Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Mata Helena membulat. Matanya menatap ke arah tubuh pria kekar yang sedang mengukungi tubuh adiknya itu.
Spontan, matanya menatap ke bawah, di mana ia bisa melihat dengan jelas penyatuan mereka berdua. Melihatnya, tenggorokannya tiba tiba terasa kering.
“Kakak!” Selina tanpa sadar menjerit.
Maxime yang juga tahu jika Helana lah yang datang langsung menarik selimut, menutupi tubuh mereka berdua, dan hanya menyisakan wajah Selina.
Helena yang tak bisa melihat lagi pemandangan yang luar biasa itu berusaha tenang. Tubuhnya juga ikut merasa panas.
“Oh, maaf, kakak tidak tahu kau sedang ....” Helena tak menyelesaikan kata katanya.
Bayangan tubuh belakang pria itu benar benar membuatya tergila gila. Terlebih, benda yang masuk ke tubuh adiknya. Meskipun ia tak melihat keseluruhan, tapi dari ukuran bolanya saja, ia sudah bisa menebak, seberapa luar biasanya itu.
“Kalau begitu, kakak keluar dulu,” ucap Helena hati hati.
Namun, wanita itu sama sekali tak menggerakkan kakinya. Matanya terus menatap ke arah pria yang tertutup sempurna. Tanpa harus bertanya, ia tahu dengan jelas, apa yang sedang dilakukan pria itu.
Selina mengangguk. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena gairahnya, tapi juga karena ketakutan yang tak bisa ia tahan.
Maxime sendiri yang cukup beruntung karena posisinya saat ini tak memudahkan Helena untuk melihatnya memilih fokus mengejar kenikmatannya.
Bibirnya dengan lembut mengecap benda bulat milik selina, membuat kaki Selina yang melingkari pingganya tanpa sadar mengerat.
“Kak ... bisakah kakak keluar,” pinta Selina dengan suara pelan.
Seolah tersadar, Helena langsung mengangguk. “Ah, kakak akan keluar sekarang juga.”
Selina mengangguk. Diam diam ia menghela nafas lega. Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Pria itu bahkan mulai menggerakkan tubuhnya, membuat suara berderit yang cukup ambigu, dan membuat wajah Selina memerah hebat dengan tangan membekap mulutnya rapat.
Helena yang hampir menutup pintu itu tak bisa menahan diri.
“Selina, bisakah kau mengenalkan priamu pada kakak?” tanyanya dengan mata menatap Selina yang tampak menahan kenikmatan itu dengan pandangan dalam.
Selina yang mendengar pertanyaan itu tertegun, sementara Maxime yang mendengar itu tanpa sadar menghentikan gerakan tubuhnya.
“Besok pagi, jangan biarkan dia pergi. Kenalkan pada kakakmu,” ucapnya cepat yang langsung meninggalkan kamar Selina.
Ia bahkan langsung menutup pintu. Namun, bayangan persetubuhan adiknya dengan pria asing itu sama sekali tak mau menghilang.
Saat ia masuk ke dalam kamarnya, ia bahkan tak bisa menahan diri untuk menjilat bibirnya yang terasa kering.
Bukan hanya itu, tangannya tanpa sadar menyentuh dirinya. Membayangkan pria hebat yang sedang mempermainkan tubuh adiknya juga sedang mempermainkannya.
“Dimana Selina bisa menemukan pria seperti itu,” bisiknya benar benar menginginkan pria saat ini.
Jika saja ia pernah melihat tubuh t3lanjang Maxime, ia akan langsung tahu siapa pemilik punggung itu.
Jika ia tahu, apa dia masih bisa memuji Selina? Bahkan, apa dia akan tetap tenang, dan membiarkan Selina menikmati tubuh pria yang bahkan ia sendiri belum menikmatinya.
***
“Bagaimana? Apa aku harus mengenalkan diriku pada kakakmu besok?” tanya Maxime yang tak lagi mengubur kepalanya di d4da Selina.
Mata Selian membulat. Matanya menatap ke arah Maxime yang memiliki wajah dipenuhi keringat itu.
“Kau gila?”
Maxime menyeringai. Sementara Selina yang tak menyangka Maxime masih bisa menanyakan hal seperti itu, di saat sedang bers3tubuh hanya bisa menatap pria itu kesal.
“He he, biarkan kakakmu tahu. Jika yang sedang berc1nta dengan adik tercintanya adalah suaminya sendiri. Sepertinya, kakakmu tidak akan semarah itu. Sebaliknya, kakakmu pasti akan mendukung kita,” bisiknya dengan tangan menyentuh pelipis Selina yang basah.
Selina menatap Maxime marah.
“Tidak boleh!”
Maxime menyeringai. Tangannya mengelus sisi wajah selina pelan. Kemudian, mengusap setiap bagian sensitiv tubuh Selina, membuat Selina harus menahan nafas.
