NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:309.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26 - Makan Malam Hartono

Nadira tidak suka undangan yang terlalu rapi.

Amplop dari Hartono Group itu dicetak di kertas tebal, dengan tulisan emas yang tidak berlebihan. Di dalamnya ada kartu makan malam tertutup untuk tim proyek sayap anak Rumah Sakit Cakra Medika. Namanya tertera jelas.

dr. Nadira Prameswari.

Di bawahnya ada catatan pendek dari Kevin.

Kehadiran Dokter Nadira penting untuk menentukan kebutuhan medis proyek ini.

Nadira membaca kalimat itu dua kali. Tidak ada kalimat pribadi. Tidak ada rayuan. Kevin memang pandai menempatkan diri.

Maya, yang sedang duduk di sofa ruang apartemen sambil makan keripik, memiringkan kepala.

"Kamu mau datang?"

"Ini urusan rumah sakit."

"Itu bukan jawaban."

Nadira meletakkan kartu itu di meja. "Aku harus datang."

"Dan Arga?"

Nadira diam sebentar. "Dia tidak ada hubungannya."

Maya tertawa pendek. "Kalau acara Hartono, ada nama Vania, ada Reza, dan ada kamu, Arga pasti merasa ada hubungannya."

Ponsel Nadira bergetar tepat setelah Maya selesai bicara. Nama Arga muncul di layar.

Maya mengangkat kedua tangan. "Nah. Disebut langsung muncul."

Nadira mengangkat telepon. "Ya?"

"Kamu menerima undangan Hartono?"

Suaranya tenang, tapi Nadira mengenal jeda di belakang kalimat itu.

"Iya."

"Kamu akan datang?"

"Sebagai dokter proyek."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa bertanya?"

Di seberang, Arga menghela napas pelan. "Karena aku ingin mendengar dari kamu, bukan dari laporan Bima."

Nadira menatap kartu undangan. "Aku tidak suka dilaporkan."

"Aku tidak meminta Bima mengawasi kamu. Hartono Group meminta pengamanan terbatas karena acara itu dihadiri beberapa pejabat dan investor."

"Dan kamu bagian dari pengamanan?"

"Sebagai penghubung dengan satuan."

Maya langsung membuat gerakan pukul dada tanpa suara, seolah berkata, sudah kuduga.

Nadira berdiri dan berjalan ke jendela. Jalan di bawah apartemen padat oleh lampu kendaraan.

"Mayor Arga," katanya, "aku akan datang sebagai dokter. Aku tidak mau ada adegan."

"Tidak akan ada adegan dariku."

"Dari orang lain?"

Arga diam.

Nadira menutup mata sebentar. "Kamu tahu sesuatu?"

"Reza Hartono menghubungi beberapa orang lama di keluarga Vania. Bima sedang cek."

"Vania?"

"Belum muncul."

Nadira menekan ujung jarinya ke kaca. "Kalau begitu kenapa acara tetap berjalan?"

"Karena Hartono Group ingin menunjukkan tidak ada masalah."

"Atau ingin memancing dia keluar."

"Kemungkinan itu ada."

Nadira tertawa tanpa senang. "Aku bukan umpan."

"Aku tahu. Karena itu aku menelpon."

Kalimat itu membuatnya berhenti.

Dulu Arga akan memutuskan dulu, lalu memberitahu setelah semua terjadi. Sekarang ia bertanya, meski wajahnya pasti tetap datar seperti komandan rapat.

"Aku akan tetap datang," kata Nadira. "Tapi kalau ada yang menyentuh urusan pribadiku, aku pergi."

"Aku akan pastikan kamu bisa pergi kapan saja."

"Bukan kamu yang memastikan. Aku sendiri."

"Baik."

Jawaban itu terlalu cepat. Nadira hampir tidak terbiasa.

Maya menunggu sampai panggilan selesai. "Bagaimana?"

"Dia akan ada di sana."

"Bagus."

Nadira menoleh. "Kamu senang sekali."

"Aku bukan tim Arga. Aku cuma tidak percaya keluarga Hartono sekarang."

Nadira juga tidak percaya. Tapi ia sudah terlalu sering lari dari ruangan karena orang lain membuat ruangan itu kotor. Malam ini, ia ingin datang dengan kaki sendiri.

Sebelum berangkat, Mama Ratih menelpon dari Purwokerto.

"Nad, kamu benar mau ke acara orang kaya itu?"

"Iya, Ma. Ini urusan kerja."

