Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Krim Untuk Neva
Di rumah keluarga Mahaeswara.
“Sedari pagi sepertinya kau sangat sibuk sekali,” komentar Tuan besar Mahaeswara pada istrinya. Beliau kemudian duduk di kursi.
“Aku tengah membuat makanan sehat untuk Neva dan calon cucu kita,” jawab Mama Mahaeswara semangat dan masih menata menu yang akan beliau bawa ke rumah keluarga Nugraha.
Tuan besar mengangguk-angguk.
“Aku harus menyiapkan ini sendiri agar tahu takaran gizi yang pas,” lanjut Mama Mahaeswara.
“Ok, ok,” jawab Tuan besar mengangguk-angguk lagi. Mereka sangat bahagia dengan kehamilan Neva. Meski begitu, mereka belum mengabarkan tentang kabar bahagia ini pada keluar besar terlebih dahulu apalagi pada rekan dan teman. Mereka lebih memilih menyimpan kabar bahagia ini terlebih dahulu.
“Apa yang Neva sukai?” tanya Tuan besar. Kini muncul rasa sayang yang luar biasa pada gadis itu. Semalaman, beliau bahkan tidak bisa tidur karena bahagia dan juga mencemaskan keadaan menantunya. Beliau berdo’a semoga menantu dan calon cucunya baik-baik saja sampai kapanpun.
“Dia suka ice cream,” jawab Nyonya Mahaeswara.
“Apakah wanita hamil muda boleh mengkonsumsi ice cream?” Tuan besar bertanya lagi.
Nyonya besar menghentikan kesibukannya dan menatap suaminya.
“Apa Papa ingin membelikan ice cream untuk dia?” Nyonya besar balik bertanya.
“Apa itu salah?” Tuan besar juga balik bertanya. Nyonya besar tersenyum lebar dan menghela nafas lega juga bahagia.
“Tidak. Itu sangat bagus. Aku bahagia Papa perhatian padanya,” jawab Nyonya besar. Beliau tahu, mereka berdua tidak terlalu akrab. Dan mungkin Neva pernah sangat sakit hati pada Papa mertuanya karena sebuah pertanyaan tentang keturunan. Disisi lain, Tuan besar juga tidak pandai menunjukkan rasa sayangnya pada menantunya. Jadi mereka berdua menjadi sama-sama canggung.
“Ice cream apa yang dia suka?”
“Rasa dan jenis ice cream apa saja dia suka,” jawab Mama Mahaeswara.
Tuan besar mengangguk dan menyandarkan punggunya di kursi. Beliau membuka ponselnya dan mencari kedai ice cream terlezat di Ibu Kota.
Setelah semuanya siap. Mereka berdua bergegas berkunjung ke rumah keluarga Nugraha.
“Bagaimana jika kita mampir ke toko kado dulu?” Tuan besar menyarakan.
“Kado untuk Neva?”
“Ya. Apa yang biasanya ibu hamil butuhkan?”
Nyonya Mahaeswara tersenyum lebar. Sungguh beliau sangat bahagia dengan suaminya yang mulai memperhatikan menantu mereka.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Nyonya Mahaeswara. “Vano sudah sedemian usianya dan aku lupa apa saja yang wanita hamil butuhkan,” lanjut Mama Mahaeswara dengan tawa kecil. Namun kemudian beliau segera melanjutkan. “Nanti kita langsung bertanya saja sama pelayan tokonya, pasti tahu.”
Tuan besar setuju. Kemudian memerintahkan supir untuk membawa mereka ke sebuah toko kado.
Setelah sampai di sebuah toko kado. Tidak hanya Nyonya besar yang bersemangat memilih untuk Neva tetapi juga Tuan besar. Beliau mengiyakan semua yang direkomendasikan oleh pemilik toko langsung. Setelah dari toko kado, tak lupa mereka lebih dulu mampir ke kedai ice cream.
“Rasa strawberry sepertinya segar,” usul Nyonya Mahaeswara dan langsung disetujui suaminya.
“Pilih rasa yang lain juga agar dia tidak bosan,” ucap Tuan besar. Dan mereka memilih empat rasa ice cream.
“Jika usia kandungannya sudah sekitar lima bulan nanti, jika Neva mau, aku ingin dia tinggal bersama kita hingga melahirkan,” ucap Nyonya Mahaeswara setelah mereka kembali ke mobil dan jalan menuju rumah keluarga Nugraha.
“Jangan memaksanya,” jawab Tuan besar.
“Iya, aku bilang jika dia mau dan semoga mau.”
“Sepertinya dia tipe anak yang patuh dan tidak enak hati, saat kau memintanya untuk tinggal bersama kita, maka mungkin dia akan menyetujuinya meskipun ada rasa sedikit enggan.”
Nyonya Mahaeswara menatap suaminya. “Dia memang gadis yang sangat patuh, baik, sopan dan asal Papa tahu saja, dia tidak pernah enggan untuk tinggal bersama kita. Karena Mama menyayanginya seperti putri kandung Mama sendiri. Dia boleh bangun siang jika dia mau, dia boleh manja, dia boleh melakukan apapun yang dia inginkan. Aku tidak mengubah kebiasaan dia,” jawab Nyonya Mahaeswara menanggapi suaminya. “Ya, Mama tidak mau menjadi mertua jahat agar menantu Mama betah di rumah. Agar Menantu mama juga menyayangi Mama seperti ibu kandungnya sendiri,” lanjutnya. “Mama sudah pernah bilang pada Papa, jangan pernah menjadi mertua yang kejam, atau kau tidak akan dikunjungi oleh menantu dan cucu-cucumu.”
