NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Dan pintu itu tidak terbuka.

Pagi berikutnya, pintu lain terbuka di tempat yang jauh lebih ramai.

Restoran kaca di dekat UNUSA biasanya menjadi tempat mahasiswa kaya memamerkan tugas kelompok yang berakhir sebagai foto makanan. Mejanya bersih, harga kopinya membuat Dimas selalu mengeluh, dan parkir depannya cukup sempit sehingga setiap mobil mahal otomatis terlihat seperti papan pengumuman.

Arka tidak datang untuk pamer.

Ia hanya datang karena Nala mengirim pesan bahwa tempat itu punya es kopi yang tidak membuat orang merasa sedang membayar cicilan motor. Nala sendiri batal datang mendadak karena ada urusan administrasi kampus. Arka tetap masuk, memesan minuman, lalu duduk di meja dekat jendela sambil membaca laporan singkat dari Steven Wibisana tentang perusahaan keamanan pribadi.

Tiga nama vendor.

Biaya bulanan.

Jumlah personel.

Latar belakang mantan TNI/Polri.

Arka menandai satu nama yang paling bersih dokumennya. Di dunia modern, ia tidak bisa menyelesaikan semua masalah dengan Bilah Dimensi. Ada masalah yang lebih baik diselesaikan dengan kontrak, SOP, dan orang yang tahu cara berdiri di depan pagar tanpa banyak bicara.

"Kau pikir punya Rolls-Royce bisa merebut pacarku?"

Suara itu datang dari sisi kanan.

Arka tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.

Revano Hartawan berdiri di dekat meja dengan tiga pria seusianya. Mereka memakai kemeja mahal, sepatu bersih, dan ekspresi orang yang terbiasa masuk ke tempat mana pun tanpa diminta menunggu. Salah satu dari mereka memegang kunci mobil di jari, memutarnya pelan seolah itu bisa menambah berat ucapan Revano.

Beberapa pengunjung restoran langsung melambatkan obrolan.

Arka menutup layar ponselnya. "Aku tidak merebut siapa pun."

Revano tertawa pendek. "Oh, jadi sekarang sok suci? Viona datang ke villa-mu semalam. Jangan pura-pura tidak tahu."

"Dia datang. Aku menyuruhnya pergi."

Kalimat itu terlalu tenang.

Terlalu tidak cocok dengan rencana Revano.

Salah satu temannya menyeringai. "Bro, kalau lo gak mau, kenapa bikin dia bingung?"

Arka menatap pria itu sekilas. "Aku bahkan tidak kenal kamu."

Senyum pria itu membeku.

Dimas mungkin akan tertawa jika ada di sana. Sayangnya, pagi itu Arka sendirian. Atau lebih tepatnya, ia tampak sendirian. Di luar restoran, dua petugas keamanan kompleks yang sedang diuji oleh Steven Wibisana berdiri cukup jauh, tidak masuk tanpa perintah. Arka ingin melihat apakah mereka bisa membaca situasi.

Mereka bisa.

Salah satunya sudah berbicara pelan lewat handy talky.

Revano tidak melihat itu.

Ia terlalu sibuk menahan malu.

"Dengar," katanya sambil mencondongkan tubuh. "Aku tahu tipe orang kayak kau. Dulu miskin, dihina, begitu dapat uang sedikit langsung merasa dunia harus tunduk."

Arka berdiri.

Ia hanya berdiri, tenang dan berat.

Tiga teman Revano otomatis menegang karena tinggi dan tubuh Arka kini memberi tekanan yang berbeda. Pria gemuk yang dulu bisa didorong sambil ditertawakan sudah hilang. Arka berdiri seperti dinding yang tiba-tiba berada terlalu dekat.

"Selesai?" tanya Arka.

Revano mengerutkan kening. "Apa?"

"Kalau sudah selesai, aku pergi."

Arka mengambil ponsel dan berjalan melewati mereka.

Sikap dingin itu membuat Revano kehilangan kendali. Arka mengabaikannya di depan semua orang.

Di hadapan teman-temannya, di restoran yang mulai memperhatikan, orang yang dulu ia anggap pecundang bahkan tidak mau repot berdebat dengannya.

Revano mendorong bahu Arka.

Atau mencoba.

Telapak tangannya menyentuh bahu Arka, tetapi tubuh Arka tidak bergerak sedikit pun. Tidak mundur. Tidak miring. Tidak bahkan memperlambat napas.

Justru Revano yang kehilangan keseimbangan setengah langkah.

Salah satu temannya berbisik, "Rev, udah."

Revano tidak mendengar.

Ia mengangkat tangan lagi, kali ini hendak menarik kerah Arka. Arka bergerak lebih dulu. Tangannya menangkap pergelangan Revano, memutar sedikit, lalu menekan ke bawah.

Gerakannya bersih.

Tidak kasar.

Tetapi Revano langsung berlutut satu kaki di lantai restoran.

Wajahnya memucat. Ia mencoba bangkit, tetapi semakin ia melawan, semakin posisinya terlihat menyedihkan. Arka tidak perlu menambah tenaga. Tubuh Revano sendiri yang memberinya rasa sakit.

Tiga temannya mundur.

