NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengunci

Cahaya pagi menyusup dari celah gorden, jatuh di atas selimut dan membuat pola kuning di kasur.

Tapi kasur di sebelah Serena dingin.

Tidak ada kehangatan lengan yang semalam melingkar di pinggangnya. Tidak ada napas yang menghangatkan tengkuknya.

Hanya ada ruang kosong.

Serena membuka mata. Langit-langit putih menatap balik. Kepalanya masih berat, seperti habis tenggelam semalaman.

"Kak?"

Suaranya pecah di udara. Tidak ada yang menjawab.

Ia duduk. Selimut jatuh dari bahunya. Kaki telanjangnya menyentuh lantai dan langsung ditarik dinginnya.

Serena duduk di pinggir kasur. Ia mengusap wajahnya. Kepalanya masih terasa berat.

Refleks, tangannya meraih ponsel di atas meja nakas. Niat nya ingin memeriksa grup. Untuk Charity booth hari ini.

Layarnya menyala.

Ada satu pesan masuk. Dari Revan. Dikirim pukul 05.42.

Jantungnya berdegup.

Jarinya membuka pesan itu.

"maaf rena,

aku kunci pintunya dari luar.

kunci cadangan juga aku bawak.

Aku udah coba nahan semua ini, tapi tetap gak bisa.

maaf.

kalau mau makan ada di kulkas tinggal dipanasi.

aku pulang nanti malam."

Jari Serena berhenti di layar.

Kata itu berulang di kepalanya.

mengunci.

Rasanya seperti ada es yang disiramkan ke seluruh tubuhnya. Pelan. Dari kepala sampai ke ujung kaki.

Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar. Bukan karena kaget. Tapi karena ada sesuatu yang patah di dalam dadanya.

Mengunci.

Artinya dia tidak bisa keluar.

Pikiran itu menghantamnya seperti ombak.

Serena langsung berdiri. Terlalu cepat. Pandangannya berkunang sebentar. Tapi ia mengabaikannya.

Langkahnya tergesa menuju pintu utama. Jantungnya memukul-mukul tulang rusuknya. Duk. Duk. Duk.

Tangannya sampai di gagang pintu. Dingin. Logam.

Ia memutarnya nya berkali kali.

Krek.

Tidak bergerak.

Dahinya mengerut. Ia coba lagi. Kali ini dengan dua tangan. Memutar sekuat tenaga, sampai urat di punggung tangannya menegang.

Tetap terkunci.

"Gak mungkin," bisiknya. Suaranya kecil.

Ia mundur selangkah. Lalu maju lagi. Bahunya menghantam pintu. Pelan dulu.

Duk.

Tidak ada hasilnya.

Lalu lebih keras.

BUK!

BUK!

BUK!

"BUKA! BUKA PINTUNYA!"

Teriakannya pecah. Serak.

Dada Serena naik turun. Napasnya tercekat.

Kenapa?

Kenapa dia melakukan ini?

Untuk apa?

Rasa muak yang selama ini ia telan, yang ia pendam di balik senyum "baik-baik aja", akhirnya tumpah.

Dengan tangan gemetar, ia menyapu semua yang ada di atas meja.

BRAKKK!

Gelas jatuh. Pecah. Air tumpah ke lantai. Remote. Buku. Kotak tisu. Semua berserakan.

Ia seperti tahanan. Kebebasannya selalu di kontrol seperti boneka.

Bahkan untuk keluar rumah pun ia harus minta izin.

"Kenapa sih?!" teriaknya lagi. Suaranya menggema di apartemen kosong. "Aku bukan anak kecil!"

Tubuhnya lemas. Ia terduduk di lantai. Di antara pecahan kaca dan air yang menggenang.

Ini kali pertama.

Kali pertama ia berani meluapkan semua ini. Kali pertama ia tidak menahan.

Pandangannya kabur. Ia menatap tangannya. Jari manisnya.

Di sana ada cincin. Cincin perak tipis yang Revan pasangkan bulan lalu.

Dengan tarikan kasar, Serena melepasnya.

Cring.

Cincin itu terlepas dan ia lempar. Menggelinding ke sudut ruangan, menghilang di bawah sofa.

Belum cukup.

Tangannya naik ke leher. Kalung rantai tipis dengan liontin hati. Revan sendiri yang memasangkannya sambil berbisik. "Kuncinya ada di gue."

Dengan gerakan kasar ia menarik kalung itu hingga terlepas.

Tak.

Kaitnya lepas. Terasa sakit, tapi lebih sakit perasaan nya saat ini.

Kalung itu ikut terlempar. Jatuh di antara pecahan kaca.

Di sekelilingnya kini kacau.

Meja makan yang tadi nya terisi banyak barang kini kosong. Lantai penuh pecahan kaca. Napasnya tersengal geram.

Ini pertama kalinya Serena berani meluapkan seluruh emosi nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!