NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUAPULUHDELAPAN

"Kamu baik-baik aja? Hah?".

Bio dengan keadaan panik tanpa berpikir panjang langsung mendekati Arun lalu memegang kedua sisi wajah Arun. Arun yang diperlakukan seperti ini secara tiba-tiba hanya bisa menampilkan wajah sedihnya sambil menatap Bio.

"Sa ... kit" rintih Arun.

"Apa? Apanya yang sakit? Hemm?" tanya Bio.

Bio melepaskan tangannya yang menangkup wajah Arun saat meraskan adanya gerakan.

Arun mengangkat kedua jari-jari tangannya dan Bio bisa melihat dimana kedua telunjuk Arun terluka bahkan telunjuk sebelah kanannya masih mengeluarkan darah.

"Astaga!" ucap Bio kaget.

Tanpa basa basi Bio langsung mengeratkan kembali perban yang pudar tadi sedangkan Arun hanya bisa diam dan memperhatikan Bio melakukan semunya.

Begitu telaten dan sangat lembut meski sesekali Arun mengaduh saat terasa sedikit sakit, "kenapa bisa sampe kayak gini?" tanya Bio saat tangannya masih berusaha membungkus telunjuk sebelah kiri Arun.

Arun menarik napas untuk menghilangkan suara tangisnya, "tadi mau ambil minum, tiba-tiba tangannya kram. Gelasnya jatoh, nanti gue ganti gelasnya" ujar Arun.

Tangan Bio merekatkan kapas itu dengan hansaplast, "saya nanya kejadiannya bukan suruh kamu buat ganti rugi" ucap Bio.

Arun langsung menarik tangannya dari paha Bio karena sudah selesai diobati, "waktu mau beresin pecahannya gak sengaja kena" ujar Arun melanjutkan penjelasannya.

"Sapu rumah ini kamu gadaikan?" tanya Bio.

Arun menatap sinis Bio, "kamu bisa pake sapu, kalo gitu itu namanya kamu cari penyakit sendiri" ujar Bio.

"Gue spontan aja, gak kepikiran" balas Arun tidak ingin kalah.

"Ujungnya cuma bisa nangis" gumam Bio yang masih bisa didengar jelas oleh Arun.

"Gue gak minta lo buat bantuin gue bungkus lukanya. Kalo memang lo gak ikhlas gak usah! Jangan pura-pura baik!" ucap Arun jengah.

"Lo yang masuk ke kamar gue! Gue gak minta! Gue gak berharap juga lo peduli apalagi sampe liat gue nangis" Arun mulai merasa emosinya kian meningkat dan seperti akan meledak.

"Lo kira ini gak perih? Lo pikir gue akting? Coba aja sana jari lo gores in" ucap Arun

"Kalo emang lo ..."

Grep!

Bio langsung membawa Arun kedalam pelukannya. Hal itu mampu membuat Arun berhenti mengomel dengan segala emosinya.

Meski begitu Arun tetaplah keras kepala, "lepasin gue! Lepas!" Arun terus memberontak minta dilepaskan dari pelukan Bio.

"Saya cuma mau kamu mengakui kalo kamu juga lemah Arun. Jangan berpura-pura lagi" ujar Bio tanpa melepaskan pelukannya.

Bukannya Bio yang kewalahan melainkan Arun yang sudah mulai lelah karena gagal melepaskan diri, "gue gak lemah! Lo bukan siapa-siapa buat gue, jadi jangan sok tau tentang gue!" balas Arun.

Seketika Bio perlahan melepaskan tangannya yang semula memeluk erat Arun, "saya suami kamu" ucap Bio tegas.

"Suami? Heh!" Arun tersenyum remeh.

"Kamu juga masih punya hutang sama saya. Jadi sebaiknya kamu lakukan dengan sungguh-sungguh apa yang sudah kamu janjikan pada saya" ujar Bio.

Bio bangun dari duduknya lalu berjalan keluar kamar tersebut, "tapi gue mau lo tepatin kata-kata lo, kalo lo bakal kabul in apapun yang gue mau" ucap Arun yang mampu membuat Bio berhenti melangkah.

"Gue mau mengajukan persyaratan dan lo harus ikutin semuanya" ucap Arun kembali.

"Persyaratan? Kamu mau membodohi saya?" balas Bio setelah membalikan tubuhnya untuk menatap Arun.

"Maksud lo?" tanya Arun.

"Permintaan nanti kamu aja saya gak tau apa, sekarang ada persyaratan segala. Kamu mau hal ini cuma menguntungkan diri kamu sendiri aja kan?" tanya Bio.

"Cihh, menguntungkan diri sendiri. Jadi lo mau tau lebih dulu?" tanya Arun.

Arun langsung turun dari kasurnya dan mendekati Bio hingga jarak mereka yang sangat dekat saat ini, "permintaan gue ... lo harus ceraikan gue. Lepasin gue dari ikatan pernikahan ini" ucap Arun penuh penekanan.

Tidak kaget memang bagi Bio jika itu yang akan diinginkan oleh Arun. Namun Bio tidak habis pikir, Arun sampai rela melakukan hal apapun demi itu.

