Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Reaksi Berantai
“Oh iya, Don. Gimana kalo ntar kapan-kapan kita nonton Oliv bareng?” Sebuah ide yang tiba-tiba datang dari Marcella yang memang sangat mendukung penuh kegiatan adik kesayangannya itu. “Gimana? Sekali-kali lah kamu nemenin aku ke GOR, sekalian kita dukung Olivia. Mau, kan?"
Doni yang baru saja menutup ritsleting tasnya langsung membeku. Pertanyaan Marcella terasa seperti jerat tali yang perlahan mengencang di lehernya. Dia bingung harus seperti apa responsnya atas ajakan ini. Namun seketika Doni teringat kembali akan niatnya pagi ini yang terlupakan akibat telepon tiba-tiba dari Olivia. ‘Ingin membahagiakan Marcella’ adalah mode Doni hari ini. Dia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan dengan senyuman, meski dalam hatinya mulai ketar-ketir.
"Boleh banget lah, Cell. Ntar kapan-kapan kalau jadwal kuliahku lagi kosong, kita tonton dia bareng. Kabarin aja", jawab Doni santai, berusaha melempar senyum terbaiknya.
Marcella tampak sangat puas dengan jawaban itu. Dia memberikan usapan lembut di lengan Doni sebelum akhirnya pamit karena kelasnya sebentar lagi akan dimulai. Doni melepas kepergian Marcella dengan napas lega yang tertahan di dada.
Setibanya di kamar kos, Doni langsung melempar ranselnya ke atas kasur. Dia mengeluarkan botol tumbler milik Olivia dan meletakkannya di atas meja belajar, tepat di samping tumpukan buku kuliahnya.
Doni menatap benda itu lama. Permukaan biru metaliknya seolah sedang mengejek kebohongannya di kantin tadi siang. Ada rasa bersalah yang kembali merayap, mencubit ulu hatinya setiap kali bayangan senyum tulus Marcella melintas di pikiran. Marcella begitu memercayainya, bahkan sudah merencanakan akhir pekan bersama. Namun, di sudut terjauh dalam benaknya, ada ego lain yang berbisik. Sebuah pembenaran bahwa semua ini dia lakukan demi karyanya, demi menghidupkan cerita di NovelToon yang mungkin bisa menambah penghasilannya. Dengan perasaan campur aduk itu, Doni akhirnya membuka laptopnya, bersiap menghadapi jam rilis yang sudah di depan mata.
Malam itu, jarum jam di dinding kamar kos Doni menunjukkan pukul 19.25. Lima menit lagi menuju waktu rilis bab-bab awal novelnya yang sudah dia jadwalkan.
Doni duduk tegang di depan laptopnya, berkali-kali menekan tombol refresh pada dasbor NovelToon miliknya. Rasa cemas yang menghantuinya sejak tadi malam seketika sirna digantikan oleh adrenalin yang berpacu. Saat dia menjadwalkan bab pembuka novelnya kemarin malam, dia melihat pop-up yang mengatakan bahwa karyanya akan di-review oleh tim editor dalam 3 hari kerja. Ternyata, itu benar-benar hanyalah estimasi maksimal. Karena sore tadi, dia menerima notifikasi bahwa kelima bab awalnya telah lolos verifikasi sistem.
Tepat pukul 19.30, status di layarnya berubah. Berhasil.
Artinya, karyanya ‘berhasil’ lolos review dari tim editor, dan akhirnya rilis sesuai jadwal. Napas Doni tertahan selama beberapa detik. Detik itu juga, karyanya resmi mengudara. Kisah fiksi yang dia bumbui dengan debaran nyata dari pertemuannya dengan Olivia kini bisa dibaca oleh siapa saja. Doni menyandarkan punggungnya ke kursi, jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa puas yang luar biasa dan ketakutan yang samar.
Dia kembali menyegarkan halaman. Angka views yang tadinya nol, perlahan bergerak. Satu, tiga, sepuluh... hingga dalam waktu lima belas menit, sebuah ikon balon percakapan muncul di bab pertama. Komentar pertama dari pembaca asing.
User73582: "Gemes bgt bacanya kak, interaksi cowok sama adek pacarnya lucuk deh, suka! Lanjut kak!"
Doni tersenyum lebar. Ada kepuasan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya saat membaca pujian itu. Di dunia maya ini, dia adalah dalang yang memegang kendali penuh atas emosi orang lain.
Drrt... drrt...
