Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
#16
“Eyang sudah tidur, Bi?”
“Sudah, Nyonya. Tadi Nyonya Yanti dan Den Yudha main ke sini, jadi Eyang ngobrol lama sama mereka.” Bi Sani melaporkan kegiatan Eyang Tuti hari ini.
“Oh, iya, Nyonya Yanti juga minta tolong, besok antarkan Eyang kontrol ke rumah sakit, karena beliau tak bisa mengantar, sedang ada keperluan.” Bi Sani menambahkan.
“Iya, Bi. Terima kasih untuk hari ini, ya?”
“Sama-sama, Nyonya. Saya istirahat dulu.”
Bi Sani pun pamit untuk beristirahat, Dinda langsung masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Klek!
Pintu kamar terbuka, Bagas masuk dengan jas menggantung di pundak. “Tidurlah di kasur, Dind.”
“Malam ini aku tidur di sofa, ya? Mager banget mau pindah,” tolak Dinda, matanya mulai terpejam meski posisi tidurnya belum nyaman.
“Tidur di sofa itu gak nyaman, badanmu bisa makin pegal.”
Tapi Dinda tetap mengacuhkannya. “Ya udah gantian, kan kemarin aku yang tidur di kasur, sekarang aku tidur di sofa. Kalau Mas gak mau, ya, terserah mau tidur dimana aja.”
Bagas menghela nafas, ia pun lelah, dan tak punya tenaga untuk mendebat setiap ucapan Dinda. “Angkat dulu kakimu, biar aku lebarkan jadi sofa bed.”
Dinda patuh, ia berdiri meski kedua matanya sudah terasa lengket, tak susah sebenarnya melebarkan sofa agar bisa berfungsi sebagai bed, hanya saja Bagas terlalu malas melakukannya.
“Nah, sekarang kamu bisa berbaring nyaman.”
Dinda kembali merebahkan tubuhnya, benar kata Bagas, rasanya lebih nyaman, “Mas, tolong ambilkan bantal,” gumamnya.
Lagi-lagi, Bagas melakukan semua permintaan Dinda, tanpa protes, bahkan menata letak bantal, agar Dinda bisa berbaring dengan nyaman. “Pakai selimutnya, dan juga ini—”
Sebuah bantal dengan sarung yang nyaman, lembut, adem ketika di peluk, sisi jeleknya, warnanya sudah memudar seiring usia. “Ini—”
“Itu bantal kesayanganmu, kan?”
Dinda menyingkirkan bantal tersebut, sebab ia sudah terbiasa tidur tanpa memeluk benda kesayangannya itu. “Aku sudah biasa tidur tanpa bantal itu.”
“Masa? Dulu awal-awal kita menikah, kamu selalu memeluknya sampai aku cemburu,” sindir Bagas.
Sebelah mata Dinda terbuka, menampakkan Bagas yang masih berdiri di sebelahnya. “Heh, segitunya. Apa sekarang mau di peluk?” Dinda kembali duduk sambil merentangkan kedua tangannya.
Gleg!
Tentu saja, Bagas tak mau membuang waktu, ia segera berlutut agar bisa masuk ke pelukan Dinda.
Dinda melotot tak percaya, kenapa dirinya bisa dengan mudah merespon ucapan Bagas, dan kini ia masuk dalam perangkapnya sendiri. Sementara Bagas memeluknya dengan erat.
“Aku merindukanmu.”
Gleg!
Dinda menelan ludahnya, susah seperti menelan sebongkah batu seukuran bola pingpong, ucapan Bagas membuatnya terdiam, padahal ia bermaksud mendorong pria itu agar menjauh dari pelukannya.
“Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah setuju untuk bercerai darimu, aku menyesal karena telah menceraikanmu. Aku sedih, aku hancur, aku tersiksa tanpa kehadiranmu, Dind.”
Dinda mematung, sementara pelukan Bagas semakin erat.
“Aku mau kita—”
Dinda tersentak, lalu mendorong tubuh Bagas, “Aku haus, sekalian mau ngecek Eyang di kamarnya.”
Dinda berlari kecil keluar dari kamar, tapi langkahnya terhenti di depan pintu, dan matanya langsung tertuju ke arah pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar utama. Itulah kamar Abel.
Kedua matanya berkaca-kaca, tubuhnya ikut bergetar hebat, tiba-tiba saja ia seperti ditarik ke masa lalu.
“Oweekk! Oweeek!”
Suara tangis seperti berdengung di kepalanya, “Abel,” kata Dinda, ia melangkah tanpa sadar ada fatamorgana yang sedang menuntunnya masuk ke kamar tersebut.
