NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergok Selingkuh

Langit sore di atas Jakarta tampak muram, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah mewakili kehancuran yang tengah berkecamuk di dalam dada Anjani Direja. Anjani berdiri mematung di ambang pintu ruang kerja suaminya, Malik Wiratama. Napasnya tercekat, paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen. Tangan yang tadi memegang nampan berisi teh hangat kini gemetar hebat, hingga denting cangkir porselen yang beradu dengan tatakan terdengar sumbang di tengah kesunyian rumah mewah itu.

Di depannya, sebuah pemandangan yang seharusnya mustahil terjadi justru terpampang nyata. Malik, pria yang telah ia nikahi selama lima tahun, pria yang selalu ia banggakan kesetiaannya, kini tengah membelit pinggang wanita lain. Dan wanita itu bukanlah orang asing. Dara Mitha Dahayu, sahabat karib Anjani sejak masa kuliah, sosok yang ia anggap sebagai saudara perempuan sendiri, kini tengah tertawa renyah dalam pelukan Malik.

Dunia Anjani runtuh dalam sekejap. Rasanya seperti ribuan jarum tajam menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia melihat ponsel Malik yang tergeletak di atas meja kerja, layarnya yang menyala menampilkan pesan singkat bernada mesra yang tak sanggup lagi ia baca lebih jauh. Pengkhianatan ini terasa dua kali lipat lebih menyakitkan karena melibatkan dua orang yang paling ia percayai di dunia ini.

"Anjani?"

Suara Malik yang berat dan tenang kini terdengar seperti belati bagi telinga Anjani. Malik melepaskan pelukannya dari Dara, namun tidak ada ekspresi bersalah atau malu di wajahnya. Pria itu justru menatap Anjani dengan tatapan datar, seolah keberadaan istrinya di sana hanyalah gangguan kecil dalam rencananya. Sementara itu, Dara hanya menunduk, menyembunyikan seringai kemenangan yang tipis di balik helai rambutnya yang terurai.

Sebelum Anjani mampu mengeluarkan satu patah kata pun dari tenggorokannya yang tercekat, suara melengking yang familiar dan menyakitkan telinga memecah suasana.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di depan pintu? Dasar tidak punya sopan santun!"

****

Bu Anne, ibu mertua Anjani, melangkah masuk ke ruangan dengan angkuh. Jubah sutranya menjuntai di lantai marmer, seolah-olah rumah itu adalah istana miliknya seorang. Matanya yang tajam bak elang segera tertuju pada Anjani. Tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tanpa peduli pada air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata menantunya, Bu Anne langsung mengeluarkan taringnya.

"Oh, lihat ini! Si gembel ini berdiri seperti orang linglung. Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain memata-matai suamimu, hah?" Bu Anne berjalan mendekat, menunjuk wajah Anjani dengan jari yang dihiasi cincin berlian besar. Suaranya yang cempreng, yang sering Anjani sebut sebagai 'mulut petasan banting', memenuhi ruangan dengan cacian yang menyayat hati.

"Anjani, aku sudah muak melihat wajah pasrahmu itu! Kau pikir dengan wajah memelas seperti itu kau bisa menutupi asal-usul keluargamu yang miskin papa? Kau ini benalu! Malik seharusnya menikah dengan wanita yang sepadan, bukan dengan gadis kampung yang datang dari keluarga tidak jelas seperti kau!"

Anjani terdiam, bukan karena ia takut, melainkan karena ia tengah berusaha mengumpulkan serpihan harga dirinya yang berserakan. Ia menatap Malik, berharap pria itu akan membela atau setidaknya menegur ibunya. Namun, Malik justru berbalik memunggungi mereka, kembali duduk di kursi kerjanya dan sibuk dengan dokumen di depannya, mengabaikan drama yang terjadi seolah-olah Anjani sudah tidak lagi dianggap sebagai manusia.

"Diamlah, Ma," suara Malik datar, tanpa emosi. "Dia hanya kaget. Biarkan dia pergi dari sini. Aku sedang sibuk."

"Dengar itu!" Bu Anne meludah kata-katanya ke arah Anjani. "Bahkan anakku saja jijik melihatmu! Kau tidak tahu malu, sudah numpang hidup, tidak bisa memberi cucu, sekarang malah mengganggu pekerjaan suamimu. Pergi! Jangan sampai aku memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari rumah ini, atau sekalian aku masukkan kau ke sel polisi karena kau sudah berani masuk ke ruang kerja tanpa izin!"

****

Anjani merasakan kemarahan yang luar biasa, namun ia juga menyadari satu hal: di rumah ini, ia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Cinta Malik telah mati, sahabatnya telah berkhianat, dan ibu mertuanya adalah iblis yang siap mencabik-cabiknya setiap detik.

"Aku bukan benalu," suara Anjani bergetar, namun tegas. Ia meletakkan nampan teh yang masih ia pegang dengan perlahan ke atas meja nakas di dekat pintu. "Dan aku tidak pernah memohon untuk berada di sini. Perselingkuhan ini... aku sudah melihatnya. Malik, kau dan Dara... kalian benar-benar menjijikkan."

Dara yang sedari tadi diam akhirnya mengangkat wajah. Ia menatap Anjani dengan tatapan merendahkan. "Anjani, jangan dramatis. Malik hanya tidak bahagia bersamamu. Kau terlalu membosankan. Kau tidak tahu cara bersenang-senang, tidak seperti kami."

Bu Anne tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar seperti suara besi beradu. "Dengar itu! Bahkan temanmu sendiri sudah muak denganmu. Memang benar kata orang, orang miskin itu mentalnya tidak akan pernah bisa naik kelas. Sudah, pergi sana! Jangan tunjukkan lagi wajah memuakkanmu itu di depan rumahku!"

Anjani menatap mereka satu per satu. Malik yang pengecut, Dara yang pengkhianat, dan Bu Anne yang lalim. Ia menyeka air mata di pipinya dengan kasar. Hari ini, ia menyadari bahwa ia telah membuang lima tahun hidupnya untuk orang-orang yang tidak layak. Ia berbalik, langkah kakinya terasa berat namun mantap saat ia mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.

****

Di belakangnya, ia masih bisa mendengar suara Bu Anne yang terus memaki, menghina latar belakang keluarganya, membandingkan betapa kayanya keluarga Dara dengan keluarga Anjani yang sederhana. Setiap kata yang keluar dari mulut wanita tua itu adalah racun, namun entah mengapa, Anjani tidak lagi merasa sakit. Ia justru merasa terbebaskan.

Saat kakinya menapak keluar dari pintu utama rumah besar tersebut, angin malam menerpa wajahnya. Ia tidak membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia tidak lagi memikirkan harta, tidak memikirkan reputasi, dan tidak lagi memikirkan pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.

Anjani Direja baru saja kehilangan dunianya, namun di balik kehancuran itu, sebuah tekad baja mulai tumbuh. Ia tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak harga dirinya lebih jauh. Ini bukan akhir dari segalanya, melainkan babak baru yang justru akan membawa kejutan bagi Malik, Dara, dan sang mertua lalim itu.

Anjani berjalan menjauh dari rumah megah itu, tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia tahu, perjalanan yang akan ia tempuh setelah ini tidak akan mudah, namun ia akan memastikan bahwa orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan, Anjani bukan lagi wanita yang lemah dan pasrah. Ia adalah seseorang yang baru saja bangkit dari abu kehancurannya sendiri, siap untuk menuntut keadilan.

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!