NovelToon NovelToon
Luka Hati Bunga

Luka Hati Bunga

Status: tamat
Genre:Misteri / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:76.3k
Nilai: 5
Nama Author: ummiqu

Bunga adalah gadis piatu malang yang menjalani hidupnya dalam penderitaan meski pun dia tinggal bersama ayah kandung dan keluarga barunya.

Menderita dalam diam tapi Bunga bukan orang yang lemah.

Di kemudian hari Bunga berhasil membongkar rahasia kelam sang ayah sekaligus merebut haknya yang dirampas.

Awalnya Bunga mengira penderitaannya berakhir. Tapi ternyata masih ada luka lain yang akan mengoyak hatinya.

Mampu kah Bunga menyembuhkan semua luka di hatinya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Perlawanan Bunga

Tak butuh waktu lama ucapan Bunga pun terbukti.

Beberapa hari setelah kepulangan Bunga dan keluarga kecilnya dari berlibur, Melati kembali datang ke rumah pak Omar. Jika sebelumnya pak Omar tak peduli, kini pak Omar nampak mendampingi Bunga menyambut Melati.

" Maafkan Aku Bunga. Aku terpaksa datang ke sini menemuimu karena Aku tak tau bagaimana cara menghubungimu," kata Melati membuka pembicaraan.

Tentu saja ucapan Melati membuat Bunga bingung. Dia melirik kearah sang kakek yang saat itu nampak menatap tak suka kearah Melati.

" Menghubungiku, untuk apa ?" tanya Bunga tak mengerti.

" Aku mau minta maaf dan menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi diantara Kita," sahut Melati cepat.

" Kesalah pahaman yang mana Mel ?" tanya Bunga pura-pura tak tahu.

" Ehm, begini Bunga. Kak Edo ... maksudku Suamimu, dia sudah beberapa bulan ini memberi bantuan berupa uang kepadaku dan Mama," kata Melati.

" Oh itu. Aku udah tau dan ga mempermasalahkan lagi karena Kak Edo bilang dia sudah menghentikan bantuannya," kata Bunga dengan santai.

" Justru itu yang mau Aku bilang Bunga. Sejak Kak Edo menghentikan bantuannya, kehidupanku dan Mama jadi makin sulit. Apalagi Aku harus membiayai Anakku yang cacat ini. Mmm ... maksudku, bisa kan Kamu ijinkan Kak Edo terus membantu Kami hingga Anakku cukup umur untuk ditinggal bekerja nanti ?" tanya Melati sambil melirik bayi di dalam dekapannya.

Ucapan Melati tentu saja membuat Bunga kesal. Melati bersikap seolah kejadian buruk yang menimpanya adalah kesalahan Bunga dan Edo hingga Edo harus bertanggung jawab pada kehidupannya, ibu dan anaknya.

" Kenapa begitu ?. Apa ada peraturan yang mengatakan Suamiku harus bertanggung jawab pada kehidupanmu, Mamamu dan Anakmu ?!" tanya Bunga dengan sabar.

" Tidak, bukan begitu. Tapi sebagai saudara ipar, apa Kalian ga punya hati dan tega membiarkan Kami hidup menderita di luar sana. Lagian jumlah uang yang Suamimu berikan juga ga banyak Bunga, itu ga ada seujung kuku dari kekayaan yang Kamu miliki sekarang," sahut Melati sambil menatap ke sekelilingnya dengan tatapan nanar.

" Tapi ini semua bukan milik Kak Edo, Mel. Ini semua milik Opaku dan ga ada hubungannya sama sekali sama Kak Edo apalagi Kamu," sahut Bunga hingga membuat Melati malu.

Rupanya Melati mengira kekayaan yang dinikmati Bunga sekarang adalah milik Edo. Melati pun nampak salah tingkah saat melirik kearah pak Omar yang duduk dengan tenang di kursinya.

" Dan satu hal yang harus Kamu ingat Melati. Kamu bukan saudaraku. Jadi Kami, maksudku Aku dan Kak Edo tak punya kewajiban membantumu sama sekali," kata Bunga tegas.

