NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Upacara Vassal

Hari yang selama ini terus ditunggu akhirnya tiba.

Sejak fajar menyingsing, seluruh Istana Astoria telah dipenuhi kesibukan. Para pelayan berlalu-lalang membawa berbagai perlengkapan upacara, sementara para kesatria berjaga di setiap sudut aula utama. Kereta para bangsawan berdatangan silih berganti, memenuhi halaman istana dengan lambang keluarga masing-masing.

Hari itu adalah Upacara Vassal. Sebuah ritual sakral yang hanya berlangsung sekali seumur hidup dan dipercaya menentukan masa depan setiap orang.

Ash berdiri diam di depan cermin kamarnya. Seorang pelayan tua dengan telaten merapikan kerah jubah kebesaran yang dikenakannya, memastikan tidak ada sedikit pun lipatan yang terlihat.

"Sudah selesai, Yang Mulia," ujar pelayan itu sembari mundur selangkah. "Semoga upacara hari ini berjalan lancar."

Ash menatap pantulan dirinya di cermin selama beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Terima kasih," balasnya pelan.

Pelayan itu membungkukkan badan, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, senyum tipis di wajah Ash perlahan memudar. Lalu mengembuskan napas panjang.

Selama beberapa hari terakhir, ia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar tidak berharap terlalu tinggi.

Jika ia memperoleh Senjata Vassal yang kuat, mungkin perlakuan keluarganya akan sedikit berubah.

Jika senjatanya biasa saja, setidaknya ia masih memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

Namun ada satu kemungkinan yang terus menghantui pikirannya.

Gimana kalo aku ga dapet apapun?

Ash segera menggeleng pelan. "Jangan mikir yang aneh-aneh," gumamnya sambil menepuk kedua pipinya perlahan. "Belum ada kejadian kayak gitu."

Meski berusaha menenangkan diri, jantungnya tetap berdegup lebih cepat dari biasanya.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.

"Yang Mulia Pangeran Ash," panggil seorang pelayan dari luar ruangan. "Upacara akan segera dimulai."

Ash menarik napas dalam-dalam.

"Baik. Aku akan segera ke sana," balasnya.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar dengan langkah yang berusaha tetap tenang.

...----------------...

Aula ritual kerajaan jauh lebih megah daripada biasanya.

Langit-langitnya menjulang tinggi dengan ukiran kuno yang menggambarkan para raja Astoria dari generasi ke generasi. Di tengah ruangan terbentang sebuah lingkaran sihir raksasa yang terukir di atas lantai marmer putih, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut.

Ratusan pasang mata tertuju ke arah tempat itu.

Para bangsawan memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan. Di sisi lain, para kesatria kerajaan berdiri tegak menjaga ketertiban.

Di ujung aula, Raja Astoria duduk di singgasananya dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya, sang ratu mempertahankan sikap anggun yang selama ini selalu ia tunjukkan di hadapan publik.

Ketiga kakak Ash berdiri tidak jauh dari mereka.

Begitu melihat Ash memasuki aula, Cedric menyunggingkan senyum tipis.

"Akhirnya datang juga," ujarnya pelan kepada kedua saudaranya.

"Semoga adik kita tidak membuat kejutan," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh lirih.

"Kejutan?" Cedric mengangkat sebelah alisnya. "Kalau dia berhasil mendapatkan Vassal saja sudah merupakan keajaiban."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash mendengar ucapan itu. Namun seperti biasanya, ia memilih berpura-pura tidak mendengarnya dan berjalan menuju tempat para peserta tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, pendeta agung melangkah ke tengah aula.

"Atas restu para leluhur dan kehendak dunia," ucapnya lantang hingga menggema ke seluruh ruangan, "Upacara Vassal Kerajaan Astoria resmi dimulai."

Satu per satu peserta dipanggil maju.

Seorang putra bangsawan melangkah ke dalam lingkaran sihir.

Cahaya putih berkumpul di hadapannya sebelum berubah menjadi sebuah tombak panjang berwarna perak.

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

"Vassal Tombak!"

"Bagus sekali!"

"Anak itu memiliki masa depan cerah."

Peserta berikutnya memperoleh pedang berhias ukiran emas.

Disusul seorang gadis bangsawan yang menerima busur dengan aura sihir yang begitu kuat hingga membuat banyak orang berdecak kagum.

Setiap kemunculan Senjata Vassal selalu disambut sorak kagum.

Ash mengamati semuanya dalam diam.

Ia berusaha mengingat kembali setiap teori yang pernah dibacanya. Tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan seseorang gagal memperoleh Senjata Vassal.

Akhirnya, pendeta agung mengangkat suaranya sekali lagi. "Pangeran Ash van Astoria."

Ash menarik napas panjang.

"Inilah saatnya," gumamnya pelan.

Ia melangkah menuju lingkaran sihir. Begitu kedua kakinya menginjak ukiran kuno itu, cahaya kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ash memejamkan mata.

Ia menunggu sembari berharap, selama itu waktu terus berjalan. Namun tidak terjadi apa-apa.

Ash mulai merasakan sesuatu yang aneh. Hingga akhirnya perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju ke ruang kosong di hadapannya.

Lingkaran sihir yang semula bersinar perlahan kehilangan cahayanya hingga akhirnya kembali menjadi ukiran biasa.

Keheningan memenuhi aula.

Pendeta agung mengernyitkan dahi. Ia menatap lingkaran sihir beberapa saat, seolah memastikan tidak ada kesalahan dalam ritual yang baru saja berlangsung.

"Pendeta Agung..." ujar Ash pelan sambil menoleh kepadanya. "Apa... ritualnya sudah selesai?"

Pendeta itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Ya," jawabnya lirih. "Ritual telah selesai."

Ash menatapnya dengan bingung. "Kalau begitu..." katanya perlahan, "di mana Senjata Vassalku?"

Pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban.

Pendeta agung hanya menghela napas pelan. "Aku... tidak mengetahuinya, Yang Mulia."

Jawaban singkat itu membuat suasana aula berubah.

Bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru.

"Tidak mungkin..."

"Dia tidak mendapatkan Senjata Vassal?"

"Belum pernah ada kejadian seperti ini."

"Jangan-jangan dunia benar-benar menolaknya."

Suara-suara itu semakin lama semakin keras.

Ash dapat merasakan puluhan tatapan tertuju kepadanya. Tatapan heran, iba dan meremehkan.

Cedric menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Hebat sekali," ujarnya dengan nada mengejek. "Kupikir kau hanya tidak bisa menggunakan sihir." Lalu ia menggeleng pelan sambil menyeringai. "Ternyata bahkan Senjata Vassal pun tidak mau memilihmu."

Kakak sulungnya ikut tersenyum tipis. "Kurasa kita baru saja menyaksikan sejarah."

"Sejarah yang memalukan," timpal kakak ketiganya sambil terkekeh.

Ash mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah singgasana.

"Ayah..." panggilnya lirih.

Raja Astoria membalas tatapan itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara.

"Upacara telah selesai," ujarnya datar.

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Ash, rasanya seolah seluruh harapan yang selama ini ia genggam runtuh begitu saja.

Ia masih berdiri di tengah lingkaran sihir, sementara bisikan dan tatapan merendahkan dari seluruh penjuru aula terus menghujaninya tanpa henti.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!