"Kamu yakin bisa membuat Cafe tersebut kembali seperti masa kejayaannya?" tanya Bio meragukan Arun bisa melakukan hal tersebut.

"Kita liat aja nanti!" ucap Arun sombong.

"Lebih baik sekarang kamu pikirkan gimana caranya, karena kamu juga pasti tau itu gak akan mudah. Kamu bisa aja gagal dan menyerah" ujar Bio.

"Tapi syaratnya gue mau jangan sampe ada yang tau kalau kita suami istri" ujar Arun.

"Kenapa?".

"Ya ... jangan. Karena merekakan juga belum tau apapun. Jadi lebih baik jangan sampai tau, toh nanti juga kita bakal pisah" jelas Arun.

"Bukan karena Akbar?" tanya Bio.

Arun terdiam seolah kaget, apa yang dimaksud oleh Bio sebenarnya. Melihat Arun hanya terdiam sambil mentapnya kosong, Bio langsung membuyarkan lamunan Arun.

"Saya setuju dengan persyaratan kamu. Itu akan lebih baik juga supaya tidak ada kecemburuan dan perlakuan spesial diantara karyawan lainnya" setelah mengatakan itu Bio langsung pergi dan keluar dari kamar Arun.

"Kayak lo pernah perlaku in gue spesial aja" gumam Arun.

Bio memutuskan untuk langsung kembali ke kamarnya. Saat sampai di kasur Bio langsung merebahkan tubuhnya. Kepalanya terasa sakit dan nyeri secara bersamaan.

Entah apa yang terjadi, harusnya perasaan Bio senang jika Arun ingin berpisah darinya. Jadi Bio tidak perlu repot-repot untuk membuat Arun pergi karena itu menjadi keinginannya sendiri.

Namun ini malah sebaliknya, Bio merasa kesal dan marah setiap kali mendengar kata cerai yang keluar dari mulut Arun. Ingin rasanya Bio membekap mulut Arun, tapi Bio sadar jika Arun dihadapi dengan cara yang keras maka mereka berdua akan hancur.

Drttttttttt!!!!

Ponsel Bio bergetar didalam saku celana miliknya. Bio langsung bangun dan melihat siapa yang menelponnya.

"Keisya?" gumam Bio saat melihat nama yang tertera dipanggilan tersebut.

Bio langsung menggeser menu jawab dan menempelkan ponselnya ke telinga.

"Hallo"

"Hai" balas Bio sambil duduk ditepi ranjangnya.

"Bi? Kamu kok sombong banget sih" ujar Keisya dari sebrang sana.

"Kei, sorry aku akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan" ucap Bio.

"Wihhh, iya-iya beda ya kalo owner. Pengusaha sukses" Keisya mengatakan hal itu sambil tertawa.

"Gimana volunternya? Lancar?" tanya Bio.

Keisya memang sedang melakukan kegiatan relawan di daerah raja ampat. Karena dia merupakan seorang dokter jadi ditunjuk sebagai tim medis yang mendampingi relawan lainnya.

"Alhamdulilah lancar. Aku kangen loh, kamu gimana?" tanya Keisya dengan antusias.

"Hmmm" balas Bio simple.

Bagaimanapun mereka berteman baik sejak dulu. Masih sempat hangout bareng saat Bio masih di Jakarta. Bahkan kedua orang tua Bio sudah mengenal baik Keisya bahkan keluarga mereka merupakan teman bisnis.

"Kamu masih jomblo kan?".

"Kenapa tanya begitu?".

"Enggak, siapa tau kamu cinlok sama mojang Bandung. Merekakan cantik-cantik".

Bio terdiam apa perlu dia menjelaskan bagaimana keadaannya saat ini pada Keisya? Tapi sepertinya tidak perlu, toh ini pun hanya kesalah pahaman dan sebentar lagi pun akan segera selesai. Lagipula Bio tidak bertindak lebih jauh.

"Bi? Bio?" Panggil Keisya.

"Ehh .. iya gimana?" jawab Bio.

"Kayaknya kamu kecapean deh, ya udah nanti aku telpon lagi ya. Byee Bi" ucap Keisya sambil menutup sambungan telponnya.

"Byee".

Ting!

Satu pesan masuk di ponsel Bio.

...+62898×××××××...

^^^Ada makanan di depan pintu kamar.^^^

Begitulah isi pesan yang masuk. Ternyata Arun mengantarkan makanan pada Bio. Setelah membaca pesan tersebut Bio langsung berjalan keluar menuju pintunya.

Saat sampai ternyata pintu kamar Bio tidak tertutup. Bio langsung melihat ke arah bawah mencari keberadaan Arun. Namun nihil, bahkan laptop Arun sudah tidak ada di depan tv.

Letak pintu kamar Bio memang terhalang tembok dari arah ranjang miliknya wajar jika Bio tidak melihat kehadiran Arun.

"Apa Arun dengar percakapannya dengan Keisya tadi?" Bio membatin.

Bio memutuskan untuk mengangkat nampan yang berada dibawah tersebut dan membawanya kedalam kamar lalu menutup pintunya.

Ting!

...+62898×××××××...

^^^Gue cm melaksanakan kewajiban gue.^^^

^^^Dan sbg ucapan terima kasih karna udah obatin luka gue.^^^

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!