Ucapan Bunga mengejutkan Melati hingga membuatnya membeku di tempat. Melati tak lagi kuasa menahan malu setelah mengetahui kekayaan di hadapannya itu bukan milik Edo tapi milik pak Omar. Ditambah lagi Bunga juga menolak mengakuinya sebagai saudara, artinya bisa dipastikan Bunga juga akan menolak membantunya nanti.

" Setidaknya Kamu ingat kan kalo Kita pernah tinggal serumah selama belasan tahun dulu. Itu artinya Kita berdua dekat walau pun Kita tak sedarah," kata Melati masih mencoba peruntungan.

" Oh tentu saja Aku ingat," sahut Bunga cepat hingga membuat Melati tersenyum lega.

Namun kalimat berikutnya yang Bunga ucapkan membuat senyum Melati memudar.

" Dan Aku ingat bagaimana Kamu, Mamamu dan Pak Johan memperlakukan Aku Melati. Kalian menganggapku hama pengganggu, bahkan Kamu juga ga pernah menganggapku saudara seperti sekarang. Kalian justru menjadikan Aku budak di rumahku sendiri, menjadikan Aku sasaran kemarahan Kalian, juga mengambil semua harta peninggalan Ibuku yang seharusnya jadi milikku. Aku belum menghitung semuanya Melati. Lalu dengan apa Kamu akan membayar semuanya nanti kalo sekarang Kamu sudah ingin menambah hutangmu lagi ?" tanya Bunga sambil menatap Melati dengan lekat.

Lagi-lagi ucapan Bunga membuat Melati tak berkutik. Wajahnya merah padam menahan malu. Melati tak menyangka kejahatannya di masa lalu dikuliti Bunga di depan pak Omar dan asistennya. Saat Melati melirik kearah pak Omar dan asistennya, dia melihat kedua pria itu sedang tersenyum mengejek kearahnya.

Perlahan Melati bangkit dari duduknya. Dia berdiri sambil menatap Bunga dengan tatapan penuh kebencian.

" Ternyata Aku datang ke tempat yang salah. Aku salah karena mengira Kamu sudah memaafkan Kami dan melupakan semuanya Bunga ...," kata Melati dengan mata berkaca-kaca.

" Aku sudah memaafkan Kalian tapi bukan berarti Kalian bisa datang ke sini dan memanfaatkan Aku lagi," sahut Bunga.

" Kamu ...," ucapan Melati terputus saat asisten pribadi pak Omar memotong cepat.

" Pintu keluarnya di sebelah sana Nona. Silakan ...," kata asisten pribadi pak Omar sambil melangkah mendekati Melati lalu menunjuk kearah pintu.

Dengan terpaksa Melati pun melangkah meninggalkan ruangan. Tiba di teras rumah langkah Melati terhenti karena saat itu Edo sudah berdiri menjulang di sana.

" Kak Edo ...," panggil Melati sambil berusaha mendekat kearah Edo.

Edo pun mundur untuk menghindar hingga Melati hanya menjumpai angin. Tapi Melati tak ingin menyerah. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Edo muak mendengarnya.

" Apa Kamu tau Kak ?. Aku datang untuk meluruskan kesalah pahaman tempo hari tapi Bunga malah memperlakukan Aku seperti pengemis," rengek Melati seolah meminta belas kasihan.

" Jangan mengarang cerita lagi karena Aku sudah dengar semuanya Mel. Sebaiknya Kamu pergi sekarang sebelum Kamu benar-benar malu," kata Edo dengan wajah datar.

Melati mendengus kesal karena gagal memprovokasi Edo. Sambil menggerutu Melati melangkah cepat meninggalkan kediaman pak Omar diiringi tatapan tajam Edo.

Setelahnya Edo bergegas masuk lalu mendekati Bunga. Melihat Edo menghampiri Bunga, pak Omar pun menyingkir. Dia tahu jika ada hal penting yang akan dibahas oleh Edo dan Bunga.

" Jadi dia datang atas permintaanmu Kak ?" tanya Bunga.

" Aku ga memintanya datang ke sini Sayang. Waktu di kafe itu Aku memang menegurnya karena membiarkan Kamu pergi dengan membawa prasangka di kepalamu. Aku ga nyangka kalo dia nekad ke sini sambil mengarang bebas," sahut Edo.