Klek!
Tangan Dinda menarik handle pintu lalu membukanya perlahan, suara tangis itu terdengar semakin keras, membuat Dinda berjalan semakin dekat ke arah tempat tidur bayi yang biasa ditempati Abel.
“Sayang, Mama datang,” kata Dinda. Tapi ia tak menemukan Abel kecilnya di sana.
“Abel! Abel! Dimana kamu, Nak?” Dinda berteriak panik, air matanya berhamburan keluar, kedua tangannya mengacak-acak rambut dan memukul dadanya sendiri.
Ia mencari-cari di setiap sudut, di dalam lemari, di sofa, bahkan di dalam kardus namun, semua tempat itu kosong. Abel tak ada, entah dimana dia—
Bagas yang mendengar suara teriakan Dinda sesaat yang lalu, langsung lari keluar kamar, dan ikut menyusul Dinda. Melihat Dinda menangis histeris, Bagas langsung menarik Dinda ke pelukannya. “Tenang, Sayang, kita pasti menemukannya, Abel akan segera kembali ke pelukan kita.”
Dinda meraung semakin keras ketika tersadar dari halusinasinya, di pelukan Bagas ia tumpahkan tangis dan kesedihannya. “Percayalah padaku, kita pasti menemukan Abel lagi.”
Bagas membopong tubuh Dinda keluar dari ruangan keramat itu, bukan ruangan horor yang menyeramkan, tapi ruangan yang menjadi simbol dan pusat kesedihan mereka berdua. Kenangan paling pahit yang tak akan pernah bisa mereka lupakan sepanjang sejarah menjadi orang tua.
Hingga setengah jam berlalu, akhirnya Dinda tertidur di pelukan Bagas, pria itu membaringkannya perlahan, lalu membungkus tubuh mantan istrinya dengan selimut nyaman. Bagas bahkan membiarkan Dinda memeluk bantal kesayangannya, agar tidurnya semakin pulas.
Tangannya mengusap kepala Dinda dengan penuh kelembutan, wanita sok kuat dan sok tegar ini tak akan bisa menyembunyikan sisi rapuhnya dari Bagas. Sebab Bagas sudah sangat mengenalnya luar dalam.
•••
Kelopak mata Dinda terbuka, semalaman ia demam, dan Bagas yang menjaganya. Pria itu terjaga sampai pagi, karena Dinda juga menggigil padahal suhu tubuhnya sangat panas.
Bagas terpaksa menghubungi Mama Yanti, dan bertanya solusi terbaik untuk menurunkan suhu tubuh Dinda. Mama Yanti menyarankan agar Bagas sering mengganti kompresnya, pastika air yang dipergunakan adalah air dingin.
Menjelang subuh, suhu tubuh Dinda kembali normal, Bagas kembali bisa bernafas lega. Lelah tubuhnya, tapi ia tak menyesal terjaga semalaman demi wanita yang paling ia cintai setelah mamanya.
Pukul 07.00 pagi, Dinda membuka mata, udara segar di pagi hari menyambut Dinda.
“Jadi begitu, Ma. Sekali lagi, Bagas minta maaf, ya, Ma.”
*Iya, Bagas yang akan bertanggung jawab. Mama percaya pada Bagas, kan?”
Entah Bagas sedang bicara dengan siapa, suaranya terdengar sopan. Dinda berusaha bangkit dari baringnya. “Jangan banyak bergerak dulu,” cegah Bagas, panggilan teleponnya sudah berakhir, ia kembali mendekat ke tempat Dinda tidur semalaman.
“Aku haus, Mas.”
Dengan terpaksa, Bagas membantu Dinda kembali duduk. “Pelan-pelan,” kata Bagas, saat Dinda mulai meneguk air dari gelasnya.
“Jam berapa sekarang?”
Bagas melirik jam di layar ponselnya. “Jam tujuh pagi, dan aku terjaga semalaman karena harus jadi dokter dadakan.”
“Aku tak pernah memintamu melakukannya.”
“Tak apa, aku pun ikhlas melakukannya, untuk calon istriku.”
Dinda tersentak, “Apa maksudmu, Mas?!”
“Aku sudah memberitahu Mama Juwita tentang keberadaanmu, sekaligus meminta restu beliau, sebab aku ingin menikahimu lagi.”
“Apa?!”
“Kita masih saling mencintai, Dind. Dan aku ingin memperbaiki kembali hubungan kita.”
“Lantas, Mama bilang apa?” Tiba-tiba saja, Dinda ingin mengetahui respon mamanya.
“Mama merestui, kok.”
aku lupa nama Kaka nya bagas