NovelToon NovelToon
Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Sistem Kebohongan Menjadi Kenyataan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Ting. Ting.

Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar pelan di ruang makan Villa Garuda.

Sinar matahari pagi menembus masuk melalui jendela kaca raksasa, memberikan kehangatan di dalam ruangan mewah tersebut.

Rizal sedang menikmati sarapan nasi goreng seafood yang disiapkan oleh sistem rumah pintarnya.

Di depannya, sebuah televisi layar datar berukuran delapan puluh inci sedang menyiarkan saluran berita ekonomi nasional.

"Saham Sanjaya Corp anjlok hingga empat puluh persen pada pembukaan bursa pagi ini."

Suara pembaca berita wanita menggema dari speaker televisi dengan nada yang sangat serius.

"Hal ini menyusul ditetapkannya status tersangka kepada Menteri Budiarto oleh KPK semalam."

Layar televisi menampilkan rekaman amatir saat Broto Sanjaya jatuh pingsan dan muntah darah di acara Malam Emas.

"Tuan Broto Sanjaya saat ini dikabarkan sedang dalam kondisi kritis di ruang ICU Rumah Sakit Pusat."

"Pihak KPK juga telah menjadwalkan penjemputan paksa jika Tuan Broto sudah dinyatakan stabil oleh pihak medis."

Rizal menyesap kopi hitamnya perlahan sambil tersenyum tipis melihat berita tersebut.

Kehancuran musuh-musuhnya selalu menjadi tontonan pagi yang jauh lebih menarik daripada film aksi mana pun.

Ting Tong.

Suara bel pintu utama Villa Garuda berbunyi, menandakan ada tamu yang datang berkunjung.

"Tuan Rizal, Nona Clara Wijaya telah tiba di depan pintu."

Suara kecerdasan buatan dari rumah pintar itu melaporkan identitas sang tamu.

"Buka pintunya dan persilakan dia masuk ke ruang makan."

Rizal memberikan perintah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Klek.

Pintu utama terbuka secara otomatis dan terdengar langkah kaki sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer.

Clara Wijaya berjalan masuk dengan mengenakan setelan jas kerja wanita berwarna putih bersih.

Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang sangat segar dan bersemangat.

"Selamat pagi, Tuan Rizal."

Clara menyapa dengan senyum cerah dan sedikit menundukkan kepalanya saat tiba di ruang makan.

"Selamat pagi Nona Clara, silakan duduk dan temani saya sarapan."

Rizal menunjuk kursi kosong di seberangnya dengan santai.

"Terima kasih Tuan Rizal, saya sudah sarapan di jalan tadi."

Clara duduk dan langsung membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah tablet elektronik.

"Saya datang ke sini untuk memberikan laporan terbaru mengenai pergerakan pasar saham pagi ini."

"Saya sudah melihatnya di berita, Sanjaya Corp sedang terjun bebas kan?"

Rizal melirik ke arah televisi yang masih menayangkan grafik merah dari saham milik musuhnya itu.

"Benar Tuan Rizal, ini adalah kejatuhan paling parah dalam sejarah pasar modal Indonesia."

Clara menggeser layar tabletnya dan menunjukkannya kepada Rizal.

"Banyak pemegang saham minoritas dan investor asing yang melakukan panic selling sejak bursa dibuka."

"Mereka semua berlomba-lomba membuang saham Sanjaya Corp sebelum harganya menjadi nol."

Rizal meletakkan sendoknya dan menatap Clara dengan pandangan yang sangat tajam.

"Nona Clara, berapa banyak uang tunai yang mengendap di kas Wijaya Group saat ini?"

"Setelah penemuan tambang kemarin dan uang muka dari para pembeli asing, kita memiliki sekitar tiga triliun rupiah uang dingin."

Clara menjawab dengan cepat karena dia sudah menghafal semua angka penting di perusahaannya.

"Dan saya pribadi memiliki uang tunai sekitar dua triliun rupiah di rekening saya."

Rizal mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja makan.

"Total lima triliun rupiah, angka yang cukup bagus untuk sebuah acara belanja pagi."

Clara sedikit memiringkan kepalanya karena merasa bingung dengan ucapan bosnya.

"Belanja pagi? Apa yang ingin Anda beli dengan uang sebanyak itu, Tuan Rizal?"

