NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Gulita di Sudut Kamar dan Sisa Gairah yang Durjana

Bab 28: Gulita di Sudut Kamar dan Sisa Gairah yang Durjana

​Kamar utama di lantai dua itu tidak lagi terasa seperti bagian dari sebuah rumah mewah. Bagu Hana, ruangan berukuran luas dengan lantai parket jati itu telah menjelma menjadi sebuah peti mati yang sunyi. Tirai-tirai beludru abu-abu sengaja ditutup rapat-rapat, menghalau setiap jengkal cahaya matahari kota yang mencoba menyelinap masuk. Hanya ada kegelapan yang pekat, sedingin hawa pendingin ruangan yang mendengkur halus di sudut dinding.

​Hana duduk meringkuk di atas ranjang king size yang kini terasa terlalu luas untuk tubuhnya yang kian kurus. Kedua lengannya melingkari lutut yang ditarik rapat ke dada, sementara kepalanya disandarkan di atas bentangan selimut. Gaun tidurnya yang longgar tampak kedodoran. Wajahnya yang semula anggun dan berseri kini sepenuhnya kehilangan rona kehidupan; pipinya cekung, kelopak matanya membengkak dengan lingkaran kehitaman yang tebal di bawahnya.

​Setiap beberapa menit, tubuh Hana akan bergetar hebat. Isak tangis yang tertahan dan teramat perih keluar dari tenggorokannya yang kering. Tangan kanannya perlahan bergerak turun, meraba permukaan perutnya yang kini telah mengempis. Di sana, di dalam rahim yang kini terasa kosong dan dingin, seharusnya ada detak jantung kecil yang berdenyut bersama nafasnya. Harusnya ada kehidupan yang ia pertahankan dengan seluruh sisa harga dirinya.

​"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu tidak bisa menjagamu..." bisik Hana dengan suara yang pecah, tercekat oleh rasa sesak yang menghantam dadanya.

​Rasa terpukul, sedih, dan kecewa yang teramat mendalam mengalir bersama air mata yang membasahi permukaan lututnya. Hana merasa dunianya telah runtuh seutuhnya. Ia tidak pernah mengira bahwa kepatuhannya, keputusannya untuk mengalah dan mundur ke pojokan demi melihat akhir dari sandiwara suaminya, harus dibayar dengan harga yang teramat mahal: nyawa anak kandungnya sendiri. Kehilangan ini terlalu nyata, terlalu kejam, memotong seluruh urat kekuatannya hingga ia merasa tidak memiliki daya lagi bahkan hanya untuk sekadar berdiri menatap cermin.

​Di balik dinding kamar yang tebal, gema tawa yang renyah dan suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen justru terdengar merambat naik dari lantai bawah. Kontras yang luar biasa kejam ini terjadi di bawah satu atap yang sama.

​Di ruang makan lantai bawah, suasana justru tampak begitu hangat, seolah-olah tragedi berdarah beberapa hari lalu tidak pernah terjadi di rumah itu. Ibu Broto duduk di kursi utama sembari mengipasi wajahnya dengan kipas cendana, sementara di hadapannya tersaji mangkuk besar berisi sup iga sapi yang kuahnya masih mengepulkan uap gurih.

​Santi berdiri di samping kursi Adrian, dengan telaten menyendokkan kuah sup ke dalam mangkuk pria itu. Pakaian Santi hari ini sengaja dipilih dengan potongan yang lebih berani—sebuah blus satin tanpa lengan berwarna merah marun yang memperlihatkan kulit bahunya yang mulus, dipadukan dengan rok span hitam yang mempertegas lekuk pinggulnya.

​"Ayo, Adrian, dimakan supnya. Ini Santi sengaja bangun jam empat subuh tadi untuk mencarikan iga sapi segar di pasar swalayan depan," ujar Ibu Broto dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, matanya melirik sekilas ke arah langit-langit tangga. "Kamu itu butuh banyak energi. Jangan terus-menerus memasang muka murung hanya karena memikirkan kandungan yang memang dari awal sudah rapuh. Yang sudah hilang ya sudah, itu artinya rahim istrimu memang tidak becus menjaga benih unggul dari keluarga kita."

