NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Yang Terluka

Istri Pengganti Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.

​Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!

​"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.

​Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.

​Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!

Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pintu mobil Maserati hitam itu tertutup dengan bantingan yang cukup keras, meredam seketika gemuruh suara hujan deras yang menghantam kap luar kendaraan.

Hening yang pekat langsung merayap, menguasai ruang kabin bernuansa kulit premium hitam yang sempit itu. Di dalam mobil, suhu mendadak terasa begitu menekan, berbanding terbalik dengan udara dingin AC yang berembus pelan dari dasbor.

Hilmira Hazelya duduk membeku di kursi penumpang depan. Tangannya yang mungil masih meremas erat tas ransel kecilnya di atas pangkuan.

Gaun katun abu-abu gelapnya sedikit basah di bagian pundak akibat tampias air hujan tadi, dan sepasang mata bulatnya bergerak gelisah, menatap lurus ke arah kaca depan yang dipenuhi aliran air.

Di balik cadar sifon hitamnya, napas Hilmira terdengar pendek-pendek. Jantungnya masih berpacu gila pasca-insiden penarikan paksa di selasar fakultas tadi.

Di sampingnya, Arkan Oliver duduk di balik kemudi. Pria itu belum menjalankan mobilnya. Kedua tangan kekarnya mencengkeram erat roda kemudi kulit hingga buku-buku jarinya memutih.

Mantel wol hitamnya yang basah memancarkan aroma maskulin yang khas, perpaduan antara wangi kayu cedar, mint, dan hawa hujan yang dingin. Guratan otot di rahang tegasnya mengeras, menciptakan siluet yang sangat tajam dan berbahaya di bawah temaramnya lampu indikator dasbor.

Aura CEO yang biasanya terkendali kini tampak retak, digantikan oleh ketegangan emosional yang siap meledak kapan saja.

"Apa yang kau pikirkan, Hilmira?"

Suara bariton Arkan memecah keheningan. Nada suaranya sangat rendah, berat, dan sedingin es, namun memiliki getaran amarah yang tertahan di tenggorokan.

Hilmira sedikit tersentak. Ia menoleh perlahan, menatap sisi samping wajah tampan Arkan dari balik cadarnya. "M-maksud Kak Arkan apa?"

Arkan melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu memutar tubuh tegapnya menghadap Hilmira. Sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat mengunci netra bulat Hilmira dengan intensitas yang begitu kuat, seolah sedang menguliti seluruh isi kepala wanita itu.

"Jangan pura-pura bodoh," cetus Arkan dingin, matanya berkilat berbahaya. "Pria tadi, siapa namanya? Rian? Kau membiarkan dia mendekatimu? Kau bahkan membiarkan tangannya hampir menyentuh bahumu di depan umum? Apa kau sudah lupa dengan isi dokumen yang kau tanda tangani di ruang perpustakaan?"

Hilmira mengerutkan dahinya di balik cadar. Rasa canggung dan takut yang sejak tadi menguasainya mendadak terusik oleh tuduhan sepihak itu. "Kak Rian hanya berniat membantu karena jalanku diadang senior lain, dan sopir rumah terjebak macet. Dia hanya ingin mengantarku ke halte."

"Dan kau menerimanya?" potong Arkan dengan cepat, volumenya sedikit meninggi namun tetap terdengar dalam dan seksi. Ia mencondongkan tubuh bidangnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga Hilmira bisa mencium dengan jelas keharuman parfumnya yang intim.

"Kau membiarkan dirimu dipayungi oleh pria lain? Berjalan berdua di bawah satu payung sempit dengan ketua BEM populer itu? Apa kau tahu berapa banyak pasang mata yang mengawasi selasar itu tadi, Hilmira?!"

"Aku tidak memikirkannya sejauh itu, Kak! Kondisinya mendesak, dan aku..."

"Itulah masalahmu! Kau tidak pernah berpikir!" Arkan mencengkeram bagian atas kemudi dengan kasar, melampiaskan gejolak panas yang membakar dadanya sejak melihat Rian tersenyum pada istrinya.

Sebenarnya, seluruh argumen tentang "mata-mata musuh" atau "pandangan publik" yang keluar dari mulutnya hanyalah omong kosong.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Arkan tahu betul bahwa alasan ia menerobos hujan dan merebut Hilmira adalah karena ia murni tidak tahan melihat ada pria lain yang mencoba menjadi pahlawan bagi wanitanya.

Egonya sebagai seorang pria Oliver tercabik-cabik, dan rasa cemburu yang pekat telah mengubur seluruh akal sehatnya. Namun, sebagai pria angkuh yang terbiasa menyembunyikan kelemahan, ia menolak mengakui perasaan itu.

Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan topeng esnya yang retak. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu bersandaran pada kursi kulit dengan gestur yang dinamis dan berkelas, menatap lurus ke depan dengan pandangan tak acuh yang dibuat-buat.

