NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 — Jejak yang Hilang

Semua orang serentak berbalik, jantung berdegup kencang, namun tidak ada apa pun di belakang mereka selain dinding kosong berdebu dan bayangan perabotan tua yang tidak bergerak. Brandon perlahan membuka matanya, napasnya masih memburu, keringat dingin membasahi keningnya.

"Lo liat apa tadi?" tanya Gibran, membantu Brandon berdiri dengan tangan yang juga tidak sepenuhnya stabil.

"Gue nggak liat,"

Brandon menjawab lirih, matanya masih menatap kosong ke arah dinding yang tadi ia tunjuk.

"Gue cuma... ngerasain. Kayak ada yang berdiri deket banget, dingin banget, terus kepala gue langsung sakit banget kayak ditusuk-tusuk."

Josh dan Veron saling pandang, keduanya sama-sama teringat sensasi aneh yang pernah mereka rasakan masing-masing Josh dengan energi hangat yang tiba-tiba muncul, dan Veron dengan firasat yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Namun mereka belum sepenuhnya berani menghubungkan titik-titik itu, terlalu sibuk dengan ketakutan yang lebih mendesak saat ini.

Tangga menuju lantai dua berderit keras di setiap anak tangga yang mereka injak, seolah kayu tua itu memprotes kehadiran mereka yang mengganggu ketenangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Debu yang beterbangan tertimpa cahaya senter menciptakan bayangan-bayangan kecil yang menari di dinding, membuat Brandon beberapa kali tersentak kaget meski tahu itu hanya efek cahaya biasa.

Mereka menjelajahi rumah tua itu lebih jauh, menemukan sebuah kamar di lantai dua yang tampaknya milik remaja dalam foto tersebut.

Ranjangnya masih tertata rapi, seolah pemiliknya baru saja meninggalkannya sebentar dan berniat kembali, sesuatu yang justru terasa lebih menyeramkan daripada jika kamar itu berantakan. Di atas meja belajar, tergeletak sebuah buku harian usang dengan sampul kulit yang mulai mengelupas.

Veron membukanya perlahan, membaca beberapa halaman dengan saksama sementara yang lain menunggu dengan napas tertahan, Brandon masih bersandar lemas di dekat pintu.

"Dia nulis soal hal yang sama kayak yang Josh alami,"

kata Veron akhirnya, suaranya bergetar.

"Suara bisikan, sosok berjas hitam, jam yang berhenti di waktu yang sama."

"Terus gimana kelanjutannya?" tanya Brandon, meski dari nada suaranya jelas ia takut mendengar jawabannya sendiri.

Veron membalik beberapa halaman terakhir, namun tulisan tangan dalam buku itu berhenti mendadak di tengah kalimat, seolah penulisnya tidak sempat menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan.

"Aku pikir aku sudah mulai mengerti pola ini. Setiap kali sosok itu muncul, ada sesuatu dalam diriku yang bereaksi, semacam energi yang tidak bisa kujelaskan. Tapi rasanya waktu semakin dekat. Aku harus menemukan jawabannya sebelum—"

Kalimat itu terputus begitu saja, tinta terakhir membentuk goresan panjang yang tidak beraturan, seolah tangan penulisnya ditarik paksa sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Josh merasakan dadanya sesak membaca baris terakhir itu. Remaja dalam buku harian ini mengalami hal yang persis sama dengannya, bahkan hingga merasakan energi aneh yang sama, namun berakhir menghilang tanpa jejak sebelum sempat menemukan jawaban.

"Kita harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia," kata Gibran tegas.

"Sebelum hal yang sama kejadian lagi ke salah satu dari kita."

Mereka melanjutkan pencarian di seluruh rumah, namun tidak menemukan petunjuk lain selain buku harian tersebut. Ketika mereka hendak keluar, Josh sekali lagi merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya, seperti firasat yang memperingatkannya akan sesuatu.

Ia menoleh ke arah tangga menuju lantai atas, dan untuk sepersekian detik, melihat sosok bayangan berdiri di puncak tangga, menatap ke arah mereka tanpa bergerak sedikit pun, seolah menunggu mereka membuat kesalahan.

"Gue rasa kita harus cepet keluar dari sini," bisiknya kepada yang lain, suaranya nyaris tak terdengar karena tenggorokannya yang tercekat.

Mereka bergegas meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke belakang, namun suara bisikan yang samar tetap mengiringi langkah mereka hingga jauh dari halaman rumah tersebut dan di antara suara berbisik yang tidak jelas itu, Josh yakin ia mendengar satu kata yang diucapkan dengan sangat pelan, namun sangat jelas.

"Bertiga..."

Kata itu terus terngiang di kepalanya sepanjang jalan pulang, membuat perutnya terasa mual oleh firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan. Ia melirik Veron dan Brandon yang berjalan di sampingnya, keduanya masih tampak shock dengan kejadian yang baru saja mereka alami di rumah tua itu, tidak menyadari bahwa mungkin, sosok itu baru saja secara tidak langsung mengonfirmasi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka duga bahwa mereka bertiga, bukan hanya Josh seorang, adalah target sesungguhnya dari semua kejadian aneh ini.

Gibran, yang berjalan paling belakang sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka, akhirnya buka suara setelah mereka cukup jauh dari rumah tua tersebut.

"Kalian denger nggak tadi ada yang ngomong sesuatu?" tanyanya pelan.

Ketiga sahabatnya saling pandang, namun tidak satu pun dari mereka berani mengucapkan kata yang sama-sama mereka dengar, seolah dengan mengucapkannya keras-keras, kata itu akan menjadi lebih nyata dan lebih menakutkan dari yang seharusnya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!