NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Hanya pembicaraan keluarga biasa. Tidak ada yang perlu dicurigai," jawab Nadira dengan suara serata mungkin, meskipun jantungnya berdegup kencang menabrak rusuk.

Arga tertawa sinis. Ia mendorong kursi makan hingga mundur dengan suara berderit tajam, lalu berdiri mendekati Nadira dengan langkah berat yang menggetarkan lantai.

Tatapan pria itu kini mengintimidasi, menciptakan bayangan gelap di wajah Nadira yang terkena cahaya lampu gantung redup.

"Jangan coba-coba berbohong padaku, Clarissa. Aku tahu kamu punya rencana lain selain mengurus warisan ini."

"Bagaimana jika iya? Kamu sendiri mau apa?"

Nadira menatap balik mata Arga tanpa rasa takut, meskipun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin. Ia menyadari bahwa Arga bukanlah pria bodoh yang mudah dipermainkan seperti yang ia kira sebelumnya.

Pria ini cerdas dan sangat waspada terhadap setiap pergerakan yang ia lakukan di dalam rumah besar itu. Kehadiran Arga yang tiba-tiba di ruang makan membuat suasana hening menjadi sangat menyesakkan.

"Aku akan menelanmu hidup-hidup!"

"Kamu kira aku ini makanan laut mentah yang bisa langsung di makan. Jangan bercanda! Aku sama sekali tidak takut padamu!"

Napas Nadira tersengal sedikit saat Arga memberi jarak hanya beberapa centimeter dari wajahnya. Pria itu sengaja menguji ketenangannya, membiarkan ketegangan mengudara di antara mereka berdua tanpa satu pun kata yang terucap.

"Kamu pikir aku tidak tahu cara kerjamu? Kamu selalu menyembunyikan sesuatu di balik senyum itu," bisik Arga pelan, napasnya menyentuh pipi Nadira yang terasa seperti ancaman dingin.

"Senyuman manisku?" Nadira tertawa kecil. "Kamu menyukainya?"

"Tidak sama sekali!"

"Kalau begitu aku tidak mau tersenyum lagi padamu!" Nadira merengut.

"Cih, kau berusaha menggodaku?"

"memangnya kenapa? Bukankah wajar jika seorang isteri menggoda suaminya?"

"Tapi aku tidak tertarik!"

Keheningan itu pecah saat denting jam dinding di sudut ruangan berbunyi keras, menandai berlalunya waktu yang terasa sangat lambat. Nadira menelan ludah keras, mencoba mengumpulkan sisa keberanian untuk tidak runtuh di depan pria tersebut.

Ia sadar bahwa permainan kucing-kucingan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Arga tidak akan berhenti mengawasinya sampai ia menemukan kelemahan Nadira yang sebenarnya.

"Aku akan terus mengawasimu. Setiap gerak-gerikmu, aku akan selalu tahu! Kamu harus selalu ingat tentang itu, Clarissa . sampai kamu menyesal sendiri!"

Pintu kamar Arga menutup kencang dengan bunyi dentuman khas. Nadira menghitung hingga sepuluh di dalam kepalanya sebelum bergerak. Ia mendengar langkah kaki Arga

memudar di ujung koridor, menyatu dengan suara gemuruh mesin cuci di lantai bawah.

Begitu yakin tidak ada orang, Nadira membanting tubuhnya ke atas kasur,

menghembuskan napas lega yang berat. Waktunya bekerja.

Ia turun dari tempat tidur dan langsung menuju meja rias. Laci-laci kayu jati ditarik paksa hingga mengeluarkan suara berderit. Tumpukan surat tagihan, kartu member salon, dan perhiasan imitasi berserakan di atas karpet tebal. Nadira merogoh ke dasar laci, jari-jarinya menyentuh debu dan kain sutra yang lembap. Ia tidak boleh meninggalkan satu pun jejak.

"Di mana lagi ya?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Ia berbalik menuju lemari pakaian besar yang berukir. Pintu geser itu disingkirkan kasar. Gantungan baju besi berdentang satu sama lain, menciptakan ritme bising di ruangan yang sunyi.

Ia menggeledah saku setiap jaket dan mantel, mencari secarik kertas atau dokumen yang mengarah pada angka dua ratus triliun itu.

Tiba-tiba, sebuah bingkai foto jatuh dari rak atas dan menghantam lantai. Nadira membeku. Matanya terbelalak menatap bayangan di bawah pintu, takut jika Arga kembali.

Namun, hanya keheningan yang menyambut. Ia berlutut, membersihkan pecahan kaca, dan melihat sesuatu mengkilat tersembunyi di balik papan penyangga cermin yang longgar. Jari telunjuknya mengaitkan sebuah kunci besi kecil yang sangat sederhana.

Kunci itu dingin dan tajam di telapak tangannya. Nadira menatapnya dengan detak jantung yang mulai berpacu. Kunci ini terlalu kecil untuk brankas besar di ruang kerja Arga, namun desainnya sangat tua, bergaya klasik seperti perabotan kakek mereka. Mungkinkah ini akses ke lemari rahasia yang disebutkan singkat dalam memoar keluarga yang pernah ia baca sepintas?

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, sebuah bunyi langkah kaki terdengar di koridor. Nadira tidak mendengar suara langkah itu sebelumnya karena fokusnya yang terlalu tinggi.

Langkah itu terdengar pelan, teratur, dan semakin mendekat. Nadira panik, memasukkan kunci kecil itu ke dalam saku dalam gaunnya, tepat di balik lipatan kain yang tebal. Ia merapatkan saku itu dengan telapak tangan gemetar.

Ia berbalik menghadap lemari yang berantakan dan berpura-pura sedang mengatur ulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!