"Dengarkan aku baik-baik," ujar Arkan, suara baritonnya kembali datar dan penuh perhitungan khas seorang pembuat keputusan kontrak bisnis. "Pernikahan kita ini adalah sandiwara 'Satu Semester'. Status kita dirahasiakan demi keselamatanmu dan reputasiku. Jika kau terlibat skandal kedekatan dengan pria lain di kampus, orang-orang akan mulai menggali latar belakangmu. Musuh keluarga Oliver akan dengan mudah mengendus keberadaanmu sebagai kelemahanku."

Arkan melirik Hilmira dari sudut matanya, tatapannya begitu intens dan menuntut. "Aku melakukan ini semua semata-mata demi menjaga kontrak kita agar tidak ketahuan. Demi alibi perlindungan yang diminta oleh Papa. Jadi, selama enam bulan ke depan, kau dilarang keras berinteraksi dengan pria mana pun di kampus tanpa izin dariku. Kau mengerti?"

Hilmira tertegun di balik selimut cadarnya. Ia menatap lekat-lekat mata elang Arkan. Sebagai wanita yang peka, ia bisa menangkap sesuatu yang janggal di balik rentetan kalimat logis suaminya.

Jika Arkan memang hanya peduli pada kontrak dan reputasi, kenapa tatapan matanya saat menariknya tadi terasa begitu posesif? Kenapa cengkeraman tangannya di pergelangan tangannya terasa begitu erat seolah takut kehilangan? Dan kenapa napas pria itu memburu kacau hanya karena melihat Rian?

"Dia... apakah dia sedang cemburu ?"sebuah pemikiran gila mendadak melintas di benak Hilmira, membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Ada rasa canggung yang teramat pekat yang tiba-tiba menyelimuti ruang kabin mobil itu.

Hilmira memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Ia menundukkan kepalanya kembali, meremas tali tasnya. "Baik. Aku mengerti. Aku tidak akan membuat masalah untuk kontrakmu lagi, Kak Arkan."

Mendengar jawaban pasrah dan panggilan "Kak Arkan" yang formal dari bibir Hilmira, ego Arkan justru merasa semakin tidak puas. Ada rasa gregetan yang aneh yang menggelitik hatinya. Ia ingin Hilmira membantah, ia ingin wanita itu marah, atau setidaknya menunjukkan riak emosi lain selain kepatuhan yang dingin.

Arkan tidak membalas lagi. Ia mengulurkan tangannya yang kekar, menekan tombol start-stop engine dengan sentakan jari yang tegas. Mesin Maserati itu menderu halus, membelah keheningan malam yang mulai turun di pelataran parkir kampus.

Sepanjang perjalanan pulang menembus sisa-sisa hujan badai kota, tidak ada lagi kata yang terucap di antara sang suami kontrak dan sang martir bercadar.

Namun, di dalam ruang kabin yang sunyi itu, getaran cemburu yang disamarkan sebagai alibi kontrak telah menanam benih ketegangan baru, sebuah sandiwara satu semester yang kian hari kian sulit dibedakan antara kepalsuan akademis dan keposesifan murni seorang pria yang menolak melepaskan hak miliknya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
cemburu tanda cinta ...❤️
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼‍♀️😅
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
makanya jangan so nolak kamu Arkan jadi pusing sendiri kan 😤🤣🤣🤣
Eva Karmita
seriyus mau nanya apa nama pu nya di ganti ...??
padahal bagus Liam
Eva Karmita
kenapa namanya di ganti otor yg tadinya Liam kenapa berubah jadi Arkana. 🤔🤔🤔
Riana Utami
puasssss
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
Lovita BM
kq jd Arkan Oliver namanya, bukanya Liam Oliver ????
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Lovita BM
luar biasa
Lovita BM
👍👍👍👍👍💪
Eva Karmita
kita lihat apakah liam mampu merebut hati Mira
Eva Karmita
ya Allah kasihan Mira jadi korban penculikan dan pemerkosaan 🥺
Eva Karmita
percuma menjelaskan Mira lebih baik kamu diam ... biarkan waktu yang berbicara
Eva Karmita
Liam edan main talak" aja ...awas aja nanti kamu menyesal 🥺
Dibalik Senja
Lebih baik diem mira biarkan liam dngn asumsinya krn wlupun kau membela diri dia tdk akan percaya ...talak sdh diucapkan dan mira pasti akan pergi liam tnpa dimintapun
Dibalik Senja
Tdak apa2 dicerai sdh bkn jdohnya jngn dtangisi lebih baik begitu dr pd setiap hari disiksa dan direndahkan....CEO gemblung mainya kekerasan tnpa tau permasalahan merasa pnya dinasti diluar angkasa sungguh awak gemess
N Wage
apa maksud dr paragraf "Di sana,di atas seprai putih bersih yang tertutup beberapa kelopak mawar,tidak ada tanda2 kesucian yang biasanya dst..."

emangnya seperti apa?
N Wage
bukan altar KK...meja akad😊
Lovita BM
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!