Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keisya benar-benar tidur tanpa gangguan, bahkan ia sendiri tidak menyadari kalau waktu terus berlalu begitu saja.
Saat akhirnya membuka mata, langit di luar jendela sudah berubah gelap pekat dan jam menunjukkan lewat tengah malam.
Selama berjam-jam itu, Jena nyaris dibuat gila. Berkali-kali ia datang membangunkan Keisya karena khawatir terjadi sesuatu. Namun setiap kali dipanggil, gadis itu hanya bergumam lirih tanpa benar-benar membuka mata.
"Tunggu dulu Kak Jen... Kai masih ngantuk..."
"Sebentar lagi..."
Jawaban itu terus berulang hingga akhirnya Jena tidak punya pilihan selain membiarkannya kembali tidur. Akibatnya, Keisya melewatkan makan siang sekaligus makan malam.
Entah apakah ia harus merasa lega atau justru kecewa karna tak seorang pun dari keluarga Jordan tampak menyadari bahwa dirinya menghilang seharian.
Seolah keadaan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa.
Keberadaan Keisya memang perlahan mulai menghilang dari perhatian mereka dan kenyataan itu terasa begitu menyedihkan.
Kini rasa lapar mulai menyerang tanpa ampun. Perutnya berbunyi berkali-kali meminta diisi.
Sempat terlintas keinginan untuk meminta Jena membuatkan nasi goreng. Namun mengingat wanita itu baru beristirahat sekitar dua jam yang lalu setelah seharian mengurus dirinya, Keisya langsung mengurungkan niat tersebut.
Ia tidak tega membangunkannya lagi. Akhirnya, dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Keisya turun menuju dapur.
Begitu memasuki ruangan itu, sepasang matanya langsung berbinar. Tatapannya terkunci pada sebuah lemari kecil di sudut dapur yang sebagian tertutup lemari pajangan.
Bagi orang lain, lemari itu mungkin tampak biasa saja. Namun Keisya tahu persis apa isi di dalamnya.
Tempat para pelayan menyembunyikan berbagai makanan instan.
Bagaimana ia bisa mengetahuinya?
Tentu saja karena ia adalah seseorang yang telah kembali dari masa depan.
Rahasia kecil mansion itu sudah lama tersimpan di dalam ingatannya.
***
Dulu, saat Keisya mulai mengancam para pelayan agar sengaja menyajikan makanan yang tidak enak untuk Keyla, beberapa pelayan yang merasa iba akhirnya membocorkan sebuah rahasia. Mereka diam-diam menunjukkan lemari penyimpanan berisi berbagai makanan instan dan memberi tahu Keyla bahwa ia bebas mengambil mi instan atau camilan apa pun jika merasa lapar di tengah malam. Lagi pula, makan malam yang diterimanya saat itu memang sering kali tidak layak disantap.
Begitu mengetahui rahasia tersebut, Keisya justru dengan sengaja melaporkannya kepada kakak keduanya. Akibatnya, para pelayan yang telah membantu Keyla dihukum oleh Alex karena dianggap bertindak lancang.
Terlebih lagi, keluarga Jordan selalu menjaga citra sebagai keluarga dengan gaya hidup sehat dan tubuh yang prima. Di mata Alex, tidak mungkin salah satu anggota keluarganya dibiarkan terbiasa mengonsumsi makanan instan yang dianggap tidak sehat.
Namun, menurut Keisya, aturan itu tidak berlaku untuk dirinya.
Bagaimanapun juga, ia hanyalah anak titipan yang kebetulan tinggal di rumah keluarga Jordan. Jadi, kalau ia ingin menyantap mi instan atau makanan penuh micin lainnya, rasanya tidak akan menjadi masalah. Setidaknya begitulah kesimpulan yang ia buat sendiri.
"Hehe... ternyata ada untungnya juga jadi anak pungut yang nyaris nggak dianggap," gumamnya pelan sambil terkekeh kecil.
Toh, keberadaannya sudah lama diabaikan oleh keluarga itu. Jadi, siapa yang akan peduli kalau ia makan makanan seperti ini?
Dengan hati riang, Keisya membuka lemari dan mulai memilih sebungkus mi instan. Tangan kanannya sibuk memilah-milah rasa, sementara tangan kirinya masih menekan gulungan tisu di hidungnya. Ingatan tentang mi instan dan Keyla barusan kembali memicu mimisan yang belakangan sering datang tanpa peringatan.
"Keisya?"
'Aduh, siapa lagi?'
Tubuh Keisya menegang. Ia berbalik perlahan dengan jantung berdegup lebih cepat. Begitu melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya, ia mengembuskan napas lega. Ternyata hanya Keyla.
Namun, kelegaan itu hanya berlangsung sesaat. Begitu mata mereka bertemu, serpihan-serpihan ingatan tiba-tiba menyerbu kepalanya. Kepalanya kembali berdenyut hebat hingga ia refleks meringis sambil mencengkeram pelipisnya. Bungkus mi instan yang tadi digenggam pun terlepas dan jatuh ke lantai.
"Eh, lo kenapa?" tanya Keyla panik.
Penerangan dapur yang hanya mengandalkan lampu kecil di sudut pantry membuat wajah Keisya terlihat samar. Meski begitu, Keyla masih bisa menangkap jelas raut kesakitan yang terpancar dari wajahnya.
Beruntung tisu masih menyumbat hidung Keisya. Ia sudah bisa merasakan cairan hangat kembali mengalir dari dalam hidungnya. Kalau tidak segera ditahan, darah pasti akan menetes lagi.
Diam-diam, ia mengganti tisu yang mulai memerah lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat sebelum sempat dilihat oleh Keyla.
"Nggak apa-apa. Gue baik-baik aja," jawab Keisya sambil memaksakan senyum. "Lo sendiri ngapain ke sini?"
Keyla yang sempat mengulurkan tangan untuk membantu akhirnya menarik kembali tangannya.
"Gue kebangun karena lapar."
Padahal itu bohong. Sebenarnya ia hanya haus dan ingin mengambil air minum. Namun, saat melihat bungkus mi instan yang terjatuh di lantai, entah kenapa kebohongan itu langsung meluncur begitu saja dari mulutnya.
Keisya hanya bisa menghela napas dalam hati.
'Mana mungkin sekarang aku makan sendirian setelah ketahuan seperti ini?'
'Kalau dia ngadu ke Ayah, habis gue.'
Dengan berat hati, ia akhirnya berkata, "Gue juga laper. Mau masak mi."
Kalimat itu terdengar enggan, bahkan dirinya sendiri bisa merasakannya.
"Lo... mau ikut?"
'Please... bilang nggak.'
"Mau."
'Ya ampun... apes banget.'
Keisya hanya mampu tersenyum tipis meski hatinya menjerit pasrah.
'Ya sudahlah. Kita cuma makan mi bersama, kan? Sekarang semuanya sudah berbeda karna aku tidak lagi berniat mengganggu Keyla seperti dulu.
'Harusnya tidak akan terjadi apa-apa...Benar, kan?
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu