Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 26
SETENGAH KEBENARANNYA
Ruang perapian itu hangat, namun hawa dingin tetap merayap di ujung-ujung jari Myra. Cahaya oranye dari api menari di dinding marmer, memantulkan bayangan yang panjang dan goyah.
Elina duduk bersandar di pangkuannya, punggung kecil gadis itu naik-turun mengikuti irama napas. Di tangan Myra terbentang sebuah buku dongeng kulit usang. Suaranya rendah, tenang, berusaha menutupi segala kegelisahan yang semalaman tidak pernah padam.
“...dan sang putri akhirnya menemukan rumahnya. Bukan di istana emas, melainkan di tempat yang dipenuhi tawa dan pelukan,” baca Myra, ujung jarinya mengusap pelan rambut Elina.
Elina mendengarkan dengan saksama. Matanya setengah terpejam, namun bibirnya masih membentuk senyum kecil.
“Cerita itu bohong,” bisik Elina tiba-tiba. “Tidak semua orang bisa pulang.”
Myra terdiam. Ia menutup bukunya perlahan dan mencium puncak kepala gadis itu. “Bukan bohong. Hanya saja, jalan pulang setiap orang berbeda.”
Belum sempat Elina menjawab, pintu besar ruang perapian terbuka dengan suara berat. Hawa dingin dari luar masuk bersamaan dengan langkah tiga orang.
Myra sontak menegakkan tubuh. Jantungnya berdegup kencang.
Hana masuk pertama, rahangnya mengeras, matanya langsung mencari Myra dan memberi isyarat kecil: _tenang_. Di belakangnya Pikkey mendorong kursi roda. Dan di atas kursi itu duduk Markie.
Wajah Markie pucat pasi. Bibirnya pecah, matanya sembab, namun sorotnya tetap tajam. Selimut tipis menutupi kedua kakinya yang tak bergerak.
Elina yang semula bersandar langsung kaku. Ia mengangkat kepala, menatap lama pada sosok di kursi roda itu. Napasnya tercekat.
Myra refleks memeluk bahu Elina, berusaha menenangkan. “Elina—”
Namun gadis itu sudah berdiri. Kakinya yang kecil melangkah mendekat, ragu, lalu berhenti dua langkah di depan Markie.
Hana menatap Myra sekali lagi. Tatapan itu berkata: _biarkan_.
Keheningan menggantung, hanya terdengar desir api.
“...Ibu?” suara Elina pecah, nyaris seperti bisikan, namun jelas terdengar di seluruh ruangan.
Myra terpaksa menarik napas. Ia memaksa senyum, meski dadanya sakit. “Iya, sayang. Itu ibumu.”
Markie mendongak. Saat matanya bertemu dengan Elina, seluruh benteng yang ia bangun runtuh. “Shein...” panggil Markie pelan, suaranya serak dan bergetar.
Elina tersentak. Nama itu—nama yang hanya disebut di dalam foto tua di kamar Markie—keluar dari mulut ibunya.
Tanpa pikir panjang Elina melangkah maju dan langsung memeluk Markie erat. Tangannya kecil melingkar di leher ibunya.
Markie membalas pelukan itu dengan segenap tenaga yang ia punya. Tangisnya pecah, tertahan, lalu berubah menjadi isakan yang mengguncang bahunya. “Maafkan Ibu sayang... Maafkan ibu... ibu sudah pulang...”
“Aku ketakutan saat Elion meninggalkan ku.”
Myra hanya diam. Ia berdiri beberapa langkah dari mereka, tangannya masih mengepal di sisi tubuh. Dadanya sesak menyaksikan adegan itu. Bukan karena cemburu. Melainkan karena ia tahu, luka seperti ini tidak bisa disembuhkan dengan satu pelukan.
Pintu kembali terbuka.
Langkah kaki berat terdengar. Semua orang menoleh.
Silas berdiri di ambang pintu. Jas hitamnya masih basah oleh embun malam. Matanya menyapu ruangan—dari Hana, Pikkey, lalu berhenti pada Markie yang masih memeluk Elina. Sorotnya menggelap saat melihat kursi roda itu.
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
“Jauhkan anak itu,” perintah Silas, suaranya rendah namun menggema.
Seorang pelayan segera mendekat dengan gugup. “Nona Elina, mari ikut aku ke kamar. Sudah larut.”
Elina menoleh ke Myra, mencari kepastian. Myra mengangguk pelan. Dengan enggan, gadis itu melepaskan pelukannya dan mengikuti pelayan keluar, namun matanya tak lepas dari Markie sampai pintu tertutup.
Kini hanya tersisa mereka berlima. Keheningan kembali, kali ini lebih tajam.