​Adrian memegang sendoknya dengan tangan yang agak bergetar. Wajahnya menampilkan raut yang teramat plin-plan. Di satu sisi, di dalam sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa kehilangan yang amat besar merayap setiap kali ia teringat genangan darah di lantai marmer malam itu. Ada rasa bersalah yang mencekik tenggorokannya ketika ia mengingat bagaimana ia membentak Hana sebelum wanita itu ambruk.

​Namun, di sisi lain, Adrian adalah pria yang lemah dan egois. Ketika ia menatap ke arah samping, sepasang mata Santi yang basah dan penuh pengabdian langsung menyambut pandangannya.

​"Mas Adrian... dimakan ya? Santi sedih kalau Mas Adrian sampai jatuh sakit karena kurang makan," bisik Santi dengan suara yang teramat mendayu-dayu. Jemari lentik Santi dengan berani bergerak di bawah meja, mengelus paha Adrian dengan gerakan memutar yang halus, menyalurkan sengatan gairah yang instan ke dalam tubuh pria itu.

​Adrian menelan ludahnya kesukaran. Sentuhan fisik dari Santi selalu berhasil menjadi obat penenang yang instan bagi jiwanya yang rapuh dan stres akibat grafik restoran yang belum juga membaik. Pria itu berada di persimpangan jalan yang nista: ia ingin berduka untuk anaknya, namun ia terlalu pengecut untuk menolak kenyamanan syahwat yang disodorkan oleh pelayannya.

​"Iya, Santi... terima kasih," jawab Adrian akhirnya, suaranya parau. Ia membiarkan tangan Santi tetap berada di atas pahanya, sementara mulutnya mulai menerima suapan sup dari sendoknya.

​Melihat respons Adrian, Ibu Broto tersenyum puas. Ia menopang dagunya dengan tangan yang dipenuhi cincin emas. "Nah, begitu toh. Lagipula, Adrian... kamu tidak usah merasa bersalah. Ibu sudah bilang, keguguran Hana itu murni karena pembawaan dirinya yang selalu berpikiran negatif dan penuh cemburu. Perempuan kalau hatinya busuk dan tidak tahu berbakti pada suami, rahimnya pun akan ikut membusuk. Untung ada Santi di sini yang selalu membawa aura positif."

​Ibu Broto sengaja memperparah penindasan psikologis ini. Ia berdiri, berjalan menuju tangga, lalu berteriak dengan nada menyindir yang teramat tajam. "Hana!! Kalau kamu sudah selesai menangis tidak jelas di atas, turun! Jangan manja jadi perempuan! Cuci baju-baju kotor di mesin cuci bawah! Jangan mentang-mentang habis keguguran lalu bertingkah seperti nyonya besar yang tidak mau menyentuh pekerjaan rumah!"

​Suara teriakan Ibu Broto merambat masuk menembus celah pintu kamar lantai dua, menghantam rungu Hana yang sedang meringkuk. Hana memejamkan matanya dengan rapat, air matanya kembali mengalir deras membasahi bantal. Kata-kata "rahim membusuk" dan tuduhan membawa aura sial dari ibu mertuanya terasa seperti cuka yang disiramkan di atas luka yang masih menganga lebar. Hana merasa sangat terpuruk, sedih, dan hancur di sudut yang paling sempit di rumahnya sendiri.

​Malam harinya, hujan turun membasahi jendela kamar kerja Adrian di lantai bawah. Adrian duduk di belakang meja kerjanya, menatap kosong ke arah layar laptop yang menampilkan laporan keuangan restoran yang kian sekarat. Pikiran tentang masa depan bisnisnya dan bayangan wajah pucat Hana di rumah sakit terus berputar-putar di dalam kepalanya, membuatnya hampir gila karena tekanan batin.

​Klek.

