NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran di Balik Kotak Kayu

Suasana menjadi hening seketika. Hanya suara tetesan air dari langit‑langit tambang yang terdengar, berirama pelan seolah menghitung detak nyawa yang tergantung di ujung tanduk. Semua mata tertuju pada Andi yang masih terbaring lemah dalam pelukan Citra, lalu beralih tajam menatap sosok Jenderal Adiwinata yang kini terlihat gelisah. Wajahnya yang tadinya penuh keyakinan dan kekuasaan kini memucat, matanya berkilat ketakutan bercampur amarah yang tertahan.

“Apa omong kosong anak kecil ini!” bentak Adiwinata berusaha menutupi kegelisahannya. Ia mengangkat kotak kayu itu lebih tinggi lagi seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Dia hanya mengigau karena efek racun! Jangan dengarkan kata‑kata tak masuk akal itu!”

Namun, Citra yang sebagai dokter telah mengamati setiap perubahan pada tubuh putranya justru menggeleng pelan. Jari‑jarinya yang terampil menekan lembut titik‑titik tertentu di leher dan pergelangan tangan Andi, wajahnya perlahan berubah dari kecemasan menjadi sedikit terkejut namun penuh keyakinan.

“Dia tidak mengigau,” ucap Citra tegas, suaranya tenang namun cukup terdengar jelas oleh semua orang. “Detak jantungnya memang lemah, tapi tetap teratur dan tidak semakin memburuk seperti yang seharusnya terjadi jika racun itu bekerja sempurna. Ada sesuatu yang menetralkan efeknya, meski belum sepenuhnya hilang. Dan naluri seorang ibu tidak mungkin salah Andi tahu apa yang dia katakan.”

Mendengar penjelasan istrinya, mata Putra yang tadinya penuh keraguan kini menyala tajam. Ia melangkah maju selangkah, menatap lurus ke arah Adiwinata tanpa rasa takut sedikit pun. Sebagai seorang prajurit yang terlatih membaca gerak‑gerik musuh, ia menangkap jelas kegelisahan yang tersembunyi di balik topeng ketegasan lelaki tua itu.

“Buka kotak itu!” perintah Putra dengan suara menggelegar. “Buktikan bahwa kau tidak berbohong!”

Adiwinata menyeringai sinis, mencoba mempertahankan wibawanya meski tubuhnya sedikit mundur. “Jangan berani memberi perintah padaku! Jika aku membukanya sekarang, siapa yang bisa menjamin kalian tidak akan merebutnya secara paksa? Hanya saat kita tiba di ruang rahasia, aku akan membukanya dan memberikan penawarnya.”

“Kau takut, bukan?” sela Kolonel Bayu tiba‑tiba, melangkah berdiri berdampingan dengan Putra. “Kau takut jika kotak itu dibuka sekarang, rahasia besarmu akan terbongkar. Sudah berapa lama kau menyusun rencana licik ini, Adiwinata? Membunuh sahabat sendiri, memanipulasi perjodohan, dan kini berniat menjadikan anak tak berdosa sebagai alat untuk menguasai segalanya!”

Adiwinata mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengeras menahan amarah yang meledak. “Kalian tidak mengerti apa‑apa! Semua ini kulakukan demi memulihkan kejayaan nama keluarga kita! Ayahmu, Agus, terlalu bodoh membiarkan harta dan kekuasaan ini teronggok begitu saja tanpa dimanfaatkan untuk kebaikan yang lebih besar!”

“Kebaikan yang lebih besar?” tanya Putra sinis. “Kebaikan yang dimulai dengan pengkhianatan dan darah orang tak bersalah? Itu bukan kebaikan, itu hanyalah keserakahan yang dibalut kata‑kata manis!”

Saat ketegangan mencapai puncaknya, tiba‑tiba Andi kembali berbicara, suaranya masih lirih namun cukup jelas memecah perdebatan. “Di dalamnya... bukan cairan... ada jarum lain... yang lebih tajam...”

Kata‑kata itu membuat darah seolah berhenti mengalir di tubuh Citra dan Putra. Pandangan mereka kembali tertuju pada kotak kayu di tangan Adiwinata. Jika ucapan Andi benar, maka apa yang disimpan di sana bukanlah penawar, melainkan senjata lain yang jauh lebih berbahaya.

“Kau dengar itu, Adiwinata!” seru Kolonel Bayu. “Anak ini seolah memiliki mata yang bisa menembus dinding dan menutup kotak! Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?!”

Adiwinata akhirnya kehilangan kendali atas emosinya. Senyumnya lenyap total, digantikan oleh tatapan dingin yang penuh kebencian. Ia menyadari bahwa topengnya mulai terlepas sedikit demi sedikit, dan rencananya mulai terancam gagal.

“Baiklah!” teriaknya tiba‑tiba. “Jika kalian sangat ingin tahu, lihatlah sendiri!”

Dengan gerakan cepat dan tiba‑tiba, Adiwinata melepas penutup kotak kayu itu. Namun, alih‑alih memperlihatkan cairan bening seperti yang dijanjikannya, yang terlihat di dalamnya adalah sebuah alat suntik otomatis berujung jarum panjang dan tajam, berisi cairan berwarna hijau pekat yang berkilat berbahaya di bawah cahaya lampu minyak.