Silas melangkah masuk. Ia berhenti tepat di hadapan Markie. Tatapannya dingin, tanpa sedikit pun simpati.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Silas?” tanya Markie, dagunya terangkat. “Membunuhku? Seperti kau membunuh suamiku?”
Silas menggeleng kecil. Bibirnya membentuk garis lurus. “Tidak. Percuma. Istriku juga tidak menyukai pertumpahan darah yang sia-sia.”
Ia melirik sekilas ke arah Myra. Tatapan itu singkat, namun cukup membuat Myra tercekat.
Markie menyeringai, meski air matanya masih mengalir. Tawa kecilnya keluar, kering dan getir. “Aku kira kaulah yang menyerangku di jalan. Yang membuatku hampir mati.”
Kedua alis Silas menyipit. “Menyerangmu?”
“Jangan bicara sembarangan!” bentak Pikkey, maju setengah langkah. Hana ikut menahan lengannya.
Silas mengangkat tangan, menghentikan mereka. Ia tetap menatap Markie. “Siapa yang melakukannya?”
“Justru itu yang ingin aku tahu,” sahut Markie, suaranya meninggi. “Aku ingin mendengarnya darimu semuanya. Kau yang menghabisi Cassian. Kau yang menghancurkan hidupku. Jadi siapa dalangnya sekarang?”
Udara terasa menekan. Bahkan api di perapian seolah mengecil.
Langkah lain terdengar. Kael masuk, wajahnya tegang. Ia berhenti saat merasakan ketegangan, namun tetap berdiri di dekat pintu.
Silas tidak berpaling. Tatapannya terkunci pada mata Markie.
“Lynda Wolfe,” kata Silas akhirnya. Suaranya datar, tanpa emosi. “Dia yang menyuruhku menghabisi Cassian waktu itu.”
Myra tersentak. Dadanya seakan ditusuk. Ia menatap Silas lama, tak percaya.
Markie menggeleng. “Tidak mungkin. Dia... dia ibunya Cassian.”
“Kekuasaan,” jawab Silas pelan. “Kekuasaan bisa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dulu aku anteknya. Aku dipaksa melakukan apa pun yang ia inginkan. Dan aku membayarnya dengan nyawa kedua orang tuaku.”
Keheningan kembali. Hanya suara kayu di perapian yang berderak.
Markie gemetar. Air matanya kembali jatuh. “Lalu... lalu kenapa kau menyetujui rencanaku? Kenapa kau membiarkanku pergi ke Bianco? Aku pikir Bianco yang melakukannya pada Cassian!”
Silas diam seolah itu rahasia yang besar untuk tidak dia katakan. Rahangnya mengeras.
Hana dan Pikkey saling pandang, sama-sama bingung. Kael yang sedari tadi diam akhirnya bersuara agar bosnya bisa teralihkan.
“Tuan,” potong Kael cepat. “Penyerangan di tepi barat. Gudang kita dibakar. Tiga orang kita hilang.”
Seolah tersambar petir, suasana berubah. Silas langsung menoleh ke Kael, lalu ke Pikkey. Tanpa kata lain, keduanya berbalik dan keluar dengan langkah cepat.
“Kumpulkan beberapa anak buah untuk pergi tepi barat.”
Hana mengejar dari belakang. Ruangan itu kembali kosong, hanya menyisakan Myra dan Markie yang masih terduduk.
Markie menutup wajahnya dengan kedua tangan. Myra tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan serta mendengar semua itu.
.
.
.
Tengah malam lewat. Hujan tipis mengetuk jendela.
Myra duduk sendirian di ruang tengah. Lampu hanya menyala temaram. Di pangkuannya tidak ada buku, tidak ada Elina. Hanya pikirannya yang berputar: Lynda. Cassian. Silas. Markie.
Ia tidak sadar kapan matanya terpejam. Ketika ia terbangun, fajar sudah menyelinap dari celah gorden.
“Nyonya Myra,” suara Penelope lembut membangunkan nya. “Anda tertidur di sini.”
Myra bangkit dengan kaget. “Silas? Sudah pulang?”
Penelope menggeleng. “Belum, Nyonya. Belum ada kabar.”
Rasa cemas kembali menjalar. Myra berjalan ke jendela. Halaman masih basah.
Tiba-tiba suara mesin mobil memecah pagi. Sebuah mobil hitam berhenti di depan. Bukan mobil Silas. Tentu saja Myra bergegas keluar, mengira itu Silas. Namun yang turun bukanlah dia.
Amber Bianco. Dengan dress hitam ketat dan tumit tinggi, ia menatap Myra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyumnya tipis, angkuh.
“Sudah lama aku tidak mengunjungi rumah ipar ku!” kata Amber tersenyum licik.