: yang cantik, kaya, berdarah baik, dan pintar berbicara tentang bisnis. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mau duduk bersamaku saat aku lelah bekerja. Tidak ada satu pun yang mau berbagi makan sederhana saat aku lapar. Tidak ada satu pun yang memelukku dan berkata 'kita hadapi bersama' saat aku merasa lelah dengan semua tuntutan dunia ini."
Agung berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Larasati tidak memiliki apa-apa menurut pandangan kalian. Tapi dia memiliki hati yang tulus yang tidak pernah aku temukan di mana pun. Dia mencintaiku bukan karena nama Wijaya, bukan karena harta kami. Dia mencintaiku saat aku hanya pria yang memakai baju lusuh dan mengendarai motor tua. Jika kalian tidak bisa menerimanya... maka kalian tidak menerimaku sebagai anak kalian juga."
Keheningan menyelimuti ruangan yang megah itu. Ibu Saras terdiam terpaku, matanya melebar tak menyangka anaknya yang biasanya penurut bisa bicara setegas itu. Pak Haryo yang berdiri di sudut ruangan hanya diam, namun sorot matanya perlahan berubah—ada rasa bangga yang mulai menyembul melihat keteguhan hati putranya.
Larasati yang masih berdiri di belakang punggung Agung, merasakan air mata kembali menetes, namun kali ini bukan lagi karena sakit hati. Rasa haru dan cinta yang begitu besar kembali meluap, menyadarkan satu hal yang paling penting: meski dunia di sekelilingnya berubah seratus delapan puluh derajat, pria yang berdiri di hadapannya tetaplah Agung yang sama—pria yang rela menghadapi siapa pun, bahkan orang tuanya sendiri, demi menjaga perasaan dan harga dirinya.
Namun ia tahu, ini baru permulaan. Ujian yang sesungguhnya belum berakhir. Dua dunia yang selama ini berjalan sejauh mata memandang kini harus bersatu. Dan Larasati harus mempersiapkan hatinya: apakah ia cukup kuat untuk berdiri di samping seorang pewaris konglomerat, ataukah tekanan dan pandangan orang-orang baru ini akan memisahkan mereka kembali?
Bersambung ke Bab 4: Ujian dan Pengakuan.