​Pintu ruang kerja yang tidak dikunci itu terbuka perlahan. Santi masuk dengan langkah tanpa suara, bertelanjang kaki. Ia hanya mengenakan kemeja putih milik Adrian yang longgar, yang panjangnya hanya mencapai pertengahan pahanya, menampilkan tungkai kakinya yang mulus di bawah temaram lampu meja.

​Santi berjalan mendekat, meletakkan secangkir susu cokelat hangat di meja, lalu tanpa permisi langsung mendudukkan dirinya di atas lengan kursi kerja Adrian.

​"Mas Adrian... belum tidur?" bisik Santi sembari mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Adrian dengan kelembutan yang dibuat-buat.

​"Santi... keluarlah. Aku sedang ingin sendiri," ucap Adrian, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya yang tipis. Di dalam benaknya, bayangan Hana yang sedang terpuruk di lantai atas mendadak muncul, menimbulkan rasa enggan untuk melakukan pengkhianatan lagi.

​Namun, Santi adalah ular yang tahu persis titik lemah Adrian. Ia tidak mundur, melainkan justru memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di leher Adrian hingga aroma harum tubuhnya yang baru selesai mandi langsung menguasai indra penciuman sang pria.

​"Mas Adrian... kenapa menjauh dari Santi? Apa Mas Adrian sudah tidak sayang lagi sama Santi?" cicit Santi dengan mata yang mendadak berkaca-kaca, memperlihatkan wajah paling melas dan rapuh yang ia miliki. "Santi di sini cuma punya Mas Adrian... Santi rela dicap buruk oleh Ibu, rela dianggap pelayan rendahan oleh Mbak Hana, semua demi bisa menemani Mas Adrian di saat susah... Tapi kenapa sekarang Mas Adrian malah dingin sama Santi?"

​Santi menundukkan kepalanya, membiarkan air mata buatannya jatuh di atas punggung tangan Adrian. "Kalau Mas Adrian memang mau Santi pergi... Santi akan pulang ke kampung malam ini juga... Biar Santi saja yang menanggung rindu dan sakitnya sendirian..."

​Melihat air mata Santi dan mendengar kata-kata penuh kepatuhan itu, pertahanan Adrian yang plin-plan runtuh seutuhnya. Rasa bersalahnya kepada Hana yang semula membentenginya langsung menguap, dikalahkan oleh ego pria yang tidak tahan melihat wanita menangis demi dirinya. Adrian merasa bahwa Santi adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya di rumah ini, sementara Hana hanya memberinya tatapan dingin dan keheningan yang menuduh.

​"Jangan... Jangan pergi, Santi," cetus Adrian dengan suara yang mendadak berat dan dikuasai oleh gairah yang kembali menyala liar.

​Adrian menarik pinggang Santi dengan sentakan kasar, membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan eratnya. Santi menyunggingkan senyuman kemenangan yang luar biasa puas di balik bahu Adrian saat pria itu mulai menciumi lehernya dengan rakus.

​Malam itu, di dalam ruang kerja yang remang, di saat sisa darah keguguran Hana bahkan belum sepenuhnya kering dari ingatan, Adrian kembali lumat dalam cengkeraman syahwat sang pelayan. Mereka melakukan hubungan intim yang penuh dosa di atas sofa kulit, meluapkan segala bentuk stres dan kepalsuan di bawah atap yang sama di mana sang istri sah sedang mendekap kehancuran hatinya seorang diri di dalam kegulatan malam yang dingin.

​Keesokan paginya, penindasan di rumah mewah itu semakin menjadi-jadi. Ibu Broto sengaja mematikan aliran listrik untuk pendingin ruangan di lantai dua dengan alasan menghemat pengeluaran karena restoran sedang sepi. Kamar Hana menjadi begitu panas dan pengap, memaksa wanita yang masih lemas itu untuk turun ke lantai bawah dengan langkah yang gontai, memegangi dinding untuk menjaga keseimbangannya.