Getaran ponsel di atas meja seketika memecah keheningan kamar. Doni menoleh, mendapati layar ponselnya menyala menampilkan pesan WhatsApp dari Marcella. Realitas mendadak menariknya jatuh dari awan kepuasan.
Don, soal yang tadi siang aku bilang di kantin... Ternyata timnya Oliv mainnya sabtu ini. Yang kamu nonton kemarin itu emang timnya menang kan, trus lolos ke semifinal nanti hari sabtu. Gimana? Kalo kamu mau ikut, ntar sekalian aku pesenin tiketnya, soalnya udah mulai dijual online malam ini.
Pesan itu seketika membuat senyum di wajah Doni langsung luntur. Ucapan ‘kapan-kapan’ dari Marcella saat di kantin tadi siang ternyata bermanifestasi menjadi hari Sabtu ini. Terlalu cepat.
Matanya perlahan beralih pada tumbler biru milik Olivia yang kini tergeletak di sudut mejanya, benda yang sengaja dia sembunyikan dari Marcella beberapa jam lalu. Pikiran Doni langsung kusut. Jika dia ikut menonton, bagaimana kalau Olivia menyapanya dan membahas soal tumbler yang hilang itu di depan Marcella? Tapi jika dia menolak tanpa alasan yang masuk akal, Marcella pasti akan curiga, mengingat tadi siang Doni sendiri yang memuji kehebatan adiknya itu.
Ibu jari Doni tertahan di atas keyboard ponsel. Dia terjebak dalam labirinnya sendiri. Mengiyakan berarti bersiap menghadapi bom waktu, menolak berarti memicu kecurigaan.
Terdesak oleh waktu dan rasa tidak enak, Doni akhirnya mengetik balasan dengan pasrah.
Boleh, Cell. Kayaknya gak ada kuliah juga sih sabtu ini, pesenin aja sekalian buat aku juga.
Pesan terkirim. Doni mengembuskan napas berat, merasa seolah baru saja menandatangani kontrak menuju masalah baru. Namun, belum sempat dia meletakkan ponselnya, beberapa notifikasi pop-up dari aplikasi NovelToon kembali muncul di bagian atas layarnya.
Beberapa komentar baru mulai berdatangan mengisi kolom Bab 1 hingga Bab 5 yang baru dia rilis.
PutriMalu: "Visual karakternya kebayang banget sih kak! Kayaknya adek pacarnya tipe-tipe cewek tomboy tapi gemesin ya?"
Pencinta_Angst: "Bau-baunya bakal ada cinta segitiga nih. Kasihan pacar pertamanya kalau sampai diselingkuhin, tapi emang interaksi sama adeknya lebih dapet feel nya sih. Izin nabung bab ya, author!"
Kang_Teori: "Gue curiga si cowok bakal ketahuan gara-gara hal sepele. Semangat lanjutnya Author, seru parah konsep ceritanya!"
JombloGanteng: “Waduh dua-duanya tipe gw banget! Yang satu anggun dan cewek banget, satunya tomboy dan jago basket. Gw juga kalo jadi mc cowoknya bingung milihnya sih wkwkw”
Strangers25: “Kasihan pacarnya, udah 5 tahun pacaran malah berpaling ke adeknya. Plis penasaran banget endingnya milih siapa, bisa lebih cepet ga update nya huhu”
Doni membaca setiap untaian kata itu dengan binar mata yang tak sabar. Dada pria itu membuncah oleh perasaan dihargai yang belum pernah dia dapatkan di dunia nyata. Namun, jarinya terus menggulir layar ke bawah, hingga gerakannya mendadak terkunci pada satu komentar di Bab 5. Sebuah komentar dari akun bernama Matcha_Latte. Doni mengira akan mendapatkan pujian lagi. Namun, kalimat yang tertulis di sana membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku.
Matcha_Latte: "Ceritanya seru banget kak! Masa tadi gw liat cowok di kantin yang tas ransel sama warna tumblernya sama kayak yang di cerita ya? Pake flanel kotak-kotak juga lagi! Kebetulan banget wkwkwk ditunggu lanjutannya, author!"
Doni menatap layar itu dengan mata membelalak. Kamar kosnya yang sepi mendadak terasa mencekam. Detik itu juga, Doni menyadari satu hal yang mengerikan: salah satu pembaca pertamanya malam ini kemungkinan besar adalah mahasiswa di kampusnya sendiri.