" Jadi gimana, apa pendapatmu tentang dia ?" tanya Bunga.

" Ga ada. Cuma satu kata yang ingin Aku ucapkan, maaf ...," kata Edo sungguh-sungguh.

Bunga mematung sejenak lalu tersenyum.

" Baiklah. Aku memaafkanmu. Tapi jangan ulangi lagi ya ...," pinta Bunga yang diangguki Edo.

Kemudian Edo menarik Bunga ke dalam pelukannya. Sesekali dia mendaratkan kecupan sayang di kepala sang istri. Bunga pun membenamkan wajahnya sambil tersenyum bahagia karena telah berhasil memberi perlawanan pada Melati yang mencoba mengintimidasinya tadi.

\=\=\=\=\=

Melati masuk ke rumah sambil mengomel. Alin yang menunggu kedatangannya pun nampak kebingungan.

" Ada apa Mel ?. Darimana aja Kamu, kenapa pergi lama banget. Apa Kamu lupa kalo Anakmu itu harus minum obat ?" tegur Alin.

" Ck, apaan sih Mama. Nih, ambil. Dasar Anak ga guna. Capek-capek digendong malah ga menghasilkan apa-apa," omel Melati sambil menyerahkan bayinya dengan kasar kepada sang mama.

" Hati-hati dong Mel !. Kasian kan Bintang kalo Kamu gendongnya asal kaya gitu !" bentak Alin sambil melotot.

" Aku udah bilang nama itu ga pantes untuk dia. Kenapa Mama masih memanggilnya dengan nama itu sih ?!" protes Melati.

" Terus Mama harus panggil apa sedang Kamu juga ga mau ngasih dia nama. Lagian nama itu kan bagus karena mengandung harapan dan pujian," kata Alin tak mau kalah.

" Harapan dan pujian tuh cuma cocok untuk Anak sehat dan bukan Anak cacat kaya dia Ma," kata Melati sinis.

" Jaga ucapanmu Melati !. Bintang ini Anakmu, darah dagingmu. Meski pun Kamu tak menginginkannya, tapi dunia tau kalo Kamu Ibunya !" kata Alin marah.

Melati pun menggebrak meja lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia kesal karena Alin selalu mengingatkan statusnya yang merupakan ibu beranak satu. Padahal Alin tahu persis Melati hamil karena diperk*sa oleh laki-laki tak bertanggung jawab yang identitasnya masih dirahasiakan oleh Melati.

Bukannya membujuk Melati, Alin justru nampak sibuk mengurus cucunya. Alin membasuh Bintang, mengganti pakaiannya dan memberinya susu.

Saat Melati selesai membersihkan diri, Alin pun kembali bertanya kemana dia pergi seharian tadi. Dan saat mendengar penuturan Melati, Alin pun ikut kecewa.

" Jadi begitu. Pasti sakit hati Bunga sama Kita udah sampe ubun-ubun ya Mel. Makanya dia memilih menjauh dan ga mau tau lagi sama urusan Kita," kata Alin sedih.

" Tapi itu kan udah lama Ma. Lagian sekarang Bunga kan hidup enak dan ga menderita kaya Kita. Apa susahnya berbagi sedikit sama Kita," sahut Melati.

" Jangan memaksa Mel. Kita yang jahat sama Bunga, jadi anggap aja penderitaan Kita sebagai hukuman. Lagian sebelumnya Bunga udah banyak membantu Kita kok. Sekarang udah waktunya Kita mandiri dan lepas dari Bunga," kata Alin bijak.

Melati melengos sambil mendengus kesal mendengar ucapan sang mama.

" Mama harap Kita juga bisa mendapat pekerjaan dan mulai menabung untuk membiayai operasi mata Bintang. Dia harus bisa melihat seperti Anak lainnya nanti," kata Alin sambil menatap cucunya yang terlelap dengan tatapan sedih.

" Tapi dokter bilang dia buta permanen Ma. Mana mungkin bisa sembuh," sahut Melati ketus.

