NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sebelum ayam hutan sempat berkokok membelah malam, Sang Warok sudah berdiri kokoh di depan gubuk bambu.

Kabut tebal masih menggantung rapat di antara pepohonan Pegunungan Sewu, menyembunyikan hawa dingin yang menusuk tulang.

"Bangun," titah Sang Warok pendek.

Jangkrik segera melangkah keluar tanpa menunda sekejap pun. Sepasang Gelang Baja Wulung masih melingkar berat di kedua pergelangan tangannya, sementara golok pendek pinjaman dari gurunya kini tergantung mantap di pinggang kiri.

"Kita berangkat sekarang?" tanya Jangkrik.

Sang Warok mengangguk pelan. "Hari ini kau tidak perlu membawa perbekalan apa pun."

Jangkrik mengernyit. "Tidak membawa bekal?"

"Kalau lapar, cari sendiri. Kalau haus, cari sendiri," sahut Sang Warok lempeng.

Jangkrik hanya mengangguk paham. Ia mulai mengerti bahwa setiap perjalanan bersama monster tua ini tidak pernah menjadi pelesiran biasa, melainkan selalu menjadi bagian dari ujian hidup dan mati.

Mereka berjalan menembus hutan selama berjam-jam. Semakin jauh mereka meninggalkan gubuk, vegetasi pegunungan pun berubah drastis. Pepohonan tumbuh kian rapat dan raksasa, membuat sinar matahari pagi nyaris tak mampu menembus rimbunnya atap dedaunan di atas sana.

Anehnya, tidak ada suara kicau burung. Tidak ada pula kelebatan monyet yang biasanya riuh saling menyahut. Hutan itu terlampau sunyi, menyisakan keheningan mati yang mencekam.

Jangkrik merasakan bulu kuduk di tengkuknya mendadak berdiri. "Warok."

"Apa?"

"Hutan ini terasa ganjil."

Sang Warok tidak menoleh, langkahnya tetap konstan membelah semak. "Itu tanda yang baik. Artinya kau mulai belajar mengaktifkan naluri petarungmu."

"Memangnya ada makhluk apa di wilayah ini?"

Sang Warok mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pohon beringin purba. Batang pohon itu begitu raksasa, bahkan tampaknya tidak akan cukup jika dipeluk oleh lima orang dewasa sekalipun. Di pangkal batangnya yang berlumut, terdapat torehan bekas cakaran yang teramat dalam dan lebar.

"Ini adalah wilayah perburuan," bisik Sang Warok rendah.

"Harimau?"

Sang Warok menggeleng pelan. "Makhluk yang jauh lebih pintar dan licik."

Jangkrik secara refleks menggeser telapak tangan kirinya, bersiap mencengkeram gagang golok pendeknya.

Krek...

Tiba-tiba, dari balik rimbunnya semak-semak di sebelah kanan, terdengar suara patahan ranting yang sangat halus.

Jangkrik spontan memutar tubuhnya, memasang posisi waspada. Kosong. Tidak ada pergerakan apa pun di sana. Namun, saat ia kembali memutar tubuh menghadap ke arah depan...

Sang Warok sudah lenyap tanpa bekas.

"Warok?" panggil Jangkrik lirih. Tak ada jawaban.

"Warok!" serunya lebih keras. Sunyi senyap.

Jangkrik memutar tubuhnya berkali-kali, mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Gurunya benar-benar menghilang, seolah menguap ditelan kabut. Dadanya mulai berdebar kencang. Untuk pertama kalinya sejak ia menapakkan kaki di Pegunungan Sewu, ia benar-benar ditinggalkan sendirian di tengah kegelapan rimba.

"Kalau aku panik... aku akan mati," bisik Jangkrik pada dirinya sendiri, mencoba memanggil kembali petuah yang sering diucapkan gurunya.

Ia memaksa jantungnya berdetak lebih lambat. Matanya mulai menyisir sekeliling dengan cermat—mengamati permukaan tanah, kelembapan daun, arah angin, hingga bekas pijakan kaki. Namun, nihil. Ia sama sekali tidak menemukan jejak kepemilikan Sang Warok.

Justru pada saat ketegangannya memuncak itulah, sebuah suara lirih bertiup dari balik kelebatan pepohonan di depannya.

"Tolong..."

Jangkrik menegang di tempat. Itu suara seorang perempuan.

"Tolong..."

Suara itu terdengar sangat lemah dan tersengal-sengal, seolah-olah milik seseorang yang tengah terluka parah dan kehabisan darah.

