Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 03 - Surat Pengakuan
Ruang pemeriksaan itu terlalu terang.
Naya duduk di kursi besi dengan tangan gemetar di atas meja. Di depannya ada dua penyidik, seorang pengacara keluarga Pradipta, dan kertas pengakuan yang sejak tadi didorong mendekat seperti jebakan.
"Saya sudah bilang," suara Naya serak, "saya tidak mengemudi mobil itu."
Pengacara bernama Pak Hendra tersenyum sabar. Senyum orang yang sudah dibayar mahal untuk membuat kebohongan terdengar seperti nasihat.
"Naya, kamu lelah. Kamu baru mengalami malam yang berat. Tidak apa-apa kalau ingatanmu kacau."
"Ingatan saya tidak kacau."
Penyidik di sebelah kanan mengetuk meja dengan pulpen.
"Saksi melihat mobil berhenti dekat rumah Pradipta. Data kendaraan mengarah ke keluarga itu. Keluarga mengatakan kamu menggunakan mobil tanpa izin."
"Saya baru sampai rumah itu pagi ini."
"Tapi kamu tidak punya saksi."
Naya terdiam.
Ia punya Nenek Sari. Tapi Nenek jauh di kampung, tidak tahu apa pun tentang mobil Pradipta. Ia punya Pak Damar yang menjemputnya, tapi Pak Damar bekerja untuk keluarga itu. Ia punya jejak darah dan pria di kebun, tetapi menyebut itu berarti membuka luka yang belum sanggup ia sentuh.
Pak Hendra menunduk sedikit.
"Kamu tanda tangan dulu. Nanti di persidangan kita ajukan keringanan. Pak Surya tidak akan lepas tangan."
"Dia sudah lepas tangan ketika polisi masuk."
Pak Hendra menghela napas.
"Kamu harus realistis. Kalau kamu melawan, kasus bisa jadi lebih berat. Mengaku sekarang membuat semuanya lebih sederhana."
"Untuk siapa?"
Tidak ada yang menjawab.
Pintu terbuka.
Bu Mira masuk bersama Rania. Rania memakai kerudung warna pastel, wajahnya pucat, matanya merah. Ia tampak seperti korban. Naya hampir tertawa melihatnya.
Bu Mira duduk di samping Pak Hendra.
"Naya, Mama mohon."
Mama.
Kata itu muncul terlalu terlambat dan terlalu murah.
Naya menatap wanita itu. "Jangan panggil diri Anda Mama kalau yang Anda minta adalah saya masuk penjara."
Bu Mira tersentak. Rania langsung menangis.
"Kak, aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi aku takut sekali. Kalau keluarga Wiratama tahu, semua selesai. Papa juga bilang perusahaan sedang goyah. Kalau lamaran batal, bank akan menarik fasilitas kredit. Ratusan karyawan bisa kena dampak."
Naya memandangnya kosong.
"Jadi sekarang saya juga harus memikirkan karyawan kalian?"
"Bukan begitu..."
"Lalu bagaimana?"
Rania menggigit bibir, menatap Bu Mira seolah minta bantuan.
Bu Mira mengambil alih. Suaranya rendah, penuh tekanan.
"Kamu pikir hidup di luar sana mudah? Kamu pikir setelah menolak kami, kamu bisa kembali ke kampung dan semuanya baik-baik saja? Nenek Sari sudah tua. Biaya rumah sakitnya nanti siapa yang tanggung? Kamu?"
Dada Naya sesak.
"Jangan pakai Nenek untuk menekan saya."
"Mama tidak menekanmu. Mama hanya mengingatkan. Keluarga itu saling menolong."
"Keluarga tidak mengorbankan anak yang baru pulang."
Bu Mira menatapnya lama. Untuk sesaat, Naya berharap ada retak di wajah wanita itu. Sedikit saja. Rasa bersalah, mungkin. Penyesalan.
Yang muncul hanya lelah.
"Naya, Rania dibesarkan bersama kami sejak bayi. Dia lemah. Dia tidak sanggup hidup di tempat seperti penjara."
Naya tertawa pelan.
"Lalu saya sanggup?"
Bu Mira tidak menjawab.
Jawaban itu lebih jelas daripada kata-kata.
Naya menunduk. Matanya panas, tapi air matanya tidak jatuh. Ia sudah menangis cukup banyak semalam. Pagi ini air mata terasa seperti penghinaan.
Pak Hendra mendorong pulpen.
"Tanda tangan, Naya. Setelah ini kamu akan ditahan sementara. Kami akan urus supaya hukumannya seringan mungkin."
"Berapa lama?"
Pak Hendra melirik Bu Mira.
"Sulit dipastikan."
"Berapa lama?"
Bu Mira akhirnya menjawab. "Mungkin... beberapa tahun."
Kursi Naya berderit karena tangannya mencengkeram sisi meja.
Beberapa tahun.
Nenek Sari bisa meninggal dalam beberapa tahun.
Hidupnya bisa habis dalam beberapa tahun.
Rania bisa menikah, punya rumah, punya nama, memakai cincin yang bukan miliknya, sementara Naya membusuk karena dosa yang tidak ia lakukan.
"Saya mau menelepon Nenek."
Bu Mira langsung tegang. "Untuk apa?"
"Saya mau bicara dengan Nenek."
Pak Hendra menggeleng. "Nanti. Setelah proses administrasi."
"Tidak. Sekarang."
Penyidik yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Tersangka berhak menghubungi keluarga. Tapi waktunya terbatas."
Bu Mira tampak tidak senang, tetapi tidak bisa melawan di depan penyidik.
Ponsel diberikan. Naya menekan nomor rumah tetangga yang biasa dipakai untuk memanggil Nenek. Tangannya gemetar begitu mendengar suara Nenek Sari di ujung sana.
