SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
....
....
Perjalanan pulang dari rumah Zion ke apartemen diisi dengan keheningan yang luar biasa mencekik. Gala menyetir dengan kecepatan stabil namun rahangnya tetap mengeras kaku, pandangannya lurus ke depan seolah Aira yang duduk di kursi sebelah hanyalah hembusan angin kosong. Tidak ada suara musik, tidak ada suara bentakan. Hanya deru mesin mobil yang terdengar monoton, membuat atmosfer di dalam kabin terasa sedingin es.
Begitu pintu lift apartemen terbuka dan mereka melangkah masuk ke dalam unit eksklusif milik Gala, Aira yang tadinya masih bisa tersenyum miring penuh kemenangan di dalam mobil, mendadak menciut total.
Ekspresi Gala sama sekali tidak berubah. Tetap datar, dingin, dan memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat. Laki-laki berumur 35 tahun itu bener-bener sudah tidak bisa diajak bercanda lagi.
Gala melangkah tegap melintasi ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun pada Aira. Dengan gerakan dingin, dia menekan tombol kunci otomatis pintu utama apartemen—klek!—mengunci mereka berdua di dalam. Setelah itu, Gala melenggang pergi menuju kamar tidur utamanya, membuka jaket nya dan melemparnya asal ke lantai.
BUMMM!
Pintu kamar utama ditutup dengan sangat kasar hingga menimbulkan debuman keras yang menggema di seluruh sudut apartemen yang sunyi.
Aira tersentak di tempatnya berdiri, refleks memegang dadanya sendiri yang berdegup kencang karena kaget. Jantungnya bukan lagi dugem karena senang, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba merayap naik ke ulu hatinya.
Aroma stroberi yang biasanya dia tebar dengan percaya diri malam ini terasa hambar. Menatap pintu kamar Gala yang tertutup rapat, Aira mendadak dirundung rasa bersalah yang teramat sangat.
"Gua... gua keterlaluan ya?" gumam Yaya lirih, suaranya bergetar di tengah kesunyian ruang tamu.
Pikiran Yaya mulai berputar liar. Dia sadar taktiknya malam ini sudah lewat batas. Dia sengaja memanfaatkan Zion, sengaja membiarkan cowok lain menyentuh pundaknya, bahkan sengaja nekat menginap di rumah pria lain hanya demi memuaskan egonya yang kesal karena di-ghosting tiga hari. Dia lupa kalau Gala dibebani tanggung jawab moral yang besar oleh Ayah nya. Dia juga lupa kalau Gala punya luka masa lalu yang membuatnya sulit mempercayai sebuah hubungan.
Dengan langkah super ragu dan kaku, Aira berjalan mendekati pintu kamar utama Gala. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Tok... tok... tok...
"Om... Om Gala..." panggil Aira, suaranya parau dan kecil, hilang sudah nada sombong Tuan Putri yang biasanya menantang dibakar api. "Yaya... Yaya mau minta maaf..."
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.
Aira menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba mendengarkan apakah ada suara langkah kaki atau kucuran shower. Tapi di dalam sana benar-benar sepi seperti kuburan. Sisa-sisa keberanian nakal yang biasanya mengalir deras di darah keturunan Adytama itu mendadak hilang tanpa bekas. Ini pertama kalinya dalam hidup Aira melihat Gala seserius ini, semarah ini, dan sedingin ini kepadanya. Bahkan saat malam yang brutal kemarin pun, Gala masih menatapnya dengan binar gairah dan rasa sayang. Tapi malam ini? Tatapan Gala kosong dan kejam.
Nyalinya ciut setara remahan kerupuk. Yaya menarik kembali tangannya, mengurungkan niat untuk terus mengetuk pintu karena takut Gala justru akan semakin membencinya jika diganggu sekarang.
Dengan bahu merosot dan wajah tertunduk lesu, Air berjalan gontai menuju kamar tamunya sendiri. Dia menutup pintu kamar, mengganti gaun malam mini hitamnya dengan kaos oversize milik Gala yang sengaja belum dia cuci karena masih menyisakan wangi maskulin pria itu.
Aira menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuk, meringkuk sambil memeluk guling erat-erat. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap dengan perasaan campur aduk yang menyesakkan dada.
"Besok... besok pagi aja gua minta maafnya," bisik Aira pada kegelapan, mencoba menenangkan hatinya yang jedag-jedug gak karuan. "Gua bakal bikin sarapan... gua bakal nurut pake daster sapi lagi... asal Om jangan cuekin Yaya kayak gini..."
Di kamar sebelah, Gala sebenarnya tidak tidur. Pria itu sedang duduk di tepi ranjang dalam kegelapan, meraup wajahnya frustrasi sambil mendengarkan suara ketukan kecil Aira tadi yang perlahan menjauh. Dadanya masih bergemuruh hebat antara rasa cemburu, amarah, dan rasa bersalah karena sudah membentak gadis yang diam-diam mulai menguasai seluruh poros hidupnya itu.
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