NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suami Takut Istri (?)

Pagi hari, jam menunjukkan pukul 06.15 saat Lintang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia sedang berdiri di depan kompor, memanaskan udang saus tiram yang semalam hanya dia makan sendirian.

Sebenarnya ada Bibi di rumah Arka ini, tapi Lintang memilih untuk memasak sendiri.

Aroma gurih saus tiram seketika tersebar di area dapur. Setelah dirasa makanan itu kembali hangat, dia menyiapkan seporsi ke dalam piring untuk dirinya sarapan.

Sret... Ckiiit.

Salah satu kursi yang berderit pelan membuat Lintang menoleh ke sumber suara. Kedua alisnya langsung mengernyit dalam saat melihat Arka tahu-tahu sudah duduk di meja makan dengan seragam rapi.

"Ngapain ke sini?" tanya Lintang ketus.

"Sarapan," ujar Arka datar.

Lintang mendengus sinis. "Kemarin perasaan beli sarapan di warteg depan. Bukan makan masakan gue." Lintang sengaja menyindir kelakuan suaminya itu.

Padahal kemarin pagi adalah hari pertama Arka masuk sekolah lagi setelah libur duka tujuh hari, tapi cowok itu malah menolak masakannya dan memilih jajan sendiri di luar.

"Diem. Gue nggak mau ribut," ujar Arka datar.

Lintang mendengus. Malas berdebat di pagi buta, dia menaruh piring yang awalnya disiapkan untuk dirinya sendiri itu di depan Arka, lengkap dengan segelas air putih.

"Tuh, makan. Gue mau berangkat," ujar Lintang.

"Lu nggak sarapan?" tanya Arka datar.

"Lauknya habis, cuma buat seporsi. Semalam gue bagiin ke tetangga biar nggak mubazir," ujar Lintang sinis. Semalam dia memang memasak dalam porsi banyak, tapi karena Arka malah kelayapan ke kelab malam, Lintang yang kesal akhirnya memilih membagikan makanan itu ke tetangga dan hanya menyisakan seporsi untuk sarapannya sendiri pagi ini.

Lintang bergerak hendak meraih kunci mobilnya di atas meja, tapi tangannya langsung dicekal oleh Arka.

"Duduk sini dulu," ujar cowok itu datar.

"Ngapain? Jadi auditor lu mukbang?" tanya Lintang jengkel.

"Ck. Jangan bacot," ujar Arka.

Karena tangannya tak kunjung dilepas oleh Arka, akhirnya dengan terpaksa Lintang duduk di samping cowok itu. Arka pun mulai menyuap makanannya, kembali ke mode cuek dan tidak melirik Lintang sedikit pun.

Lintang mendengus. Karena tidak ada kerjaan, dia meraih ponsel dan membalas beberapa pesan yang masuk. Kini mereka berkegiatan masing-masing dalam keheningan yang canggung.

"Hahaha, santai aja. Nanti ketemu di ruang musik aja. Gue jelasin nada detailnya."

Arka spontan menoleh seketika. Pendengarannya mendadak tajam saat mendengar Lintang sedang mengirimkan voice note. Mata elang cowok itu memicing tajam melihat nama kontak di ponsel Lintang yang bertuliskan 'Arjuna'.

Arka mendengus keras. Tanpa aba-aba, dia meraih ponsel Lintang secara tiba-tiba dari genggaman cewek itu.

"Eh—apaan sih? Gue lagi chatan!" protes Lintang tidak terima.

"Nggak boleh," ujar Arka dingin.

"Dih, emang lu siapa? Cuma suami wasi—"

Ucapan Lintang terpotong total saat Arka dengan cepat menyodorkan sendok penuh nasi dan udang tepat di depan mulutnya.

"Kalau masih bacot, gue cium," ancam Arka telak dengan tatapan mata yang tidak main-main.

Lintang melotot sempurna. "Gue sembur lu pakai nasi!"

"Sembur aja kalau lu berani," tantang Arka datar. Sorot mata elangnya malah turun melirik bibir Lintang, seolah-olah dia memang sengaja menunggu cewek itu melakukan kesalahan agar punya alasan untuk melaksanakan ancamannya.

Lintang menelan ludah. Nyalinya mendadak menciut setengah persen saat mengingat kilasan kejadian di kamar utama sepertiga malam tadi.

Arka yang sedang dalam pengaruh sisa alkohol dan emosi itu bener-bener nekat. Daripada bibirnya kembali dihabisi oleh cowok itu, Lintang akhirnya memilih mengalah dengan dongkol.

Dengan gerakan menyentak, Lintang memajukan wajahnya lalu mencaplok nasi udang di sendok Arka dengan kasar. Dia mengunyahnya dengan pipi menggembung penuh amarah, menatap Arka dengan pandangan ingin membunuh.

Arka yang melihat itu hanya mendengus geli, sebuah senyuman tipis hampir tak terlihat terukir di sudut bibirnya.

Dia menarik kembali sendoknya dan melanjutkan makannya sendiri.

"Ponsel gue balikin!" tagih Lintang parau di sela kunyahannya. Tangannya menengadah di depan dada Arka.

Arka merogoh saku seragamnya, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja, tepat di bawah telapak tangannya sendiri. "Boleh diambil. Tapi dengan satu syarat."

"Apaan?"

