tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10/ I am sorry Rigecherta!
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta.
' sorry bikin lo nunggu lama Rige. Harusnya gue nggak terus-terusan denial sama perasaan gue' Tivane berkata dalam hati.
"Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah.
"Mau tanya apa pah?" Tanya Tivane menatap ayahnya.
"Kamu serius soal omongan kamu tadi malam. Kalo kamu emang nggak mau tunangan papa nggak masalah kok. Tapi kalo boleh tau siapa cowok yang kamu sayang itu?" Tanya Aliandra membuat Tivane tersenyum. Tivane kira ayahnya akan marah karena ia bertingkah sesukanya tadi malam.
" Itu.. papa beneran bisa batalin pertunangannya kan?" Tanya Tivane penuh harap membuat ayahnya mengangguk.
"Rige ya cowo yang kamu bilang tadi malam?" Tebak papa nya membuat pipi Tivane langsung merona dan mengangguk kecil.
Aliandra yang melihat anak nya malu-malu kucing seperti itu pun terkekeh gemas dan mengelus kepala putrinya penuh sayang.
" Byee papa, aku sekolah dulu ya." Pamit Tivane sambil menyalim ayahnya saat mereka sampai di gerbang sekolah.
"Sekolah yang rajin." Ucap Aliandra membuat Tivane mengangguk dan melambai ke ayahnya lalu berlari kecil ke arah kelas.
Saat tiba di kelas ia melihat Rigecherta sudah duduk di kursi nya membuat senyum Tivane mengembang dan mendekat.
" Hai.. kok udah masuk sekolah? Nggak istirahat dulu kah?" Tanya Tivane sambil duduk di samping Rigecherta.
Rigecherta hanya mengangguk sebagai jawaban membuat Tivane menoel-noel pelan lengan Rigecherta. Rigecherta menoleh ke arahnya dengan alis terangkat.
"Em... Sorry ya" pinta Tivane sungguh-sungguh membuat alis Rigecherta mengerut.
"Soal?" Tanya Rigecherta dengan nada bingung.
" Soal yang kemarin" jawabnya pelan membuat Rigecherta menghela nafas dan mengangguk.
" Iya nggak papa. Jangan nangis lagi" ucap Rigecherta sambil mengelus pipi dan mata Tivane yang sedikit membengkak karena kebanyakan nangis. "Kenapa nangis sampe bengkak gini matanya hm?" Tanya Rigecherta pelan namun perhatian.
"Ya siapa yang nggak sedih coba, di cuekin sama sahabat sendiri" jawab Tivane manyun membuat Rigecherta dengan gemas mengunyel pipi Tivane.
"Ih.. pipi gue" rengek Tivane kesal.
" Lucu banget sih tunangan orang" ucap Rigecherta membuat Tivane melotot protes.
" Dih mana ada, orang aku calon pacar kamu kok" jawab Tivane balik membuat Rigecherta mendelik kecil dan tertawa mengira kalau Tivane hanya mencoba menghiburnya.
" Beneran tau. Gue nggak jadi tunangannya hehe" ucap Tivane cengengesan membuat Rigecherta menatapnya dengan heran.
" Kok?" Tanya Rigecherta bingung.
" Gue batalin tadi malam." Ucap Tivane cengengesan. "Oh iya, nanti pulang sekolah lo harus ikut gue" tambah Tivane tak bisa di bantah.
Rigecherta pun hanya mengangguk mengiyakan.
Bel pulang sekolah berbunyi Tivane langsung membereskan barang-barangnya dan menarik tangan Rigecherta. Cowok itu hanya menurut dan mengikuti Tivane sampai ke taman belakang sekolah.
Tivane melepaskan tangan Rigecherta dan berlari ke arah undakan tangga lalu menjentikkan jarinya membuat Rigecherta menyernyit heran melihat tingkahnya.
"RIGE!" Panggil Tivane lantang membuat Rigecherta menatap kepadanya seutuhnya.
"I'M SORRY RIGECHERTA!" pekiknya sambil tersenyum lebar.
