"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Bergerak
Arsen masih berdiri di dekat jendela sambil menatap keluar, memastikan area parkir di bawah tetap aman.
Sementara Senja melihat sekeliling kamar.
Kamar itu memang bersih.
Namun jelas bukan hotel yang biasa ditempati seorang Arsen Malik.
Setelah beberapa saat, Senja akhirnya membuka suara.
"Pak..."
"Hm?"
"Ini... kita nggak mandi?"
Arsen menoleh.
"Mandi?"
"Iya."
Senja menunjuk pakaiannya sendiri.
"Dari tadi kita pakai baju yang sama."
"Terus habis perjalanan jauh juga."
Arsen melirik jam tangannya.
Baru menyadari mereka memang belum sempat beristirahat sejak keluar dari vila.
"Kamu mandi dulu."
"Lah..."
Senja menggaruk pelan pipinya.
"Ganti bajunya gimana?"
"Kan tadi cuma bawa satu stel."
Arsen terdiam.
Benar juga.
Tas penyamaran yang disiapkan Genta memang hanya berisi satu set pakaian.
Senja terkekeh kecil.
"Ya udah deh... kayaknya saya tetap pakai baju ini aja."
"Nanti beli besok."
Arsen menggeleng pelan.
"Tidak."
"Hah?"
"Saya minta Genta mengantarkan pakaian."
Senja langsung melambaikan kedua tangannya.
"Nggak usah, Pak."
"Malam-malam begini masa nyuruh orang belanja."
"Itu memang pekerjaannya."
"Iya tapi..."
"Saya nggak enak."
Arsen menghela napas pelan.
Dia sudah hafal.
Setiap kali menyangkut dirinya, Senja selalu merasa sungkan.
Tanpa banyak bicara, Arsen meraih ponselnya.
Baru saja hendak menghubungi Genta...
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.
Arsen seketika menghentikan gerakannya.
Tatapannya berubah tajam.
Senja yang melihat perubahan ekspresi itu ikut terdiam.
"Pak..."
Arsen mengangkat telunjuknya pelan.
Memberi isyarat agar Senja tidak bersuara.
Dengan langkah tanpa suara, Arsen mendekati pintu.
Tangannya meraih pistol yang sejak tadi tersimpan di balik pinggang.
Lalu mengintip melalui lubang pengintai.
Beberapa detik kemudian...
Rahangnya sedikit mengendur.
"Genta."
Arsen membuka pintu.
Di luar, Genta berdiri sambil membawa dua paper bag besar.
"Maaf mengganggu, Tuan."
"Saya sudah menduga Nona Senja dan Tuan pasti membutuhkan pakaian ganti."
Arsen melirik dua kantong itu, lalu kembali menatap Genta.
"Kamu membaca pikiran saya sekarang?"
Genta tersenyum tipis.
"Belum, Tuan."
"Saya hanya sudah cukup lama bekerja dengan Anda."
Di belakang Arsen, Senja terkekeh pelan.
"Wah... Pak Genta penyelamat."
Genta menyerahkan kedua paper bag itu.
"Satu untuk Nona Senja."
"Satunya lagi untuk Tuan."
Senja menerimanya dengan wajah lega.
"Terima kasih banyak, Pak Genta."
"Sama-sama, Nona."
Namun sebelum Genta berbalik pergi...
Wajahnya kembali serius.
"Tuan."
"Hm?"
"Tim kami baru saja menemukan sesuatu."
Tatapan Arsen langsung berubah dingin.
"Apa?"
Genta menatap lorong hotel sejenak sebelum menjawab lirih.
"Sepertinya..."
"...keberadaan hotel ini tidak akan bisa kita gunakan sampai besok pagi."
Seketika suasana hangat di dalam kamar kembali berubah tegang.
Arsen menatap Genta selama beberapa detik.
"Apa yang terjadi?"
Genta mengecilkan volume suaranya.
"Salah satu anggota tim melihat dua orang asing beberapa kali memasuki area hotel."
"Mereka tidak menginap."
"Hanya berkeliling."
"Dan sekarang mereka menghilang."
Arsen mengangguk pelan.
"Berarti mereka sedang memastikan."
"Kemungkinan besar begitu, Tuan."
"Perketat pengawasan."
"Jangan bertindak sebelum saya memberi perintah."
"Baik."
Setelah Genta pergi, Arsen menutup kembali pintu kamar.
Klik.
Kunci elektronik langsung aktif.
Senja yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya bertanya pelan.
"Pak..."
"Hm?"
"Hotel ini udah nggak aman ya?"
Arsen berjalan menuju meja kecil di dekat televisi.
"Belum tentu."
"Tapi saya tidak suka mengambil risiko."
Senja mengangguk pelan.
Ia mulai memahami satu hal tentang Arsen.
Pria itu tidak pernah menunggu bahaya datang.
Dia selalu bergerak lebih dulu.
"Oh iya."
Senja mengangkat paper bag yang tadi diberikan Genta.
"Saya mandi dulu ya, Pak."
"Iya."
"Tapi..."
Senja kembali berhenti.
"Kamar mandinya cuma satu."
"Nanti gantian aja."
Arsen mengangguk singkat.
"Tidak usah terburu-buru."
"Iya."
Senja berjalan masuk ke kamar mandi sambil membawa pakaian gantinya.
Tak lama kemudian...
Suara air mulai terdengar.
Arsen duduk di sofa.
Namun bukannya beristirahat, ia membuka tablet tipis miliknya.
Peta Jakarta memenuhi layar.
Beberapa titik berwarna merah mulai muncul.
