Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 KONFERENSI PERS
SELAMAT MEMBACA !!!
Sesampainya di depan rumahnya, rumah terlihat sangat sepi, Bryan mengeluarkan kunci di tanganya. Ia membuka pintu, benar saja rumahnya seperti sudah tak berpenghuni lama.
"Assalamualaikum, Sayang. Mas pulang!" serunya tapi tak ada jawaban dari istrinya.
"Kemana kamu, Yang? Aneh sekali, tumben pergi tanpa pamit dulu!" tanyanya lirih.
Tiba-tiba hatinya berdegup dengan kencang, ia berlari menuju ke kamarnya, membuka pintu lebar-lebar. Matanya mencari sosok Fira tapi tak ada di kamar.
"Dimana kamu, Sayang. Apa mungkin kamu melihat tayangan di Tv pagi tadi?" tanyanya.
Tapi pandangannya menatap meja rias, ia bisa melihat ada kertas dan seketika dadanya berdebar bergemuruh saat melihat cincin nikah, atm yang berada di atas kertas. Ia mengambil kertas itu lalu membacanya.
Untuk Mas Bryan
"Maaf, Mas. Jika kamu sudah membaca surat ini, berarti aku sudah tak ada di rumah kita lagi.
"Maafkan aku terpaksa pergi. Rasanya sakit hatiku seolah tertusuk jarum yang besar. Saat aku menyaksikan hari pertunanganmu dengan wanita lain. Maaf ya, Mas. Mungkin kita tak ditakdirkan untuk bersama.
Terima kasih waktu dan perhatiannyamu selama dua tahun ini. Terima kasih kamu sudah menjadi teman yang baik buatku. Sekali lagi maaf ya aku pergi, Mas. Aku tak sanggup jika harus berbagi hatimu dengan wanita lain. Biarkan aku yang mengalah, Mas.
Selamat hari pertunanganmu ya, Mas. Aku berdoa semoga kamu bahagia dengan wanita itu.
Dari yang mencintaimu
Zhafira Nayara Humaira.
Bryan langsung meremas kertas itu, matanya memerah menahan amarah dan tangisnya. Orang yang begitu ia cintai pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan alasannya dulu.
"Aaaa...Brengsek! Brengsek sekali!" teriaknya histeris, dadanya berguncang menahan amarah yang sebentar lagi meledak.
"Puaskah kamu?! Puaskah kamu sudah merusak rumah tanggaku? Puaskah kamu sudah menyakitiku sedalam ini?!" teriaknya menggema di ruang yang tiba-tiba terasa sempit dan hampa.
Kakinya lemas langsung terjatuh berlutut di atas lantai rumahnya.
Bagas yang baru saja masuk ke dalam rumah itu begitu kaget mendengar teriakan dari Bryan. Ia langsung mencarinya ke arah kamar Bryan. Bagas bisa melihat betapanya rapuhnya Bryan.
"Bry..!" panggil Bagas dengan lirih, dadanya seperti tertimpa batu besar. Melihat Bryan menangis tergugu sambil berlutut di atas lantai.
"Aku...aku harus bagaimana, Gas? Fi..Fira pergi meninggalkanku, Gas. Dia sudah pergi, saat melihat pertunangan brengsek itu!!"
Seketika ingatanya tertuju dengan semua bukti yang dikirimkan anak buahnya yang berada di Inggris. Matanya menyala tajam, amarah bercampur dengan tekad membara.
"Gas! Tolong buatkan undangan konferensi pers untuk semua wartawan! Aku akan membuka aibnya wanita itu dan Nyonya Rita dihadapan semua orang!" perintah Bryan.
Kemudian ia menghela napasnya, "Tapi sebelumnya aku akan mengklarifikasi pertunangan itu batal dan dipaksa oleh seseorang tanpa sepengetahuan diriku!" serunya.
Bagas yang mendapatkan tugas, segera mengambil hapenya untuk menghubungi temannya yang bekerja sebagai wartawan.
****☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆****
Di Belanda, Fira diantar Amara ke kamarnya yang berada di lantai dua, Meskipun hanya lantai tiga rumah milik Haikal itu dilengkapi fasilitas lift.
Di lantai bawah Haikal duduk di sofa ruang keluarga, wajahnya serius menyampaikan apa yang baru saja ia temukan.
"Bagaimana pendapat kalian? Tadi aku berhasil meretas CCTV di rumah orang tuanya Bryan. Aku bisa mendengarnya,"
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada berat.
"Bryan sebenarnya dipaksa menerima pertunangan itu. Mamanya mengancam akan mencelakai Fira jika Bryan menolak. Bryan setuju dengan syarat pesta diadakan secara tertutup, tak ingin diketahui oleh Fira," ujar Haikal sambil mengepalkan tangannya menahan emosi dan kekesalannya.
Ia melanjutkannya lagi. "Tapi Mamanya melanggar janji itu. Diam-diam ia menyewa salah satu tv swasta untuk menayangkan pesta pertunangan itu secara langsung.
Jadi..di sini Bryan juga jadi korban. Ia terpaksa mengambil keputusan itu, supaya Fira tak dilukai oleh orang suruhan Mamanya," ujar Haikal kepada keluarganya.
