Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan maaf
Aku tetap memandangnya dengan tenang namun tegas, lalu bertanya dengan suara yang jelas terdengar: “Lantas apa hubungannya dengan semua ini? Apakah kesalahan yang dilakukan orang tua harus dijadikan alasan untuk menyakiti anaknya yang tidak bersalah?”
Saat Liora hendak membalas perkataanku, ia sempat bertukar pandang sejenak dengan Diana dan Sarah seolah ada pesan tersembunyi di antara mereka. Suasana di sana pun menjadi hening sejenak. Aku memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan itu, lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka semua. Di saat punggungku menjauh, raut wajah Sarah berubah mendadak menjadi muram, terlihat jelas ada rasa gelisah yang mulai menyelimuti hatinya.
Tepat pukul dua siang aku tiba kembali di kediaman yang besar itu. Aku segera naik ke kamar dan berganti pakaian: mengenakan atasan berwarna hitam polos dari bahan sutra yang halus dan terasa ringan di kulit, dengan lengan pendek yang lembut serta bentuk leher yang terlihat anggun, jatuh rapi mengikuti lekuk tubuhku dengan sopan. Dipadukan dengan rok panjang yang jatuh hingga betis berwarna putih gading yang berkilau lembut seperti kain satin, dihiasi corak titik-titik halus berwarna gelap yang tersebar merata, dengan potongan samping yang membuat setiap langkahku terasa luwes namun tetap anggun.
Setelah turun kembali ke lantai bawah, aku di sofa diam, memandang lurus ke arah tv sambil tenggelam dalam pikiranku sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalaku: Apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam hati Sarah dan kedua temannya? Mengapa mereka bisa bertindak sekejam itu kepada seseorang yang hampir tidak mereka kenal?
Di saat aku masih sibuk merenung, Fara baru saja pulang dari pergi berbelanja. Ia meletakkan tas belanjaannya di ruang tamu, lalu berjalan mendekat ke arahku. Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya hingga bahuku disentuh pelan.
Aku terkejut seketika dan menoleh cepat. “Kak Fara, kau membuatku terkejut saja!” ucapku pelan sambil mengatur napas kembali.
Fara pun duduk di sebelahku dengan tatapan yang penuh perhatian. “Ada apa denganmu, Zara? Terlihat sekali kau sedang melamun dan ada kesedihan yang tersimpan di matamu. Apakah ada hal yang kurang menyenangkan yang terjadi di sekolah hari ini?”
Aku terdiam sejenak menyusun kata-kata, lalu bertanya dengan nada yang ragu: “Kak Fara… katakanlah, mengapa ada orang yang tega menyakiti orang lain, padahal orang itu sama sekali tidak berbuat salah apa-apa kepada mereka?”
Fara seketika mengerti maksud pertanyaanku, lalu menjawab dengan suara yang lembut namun jujur: “Zara, sepertinya kau belum terlalu paham bagaimana dunia ini sebenarnya berjalan. Kadang kesombongan, rasa ingin terlihat lebih berkuasa, atau pandangan yang keliru membuat seseorang bertindak demikian. Bagi mereka yang merasa memiliki harta dan kedudukan yang tinggi, seringkali mereka mengira segala sesuatu bisa mereka atur sesuka hati.” Ia berhenti sejenak lalu tersenyum lembut menenangkan hatiku. “Namun jangan biarkan hal itu terus membebani pikiranmu. Sudahkah kau makan siang?”
Aku hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
“Kalau begitu, ayo kita makan bersama saja ya. Tadi aku membeli hidangan laut yang masih segar dan rasanya sangat lezat,” ajak Fara dengan nada yang ramah sekali. Aku pun membalasnya dengan senyum tipis dan mengangguk setuju.
Keesokan harinya, begitu aku melangkah masuk ke dalam ruangan kelas, Sarah, Liora, dan Diana sudah ada di sana dan seolah sedang menunggu kedatanganku. Sarah segera berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiriku dengan senyum yang terlihat sangat ramah. “Zara, kau sudah datang. Kami sudah menunggumu sejak tadi pagi,” ucapnya. Liora dan Diana pun ikut menyambutku serempak, “Benar sekali, kami sudah menunggumu.”
Namun sebelum Sarah sempat melanjutkan ucapannya, suara bel yang menandakan dimulainya pelajaran pun berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.
Begitu jam pelajaran selesai dan waktu istirahat tiba, ketiganya segera berjalan mengikutiku menuju ruang kantin. Liora berbicara dengan nada yang sengaja dibuat terlihat santai: “Zara, mengapa kau tidak menunggu kami sebentar saja tadi?”
Aku tetap berjalan dengan tenang tanpa mengubah ekspresi wajahku, lalu memilih duduk di sebuah meja yang masih kosong. Sarah, Diana, dan Liora pun segera menyusul duduk di sekitarku, sambil sesekali saling bertukar pandang seolah memberi isyarat agar tidak melakukan hal yang keliru lagi. Sarah duduk tepat di hadapanku, menarik napas panjang sejenak, lalu berkata dengan nada yang terdengar penuh penyesalan: “Zara, kami mohon maaf sekali atas apa yang terjadi kemarin.”
Aku menatapnya dengan pandangan yang tenang namun tidak langsung lunak. “Mengapa kalian meminta maaf sekarang? Apakah kalian benar-benar menyadari bahwa apa yang kalian lakukan itu salah?”
Sarah mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Ya, aku sadar sepenuhnya bahwa tindakan kami itu tidak benar dan sangat kejam. Kami berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tolong percayalah padaku.”