"LO SUKA KAN SAMA GUEE?" tanya Tivane membuat Rigecherta sedikit terkejut lalu detik kemudian ia mengangguk dan tersenyum.
" GUE JUGA" ucapan Tivane membuat Rigecherta tersentak dan sedikit mendekat ke arah Tivane.
"Apa tadi?" Tanya Rigecherta seolah memastikan pendengarannya benar.
" GUE JUGA SUKA SAMA LO! I LOVE YOU TO MY POSESSIVE BEST FRIEND" ucap Tivane lantang dan tersenyum lebar ke arah Rigecherta.
Di saat bersamaan, lampu-lampu yang tadi mati di atas kepala mereka menyala. Ia kerjaan teman-teman Rigecherta. Tivane yang meminta mereka untuk meromantiskan suasana.
Rigecherta sedikit kaget namun ia langsung terkekeh dan merentangkan kedua tangannya. Tivane yang melihat itu pun berlari ke arah nya dan langsung memeluk Rigecherta erat dengan senyum yang mengembang sedari tadi.
"CIEEE... UDAH JADIAN NIH YEEE." Suara River terdengar nyaring di sambut oleh Skyler yang tak kalah heboh.
"WUIH YANG CINTANYA DI BALESS" ucap Skyler menggoda heboh di samping Veros yang tersenyum lega melihat sepupunya itu sudah bersama gadis yang ia tunggu selama 3 tahun.
Rigecherta yang mendengar godaan mereka bukannya melepaskan pelukan, ia malah semakin memeluk Tivane dengan erat dan sedikit mengangkat nya.
"Sayang kamu banyak-banyak" bisik Rigecherta membuat Tivane mengangguk malu-malu.
" Udah ngapa pelukannya, kasian kita pada jomblo akut di sini" decak Skyler drama.
" Dih, Lo aja kali yang jomblo akut. Gue mah banyak yang mau, cuma nggak tertarik aja" elak River tak mau di bilang jomblo akut. Ya kali cowo se tampan nya di bilang tak laku.
"Sama aja nyet. Sama-sama nggak punya pacar" decak Skyler sinis.
"Udah ah. Berisik lo pada. Liat tuh sahabat kalian udah ada pawangnya" lerai Veros membuat Skyler dan River saling pandang dan membuang muka sok sinis.
Rigecherta melepaskan pelukan dan mengacak gemas rambut Tivane membuat Tivane manyun.
" Jangan di berantakin ngapa sih" ucap Tivane membuat Rigecherta merapikan kembali rambut Tivane.
"Iya iya. Maaf. Bocil, tukang ngambek" ejek Rigecherta membuat Tivane melotot protes.
" Biarin, yang penting lo sayang" ucap Tivane memeletkan lidah mengejek.
" Pulang yok" ajak Tivane membuat Rigecherta mengangguk dan menenteng tas Tivane.
" Ayo aku antar" ucap Rigecherta membuat Tivane menggeleng tegas.
"Nggak mau. Nanti jatoh" ucap Tivane karena Rigecherta habis jatuh dari kereta tadi malam.
"Aku udah nggak papa. Nih liat udah sehat, udah bisa jalan juga" Rigecherta mencoba meyakinkan Tivane.
"No!" Ucap Tivane melotot.
"Yaudah" Rigecherta akhirnya menyerah.
" Nah gitu dong, nurut gini kan lucu" ucap Tivane mengacak gemas rambut Rigecherta membuat cowok itu mengangkat alis.
Saat tiba di parkiran. Rigecherta akhirnya pulang diantar oleh Tivane menggunakan mobil.
Motor Rigecherta? Sudah di suruh di jemput sopir tadi.
Sampai di rumah Rigecherta Tivane ikut turun dari mobil berniat pamit.
" Ayo mampir dulu" ajak Rigecherta malah langsung menarik tangan Tivane.
" Eh, emang boleh?" Tanya Tivane mengikuti.
"Boleh. ayo" Rigecherta menarik tangan Tivane membuat gadis itu mengekor di belakangnya.