Safe house.
Gudang.
Apartemen.
Hotel.
Semua lokasi yang mungkin mereka gunakan.
Namun satu per satu langsung dicoret oleh Arsen.
"Terlalu mudah ditebak..."
gumamnya pelan.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan singkat dari Genta.
Sedan hitam berhasil diamankan.
Namun pengemudinya bukan anggota Viper.
Alis Arsen langsung berkerut.
"Bukan?"
Kalau bukan Viper...
Lalu siapa?
Belum sempat ia menyusun kemungkinan berikutnya...
Pintu kamar mandi perlahan terbuka.
Arsen refleks mengangkat kepala.
Lalu...
Diam.
Senja keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ia mengenakan piyama sederhana berwarna krem yang dibelikan Genta.
Longgar.
Sangat sederhana.
Tidak memperlihatkan apa pun secara berlebihan.
Namun justru itulah masalahnya.
Rambut panjang Senja yang masih basah jatuh di bahunya.
Beberapa tetes air mengalir pelan di lehernya.
Arsen langsung mengalihkan pandangan.
Sial...
Kenapa perempuan ini selalu berhasil mengacaukan konsentrasi saya... bahkan dengan pakaian sesederhana ini?
"Pak?"
"Hm."
"Saya selesai."
Arsen berdiri.
"Giliran saya."
Saat hendak melewati Senja menuju kamar mandi, langkahnya berhenti.
"Tunggu."
Senja berkedip.
"Kenapa?"
Arsen mengambil sebuah handuk kecil yang masih berada di bahu Senja.
Pelan.
Dia mengusap beberapa tetes air yang masih menempel di ujung rambut perempuan itu.
"Kalau rambutmu terlalu lama basah..."
"...kamu bisa masuk angin."
Gerakannya singkat.
Natural.
Seolah itu hal biasa.
Namun justru itu yang membuat Senja membeku.
Arsen menyerahkan kembali handuk itu.
"Keringkan dulu."
Lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Meninggalkan Senja yang masih berdiri di tempat.
Tanpa sadar...
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Entah sejak kapan...
Perhatian-perhatian kecil dari Arsen mulai terasa jauh lebih berbahaya daripada kata-kata manis mana pun.
Suara air dari kamar mandi masih terdengar mengalir.
Senja duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Sesekali ia melirik jam dinding.
Malam semakin larut.
Entah kenapa, hotel sederhana ini terasa jauh lebih sunyi daripada vila.
Tok!
Sebuah suara keras tiba-tiba terdengar dari arah jendela.
Senja langsung mengangkat kepala.
"Hah?"
Tok!
Kali ini lebih jelas.
Seperti ada sesuatu yang membentur kaca dari luar.
Jantung Senja langsung berdegup lebih cepat.
"Pak Arsen..."
Belum sempat ia berdiri...
Tak!
Suara benturan ketiga terdengar lebih keras.
Handuk di tangan Senja terjatuh.
"Pak!"
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka begitu saja.
Arsen keluar dengan langkah cepat.
Rambutnya masih basah.
Di tubuhnya hanya melekat celana pendek hitam selutut, sementara handuk kecil tersampir di bahunya.
Sorot matanya langsung berubah tajam.
"Ada apa?"
Senja refleks menunjuk ke arah jendela.
"T-tadi..."
"...ada yang lempar sesuatu."
Arsen tidak menjawab.
Dalam satu gerakan cepat, ia mengambil pistol yang diletakkan di atas meja, lalu bergerak mendekati dinding di samping jendela.
Tubuhnya tegap.
Otot-otot lengan dan bahunya menegang saat bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Senja yang berdiri beberapa langkah di belakangnya tanpa sadar terpaku.
Baru kali ini...
Ia melihat Arsen tanpa balutan kemeja ataupun jas yang biasanya selalu rapi.
Tubuh pria itu terbentuk proporsional.
Bukan tubuh seorang model.
Melainkan tubuh seseorang yang benar-benar terlatih.
Garis bahunya lebar.
Lengan kekarnya dipenuhi otot yang terbentuk alami.
Beberapa bekas luka tipis terlihat samar di sisi bahu dan perutnya, menjadi saksi bahwa kehidupan Arsen jauh dari kata mudah.
Tanpa sadar...
Senja menelan ludah.
"Pantes aja..."
"Dia bisa ngelawan beberapa orang sendirian waktu itu..."
"Senja."
Suara Arsen membuatnya tersentak.
"Hah?"
"Di belakang saya."
"Oh... iya."
Senja buru-buru berjalan mendekat.
Entah karena panik atau gugup, jaraknya dengan Arsen menjadi sangat dekat.
Nyaris menyentuh punggung pria itu.
Arsen mengintip perlahan dari balik tirai.
Gelap.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun...
Di bawah jendela, tampak sebuah batu kecil tergeletak di lantai balkon.
Batu itu dibungkus secarik kertas.
Tatapan Arsen langsung berubah dingin.
"Bukan serangan..."
gumamnya pelan.
"Lalu apa, Pak?"
Arsen mengambil batu itu dengan hati-hati.
Kemudian membuka lipatan kertas yang melilitnya.
Di atas kertas putih itu...
Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
"Aku tahu kau membawanya."
Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.
Arsen mengepalkan kertas itu perlahan.
Sementara Senja yang membaca tulisan tersebut merasakan bulu kuduknya berdiri.
Musuh mereka...
Ternyata tidak hanya mengetahui keberadaan mereka.
Tetapi juga tahu...
Bahwa Senja masih bersama Arsen Malik.