" Ga ada yang ga mungkin di dunia ini Mel. Dokter itu bukan Tuhan yang bisa memutuskan segalanya. Sebagai Ibu harusnya Kamu berdoa yang baik untuk Anakmu dan bukan malah mendoakan yang buruk. Apa Kamu ga pengen Bintang tumbuh normal dan bisa melihat seperti Kita ?!" kata Alin sambil menatap Melati dengan tatapan marah.

Melati berdecak sebal mendengar ucapan sang mama. Baginya harapan sang mama adalah sia-sia.

Selain itu Melati teringat dengan sikap Bunga saat bicara dengannya tadi. Melati menganggap sikap Bunga adalah bentuk kesombongan dan dia tak suka itu. Diam-diam Melati bertekad menghancurkan kebahagiaan Bunga.

" Kalo ga bisa merebut, setidaknya Aku bisa sedikit mengacau," batin Melati sambil tersenyum penuh makna.

Dan tanpa sepengetahuan sang mama Melati mulai menyusun rencana untuk menghancurkan Bunga. Melati seolah lupa jika Bunga juga telah beberapa kali membantunya saat dia dan sang mama terpuruk.

\=\=\=\=\=

1
Jade Meamoure
penulis yang bagus kedepannya tambah sukses ya semoga sehat n bahagia selalu
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya kk 🙏😊
total 1 replies
Jade Meamoure
aq terharu banget lho Thor bagus novel anda.... semangat n sukses terus ya
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., Aamiin yaa Robbal'alamiin. mksh doanya kk 🙏😊
total 1 replies
falea sezi
kapok nangis darah abis ini qm. kalo. melati dpet jodoh lagi
any Sulistiani: he he... iya kak
total 1 replies
falea sezi
laki kayak edo mnding tinggalin aja g rugi jg
any Sulistiani: se 7 kk 👍
total 1 replies
falea sezi
bapaknya bunga astaga jahat bgt Q nangis dnger ceritanya
any Sulistiani: iya kak ...
total 1 replies
falea sezi
jangan ampe Edo selingkuh
any Sulistiani: yup, lanjuuutt ya kk
total 1 replies
falea sezi
emang enak g di akuin mampuss bapak dajjal
any Sulistiani: he he... jd emosi ya kak
total 1 replies
Guntar Nugraha
Luar biasa Bintang yg bicara Ok BossQu 👍🙏
Guntar Nugraha
Lumayan
Guntar Nugraha
Bintang yg bicara ok BossQu
any Sulistiani: Alhamdulillah..., mksh supportnya ...
total 1 replies
Cahaya
selalu bagus dan menarik
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya kk ...
total 1 replies
muhammad affar
semoga david lekas pulih dan jgn sampai lupa ingatan
any Sulistiani: aamiin..., lanjut ya kk, mksh ...🙏😊
total 1 replies
Guntar Nugraha S
Semangaaaaattt Ummqu 💪...
any Sulistiani: insya Allah siaappp. makasih... /Pray//Smile/
total 1 replies
Ati
mampus lu Adelina dasar rakus harta.salut SM davit cari dulu yg bener ternyata g sakit kanker
any Sulistiani: insya Allah siaaappp ..., mksh kk 🙏😊
total 5 replies
Ati
cari cangkok sumsum tulang belakang yg cocok masaq g bs jaman SDH modern koq
any Sulistiani: asiaaaapp... /Ok/
total 1 replies
Ati
betul David check dulu jangan gegabah .baru buat solusi.emg hrs sdr kandung apa itu g akal"an kluarga Adelina yg matre n boros
any Sulistiani: iya bund...
total 1 replies
Ati
klo sekelas pengacara sampai dibohongi kebangeten
Ati
Thor jangan sampai David percaya kasihan bunga
any Sulistiani: yup, ditampung dlu ya say. mksh atensinya .. 🙏😘
total 1 replies
muhammad affar
jgn mau david masih ada alternatif lain, apa selidiki dulu benar ndak siapa tau keluarga adelina bohong
any Sulistiani: se7 kk ... BTW lanjut lg yaa, mksh... /Pray/
total 1 replies
Ati
knp nasib bunga g baik dulu Edo skrg david.mending hidup sendiri bunga SM anak" tooh km g kekurangan finansial
any Sulistiani: he he..., lanjut dlu ya say...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!