"Ibu tidak enak hati."

"Kenapa?"

Ada suara napas tersendat di seberang. "Kemarin ada perempuan datang ke rumah. Katanya dari lembaga bantuan keluarga militer. Dia tanya soal kamu."

Nadira langsung duduk tegak. "Perempuan siapa?"

"Namanya Dewi. Dia sopan. Dia bilang kamu sedang ditekan keluarga Wijaya dan Hartono, jadi butuh pernyataan keluarga."

"Mama bicara apa?"

"Ibu bilang kamu harus dijaga. Ibu bilang kalau pernikahan itu menyakiti kamu, kami mau bawa kamu pulang."

"Hanya itu?"

Mama Ratih terdiam.

"Ma?"

"Dia tanya, kalau pihak sana memberi biaya pindah rumah atau biaya hidup, apakah kami akan menerima. Ibu bilang kami bukan minta uang. Tapi kalau itu hak kamu setelah dicampakkan, ya kami tidak akan menolak asal kamu aman."

Dada Nadira terasa dingin.

"Mama rekam sesuatu?"

"Dia minta izin rekam untuk arsip bantuan. Ibu pikir itu resmi."

Nadira memejamkan mata. Maya yang melihat wajahnya berubah langsung mendekat.

"Ma, dengar aku. Jangan bicara lagi dengan orang itu. Kalau dia datang, jangan buka pintu."

"Nad, Ibu salah?"

Pertanyaan itu kecil. Takut.

Nadira menelan kepahitan. "Belum tentu. Tapi orang itu mungkin bukan dari lembaga resmi."

"Ya Allah."

"Mama tetap di rumah. Aku akan minta Fadli cek."

Ia langsung mengirim pesan pada Fadli sebelum sempat berubah pikiran.

Jangan tinggalkan Mama sendirian. Kalau ada tamu bernama Dewi, foto dari jauh dan jangan buka pagar.

Balasan Fadli datang cepat.

Siap. Kak, ini ada hubungannya sama Vania?

Nadira menatap layar sejenak.

Mungkin. Jangan buat Mama panik.

Fadli membalas dengan satu kalimat pendek.

Kakak juga jangan sok kuat sendirian.

Nadira tersenyum pahit. Anak itu benar-benar mulai dewasa di saat yang tidak menyenangkan.

Setelah telepon ditutup, Maya langsung bertanya, "Apa?"

Nadira menceritakan singkat.

Maya mengumpat pelan. "Mereka akan pakai ibumu."

"Aku tahu."

"Kamu masih mau datang?"

Nadira menatap pantulan dirinya di kaca. Blus hitam sederhana. Rambut diikat rendah. Wajah lelah, tapi mata masih jernih.

"Kalau aku tidak datang, mereka tetap akan memutar cerita."

"Aku ikut."

"Kamu tidak diundang."

"Aku wartawan. Aku punya cara untuk berdiri di dekat pintu."

Nadira ingin melarang, tapi tidak punya tenaga. "Jangan cari masalah."

"Aku lahir untuk mencium bau masalah."

Di Hotel Dharmawangsa, aula makan malam dibuat hangat dengan lampu kuning dan rangkaian melati putih. Tidak ada pesta besar. Hanya dua puluh meja, mayoritas berisi dokter, pengurus yayasan, investor, dan beberapa orang yang wajahnya sering muncul di berita bisnis.

Kevin menyambut Nadira di pintu.

"Dokter Nadira. Terima kasih sudah datang."

"Pak Kevin."

"Saya pastikan malam ini murni membahas proyek."

Nadira menatapnya. "Saya harap begitu."

Kevin mengangguk, lalu matanya bergerak ke belakang Nadira. Arga berdiri tidak jauh dari pintu samping, memakai batik gelap, bukan seragam. Bima di sebelahnya. Dari jauh, Arga tidak tampak seperti tamu, tidak juga seperti penjaga. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menahan seluruh tubuhnya agar tidak melangkah terlalu cepat.

Nadira memilih meja rumah sakit. Ia duduk di antara dr. Rini dan Pak Damar, manajer administrasi Cakra Medika.

Acara dimulai dengan sambutan singkat. Kevin berbicara soal ruang rawat anak, akses keluarga kurang mampu, dan kerja sama rumah sakit dengan yayasan. Ia menyebut nama Nadira hanya sekali.

"Kami membutuhkan suara dokter yang setiap hari berhadapan dengan pasien, bukan hanya angka di proposal."