“Kenapa? Bukankah sebagai adik yang baik, kau tidak boleh mengecewakannya,” bisiknya mendekatkan bibirnya di telinga Selina.
Ia bahkan menjilat telinga itu, membuat seluruh tubuh Selina bergetar dan menatap Maxime tak percaya.
“Max, kau tahu hubungan ini tidak bisa dipublikasikan.”
Maxime masih menikmati kegiatannya. Meskipun penyatuan mereka sudah terlepas setelah mereka sama sama mendapatkan pelepasan. Ia masih bermain main dengan tubuh Selina.
“Bagaimana kalau aku menginginkannya,” bisik Maxime lembut.
Selina menggelengkan kepala. Kepalanya mendongak saat Maxime melabuhkan kecupan serta gigitan di lehernya.
“Max_”
“Aku tidak ingin terus bersembunyi seperti ini, Selina. Aku ingin, semua orang tahu bahwa kau milikku,” bisik Maxime sungguh sungguh.
Selina yang kembali disulut gairahnya itu menggelengkan kepala. “Kita tidak bisa. Ini akan menyakiti kakakku,” tolaknya dengan suar serak.
Maxime yang lagi lagi mendengar kalimat yang sama itu berhenti sejenak. Namun, sedetik kemudian, ia menggigit tulang selangka wanita itu, meninggalkan bekas yang cukup mencolok.
“Max, ini menyakitiku,” lirih Selina benar benar kesakitan.
Maxime mendongak. Matanya memerah. Campuran antara gairahnya, atau karena kemarahannya karena Selina lagi lagi menomer duakannya demi Helena, istrinya sendiri.
“Kau juga menyakitiku,” jawab Maxime lirih.
Mata selina memerah.
“Max_”
“Apa kau pikir, dengan menyembunyikan hubungan kita kau tidak menyakiti kakakmu?”
“Aku .... Max, kau tahu maksudku.” Air mata mulai tumpah. Namun, kali ini bukan karna kenikmatan yang Maxime berikan saat mengejar pelepasan bersama. Melainkan, karena Helena.
“Lalu, sampai kapan? Sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini?” tanyanya sungguh sungguh.
Selina tak bisa menjawab. Ia membuang muka, membiarkan Maxime melihat air matanya yang terus berjatuhan.
“Cepat atau lambat, kakakmu akan mengetahuinya. Mau sekarang, atau di masa depan, kakakmu akan tetap sakit hati,” jelas maxime serius.
Selina menolehkan kepala. Matanya menatap Maxime dengan tatapan berkabut.
“Aku tidak ingin mengkhianati kakaku,” bisik selina.
“Aku juga tidak ingin menyakitinya,” lanjutnya dengan suara tertahan.
Maxime yang melihat itu memejamkan mata. Sejujurnya, ia tak bisa melihat selina menangis. Tapi ia tahu, hubungan seperti ini terlalu beresiko. Ia juga ingin membawa wanita yang benar benar ia cintai dengan cara yang benar.
Tubuhnya bergulang menyamping, membiarkan selina yang terbebas dari kungkungannya memiringkan tubuh.
“Max, bisakah kau memberiku waktu,” tanya Selina dengan tatapan penuh harap.
Maxim terdiam. Ia tak bisa memberikan jawaban.
“Aku mohon, aku ... aku tidak siap jika kakakku membenciku,” lanjut Selina dengan suara tercekat.
Mendengar itu, Maxime menghela nafas berat. Ia tak menjawab, sebaliknya, ia langsung memeluk selina erat. Membiarkan Selina mendengarkan detak jantungnya yang stabil itu.
“Tidurlah, aku tidak akan membiarkan kakakmu membencimu,” bisiknya lembut. Setelah itu, ia melabuhkan kecupan kecupan di kepala Selina, membuat Selina yang tampak menyedihkan itu hanya bisa meringkuk di pelukan Maxime.
[“Tuan, ini benar benar mendebarkan. Kalian benar benar berani. Bagaimana jika Helena menarik paksa selimut kalian, bukankah dia akan mengetahui siapa pria yang sedang bercinta dengan adiknya sendiri.”]
Selina yang mendengar itu hanya diam. Namun, sudut bibirnya terangkat. Bukankah adegan seperti ini pernah dilakukan Helena dulu saat menjadi selingkuhan suami pertama sahabatnya?
***
Sementara itu, Helena yang benar benar tak bisa menahan diri langsung merapikan pakaiannya. “Aku harus mencari Max, malam ini aku benar benar membutuhkan seorang pria,” putusnya tegas.
Setelah itu, ia membuka pintu. Langkahnya tegas, dan cukup cepat untuk berlari ke raung kerja Maxime. Ia bahkan tak mempedulikan peringatan Maxime sebelumnya untuk tidak menggagunya.