"Saya ingin membeli Sanjaya Corp."

Pernyataan Rizal yang sangat singkat itu sukses membuat Clara menahan nafasnya selama beberapa detik.

"M-membeli Sanjaya Corp? Tuan Rizal, Anda bermaksud melakukan Hostile Takeover di pasar terbuka?"

Hostile Takeover atau pengambilalihan paksa adalah tindakan membeli saham mayoritas sebuah perusahaan dari pasar saham tanpa persetujuan dewan direksi perusahaan target.

Itu adalah tindakan yang sangat agresif, berisiko tinggi, dan membutuhkan modal uang tunai yang luar biasa besar.

"Kenapa tidak? Harga saham mereka sedang sangat murah seperti kacang goreng saat ini."

Rizal tersenyum miring melihat grafik merah di televisi.

"Broto Sanjaya sedang terbaring di ICU, ini adalah waktu yang paling tepat untuk merampas kerajaannya."

"T-tapi Tuan Rizal, meskipun harganya anjlok, valuasi Sanjaya Corp masih terlalu besar."

Clara mencoba memberikan pandangan dari sisi rasionalitas bisnis.

"Lima triliun mungkin hanya cukup untuk membeli sekitar tiga puluh persen saham mereka."

"Kita butuh minimal lima puluh satu persen untuk bisa mengambil alih kendali perusahaan secara penuh."

Rizal hanya mendengarkan penjelasan Clara dengan tenang tanpa rasa khawatir sedikit pun.

"Kita mulai saja dulu dengan lima triliun itu Nona Clara, perintahkan para pialang saham kita untuk menyapu bersih semua saham yang dijual murah."

Rizal memberikan perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.

"Soal kekurangan dananya, biar saya yang urus nanti."

Clara menatap mata Rizal yang memancarkan keyakinan luar biasa itu.

Setiap kali pemuda ini berkata akan mengurus sesuatu, keajaiban yang tidak masuk akal pasti akan selalu terjadi.

"Baik Tuan Rizal, saya akan menghubungi tim pialang kita sekarang juga."

Clara langsung mengambil ponselnya dan menelepon kepala tim pialang Wijaya Group.

"Sapukan semua sisa uang di kas kita dan beli setiap lembar saham Sanjaya Corp yang ada di pasar sekarang juga!"

Perintah Clara menggema tegas di ruang makan itu, memulai operasi finansial terbesar di ibukota.

Di saat yang bersamaan, stasiun televisi yang sedang ditonton oleh Rizal tiba-tiba mengubah siarannya menjadi Breaking News.

"Saudara-saudara, kami baru saja menerima siaran langsung dari markas besar Sanjaya Corp."

Suara reporter televisi kembali terdengar menyita perhatian Rizal dan Clara.

"Tuan Muda Dion Sanjaya, yang bertindak sebagai CEO sementara, sedang menggelar konferensi pers darurat."

Layar televisi kini menampilkan sosok Dion Sanjaya yang berdiri di belakang podium.

Wajah pemuda arogan itu terlihat sangat berantakan, kantung matanya menghitam, dan jasnya terlihat kusut.

Kepanikan dan rasa putus asa sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.

Jepret. Jepret. Jepret.

Suara jepretan kamera wartawan terdengar bersahut-sahutan di layar televisi.

"Tuan Dion! Bagaimana tanggapan Anda mengenai anjloknya saham perusahaan hingga empat puluh persen?!"

Seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang sangat tajam layaknya pedang.

"Tolong tenang semuanya! Perusahaan kami baik-baik saja!"

Dion berteriak ke arah mikrofon dengan suara yang sedikit bergetar dan serak.

"Kejadian semalam hanyalah kesalahpahaman belaka, ayah saya tidak bersalah dan akan segera bebas dari tuduhan KPK!"

"Tapi para investor sudah kehilangan kepercayaan, Tuan Dion! Apakah Sanjaya Corp akan mengumumkan kebangkrutan hari ini?"

Pertanyaan dari wartawan lain langsung membuat wajah Dion merah padam karena marah dan panik.

"Kebangkrutan?! Jangan sembarangan bicara kalian semua!"

Dion menggebrak podium dengan kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah kamera.

1
kinataa⁸
5m nya ksh aku juga/Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!