NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Gamis Pertama

Gamis pertama selesai pukul dua dini hari.

Nadia mematikan mesin jahit dan meregangkan bahu. Ruang tamu kecil berantakan oleh potongan kain, benang, jarum pentul, dan kertas pola. Raka tertidur di kursi dengan buku catatan pengeluaran terbuka di pangkuannya. Kacamata bacanya sedikit turun.

Nadia menatapnya sebentar.

Laki-laki itu bersikeras menemani sampai tengah malam. Katanya ia hanya mencatat biaya, tapi setelah pukul satu, tulisannya mulai miring. Nadia menyuruhnya tidur di kamar, ia menolak, lalu kalah oleh kantuk di kursi.

Nadia mengambil selimut tipis dan menyampirkannya di bahu Raka.

Raka membuka mata.

"Sudah selesai?"

"Selesai."

Ia langsung duduk lebih tegak, seolah tidak baru saja tertidur.

"Boleh lihat?"

Nadia mengangkat gamis itu.

Warnanya hijau sage, potongannya longgar, bagian lengan diberi detail kecil dari batik biru, tidak berlebihan. Sederhana, tapi berbeda dari gamis pasar yang biasanya penuh renda mengilap.

Raka menatapnya lama.

Nadia tiba-tiba gugup.

"Jelek?"

"Tidak."

"Terlalu polos?"

"Tidak."

"Mas Raka jangan hanya bilang tidak."

Raka berdiri, mendekat, menyentuh ujung lengan dengan hati-hati.

"Ini terlihat seperti baju yang membuat orang ingin bicara lebih pelan."

Nadia mengerutkan kening.

"Itu pujian?"

"Saya tidak tahu istilah mode."

"Tapi maksudnya?"

"Anggun."

Nadia menunduk, pura-pura merapikan benang.

"Harusnya bilang begitu dari awal."

"Saya belajar."

Raka tersenyum. Lalu ia batuk kecil. Nadia langsung menunjuk kamar.

"Tidur."

"Besok kamu mau bawa ke warung Sari?"

"Iya."

"Saya ikut."

"Tidak. Mas Raka tidur."

"Saya ingin lihat pembeli pertama."

"Kalau Mas tumbang, pembeli pertama harus menunggu aku mengurus suami."

Raka tampak berpikir.

"Baik. Saya tidur. Tapi bangunkan kalau mau berangkat."

"Tidak."

"Nadia."

"Mas Raka."

Mereka saling menatap.

Akhirnya Raka menyerah lebih dulu.

Pagi harinya, tentu saja Raka tetap ikut.

Nadia tidak tahu bagaimana ia kalah. Mungkin karena Raka sudah bangun lebih dulu, mandi, minum obat, dan duduk di ruang tamu dengan wajah siap sebelum Nadia selesai melipat gamis. Sulit melarang orang yang sudah menyiapkan diri sedemikian rapi.

Di rumah Sari, warung baru buka. Gorengan masih hangat. Beberapa ibu sudah duduk di bangku panjang, minum teh dan membicarakan harga cabai.

Sari melihat tas Nadia.

"Sudah jadi?"

Nadia mengangguk.

Rani langsung berlari.

"Baju hijau Rani?"

"Bukan untuk Rani."

Rani cemberut.

Nadia membuka tas dan mengeluarkan gamis.

Obrolan di warung berhenti.

Sari menyentuh kainnya.

"Ya Allah, Nad..."

"Jangan terlalu dramatis. Jahitannya belum sempurna."

Seorang ibu bernama Bu Sri mendekat.

"Ini dijual?"

Nadia menatapnya.

"Iya, Bu. Kalau cocok."

"Berapa?"

Nadia menyebut harga yang sudah ia hitung bersama Raka. Tidak terlalu murah, tapi masuk akal untuk desain berbeda.

Bu Sri mengangkat alis.

"Lumayan."

"Bahan dan modelnya juga lumayan, Bu."

Ibu-ibu tertawa.

Bu Sri membentangkan gamis di depan badannya.

"Kalau untuk pengajian cocok ya."

Ibu lain menyahut, "Cocok. Warnanya adem. Tidak seperti baju hajatan yang bikin mata sakit."

Sari membawa cermin kecil dari dalam.

Bu Sri mencoba menempelkan gamis di tubuhnya. Ukurannya hampir pas.

"Kalau bagian pinggang sedikit dikecilkan bisa?"

Nadia langsung menjawab, "Bisa. Saya ukur sekarang, sore selesai."

Bu Sri terkejut.

"Cepat?"

"Kalau hanya kecilkan sedikit, cepat."

Bu Sri menatap gamis lagi.

"Baik. Saya ambil."

Nadia diam setengah detik.

Sari memekik kecil.

Raka yang duduk di ujung warung menunduk, tapi Nadia melihat senyumnya.

Pembeli pertama.

Uang pertama dari sesuatu yang ia buat sendiri.

Bu Sri membayar uang muka. Nadia mencatat nama, ukuran, permintaan, dan sisa pembayaran. Ibu lain langsung bertanya apakah bisa pesan warna lain. Sari mengambil buku tulis baru untuk mencatat.

Dalam satu jam, Nadia mendapat satu pembelian dan tiga calon pesanan.

Warung gorengan Sari berubah menjadi ruang pamer kecil.

Joko keluar dari belakang, melihat ibu-ibu memegang kain, lalu mundur pelan.

"Aku beli tambahan teh," katanya.

Sari tertawa.

Raka mendekati Nadia saat keramaian mereda.

"Selamat."

