Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Ketukan Palu Untuk Zahra
Sementara itu, di sudut lain kota, suasana kontras yang mencekam terasa di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita. Ruangan sel yang sempit, lembap, dan beraroma pengap menjadi tempat kediaman baru bagi Zahra.
Wanita yang dulunya selalu tampil elegan dengan barang-barang bermerek itu kini terduduk lesu di lantai semen yang dingin. Pakaian tahanan berwarna oranye yang longgar membalut tubuhnya, meluruhkan seluruh kebanggaan dan kesombongan yang dulu ia pamerkan di hadapan Amanda.
"Woy, anak baru!"
Sebuah suara serak dan berat mengejutkan Zahra. Seorang wanita bertubuh gempal dengan tato pudar di lengannya melangkah mendekat, diikuti oleh dua tahanan wanita lainnya. Pandangan mereka menatap Zahra dari atas ke bawah dengan raut intimidatif.
Zahra memeluk lututnya makin erat, tubuhnya gemetar ketakutan. "A-ada apa ya?" bisiknya gagap.
Wanita gempal itu melipat dadanya, lalu berjongkok tepat di depan Zahra. "Muka kamu halus, masih kencang. Gaya bahasanya juga sok rapi. Kena kasus apa kamu sampai masuk ke sini? Narkoba? Penipuan?"
Zahra menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. "Bukan..."
"Terus apa? Jangan diam saja kalau ditanya!" bentak wanita di sampingnya hingga membuat Zahra tersentak.
"P-perzinahan... dan perusakan rumah tangga orang," cicit Zahra pelan, hampir tak terdengar karena malu dan takut.
Mendengar jawaban itu, wanita gempal tersebut mendengkus kasar lalu tertawa terbahak-bahak, disusul tawa ejekan dari penghuni sel lainnya.
"Oalah... pelakor!" cetus wanita gempal itu dengan nada jijik. "Masuk sini gara-gara merebut suami orang? Kamu pikir hebat bisa merusak hidup wanita lain? Di sini, orang kayak kamu tidak ada harganya, tahu!"
Zahra menunduk dalam-dalam, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat sorakan penuh cemooh mengema di dalam sel. Di tempat inilah, tanpa kemewahan dan tanpa lindungan Zidan yang juga membusuk di sel pria, Zahra harus membayar mahal setiap pengkhianatan yang pernah ia tanam.
Hanya dalam hitungan minggu, persidangan pidana atas kasus perzinahan dan perusakan rumah tangga yang menjerat Zahra akhirnya mencapai puncaknya. Di ruang sidang Pengadilan Negeri, suasana mendadak hening saat Majelis Hakim membacakan amar putusan akhir.
Zahra berdiri di tengah ruang sidang dengan tubuh gemetar hebat. Gaun tahanan yang dikenakannya terasa makin mencekik lehernya seiring tiap kata yang diucapkan Hakim Ketua.
"Menyatakan Terdakwa Zahra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perzinahan secara berlanjut. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun," tegas Hakim Ketua seraya mengetuk palu sidang dengan keras.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Suara ketukan palu itu bagai petir yang menghantam kesadaran Zahra. Air mata penyesalan mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Satu tahun penjara—waktu yang sangat panjang untuk dihabiskan di balik jeruji besi yang dingin, jauh dari kehidupan mewah, fasilitas, dan kemanjaan yang selama ini ia nikmati dari Zidan.
Saat petugas kejaksaan memasang kembali borgol di kedua tangannya, Zahra sempat menoleh ke belakang. Di kursi penonton, tidak ada satu pun keluarga atau teman yang datang mendampinginya. Zidan pun sedang membusuk di sel lain menanti putusan kasusnya sendiri. Zahra kini benar-benar sendirian, menanggung akibat dari ambisi dan sifat serakahnya yang telah merusak kehidupan Amanda.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk dalam-dalam, Zahra digiring keluar menuju mobil tahanan, bersiap menjalani hukuman satu tahun penjara yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.