Aku melirik sekilas ke arah Liora dan Diana yang hanya menunduk diam, lalu kembali menyantap makananku dalam keheningan sejenak, sebelum akhirnya aku mengangguk perlahan sebagai tanda menerima permintaan maaf mereka. Melihat hal itu, raut wajah Sarah seketika terlihat jauh lebih lega.
Setelah kami selesai makan, aku berjalan keluar menuju lapangan untuk melihat siswa lain yang sedang bermain bola. Sementara itu Sarah pergi membeli camilan, dan diikuti oleh Liora yang masih terlihat penuh kebingungan. “Sarah, katakan padaku, mengapa kita harus bersikap sebaik ini kepadanya? Siapa sebenarnya Zara itu hingga kau berubah begitu banyak? Ini sama sekali bukan sifatmu yang aku kenal selama ini,” tanya Liora dengan suara yang pelan namun penuh rasa ingin tahu.
Sarah hanya menjawab dengan nada yang singkat namun tegas: “Cukup, jangan tanya hal itu lagi.” Namun jauh di dalam hatinya, ia bergumam penuh keraguan: Sebenarnya aku pun tidak ingin bersikap seperti ini, tapi ada sesuatu yang membuatku terpaksa harus melakukan hal ini…
Tak lama kemudian Sarah kembali sadar dari pikirannya dan segera berkata dengan tegas kepada Liora: “Intinya begini saja, jangan pernah mencari masalah dengan Zara mulai sekarang. Kita harus tetap bersikap baik dan menjaga hubungan yang baik dengannya.” Mendengar nada bicara Sarah yang begitu serius, Liora pun akhirnya mengerti bahwa hal ini bukan hal yang sepele, dan ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Sambil terus memikirkan kejadian-kejadian yang baru saja ia alami, Sarah pun kembali berjalan mendekat ke arahku dan Alina. Saat jam pulang sekolah tiba, mereka hanya berdiri diam mengamati dari kejauhan saat aku melangkah masuk ke dalam mobil berwarna putih yang menantiku untuk pulang.
Di tempat lain, terlihat sebuah kediaman yang sangat megah bergaya modern minimalis berlantai dua. Seluruh bangunannya tampak kokoh dengan warna dasar hitam pekat dan garis bangunan yang tegas namun tetap anggun. Dikelilingi jendela kaca yang luas serta pagar pembatas balkon yang terlihat bening, tangga masuk yang lebar berwarna terang, dan halaman yang tertata rapi dengan berbagai tanaman hias yang asri — memancarkan kesan kediaman yang kokoh, mewah, dan dimiliki oleh keluarga yang sangat terpandang.
Di dalam rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Sarah, sang ayah baru saja menerima sebuah kabar yang bersifat sangat rahasia: diketahui bahwa Tuan Adrian baru saja melangsungkan pernikahan, dan salah satu istrinya adalah gadis yang masih sangat muda, menggunakan identitas yang baru diatur, serta kini sedang bersekolah di tempat yang sama dengan putrinya sendiri. Selain itu, diketahui juga bahwa Tuan Adrian menginginkan keberadaan gadis itu tetap dirahasiakan dari siapapun.
Saat sedang merenung memikirkan hal itu, ia melihat Sarah baru saja tiba pulang dari sekolah, lalu segera memanggilnya dengan nada yang dingin dan tegas: “Sarah, kemarilah ke sini sebentar!”
Sarah pun mendekat dengan hati-hati. “Ada apa, Ayah?”
“Apakah ada murid baru yang masuk ke sekolahmu hari ini?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Setelah mendengar jawaban putrinya, ia kembali berkata dengan nada yang penuh perintah: “Mulai hari ini, bergaullah dengan baik dan sopan kepada gadis itu. Ingat pesan Ayah, dia bukan orang yang bisa kalian perlakukan sembarangan. Jangan sampai kita melakukan satu kesalahan saja yang bisa mendatangkan bahaya bagi seluruh keluarga kita.”
Sarah hanya bisa menunduk tanda patuh. “Baik, Ayah. Aku akan melakukannya.”
Namun jauh di dalam hatinya, rasa ingin tahu itu semakin membesar: Siapa sebenarnya Zara ini? Mengapa Ayah sampai memberikan perintah yang begitu serius dan penuh peringatan seperti ini?
Saat itu pula Sarah teringat kembali segala hal yang terjadi di sekolah, lalu segera bergegas pergi menghampiri aku dan Diana.
Sesampainya aku kembali di rumah, aku menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke rumah sakit. Aku ingin menjenguk keadaan Aslan.
Malam harinya, aku duduk diam di dalam kamarku yang luas dan indah dengan gaya bangunan yang mengingatkan pada arsitektur Eropa kuno, sambil menyelesaikan tugas sekolah yang diberikan. Setelah meletakkan pulpen dari tanganku, pikiranku perlahan melayang kembali mengingat Kak Adrian. Sudah genap satu minggu sejak ia berangkat ke luar negeri. Raut wajahku terlihat sedikit murung, namun kemudian aku mulai merenung sendirian sambil bergumam pelan: Dulu Kak Adrian datang menawarkan perjanjian ini padaku, katanya ia membutuhkan istri secepatnya agar bisa menenangkan desakan yang terus datang dari keluarganya. Tapi mengapa ia harus menikah lagi selain dengan perjanjian ini? Semakin aku pikirkan, rasanya semua hal ini terasa sangat aneh… namun aku juga melihat Kak Fara berada dalam keadaan yang sama persis denganku, seolah-olah pernikahan yang kami jalani ini hanyalah sebuah ikatan yang didasari atas kesepakatan semata.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar tanpa henti di dalam benakku, meninggalkan satu tanda tanya yang besar mengenai apa tujuan sebenarnya yang tersembunyi di balik pernikahan yang kini mengikat seluruh kehidupanku ini.