​Begitu sampai di ruang tengah, Hana melihat Ibu Broto dan Santi sedang asyik memilah-milah perhiasan di dalam kotak beludru hitam—perhiasan yang Hana tahu betul adalah mas kawin pemberian almarhum ayahnya saat ia menikah dengan Adrian.

​"Ibu... apa yang Ibu lakukan dengan perhiasan saya?" tanya Hana dengan suara yang teramat serak dan lemah, berdiri di dekat meja kaca.

​Ibu Broto mendongak, lalu mencibir dengan kasar. "Oh, sudah mau turun? Perhiasan ini mau Ibu bawa ke pegadaian! Restoran anakku sedang butuh suntikan dana darurat gara-gara resep sialanmu itu! Daripada perhiasan ini menganggur di kamarmu dan tidak berguna, lebih baik dipakai untuk menyelamatkan bisnis Adrian! Kamu tidak usah banyak protes, sebagai istri yang sudah gagal memberikan keturunan, ini adalah kontribusi minimal yang bisa kamu berikan!"

​Hana menoleh ke arah Adrian yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. "Mas... kamu membiarkan Ibumu menjual mas kawin pernikahan kita?" tanya Hana, sepasang matanya menatap Adrian dengan sisa-sisa harapan terakhir yang teramat tipis.

​Adrian menghindari tatapan mata Hana. Ia membenulkan kerah kemejanya dengan gugup, mengingat kembali hasutan Santi semalam bahwa Hana sengaja ingin melihatnya bangkrut. Sikap plin-plan Adrian kembali berpihak pada keegoisannya.

​"Sudahlah, Hana. Jangan egois," jawab Adrian dingin, nadanya datar tanpa ada rasa bersalah lagi. "Restoran sedang dalam masa sulit. Nanti kalau omzet sudah kembali normal setelah menu Santi semakin stabil, aku akan membelikanmu yang baru yang lebih mahal. Sekarang, turuti saja kata Ibu. Jangan membuat keributan lagi di rumah ini, aku sudah bosan melihat wajah murungmu setiap hari."

​Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Adrian berjalan pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke restoran, diikuti oleh Ibu Broto yang membawa kotak perhiasan itu dengan senyum kemenangan.

​Santi berdiri paling akhir di ruang tengah. Sebelum melangkah pergi ke dapur, ia berjalan mendekati Hana yang masih berdiri mematung dengan tubuh yang bergetar menahan luapan rasa sedih, kecewa, dan kehancuran yang tak bertepi di pojokan ruang tengah.

​Santi mendekatkan wajahnya ke telinga Hana, lalu berbisik dengan nada suara yang teramat sinis dan penuh kemenangan. "Mbak Hana... Mbak lihat sendiri, kan? Mas Adrian sekarang lebih memilih mendengarkan Santi dan Ibu daripada Mbak Hana. Di rumah ini, posisi Mbak Hana itu sudah tidak ada harganya lagi. Anak yang Mbak banggakan saja sudah mati... jadi lebih baik Mbak Hana tahu diri dan bersiap-siap untuk angkat kaki dari sini."

​Santi terkekeh pelan, lalu melengos pergi meninggalkan Hana seorang diri yang berdiri di tengah ruangan yang megah namun terasa seperti neraka.

​Hana perlahan menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa bisa dibendung. Rasa terpukul, sedih, kecewa, dan penindasan yang bertubi-tubi dari suami, mertua, dan pelayannya telah mengikis habis seluruh sisa kebahagiaan hidupnya. Namun, di dalam palung hatinya yang paling dalam, di tengah-tengah kehancuran batinnya yang paling ekstrem malam itu, sisa-sisa air mata Hana perlahan-lahan mulai mengering, digantikan oleh sebuah bibit ketegasan yang teramat pekat dan dingin. Kesedihannya telah mencapai titik nadir, dan dari dasar jurang kehancuran itu, Hana bersumpah akan bangkit sebagai sosok yang tidak akan pernah menyisakan sepeser pun belas kasihan bagi tiga ular yang telah meremukkan hidupnya.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!