seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelicikan jenderal Garam
Aula istana masih bergema oleh suara Hana yang terakhir.
"Aku tidak menyesal, Yang Mulia! Jika mereka datang untuk membunuh rakyat Sanata, maka aku akan membunuh mereka lebih dulu."
Kalimat itu menggantung di udara seperti pedang yang belum disarungkan. Tajam. Berat. Membuat dada setiap orang di ruangan itu terasa sesak.
Sunyi.
Tidak ada yang berani berbicara selama beberapa detik. Para pejabat saling pandang. Beberapa bangsawan wanita menutup mulutnya dengan kipas. Menteri Wira mengerutkan kening dalam-dalam. Bima, di sisi lain, justru tersenyum lebar. Dadanya membusung bangga, seolah dialah yang baru saja berteriak di medan perang.
Kaisar Adrian duduk di singgasananya. Ia menatap Hana lama. Sorot matanya dalam, membaca, menimbang. Hana berdiri tegak di tengah aula. Wajahnya tidak berubah. Tidak gentar. Tidak meminta maaf.
Lalu bibir Kaisar perlahan terangkat.
"Bagus."
Satu kata itu terdengar pelan, namun cukup untuk memecah keheningan.
Aula langsung bergemuruh. Beberapa pejabat muda bertepuk tangan. Yang lain mengangguk setuju. Suara sorakan kecil terdengar dari barisan prajurit istana.
"Benar! Sanata tidak perlu takut pada siapa pun!"
"Nona Hana adalah perisai kerajaan kita!"
Namun di balik sorakan itu, bisikan-bisikan mulai merayap seperti racun.
"Gila... dia membunuh dua ribu orang tanpa ragu sedikit pun."
"Apa wanita itu punya hati?"
"Kalau Kerajaan Barat balas dendam, yang rugi kita semua."
Hana mendengar semuanya. Namun ia tidak bergeming. Matanya tetap lurus ke depan. Ia tidak datang ke sini untuk disukai. Ia datang untuk menang.
Di sudut aula, Dominic berdiri dengan tangan di belakang punggung. Ia tidak ikut bersorak. Ia hanya menatap Hana dengan sorot yang semakin dalam, semakin sulit ditebak.
`Wanita ini...` Batinnya. `Ia tidak peduli dipuji atau dibenci. Ia hanya melakukan apa yang benar menurutnya. Dan itulah yang membuatnya berbahaya. Juga... membuatku tidak bisa berpaling.`
**_
Bima tidak bisa menahan diri lebih lama.
Ia berdiri dari kursinya dengan semangat. Jubah sutranya berkibar. Ia menatap seluruh isi aula satu per satu, seolah ingin memastikan semua orang melihatnya.
"Lihat! Itu putriku!" Ucapnya lantang, suaranya menggema. "Darahku mengalir di tubuhnya! Berani! Tegas! Tidak takut pada siapa pun! Itulah keturunan Bima!"
Beberapa bangsawan tersenyum canggung. Yang lain memalingkan muka pura-pura tidak mendengar. Seorang pejabat tua bahkan menghela napas pelan.
Menteri Wira menoleh ke Kaisar dan berbisik pelan. "Yang Mulia... Tuan Bima terlalu bersemangat."
Kaisar hanya menghela napas dan menggeleng kecil. Ia sudah terlalu lama mengenal Bima untuk marah.
_*_
Di atas meja Kaisar, surat dari Kerajaan Barat masih terbuka. Cap lilin merahnya sudah retak. Tinta hitamnya tegas dan marah.
Isinya menuduh Sanata melakukan pembantaian tanpa perundingan. Menuduh Kaisar sengaja mengirim "Iblis Berzihab Hitam" untuk membasmi pasukan mereka. Dan tuntutan terakhirnya membuat semua orang menahan napas: Serahkan wanita itu, atau kami anggap ini deklarasi perang.
Kaisar meletakkan surat itu di atas meja dengan pelan. Suara kertas menyentuh kayu terdengar jelas di aula yang hening.
"Nona Hana." Ucapnya. Suaranya berat. "Kau mendengar tuntutan mereka. Mereka bilang kita sengaja mengirim mu untuk membasmi pasukan mereka."
Hana mengangguk sekali. "Aku tahu, Yang Mulia."
"Apa kau punya rencana?" Tanya Kaisar. Matanya menatap tajam. "Apa kita memilih berdamai? Atau bersiap untuk perang?"