Tidak ada yang maju.

Di meja sebelah, seorang mahasiswa mengangkat ponsel dengan sangat pelan. Pengunjung lain pura-pura menatap menu, tetapi mata mereka tidak lepas dari lutut Revano di lantai.

"Lepas," desis Revano.

Arka menatapnya. "Kau selalu memulai dengan tangan. Lalu ketika kalah, kau meminta orang lain menganggapmu korban."

"Kau akan menyesal."

"Aku sudah punya cukup pengalaman dengan penyesalan orang lain. Tidak menarik."

Ia melepaskan tangan Revano.

Revano menarik tangannya ke dada, napasnya cepat. Tangannya tetap utuh, tulangnya tidak patah, dan rekaman di sekitar mereka jelas menunjukkan ia mendorong lebih dulu. Sulit baginya memutar kejadian itu menjadi drama korban.

Pintu restoran terbuka keras.

Viona masuk.

Wajahnya tidak terlihat ingin menyelamatkan Revano atau membela Arka. Matanya merah, ponsel di tangannya menyala dengan layar chat yang masih terbuka.

Revano berdiri kaku. "Vi? Kamu ngapain di sini?"

Viona berjalan mendekat.

Langkahnya cepat.

"Siapa perempuan ini?"

Restoran langsung sunyi dengan cara yang berbeda.

Wajah Revano berubah. "Apa maksud kamu?"

Viona mengangkat ponsel. "Jangan tanya balik. Nomor tanpa nama ini kirim foto kalian di apartemen. Dia bilang kamu janji putus denganku setelah aku bosan mengejar Arka. Itu apa?"

Tiga teman Revano saling pandang. Salah satu dari mereka bahkan menunduk, tanda terlalu jelas bahwa ia sudah tahu.

Viona melihat reaksi itu.

Sesuatu di wajahnya retak.

"Kalian tahu?"

Tidak ada yang menjawab.

Revano mencoba meraih tangannya. "Vi, dengar dulu. Itu bukan seperti yang kamu pikir."

Viona menepisnya. "Bukan seperti yang kupikir? Kamu bilang Arka pecundang. Kamu bilang dia tidak pantas untukku. Kamu bilang kamu beda."

Suaranya naik, tetapi tidak menjadi teriakan murahan. Justru karena ia menahan diri, setiap kata terdengar lebih tajam.

"Ternyata kamu cuma lebih mahal bajunya. Isinya sama busuknya."

Revano menegang. "Jaga mulutmu."

Tamparan itu datang cepat.

PLAK!

Kepala Revano berpaling sedikit. Tamparan itu cukup keras untuk membuat seluruh restoran menahan napas. Viona berdiri di depannya dengan tangan gemetar.

"Kamu dulu menuduh Arka tidak punya harga diri," katanya. "Ternyata kamu sendiri yang tidak punya. Tidak, kamu lebih buruk."

Revano memegang pipinya, matanya melebar antara malu dan marah.

"Vi..."

"Jangan panggil aku begitu."

Arka melihat semua itu dari jarak beberapa langkah.

Aneh.

Dulu, melihat Viona menangis mungkin akan membuat dadanya sakit. Dulu, melihat Revano dipermalukan mungkin akan membuatnya ingin menambahkan satu kalimat lagi. Sekarang, kedua orang itu berdiri di depan matanya seperti adegan dari kehidupan orang lain.

Lukanya tidak lagi berputar di sekitar mereka.

Mereka hanya konsekuensi dari pilihan sendiri.

Salah satu petugas keamanan yang menunggu di luar masuk dan berdiri dekat Arka. "Pak Arka, perlu bantuan?"

Arka menggeleng. "Tidak. Kita pergi."

Revano menoleh, marahnya menemukan target yang lebih mudah daripada kesalahannya sendiri. "Jangan pergi, Arka! Ini semua gara-gara kau!"

Arka berhenti di dekat pintu.

Ia menatap Revano sekali.

"Kau kehilangan Viona karena kebohonganmu sendiri. Kau berlutut karena tanganmu sendiri. Jangan pinjam namaku untuk menutup malu."

Tidak ada jawaban.

Karena kali ini, bahkan teman-teman Revano tidak punya bahan untuk membela.

Arka keluar dari restoran. Udara siang terasa panas, tetapi lebih bersih daripada drama di dalam. Di parkir, pesan dari Nala masuk.

Maaf batal. Kamu sudah makan?

Arka membalas sambil berjalan ke mobil.

Belum. Tapi aku baru saja melihat menu karma disajikan gratis.

Balasan Nala muncul beberapa detik kemudian.

Kedengarannya menarik. Ceritakan nanti, mahasiswa biasa.

Di balik kaca restoran, Revano masih berdiri dengan pipi merah dan lutut yang baru saja menyentuh lantai. Viona menahan air mata, lalu berbalik pergi tanpa menggandeng siapa pun.

Tiga bulan lalu, dua orang itu berjalan bersama melewati Arka dan membuatnya menjadi bahan tertawaan.

Sekarang, di restoran yang sama ramainya dengan panggung kecil, tawa itu berbalik arah.

Semua orang melihat Viona pergi dan Revano terpaku di tempat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!