"Jangan pernah kirim voice note pakai nada suara genit kayak tadi ke cowok lain. Kuping gue panas dengernya," ujar Arka datar, lalu menarik tangannya dari atas ponsel.

Lintang mendecit sebal, langsung menyambar ponselnya secepat kilat. 'Genit dari Hongkong! Dasar atlet silat sinting, itu kan nada suara ramah profesional gue karena Arjuna minta bikinin lirik!' umpat Lintang berteriak di dalam batinnya.

Dia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, tidak berniat melanjutkan obrolan dengan Arjuna demi keamanan nyawanya pagi ini.

Suasana dapur kembali hening hingga piring di depan Arka bersih tanpa sisa. Cowok itu meneguk segelas air putihnya hingga tandas, lalu bangkit berdiri dari kursi.

"Gue tunggu di mobil. Lima menit nggak keluar, gue tinggal," ujar Arka ketus sembari melangkah lebar meninggalkan area dapur tanpa menoleh lagi.

Lintang mematung di tempatnya duduk. Kepalanya mendadak nge-blank. "Lah? Mobil? Terus mobil gue gimana, bangsat?!" teriak Lintang telat, menyadari bahwa kunci mobilnya sendiri masih tergeletak manis di atas meja makan, sementara suaminya sudah melenggang pergi keluar rumah.

Mau tidak mau, Lintang akhirnya menyampirkan tas sekolahnya dengan dongkol, menyambar ponsel, dan berlari menyusul Arka ke halaman depan.

Benar saja, cowok itu sudah duduk tenang di balik kemudi mobil Jaguar hitamnya yang terparkir gagah di garasi.

Lintang membuka pintu penumpang dengan kasar, lalu mengempaskan tubuhnya ke kursi samping kemudi sembari membanting pintu mobil mewah tersebut.

"Gue bisa bawa mobil sendiri ya, Arka! Kemarin aja kita berangkat masing-masing, lu bawa motor Ninja lu dan gue bawa mobil gue. Kenapa sekarang malah repot-repot bareng?!" omel Lintang panjang lebar dengan napas terengah-engah.

Arka tidak membalas omelan itu. Tangan kekarnya memutar kunci kontak, menyalakan mesin Jaguar yang langsung menderu halus bin berkelas, lalu mulai menginjak pedal gas untuk membawa mobilnya bergerak mundur keluar dari pagar rumah.

"Motor gue masih di club," ujar Arka singkat dan padat setelah mobil berhasil keluar ke jalan raya komplek.

Lintang menoleh, mengerjapkan matanya heran. "Terus semalam lu pulang pake apaan? Dianter kuyang?" tanya Lintang ketus.

"Taksi," ujar Arka datar.

Lintang mendengus sinis. "Kenapa gak bawa aja motornya? Kan lumayan. Ugal-ugalan terus sekarat. Jadi janda muda deh gue," ujarnya asal sekenanya.

Garis rahang Arka seketika mengeras. Rem mobil Jaguar itu mendadak diinjak sedikit sentakan oleh Arka, membuat tubuh Lintang agak terdorong ke depan. Arka menoleh, menatap Lintang dengan sepasang mata elang yang memancarkan kilat amarah.

"Mulut lu bisa dijaga nggak?" desis Arka geram, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Bisa-bisanya lu nyumpahin suami sendiri sekarat cuma gara-gara masalah motor."

Lintang yang ikut tersulut emosinya langsung memajukan tubuh, menantang balik tatapan Arka tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Siapa suruh lu mabok, hah?! Lagian mana ada suami yang kelakuannya kayak lu semalam?! Dzolim banget lu sama istri, asal lu tahu ya!"

Arka mengernyit sebal, hendak memotong ucapan Lintang, tapi cewek itu sudah terlanjur membuang rem kesabarannya.

"Bentak-bentak gue, nyeret gue ke kamar, terus seenak jidat lu ngehukum gue atas kesalahan yang gak gue perbuat! Lu dengerin gue ya, Arka, doa istri yang terdzolimi itu makbul tahu nggak?! Ati-ati aja lu, dzolim sama istri bisa bikin rejeki lu seret seumur hidup! Karier silat lu bisa mandek!" cerocos Lintang panjang lebar, napasnya memburu setelah meluapkan semua unek-unek spiritualnya sepagi ini.

Arka terdiam kaku di balik kemudi Jaguar-nya. Kata-kata dari mulut Lintang telak menghantam egonya. Di satu sisi dia kesal karena diceramahi, tapi di sisi lain, bayangan kejadian di kamar utama sepertiga malam tadi mendadak berputar ulang di otaknya.

Rasa bersalah yang sempat dia rasakan di dalam taksi semalam perlahan merayap naik kembali, membuat suaranya yang mau membalas mendadak tertahan di tenggorokan.

Arka membuang muka, kembali menatap lurus ke depan dan kembali menjalankan Jaguarnya untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

"Berisik. Diem atau gue turunin lu di pinggir jalan," ketusnya, mencoba menutupi rasa salah tingkah dan pening di kepalanya.

Lintang mendecit keras, melipat kedua tangannya di depan dada sembari melemparkan pandangan keluar jendela mobil mewah itu. 'Dih, dibilangin bidadari surga malah ngancem!' umpat Lintang dalam hati, merasa menang telak karena berhasil membuat sang kepala batu itu bungkam.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!