Hana melangkah maju satu langkah. Jubahnya bergesek pelan di lantai marmer. "Perang jika mereka mau. Damai jika mereka takut. Aku tidak akan mundur selangkah pun, Yang Mulia."
Jawaban itu membuat beberapa pejabat tua mengernyit. Menteri Wira maju selangkah.
"Nona Hana, perang bukan hanya soal keberanian." Ucap Wira hati-hati. "Ini soal politik. Kerajaan Barat punya tiga sekutu. Jika mereka menghasut, Sanata bisa terkepung dari utara, barat, dan laut."
Hana menoleh padanya. Tatapannya dingin. "Lalu apa saranmu, Menteri Wira?"
Wira terdiam. Ia membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia tidak berani memberi saran di depan wanita yang baru saja membantai dua ribu orang.
Alexander ikut maju. Jubah emasnya berkilau di bawah cahaya lilin. "Ayahanda benar. Kita harus berhati-hati. Tapi aku setuju dengan Nona Hana. Jika kita menunjukkan lemah di awal, mereka akan menginjak kita selamanya."
Kaisar menatap putranya, lalu menatap Hana. Ia tersenyum tipis. Senyum seorang raja yang sedang menimbang dua pedang.
"Baik." Ucap Kaisar akhirnya. "Untuk sekarang, kita kirim balasan. Katakan bahwa Sanata hanya membela diri. Dan pasukan Kerajaan Barat yang menyerang perbatasan kami duluan tanpa provokasi."
Semua pejabat mengangguk.
"Kaisar!" Tiba-tiba suara keras memecah rapat.
Semua orang menoleh serentak ke arah pintu aula.
Seorang utusan berlari masuk. Zirahnya kotor oleh lumpur. Napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat seperti orang melihat hantu.
Ia berlutut di depan Kaisar. "Lapor, Yang Mulia! Pasukan Kerajaan Barat terlihat bergerak di perbatasan selatan! Jumlahnya... tidak kurang dari lima ribu prajurit lengkap dengan kavaleri!"
Aula langsung gaduh.
"Lima ribu?!" Seorang menteri menjatuhkan gulungannya.
"Mereka mau perang beneran?!"
"Bagaimana bisa secepat ini?!"
Kaisar berdiri. Wajahnya mengeras. Aura seorang raja kembali muncul. "Kumpulkan semua jenderal, menteri, dan komandan. Sekarang juga! Kita rapat di Ruang perang!"
_*_
Malam itu, istana tidak bisa tidur.
Ruang Perang adalah ruangan batu tanpa jendela. Hanya ada satu meja besar di tengah, dan di atasnya terbentang peta Kerajaan Sanata dan sekitarnya. Lilin-lilin besar menyala di setiap sudut, membuat bayangan orang-orang menari di dinding.
Udara terasa panas meski di luar dingin.
Hana berdiri di sisi peta. Jubah hitamnya masih ia kenakan. Ia tidak menggantinya dengan pakaian pesta. Pedang peraknya tersarung di pinggang. Wajahnya datar, membaca setiap garis di peta seolah itu nyawa.
Dominic berdiri di sebelah kanannya. Ia menunjuk satu titik dengan ujung tombaknya. "Di sini, Yang Mulia. Lembah Kabut. Jika mereka lewat sini, medan sempit. Kita bisa menyergap dengan jumlah kecil."
Jenderal tua bernama Garam, yang sudah tiga puluh tahun mengabdi, menggeleng keras. Jenggotnya bergetar. "Terlalu berisiko, Komandan Dominic. Lembah itu memang sempit, tapi jika kita kalah jumlah, kita akan terjebak dan dimusnahkan. Kita tidak punya cukup prajurit untuk mengorbankan seratus orang."
"Lalu apa saranmu, Jenderal?" Tanya Dominic. Suaranya dingin.matanya memicing menatap pria tua yang ada dihadapan nya,dia sangat mengenal sifat nya yang licik dan juga penakut.
Jenderal Garam sontak menoleh ke Hana. Matanya tua, tapi licik.lalu tanpa ragu dia mengucapkan hal yang membuat semua orang yang ada disana terkejut.
"Kita serahkan Nona Hana sebagai tumbal diplomatik. Kita minta maaf resmi. Kita katakan dia bertindak di luar perintah. Mungkin Kerajaan Barat akan berhenti dan berunding."
Mendengar itu Hana menatapnya. Pelan. Tajam.dia tersenyum di dingin,yang membuat jenderal garam merasa takut tanpa sebab.
Dan saat itu Aula hening lagi. Hanya suara lilin yang berderak.