"Nek..."
"Naya? Nak, kamu sudah sampai? Kenapa suaramu begitu?"
Naya menutup mata.
Ia ingin bilang semuanya. Ia ingin bilang ia dijebak. Ia ingin bilang semalam ada pria yang menghancurkannya. Ia ingin bilang keluarga kandungnya tidak datang untuk mencintai, tetapi untuk mengubur.
Namun Bu Mira menatapnya.
Rania menatapnya.
Pak Hendra menatap kertas pengakuan.
Dan di kepala Naya, suara Bu Mira terus berputar: Nenek Sari sudah tua. Biaya rumah sakitnya nanti siapa yang tanggung?
"Nek," Naya memaksa suaranya stabil, "kalau nanti saya jarang pulang, Nenek jangan khawatir."
"Kenapa? Kamu kerja di Jakarta?"
Naya menggigit bibir sampai terasa asin.
"Iya. Saya... saya mungkin ikut kursus juga. Lama."
Nenek Sari tertawa kecil, lega. "Alhamdulillah. Bagus, Nak. Nenek selalu bilang kamu anak pintar. Jangan takut di kota, ya. Kalau orang tuamu baik, hormati mereka."
Naya hampir pecah.
"Nek."
"Iya?"
"Kalau ada orang datang membawa uang atau obat, terima saja. Jangan tanya dari siapa."
"Naya, kamu kenapa?"
Penyidik memberi tanda waktu habis.
"Saya sayang Nenek."
"Nenek juga sayang kamu, Nak. Naya, jawab dulu, kamu kenapa?"
Telepon diputus.
Naya menatap layar mati itu lama.
Lalu ia mengambil pulpen.
Rania menahan napas.
Bu Mira memejamkan mata.
Pak Hendra tampak lega.
Naya menandatangani surat itu dengan tangan yang terasa bukan miliknya.
Saat ujung pulpen selesai menulis namanya, sesuatu di dalam dirinya seperti putus. Bukan cinta kepada keluarga Pradipta, karena cinta itu belum pernah tumbuh. Yang putus adalah harapan kecil bahwa darah bisa memanggil darah.
Tidak.
Darah bisa menjual darah.
Setelah itu proses berjalan cepat. Penahanan. Berkas. Persidangan yang terasa seperti drama dengan akhir sudah ditulis. Pengacara membela secukupnya, saksi memberi keterangan rapi, rekaman CCTV entah bagaimana hilang di bagian paling penting.
Naya dijatuhi hukuman empat tahun.
Di ruang sidang, Bu Mira menangis dengan tisu mahal. Pak Surya menunduk. Bima tidak datang. Rania duduk di belakang memakai cincin Arkan di jari manisnya, wajahnya tertutup kerudung, seolah ia sedang mendoakan kakaknya.
Naya tidak menatap mereka lagi setelah vonis dibacakan.
Dua bulan setelah masuk lapas perempuan, tubuhnya mulai berubah.
Awalnya ia pikir itu karena stres. Ia sering mual, pusing, dan tidak bisa makan nasi lapas yang keras. Petugas klinik memberi obat lambung, tetapi mualnya tidak hilang.
Sampai suatu pagi, seorang dokter perempuan menatap hasil pemeriksaan dan menghela napas.
"Kamu hamil."
Naya menatap dokter itu seperti tidak mengerti bahasa manusia.
"Tidak mungkin."
Dokter melihat catatan. "Usia kandungan kira-kira sembilan minggu."
Sembilan minggu.
Kebun cengkeh.
Darah.
Tanah dingin.
Naya berlari ke toilet dan muntah sampai tidak ada lagi yang keluar.
Malam itu ia duduk di pojok sel, memegang perutnya yang masih rata.
Ia benci pria itu.
Ia benci tubuhnya.
Ia benci keluarga Pradipta.
Namun ketika telapak tangannya menempel di perut, ia tidak bisa membenci kehidupan kecil yang tidak meminta dilahirkan dari luka.
"Kamu salah apa?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara pintu besi dan napas perempuan-perempuan lain yang tidur dalam gelap.
Beberapa bulan kemudian, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Naya mengalami kontraksi lebih cepat dari jadwal. Ia dibawa ke rumah sakit rujukan dengan borgol di pergelangan tangan dan dua petugas mengawalnya.
Rasa sakit datang seperti gelombang yang tidak memberi jeda.
"Kuat, Bu Naya. Bayinya kembar," kata bidan.
Kembar.
Naya menangis.
Bukan karena bahagia saja, tapi karena takut. Bagaimana ia menjaga dua anak dari balik jeruji? Bagaimana ia memberi mereka nama, susu, pelukan, dunia yang tidak sekejam dunia yang ia kenal?
Tangis bayi pertama terdengar.
Laki-laki.
Naya mencoba mengangkat kepala. "Saya mau lihat..."
Tidak ada yang membawa bayi itu kepadanya.
Tangis kedua lebih lemah. Perempuan.
Naya meronta, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
"Anak saya..."
Seseorang di sudut ruangan berbicara pelan dengan bidan. Ada amplop berpindah tangan. Ada nama Rania terdengar samar.
Naya berusaha membuka mata, tetapi pandangannya kabur.
"Jangan ambil..." suaranya hampir hilang. "Itu anak saya..."
Seorang perawat mendekat, wajahnya datar.
"Maaf. Kondisi bayi tidak baik."
"Saya mau lihat."
"Ibu istirahat dulu."
Jarum masuk ke lengannya.
Dunia perlahan menghitam.
Sebelum kesadarannya hilang, Naya mendengar tangis bayi laki-laki menjauh.
Dan suara perempuan yang sangat ia kenal berbisik, "Cepat. Jangan sampai dia sadar."
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