Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicampakkan Setelah Sukses
Alunan musik biola yang romantis mengalun lembut di dalam restoran bintang lima malam itu. Keyra meremas pelan gaun marun sederhana yang dikenakannya, jantungnya berdebar penuh antisipasi. Di hadapannya, duduk Arkan—pria yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir.
Malam ini adalah perayaan hari jadi mereka yang ketiga, sekaligus perayaan atas keberhasilan Arkan yang baru saja resmi diangkat menjadi CEO di perusahaan otomotif terkemuka.
Selama tiga tahun ini, Keyra-lah yang menemani Arkan dari titik nol. Dia yang rela bekerja paruh waktu demi membantu biaya hidup Arkan saat pria itu masih merintis karier, bahkan rela menunda impiannya sendiri.
"Arkan, selamat ya atas jabatan barumu," ucap Keyra tulus, senyum manis terukir di wajahnya yang cantik alami tanpa riasan tebal. "Aku benar-benar bangga sama kamu."
Namun, respons Arkan tidak sesuai bayangan Keyra. Pria tampan berstelan jas mahal itu tidak tersenyum. Tatapannya dingin, bahkan terkesan enggan menatap mata Keyra.
"Keyra, ada hal penting yang harus aku bicarakan," potong Arkan, suaranya terdengar datar dan asing di telinga Keyra.
"Ada apa? Kamu kelihatan serius sekali," tanya Keyra, mulai merasa tidak tenang.
Arkan menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam jasnya dan menggesernya ke atas meja, tepat di hadapan Keyra. "Di dalam itu ada uang seratus juta rupiah. Ambil lah."
Keyra mengernyitkan dahi, menatap amplop itu lalu beralih ke wajah Arkan. "Uang? Untuk apa, Arkan? Aku tidak sedang butuh uang."
"Itu uang kompensasi, Keyra. Untuk semua hal yang sudah kamu lakukan buat aku selama tiga tahun ini," ujar Arkan tanpa beban. Dia memajukan tubuhnya, menatap Keyra dengan tatapan menilai. "Mari kita akhiri hubungan ini. Kita putus."
Jantung Keyra seolah berhenti berdetak. Suara musik biola di sekitar mereka mendadak senyap, tergantikan oleh dengungan pengang di kepalanya. "Putus? Tapi kenapa? Kita baru saja merayakan kesuksesanmu, Arkan. Kenapa tiba-tiba—"
"Tidak ada yang tiba-tiba, Keyra. Aku sudah memikirkan ini matang-matang," sela Arkan dengan nada sombong yang belum pernah Keyra dengar sebelumnya. "Posisiku sekarang sudah berubah. Aku adalah seorang CEO. Lingkungan sosialku sekarang adalah para pebisnis kelas atas dan ekspatriat."
Arkan menatap gaun murah yang dikenakan Keyra dengan pandangan meremehkan. "Sedangkan kamu? Kamu hanya gadis biasa, karyawan toko kue. Kamu tidak akan bisa mengimbangi duniaku yang sekarang, Keyra. Kamu hanya akan membuatku malu di depan rekan bisnisku."
Air mata yang sejak tadi ditahan Keyra akhirnya luruh juga. Dadanya sesak seperti dihantam batu besar. Rasa sakitnya begitu menghujam, bukan hanya karena dicampakkan, tapi karena alasan dangkal pria yang dulu berjanji akan membahagiakannya jika sudah sukses.
"Jadi... karena aku tidak kaya? Karena aku tidak modis seperti wanita-wanita di duniamu?" suara Keyra bergetar menahan tangis. "Kamu lupa siapa yang menemani kamu saat kamu tidak punya ongkos buat naik bus? Siapa yang memasakkanmu setiap hari saat kamu kelaparan, Arkan?!"
"Cukup, Keyra! Jangan mengungkit masa lalu!" bentak Arkan pelan, wajahnya mengeras karena gengsi didengar pengunjung lain. "Makanya aku berikan uang seratus juta itu! Itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua makanan dan bantuanmu dulu. Jangan serakah."
Sebelum Keyra sempat membalas, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang mendekat. Seorang wanita dengan gaun desainer mewah yang sangat seksi tiba-tiba berdiri di samping Arkan, lalu dengan manja menggelayutkan tangannya di lengan Arkan.
"Sayang, sudah selesai bicaranya? Aku sudah bosan menunggu di mobil," ucap wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat. Dia adalah Mentari, anak dari salah satu investor terbesar di perusahaan Arkan.
Arkan langsung melembutkan ekspresinya pada Mentari. "Sudah selesai, Sayang. Ayo kita pergi."
Arkan berdiri dari kursinya, sama sekali tidak menoleh lagi pada Keyra yang dunianya baru saja hancur berkeping-keping. "Ambil uang itu, Keyra. Cari pria yang selevel denganmu. Mulai hari ini, jangan pernah temui aku lagi."
Keyra hanya bisa terpaku di kursinya, menatap punggung Arkan dan wanita itu yang berjalan menjauh. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, tangan Keyra mengepal erat di bawah meja hingga kukunya memutih.
‘Tiga tahun pengorbananku hanya dihargai dengan selembar cek dan hinaan?’ batin Keyra perih.
Rasa sedih di hatinya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran rasa kecewa dan amarah yang membakar. Keyra menghapus air matanya dengan kasar. Dia bersumpah di dalam hati, suatu hari nanti, dia akan membuat Arkan merangkak memohon ampunan di kakinya.