Beberapa orang menoleh padanya. Nadira tersenyum tipis, profesional.

Lalu Reza naik ke panggung.

Ia mengenakan jas abu-abu dan senyum yang tampak terlalu siap. "Saya hanya ingin menambahkan," katanya, "proyek sosial seperti ini harus dijaga dari kepentingan pribadi. Nama Hartono tidak boleh dipakai untuk drama rumah tangga siapa pun."

Ruangan berubah sedikit. Tidak ramai. Hanya cukup tegang untuk membuat sendok berhenti di udara.

Kevin menatap Reza tajam dari meja utama.

Nadira menurunkan gelasnya.

Reza tersenyum ke arah layar besar di belakang panggung. "Karena itu, malam ini kami ingin transparan."

Lampu meredup.

Arga langsung bergerak dari sisi pintu.

Nadira berdiri, tapi layar sudah menyala.

Wajah Mama Ratih muncul di sana, duduk di ruang tamu rumah Purwokerto. Suaranya terdengar jelas, tapi potongannya aneh.

"Kalau pihak sana memberi biaya hidup... kami tidak akan menolak..."

Nadira merasa darahnya turun ke kaki.

Potongan berikutnya muncul.

"Kami mau bawa Nadira pulang..."

Lalu suara perempuan yang tidak terlihat bertanya, "Berarti keluarga bersedia menerima kompensasi dari keluarga kaya itu?"

Mama Ratih dalam video tampak ragu, lalu berkata, "Asal Nadira aman."

Potongan berhenti.

Ruangan sunyi.

Reza menoleh ke Nadira dengan wajah pura-pura iba. "Saya minta maaf, Dokter. Tapi keluarga kami tidak ingin proyek kemanusiaan dicampur dengan tekanan semacam ini."

Nadira berdiri tanpa gemetar.

Di ujung aula, Arga sudah sampai di dekat panggung.

Dan ponsel Reza bergetar di tangannya.

Dari tempatnya, Nadira masih bisa melihat layar kecil itu menyala.

Satu pesan masuk.

Mulai sekarang.

1
Katherina Ajawaila
vania pasti teropsesi dgn kevin 🤑
Katherina Ajawaila
itu dramanya laras sm vania kgn percaya kalian kan aparat jgn terkecok. sm alasan pepesan , 😡
Katherina Ajawaila
dasar janda gatel maksa in kehendak nya ngk mikir, ada istrinya kemana aja rasa malunya 🤑
Katherina Ajawaila
Vania bodok sibuk urusin Rmh tangga org bikin soe jeblosin in aja kn rodeo rencana cekokolin org dgn alkohol 😡
Katherina Ajawaila
unutung ada Arga mh orsinil cuiiiii, dasar laras penjaht kelamin🤑
Katherina Ajawaila
yg fi tolong lupa daratan, di ksh hati minta empela, dasar pelskor main. cak rata aja 😡
Katherina Ajawaila
gampang benar Agra mentang" aparat anggap gampang perempuan. sombong😡
Katherina Ajawaila
laki" edan sana sini. tebar pesona, SMP anak. org bisa panggil PP, keren bae, perempuan yg bukan, istri bisa mau menguasai 🤑
Katherina Ajawaila
awal cerita yg. sangat menarik, yg buat greget yg baca 🤭
Riski Afriansyah
judulnya bab 41 tapi kok isinya bab 51
Jetva
Setuju..
Jetva
MENOLONG BUKAN BERARTI MEMILIKI APALAGI MENIKAHI.....DITOLONG MALAH NGELUNJAK...
Eka
semoga secepatnya kebongkar kalao memang vania dalang semua kejahatan nya,arga semoga zecepatnya bisa bongkar kalau nadira memang cucunya pak aditya👍👍👍
Eka
reza salah lawan kamu akan menyesal ssh mengusik nadira lihat saja vania paati benyar lagi hancur
Eka
lanjut tjor makin seru
Eka
nadira buktikan kamu kuat bikin arga menyesal dan menangis darah,kamu masih panjang masa depan mu semangat nadira
𝒯𝒽𝒾𝒶𝒶
bagus nadira pergi aja , ditinggal 4 tahun itu lama
Hadi Mulyono
kata bahasa terlalu kaku formal banyak argumen ..bukan dgn bahasa sehari hari yg mudah di fahami
Hadi Mulyono
untungnya Arga gak yg cowok main celap celup atau playboy
Hadi Mulyono
nyebelin banget arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!