Jangkrik mengambil langkah perlahan untuk mendekat. Namun, baru berjalan tiga langkah, sebuah petuah lama Sang Warok mendadak terngiang kembali di dinding kepalanya: 'Di dalam hutan, jangan pernah percaya pada telingamu. Percayalah pada matamu. Dan ketahuilah, bahkan matamu sendiri pun terkadang masih bisa dibohongi oleh keadaan.'

Langkah Jangkrik langsung terhenti. Ia menyipitkan mata, menatap tajam ke arah balik semak belukar yang terlampau lebat.

Ada yang tidak beres. Jika ada seseorang yang terluka parah di sana, mengapa hidungnya sama sekali tidak mencium bau anyir darah? Mengapa tidak ada jejak seretan kaki atau ranting yang patah di sekitar semak tersebut? Semuanya terlalu rapi. Hanya ada suara yang terus meratap.

"Tolong..."

Jangkrik memutuskan untuk tidak bergerak maju. Sebaliknya, ia membungkuk perlahan, memungut sebutir batu kali sebesar genggaman tangan, lalu melemparkannya kuat-kuat ke arah sumber suara.

Buk!

Batu itu menghantam vegetasi di balik semak. Sesaat kemudian... semak belukar itu meledak gila!

Aummm!

Seekor harimau tutul dewasa bertubuh kekar menerjang keluar dengan kecepatan luar biasa, menerkam tepat ke arah titik jatuhnya batu yang dilemparkan Jangkrik.

Jangkrik meloncat mundur dengan tangkas, matanya membelalak sempurna. "Jebakan!"

Harimau tutul itu mendarat dengan anggun, lalu perlahan memutar kepalanya. Sepasang mata kuningnya yang dingin langsung mengunci sosok Jangkrik. Geraman rendah yang menggetarkan udara keluar dari sela-sela taringnya yang runcing.

Namun, sebelum binatang buas itu sempat meluncurkan terkaman mautnya...

Prok... prok... prok...

Suara tepuk tangan yang ritmis terdengar dari atas kepala mereka.

Jangkrik mendongak dengan wajah yang memerah menahan kesal. Di atas dahan besar pohon beringin purba, Sang Warok tampak sedang duduk bersila dengan santai sembari menyunggingkan senyum puas.

"Bagus. Kau tidak sebodoh yang kukira," ucap Sang Warok dari atas.

"Kau sengaja meninggalkanku?!" cecar Jangkrik geram.

Sang Warok tertawa pendek. "Kalau aku selalu berdiri di sampingmu dan melindungimu, kapan kau akan belajar cara bertahan hidup seorang diri?"

Jangkrik mendengus, matanya kembali melirik harimau di depannya yang masih menggeram rendah. "Tapi suara tadi... itu jelas bukan suara harimau."

"Tentu saja bukan," Sang Warok menunjuk dengan dagunya ke arah vegetasi di belakang sang harimau.

Di balik ranting pohon yang agak tinggi, tampak sekelebat burung kecil berbulu cokelat kusam yang dikenal sebagai burung peniru—makhluk yang mampu menduplikasi berbagai macam suara di alam dengan tingkat kemiripan yang gila.

"Burung peniru," lanjut Sang Warok. "Dan harimau di depanmu itu cukup cerdik untuk memanfaatkan suaranya demi memancing mangsa. Di hutan ini, Jangkrik... yang bodoh akan menjadi bangkai, dan yang cerdik yang akan tetap bernapas."

Harimau tutul itu mulai merendahkan cakarnya, otot-otot di kaki belakangnya menegang sempurna, bersiap meledak untuk menerkam Jangkrik.

Sang Warok sama sekali tidak berniat untuk turun membantu. Ia hanya bersedekap di atas dahan pohon. "Jangkrik."

"Apa?!"

"Itu adalah lawanmu untuk hari ini."

Jangkrik menoleh tajam, menatap gurunya tak percaya. "Aku harus menghadapinya sendiri?"

"Ya."

"Bagaimana kalau aku mati di cakar binatang itu?"

Sang Warok menjawab dengan nada yang teramat datar, sedingin kabut yang menyelimuti mereka. "Kalau kau mati, berarti latihanmu bersamaku selesai untuk selamanya. Dan kau memang hanya ditakdirkan sampai di sini."

Harimau itu kembali menggeram, tatapan lapar memancar dari matanya.

Jangkrik menarik napas dalam-dalam. Dengan satu sentakan mantap, ia mencabut golok pendek dari pinggangnya. Bilah besinya berkilau dingin di bawah temaramnya hutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!