Suasana ruangan itu mendadak sunyi. Tak menyangka akan mendapatkan kenyataan seperti apa.
"Hmmm...begini saja. Biarkan Fira merasa tenang dulu pikirannya. Jangan tambah beban pikirannya dengan fakta ini. Kita juga lihat usaha apa yang dilakukan oleh Bryan untuk melindungi Fira. Papa takut jika Fira kembali sebelum masalah ini selesai. Mamanya akan nekat melukai Fira. Jadi biarkan Fira sementara waktu istirahat di sini sambil mengamati pergerakannya Bryan dan Mamanya," jawab Tuan Andika kasih sedikit masukan.
Nyonya Sintya mengusap dadanya, "Astagfirullah...semoga aku terhindar dari sifat egois dan pemaksa kehendak sendiri."
Haikal menatap wajah Mamanya yang shock mendengar seorang Ibu bisa berbuat egois dan menghancurkan hidup putranya sendiri.
"Betapa malang hidup mereka berdua, menjadi korban dari Mamanya yang punya sifat pemaksa. Semoga Bryan secepatnya bisa menyelesaikan masalahnya," ucap Nyonya Sintya lagi.
"Amin amin ya robbal'alamin,"
Sementara di dalam kamarnya Fira, ia ditemani Amara. Ia sangat senang seperti mempunyai seorang kakak perempuan yang sangat baik.
"Terima kasih ya, Kak. Semoga Kakak secepatnya bisa menyusul aku. Kita nanti bisa besarkan mereka bersama-sama ya, Kak!" seru Fira yang terbaring miring menatap wajahnya Amara.
"Amin amin ya robbal'alamin. Ya, Dek. Meskipun Kakak belum hamil kan sudah ada mereka di rumah ini hehehehe," jawab Amara dengan terkekeh sambil mengusap perutnya Fira.
Dalam hati Fira berkata, "Tunggu aku kembali ya, Mas. Aku akan kembali dengan buah hati kita dan aku berjanji akan menjaga mereka dengan segenap hatiku!"
**☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆**
Di Bandung, Bryan dan Bagas sudah bersiap mengadakan konferensi pres yang diadakan di aula perusahaan yang di pegang oleg Bryan semenjak ia kuliah.
Kilatan kamera sudah mulai membidik Bryan dan Bagas, saat pintu dibuka oleh Bagas.
"Selamat sore rekan-rekan wartawan semua. Silahkan semua duduk, saya akan meluruskan berita yang disiarkan langsung oleh salah satu tv swasta," ucap Bryan menjeda ucapannya.
"Saya ingin semua masyarakat tau, bahwa acara pertunangan itu saya batalkan SEPIHAK?!"
Suasana ruang aula langsung riuh mendengar Bryan membatal pertunangannya yang dilaksanakan baru tadi pagi.
Salah satu rekan wartawan ada yang ingin bertanya, "Mohon maaf Tuan Muda Bryan. Boleh kami tau alasannya? Kenapa pesta pertunangannya yang baru diadakan tadi pagi, tapi sekarang anda mau membatalkannya secara sepihak?"
Bryan tersenyum sedikit, "Baik aku akan jelaskan. Tapi sebelum menjelaskan, kalian bisa melihat video yang akan saya putar sebentar. Gas tolong sambungkan ke layar proyektor!" perintah Bryan kepada sang asisten.
Layar proyektor menampilkan seorang wanita paruh baya berdandan seperti artis, berbedak tebal itu, sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Kamu jadi memanfaatkan putrimu untuk menjerat putranya Jeng Dinda?" tanya.
Wanita yang ditanya menyeringai sinis, matanya berkilat penuh ambisi.
"Tentu saja jadi dong! Siapa yang tak mau jadi besan keluarga kaya raya yang hartanya tak akan habis tujuh turunan pun?" suaranya keras penuh dengan ketekatan untuk menjerat Bryan.
Temannya yang lain ikut berbicara, "Hebat kamu bisa merayu dan membuat Jeng Dinda percaya dengan kebaikanmu hahahaha. Bodoh...bodoh sekali!" seru orang itu menertawakan kebodohannya Nyonya Dinda.
Video layar diproyektor berubah lagi menampilkan seorang wanita muda yang sedang melakukan hubungan badan di sebuah apartemen yang berada di luar negeri. Wajah wanita itu sengaja tak Bryan samarkan hanya bagian pria saja yang disamarkan mukanya, biar semua orang tau bahwa tunangannya itu wanita nakal.
"Wah pantas saja, Tuan Muda membatalkan pertunangannya. Ternyata wanitanya seorang jalang!" seru salah satu dari wartawan yang diundang Bryan.
Bagas mematikan layar proyektor itu. "Apa saya harus menerima wanita itu, sedangkan di luar negeri saja ia sering melakukan hubungan intim dengan pria lain. Intinya saya ingin mengatakan bahwa Pertunangan saya tadi pagi dibatalkan. Terima kasih untuk semua rekan wartawan yang sudah mau hadir diundangan konferensi pers sore ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih semua. Selamat sore," ucap Bryan menutup acara sore ini.
Seketika berita itu menjadi trending topik nomor satu dipencarian laman Internet di dalam negeri maupun di luar negeri.