Nadia memegang uang muka di tangan.

"Rasanya aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Dulu uang selalu datang dengan permintaan. Ini datang karena orang ingin sesuatu dariku, bukan ingin mengambil dariku."

Raka menatapnya lembut.

"Simpan baik-baik perasaan itu."

Nadia mengangguk.

Namun kabar gamis itu sampai ke telinga Bella sebelum sore.

Salah satu ibu yang mampir ke warung Sari adalah tetangga rumah Pak Darto. Ia bercerita bahwa Nadia membuat gamis cantik dan sudah ada yang pesan. Cerita itu masuk dapur Bu Ratna saat Bella sedang menghitung biaya akad.

"Nadia jual baju?" Bella mengulang.

Tetangga itu mengangguk.

"Iya. Bagus lho. Warnanya kalem. Katanya cocok untuk pengajian."

Eyang Marni mendengus.

"Baru menikah sudah jualan. Keluarga Wiratmaja kurang memberi makan apa?"

Tetangga itu tersenyum canggung.

"Sekarang banyak perempuan usaha, Bu."

Bella tidak mendengar lanjutannya.

Di pikirannya, Nadia seharusnya sibuk mengurus Raka yang sakit. Seharusnya terjebak di rumah kecil, menyesal, merasa kalah. Kenapa malah mulai jualan? Kenapa orang-orang memujinya?

Bu Ratna melihat wajah Bella.

"Jangan pikirkan dia."

"Bagaimana bisa tidak? Semua orang membicarakan dia."

"Biarkan. Setelah kamu menikah, fokus pada rumah tanggamu."

Bella menatap daftar biaya.

Sewa tenda kecil. Makanan. Mahar. Rias. Kain. Kontrakan.

Semuanya uang.

Ponselnya berbunyi.

Pesan Arman.

Ayah cuma kasih bantuan terbatas. Jangan pilih rias mahal.

Bella menutup mata.

Di warung Sari, Nadia sedang mengukur lengan Bu Sri.

Di rumah Pak Darto, Bella menghitung biaya sambil merasa masa depannya mengecil.

Malamnya, Nadia menyelesaikan perubahan gamis. Raka duduk di dekatnya, kali ini benar-benar tidur lebih awal setelah Nadia mengancam akan menyembunyikan buku catatan.

Sebelum tidur, Nadia menghitung keuntungan kecil dari gamis pertama.

Tidak banyak.

Tapi cukup untuk membeli kain berikutnya tanpa menyentuh uang rumah.

Ia menulis di buku kecil:

Modal kembali. Pesanan mulai.

Lalu berhenti.

Di bawahnya, ia menulis satu kalimat lagi.

Hidupku mulai menghasilkan sesuatu selain luka.

Raka, yang ia kira sudah tidur, berkata pelan dari ranjang.

"Kalimat bagus."

Nadia menoleh.

"Mas Raka mengintip?"

"Tidak. Suaramu membaca dalam hati terlalu keras."

Nadia melempar bantal kecil ke arahnya.

Raka menangkapnya sambil tertawa dan batuk.

Nadia langsung berdiri.

"Nah, kan."

"Saya baik."

"Tidur."

"Iya, Bu Bos."

Nadia berhenti.

Bu Bos.

Ia menyukai bunyinya.

Mungkin suatu hari, orang akan memanggilnya begitu bukan karena bercanda.

Keesokan paginya, sebelum mulai menjahit pesanan baru, Nadia pergi ke warung Sari membawa buku kecil khusus usaha. Ia menulis nama sementara di halaman pertama: Nadia Modest Wear.

Sari membaca, lalu mengerutkan kening.

"Pakai bahasa Inggris?"

"Biar terdengar sedikit mahal."

"Kalau ibu-ibu sini susah menyebutnya?"

Nadia berpikir.

Rani yang sedang makan pisang goreng menyahut, "Baju Tante Nadia saja."

Sari tertawa. "Itu malah gampang diingat."

Nadia menulis di bawahnya: Baju Tante Nadia.

Raka yang ikut datang mengangguk serius.

"Nama pasar kadang lebih kuat daripada nama yang kita rencanakan."

Nadia menatap tulisan itu. Ada lucu, ada hangat, ada sedikit sindiran karena status tante itu lahir dari kekacauan malam lamaran. Tapi justru karena itu, nama tersebut punya cerita.

"Baik," kata Nadia. "Untuk sementara, kita pakai nama itu di warung."

Joko yang baru datang membawa plastik gula berkata, "Aku punya papan kecil bekas. Nanti kutuliskan."

Usaha kecil itu tiba-tiba punya nama, papan, dan orang-orang yang ikut menjaga.

Sari mengusap papan bekas yang dibawa Joko.

"Kalau nanti tidak laku?"

Nadia menutup buku.

"Kita ganti cara jualnya."

"Kalau tetap tidak laku?"

"Kita belajar model lain."

"Kalau rugi?"

Raka menjawab lebih dulu, "Rugi dicatat, bukan ditangisi seharian."

Sari menatap mereka berdua, lalu tertawa kecil.

"Kalian cocok sekali jadi orang nekat yang teratur."

Nadia menyukai sebutan itu. Nekat yang teratur terdengar jauh lebih baik daripada pasrah yang rapi.

Ia membantu Joko membersihkan papan. Di sudut warung, Rani sudah sibuk memilih warna spidol seolah papan itu miliknya sendiri.

Nadia membiarkannya. Usaha kecil juga butuh kegembiraan kecil agar tidak terasa menakutkan.

Untuk semua orang.

Tanpa kecuali.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!