“Ya, ya, ya. Papa mengingatnya. Papa akan lebih menyayanginya lagi,” jawab Tuan besar.
“Bagus,” Mama mengangguk-angguk.
Dan sepanjang perjalanan mereka habiskan untuk saling berbincang tentang kehamilan pertama Neva. Mereka sangat bahagia membayangkan akan segera menimang cucu dari putra tunggal mereka, De Vano Mahaeswara.
Sesampainya di rumah keluarga Nugraha. Nyonya besar, Vano dan Neva menyambut mereka dengan hangat. Sementara Tuan besar tengah berada di luar kota.
Mereka berkumpul di ruang samping. Neva bersandar di atas tempat tidur. Ya, sesuai anjuran dokter, dia tidak boleh banyak berdiri dan melakukan aktifitas.
“Sepertinya ada yang baru saja memborong perlengkapan ibu hamil,” komentar Vano setelah melihat berjejer kado di ruangan itu.
Mama Mahaeswara duduk di samping Neva dan langsung mengusap perutnya dengan halus dan sangat hati-hati setelah lebih dulu mencium kedua pipi Neva.
“Itu hadiah dari Papa,” jawab Mama Mahaeswara.
Neva tersenyum dan menatap Papa mertuanya. “Terima kasih, Pa,” ucapnya bahagia.
Tuan besar mengangguk. “Sama-sama, semoga kamu suka ya,” jawab Tuan besar.
Kini Neva yang mengangguk. “Pasti suka,” jawabnya.
Mama Nugraha tersenyum dan ikut duduk di samping Nyonya Mahaeswara.
“Oh, Papa juga membelikanmu ice cream,” sambung Mama Mahaeswara. Dan Neva semakin tersneyum mendengar ini. Kemudian Mama meminta Vano untuk mengambil kotak ice cream dan memberikannya pada Neva.
“Jika nanti kau menginginkannya lagi, telfon Papa,” kata Tuan besar sangat antusias. Beliau bahagia, ice cream yang beliau belikan di makan Neva dengan lahap.
“Apakah hanya ada kado dan menu untuk Ibu hamil saja. Apakah tidak ada kado untuk calon Daddy-nya juga?” canda Vano memprotes Papanya.
“Tidak ada, kau bisa membelinya sendiri,” jawab Tuan besar.
Mama Nugraha mengambil sepotong cake tirramissu di atas meja lalu memberikannya pada Vano.
“Ini buat kamu,” ujar beliau lembut seraya memberikan potongan cake tiramisu pada Vano.
Vano menatap Mama mertuanya dengan senyum dan mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk mama Nugraha. “Ooh, Mamaku yang sangat pengertian. I love you, Ma,” ucapnya manis.
Mama Nugraha menepuk-nepuk pundak Vano denga tawa ringan. Saat Neva menguasai Mama Mahaeswara maka Vano menguasai Mama Nugraha, impas bukan.
***@***
Di kastil pinggir pantai.
Saat ini, Leo, Arai dan Yuna tengah bermain petak umpet dan saat ini, Yuna yang bertugas menjadi penjaga.
“Siap atau tidak siap, aku akan datang ….” Seru Yuna setelah selesai menghitung satu sampai dua puluh. Dia bersiap untuk mencari anak dan suaminya yang bersembunyi.
Pertama, dia mencoba mencari di belakang gorden, tidak ada. Di bawah meja, tidak ada. Di belakang sofa, tidak ada, di ruangan samping, tidak ada, di ruangan sebelah kiri, tidak ada. Teras, tidak ada.
“Oh, astaga, kalian bersembunyi di mana?!” Yuna berseru lagi.
Dia melangkah menuju ruang musik, tidak ada. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya. Tangan itu menariknya pelan dan langsung membuatnya berada dalam pelukan.
Belum sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Tangan itu berpindah di tengkuk Yuna untuk memperdalam ciuman.
“Kau begitu lezat, Momm,” suara khas itu berbisik dan melepaskan Yuna. Dia kemudian melangkah keluar seolah tidak terjadi apapun.
Yuna mematung di tempatnya. Nafasnya tidak beraturan.
“Menaaaaang!!!!” sebuah teriakan menang dari si kecil terdengar. Itu artinya si kecil sudah berada di tempat semula.
“Menaang,” sahut suara setelahnya. Suara yang terdengar begitu bangga akan kemenangannya.
“Kau benar-benar licik, Tuan suami,” geram Yuna. Dia kemudian melangkah keluar dan menghampiri mereka.
“Mommy kalah, kalah,” seru si kecil.
“Kalah, kalah,” sambung Leo.
Dua pria tampan itu melakukan toss atas kemenangan ini. Kemudian mereka berdua mengambil bedak untuk mencoret pipi Yuna.
“Aaa tidak … apakah kecantikan Mom akan hilang kerena coretan ini,” seru Yuna. Dia memberikan pipinya untuk di coret.
“Kita akan membuat Mommy semakin cantik,” jawab si kecil.
Arai dan Leo membuat garis tiga di pipi kanan dan kiri Yuna, membuat Mommy seperti kucing.
Sekarang, gantian Leo yang menjadi penjaga.
“Satu, dua ….” Dia mulai menghitung.
Yuna dan Arai saling berbisik, kemana mereka akan bersembunyi.
“Tiga, empat ….”
Yuna dan Arai memutuskan untuk berpencar dan mencari tempat yang susah.
“Lima, enam, tujuh ….”
Leo membuka mata dan mengintip kemana Yuna melangkah pergi.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..