“Racun dosis mematikan!” seru Citra kaget, matanya membelalak mengenali jenis zat berbahaya itu dari pengetahuan medisnya. “Itu bukan penawar! Itu racun yang akan membunuhnya dalam hitungan menit jika disuntikkan!”

Adiwinata tertawa terbahak‑bahak, suara itu bergema mengerikan di seluruh ruangan. Ia tidak lagi berusaha berpura‑pura menjadi dermawan. “Tepat sekali! Kalian terlalu mudah ditipu! Tidak ada penawar! ‘Embun Kematian’ yang menyusup ke tubuh bocah ini adalah racun yang diciptakan khusus, tidak ada obatnya di dunia ini! Aku hanya membutuhkan dia hidup cukup lama untuk membuka pintu ruang rahasia itu, setelah itu nyawanya tidak ada gunanya lagi!”

“Kau iblis!” bentak Putra, amarahnya meluap tak terbendung. Ia siap menerjang maju, namun dihentikan oleh isyarat tangan Kolonel Bayu yang tetap waspada.

“Tetap tenang, Putra,” bisik Kolonel Bayu pelan namun tegas. “Dia memegang alat itu, satu gerakan salah bisa berakibat fatal bagi Andi.”

Adiwinata tersenyum menang, lalu menoleh ke arah Arga dan pengawal lainnya. “Kalian lihat? Mereka sudah tahu semuanya. Sekarang, tidak ada jalan lain selain bergerak maju! Bawa mereka masuk ke lorong utama menuju ruang inti! Jika ada yang berani melawan, suntikkan racun ini ke tubuh bocah itu!”

Namun, saat para pengawal mulai bergerak maju mengelilingi mereka, tiba‑tiba Citra merasakan perubahan aneh pada Andi. Tubuh kecil itu yang tadinya terasa dingin dan lemas, perlahan mulai memancarkan kehangatan yang lembut namun jelas terasa. Napas Andi yang tadinya terengah‑engah kini mulai teratur kembali, dan pipinya yang pucat perlahan memerah sedikit.

“Andi?” bisik Citra terkejut, memeriksa kembali detak jantung putranya. Matanya melebar tak percaya. “Ini... ini tidak mungkin... detak jantungnya semakin kuat, dan suhu tubuhnya kembali normal! Seolah‑olah tubuhnya sendiri sedang melawan racun itu!”

Putra segera menunduk, matanya menatap wajah putranya dengan penuh tanya. “Apa maksudmu, Sayang?”

“Racun itu seharusnya merusak sel secara permanen, tapi justru sebaliknya,” jawab Citra dengan nada penuh keheranan namun juga sedikit harapan. “Ada zat alami di dalam darahnya yang bereaksi melawan racun tersebut. Seperti yang dikatakan Adiwinata tadi... darah keturunan ini memang istimewa, tapi bukan sebagai kunci pembuka harta, melainkan memiliki kekuatan penyembuhan alami yang luar biasa!”

Mendengar penjelasan itu, wajah Adiwinata seketika berubah pucat pasi. Ia tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi. Selama puluhan tahun ia mempelajari catatan leluhur, namun tidak pernah disebutkan bahwa darah itu bisa menetralkan racun paling mematikan sekalipun.

“Tidak mungkin...” gumam Adiwinata tak percaya. “Itu tidak tercatat di mana pun...”

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Andi perlahan membuka matanya sepenuhnya. Tatapan matanya yang tadinya sayu kini terlihat jernih dan tajam, seolah ada cahaya samar yang berkilat di dalamnya. Ia menatap Adiwinata, lalu menoleh ke arah lorong gelap di belakang lelaki tua itu, dan berkata dengan suara yang lebih jelas dan tegas dari sebelumnya:

“Di sana... bukan hanya harta... ada pintu lain... yang menyimpan kebenaran tentang kematian Kakek... dan juga tentang... siapa sebenarnya orang tua asli Ibu...”

Semua orang tertegun membeku. Bahkan Kolonel Bayu pun menatap Andi dengan mulut sedikit terbuka. Kata‑kata terakhir yang diucapkan bocah kecil itu menembus hati Putra dan Citra bagaikan petir di siang bolong.

“Orang tua asli Ibu?” ulang Putra dengan suara bergetar, menatap istrinya. “Apa maksudnya? Bukankah kakek dan nenek Citra adalah orang yang selama ini kami kenal?”

Namun, sebelum ada yang sempat menjawab, tiba‑tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat, disertai suara gemuruh yang semakin keras dari arah lorong terdalam. Cahaya keemasan yang samar namun terang mulai memancar perlahan dari balik kegelapan, dan sebuah suara berat yang berbeda dari suara Adiwinata terdengar, menggema langsung ke dalam hati setiap orang yang hadir.

“Sudah waktunya... rahasia yang tersembunyi selama puluhan tahun akhirnya harus terungkap. Siapapun yang berani masuk, harus siap menerima kenyataan yang akan mengubah seluruh takdir kalian selamanya...”

Putra memeluk Citra dan Andi erat‑erat, merasakan campuran rasa takut, harapan, dan kebingungan yang luar biasa. Di hadapan mereka berdiri musuh yang kejam, di belakang mereka ada jalan keluar yang terhalang, dan di depan mereka terbuka lorong misterius yang menyimpan rahasia yang lebih besar dari sekadar harta atau balas dendam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!