Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 15
Pintu kamar tamu tertutup dengan suara debuman pelan, namun bagi Damian, suaranya terasa seperti pintu besi yang membanting tepat di depan wajahnya. Dia masih berdiri mematung di tengah ruangan yang kini terasa jauh lebih luas dan menyesakkan daripada sebelumnya.
Aroma parfum Alysia perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Damian berjalan lunglai ke tepi ranjang, tempat yang selama enam tahun ini menjadi saksi bisu sandiwaranya. Dia mendudukkan diri, menatap tangannya sendiri. Tangan yang baru saja mencengkeram lengan Alysia. Dia masih bisa merasakan sisa kehangatan kulit wanita itu di jemarinya, juga getaran kepedihan yang baru saja disadari oleh Damian.
Selama ini, dia menganggap Alysia sebagai "properti" yang stabil dalam hidupnya yang berantakan. Dia menganggap peran Alysia sebagai ibu bagi Arkhasa adalah sebuah transaksi yang berjalan lancar. Namun, Damian tidak pernah menyangka bahwa di balik rutinitas yang tenang itu, ada seorang wanita yang perlahan-lahan merapuh karena haus akan pengakuan.
Dia lupa jika Alysia adalah seorang wanita yang memiliki perasaan. Apalagi dia menikahi Alysia dengan cara baik-baik tanpa Alysia tahu niatan dadi Damian hanyalah untuk menjadikannya sebagai ibu dari Arkhasa.
Kamar dan ran-jang dingin jadi bukti betapa dia yang membangun benteng menjulang di antara mereka berdua. Tak ada kehangatan satu kalipun di sana antara mereka berdua. Di saat Alysia berusaha mencari perhatian dan bahkan merendahkan harga dirinya sebagai wanita dan istri di depannya. Damian selalu memberikan penolakan yang cukup membuat Alysia sakit hati luar biasa.
"Wanita itu..." gumam Damian dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
Bayangan masa lalu, wajah yang selalu dia simpan di sudut terjauh ingatanny muncul kembali. Sosok yang membuatnya bersumpah untuk tidak membiarkan siapa pun lagi masuk ke dalam hatinya. Namun, apakah benar dia masih mencintai bayangan itu? Atau justru, selama ini dia hanya sedang menghukum dirinya sendiri dengan menciptakan neraka bagi orang-orang di sekitarnya?
Damian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata Alysia terus bergema di kepalanya, menghantam pertahanannya yang selama ini kokoh.
“Dunia yang kau bangun itu kosong, Mas!”
Damian menutup matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah. Bukan oleh pesaing bisnis atau krisis perusahaan, melainkan oleh kebenaran yang diucapkan oleh istrinya sendiri.
"Aku bukan pecundang," bisik Damian pada ruangan kosong. "Aku hanya tidak tahu caranya..."
Tapi kalimat itu menggantung di udara, terasa tidak berguna dan picik.
Tiba-tiba, Damian bangkit dari tempat tidur. Dia tidak bisa diam saja. Rasa gelisah yang hebat menyerang dadanya. Apalagi selama enam tahun dia terbiasa dengan kehadiran Alysia yang tidur di ranjang sisi sebelahnya. Walau berjarak tapi kehadiran, aroma dan juga dengkuran halus Alysia sudah terbiasa di setiap malamnya.
Dia melangkah keluar dari kamar, menyusuri lorong yang sunyi menuju kamar tamu. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kayu itu. Dia mengangkat tangan, bersiap mengetuk, namun jemarinya gemetar.
Apa yang akan dia katakan? Meminta maaf? Damian tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun dalam hidupnya. Namun, saat dia menempelkan telinganya ke pintu, dia mendengar suara samar. Suara isak tangis yang tertahan, suara seorang wanita yang berusaha keras untuk tidak meledak dalam kesedihan.
Setiap isakan itu seperti goresan di harga diri Damian, sekaligus menghancurkan lapisan es di hatinya. Dia tidak mengetuk. Dia hanya berdiri di sana, mendengarkan isakan dari wanita yang selama enam tahun menahan beban di hatinya. Kesepian di tengah kemewahan yang dia ciptakan.
Damian akhirnya berbalik, kali ini dia pergi ke ruang kerjanya yang tak jauh dari kamar tamu yang di tempati oleh Alysia.
Malam itu, Damian tidak tidur. Ia terjaga, membiarkan rahasia yang dia kunci rapat mulai retak oleh kejujuran Alysia.
Damian terduduk di kursi kerjanya yang luas, menatap layar ponsel yang kini sudah menyala kembali. Dengan jemari yang sedikit kaku, dia menekan satu nama yang tersimpan di daftar panggil cepat. Arga. Sahabat satu-satunya yang tahu siapa sosok wanita yang selama ini dia kunci di masa lalunya.
Setelah beberapa dering, suara berat Arga terdengar dari seberang, sedikit terkejut karena Damian menelepon di jam yang sudah sangat larut.
"Dam? Ada masalah apa? Ini sudah hampir tengah malam," suara Arga terdengar waspada.
Damian tidak langsung menjawab. Dia menghela napas panjang, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
"Dia ingin meninggalkanku dan Arkhasa, Arga. Alysia... bahkan malam ini dia pindah ke kamar tamu."
Terdengar helaan napas panjang dari seberang.
"Sudah kuduga. Cepat atau lambat, dia pasti akan lelah dengan tembok yang kau bangun di antara kalian. Apa yang terjadi? Apa dia sudah tahu semuanya?"
"Tidak! Dia tidak tahu akan hal itu! Dia menuntut perhatian. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk Arkha," Damian menyandarkan kepalanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri.
"Dan dia benar. Dia bilang, hatiku sudah mati. Dia bilang aku tidak pernah menganggapnya istri karena aku terlalu sibuk menjaga 'seseorang' yang sudah lama pergi."
Di balik pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, Alysia yang baru saja berniat mengambil segelas air di dapur, mematung. Niatnya untuk melewati ruang kerja itu terhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar namanya disebut, lalu napasnya seolah tertahan saat mendengar Damian mengakui keberadaan "seseorang" itu.
"Apa kau masih mencintai dia, Dam?" suara Arga bertanya dengan nada serius.
"Atau kau hanya terobsesi dengan rasa bersalahmu sendiri karena kecelakaan itu?"
"Kau bahkan tak pernah menyentuh dan melihat Alysia sebagai seorang wanita apalagi sebagai seorang istri! Sebaik dan sesabar apapun Alysia. Dia memiliki batas kesabaran. Jangan sampai kamu menyesal setelah benar-benar kehilangan dia. Apalagi kehilangan hatinya!"
Alysia membekap mulutnya sendiri agar tidak menimbulkan suara. Kakinya terasa lemas. Kecelakaan? Pikirnya. Jadi, itu alasannya? Tapi siapa wanita itu? Apa ibunya Arkhasa? Alysia bisa mendengar dengan jelas karena Damian menyalakan tombol load speaker. menyimpan ponselnya di meja dan dia menyandarkan kepalanya di kursi kerja.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,