Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032: Uang Keamanan
Empat hari setelah Ratna pindah, gang depan kos Bu Tuti mulai menunjukkan wajah aslinya.
Pagi sampai sore, tempat itu tampak seperti lingkungan mahasiswa biasa. Anak-anak kos keluar masuk membawa tas, penjual gorengan memindahkan wajan, motor kurir berhenti sebentar mengantar paket. Tapi setelah magrib, warung dekat gerbang kampus berubah menjadi pos tidak resmi. Kursi plastik diseret ke pinggir jalan, motor tanpa pelat diparkir melintang, dan beberapa pemuda yang tidak pernah terlihat masuk kelas mulai memeriksa siapa yang lewat.
Ratna melihat semuanya, tapi ia tetap menjalankan rutinitas seperti biasa.
Hari itu ia pulang dari perpustakaan bersama Koko dan Zahra. Tiga buku hukum pidana menumpuk di tasnya, laptop di selempang bahu, dan ponsel di genggaman. Di grup darurat, Bima hanya mengirim satu pesan pagi tadi.
Jalan seperti biasa. Jangan kasih mereka kendali atas jadwalmu.
Pesan itu membuat Ratna kesal sekaligus tenang. Kakaknya memang menyebalkan. Tapi selama beberapa hari ini, tidak ada yang lebih menenangkan daripada tahu bahwa seseorang sedang menghitung risiko dengan kepala dingin.
Mereka hampir sampai pagar kos ketika tiga motor menutup jalan.
Calvin turun pertama. Rambutnya disisir basah ke belakang, jaket denimnya terbuka, kalung besi menggantung di dada. David berdiri di sampingnya sambil memegang buku catatan kecil. Purnomo, yang tubuhnya paling besar, bersandar di motor dengan tangan menyilang.
"Anak baru," kata Calvin, tersenyum tanpa hangat. "Sudah empat hari tinggal di sini, belum setor."
Zahra langsung meraih lengan Ratna. Koko mundur setengah langkah.
Ratna mengangkat dagu. "Setor apa?"
"Uang keamanan." Calvin mengetuk jok motor dengan ujung jarinya. "Lima ratus ribu sebulan. Murah. Kamu tidur tenang, motor aman, tidak ada yang ganggu."
"Kalau tidak bayar?"
Purnomo tertawa pendek. "Ya jangan salahkan lingkungan kalau ada apa-apa."
David membuka buku catatan. "Nama?"
Ratna menatapnya. "Untuk apa?"
"Data penghuni. Biar kami tahu siapa yang kooperatif."
Koko berbisik, "Rat, udah, nanti kita patungan saja."
"Tidak." Suara Ratna jelas. "Ini pemerasan."
Senyum Calvin hilang.
Orang-orang di warung terdiam. Dua mahasiswa yang hendak lewat memilih putar balik. Bu Tuti mengintip dari balik pagar kos, wajahnya pucat.
Calvin melangkah mendekat. "Kamu anak hukum, ya? Baru semester awal sudah berani sebut pasal?"
"Kalau kamu minta uang dengan ancaman, namanya pemerasan."
"Ancaman?" Calvin menoleh kepada teman-temannya, pura-pura heran. "Kalian dengar aku mengancam?"
David tertawa. "Tidak, Vin. Kita cuma bantu keamanan."
Purnomo menggerakkan leher sampai berbunyi. "Anak sekarang gampang baper."
Ratna menekan tombol perekam suara di ponselnya tanpa melihat layar. Tangannya gemetar, tapi ia tidak menurunkannya. Bima pernah mengajarinya: kalau takut, jangan pura-pura tidak takut. Pakai rasa takut itu untuk mengunci gerakan.
"Aku tidak bayar," katanya.
Calvin mencondongkan tubuh. "Kalau begitu, tulis namanya."
David menulis perlahan. "Ratna...?"
"Liem," jawab Ratna.
Ujung pena David berhenti sebentar. "Liem?"
Calvin mendengus. "Nama keluarga tidak bikin kamu kebal di gang ini."
Zahra menarik napas tajam. Ratna tahu temannya hampir menangis. Maka ia menggenggam tangan Zahra, memberi isyarat bahwa mereka masih berdiri bersama.
"Kalau kalian merasa punya hak, bawa surat resmi dari RT, RW, atau pemilik kos," kata Ratna. "Kalau tidak ada, saya anggap ini pungutan liar."
Calvin menatapnya lama. Lalu ia tersenyum lagi, lebih tipis.
"Baik. Kita lihat berapa lama mulut hukum kamu kuat."
Ia menyingkir setengah langkah. Jalan terbuka, tapi rasanya seperti perangkap yang dibiarkan sengaja.
Ratna membawa Koko dan Zahra masuk ke kos. Begitu pagar tertutup, lutut Koko lemas.
"Rat, kamu gila," bisik Koko. "Mereka lebih berbahaya dari anak nakal. Calvin itu katanya punya keluarga kuat. David nyatet nama orang yang telat bayar. Purnomo pernah mukul mahasiswa sampai masuk klinik."
"Makanya kita tidak boleh sendirian," jawab Ratna.
Ia mengirim rekaman suara ke grup darurat. Tiga menit kemudian, ponselnya bergetar.
Bima menelepon.
"Di dalam kos?"
"Iya."
"Kunci pagar?"
"Sudah."
"Koko dan Zahra?"
"Di sini."
"Bagus. Aku datang."
Tidak ada kalimat marah, tidak ada ceramah. Justru itu yang membuat Ratna menutup mata sesaat. Ia tidak butuh orang panik. Ia butuh orang yang tahu langkah berikutnya.
Bima tiba dua puluh lima menit kemudian, tetap dengan Avanza tua. Ia tidak parkir tepat di depan kos. Mobil berhenti di depan minimarket kecil, lalu ia berjalan kaki masuk gang dengan jaket gelap dan tas selempang.
Di warung, Calvin sudah tidak ada. Hanya dua anak buahnya yang pura-pura bermain ponsel.
Bima tidak menatap mereka terlalu lama. Ia masuk ke kos, disambut Bu Tuti yang hampir menangis.
"Mas Bima, maaf. Saya tidak enak. Kalau anak-anak jadi takut tinggal di sini..."
"Bu Tuti tidak salah," kata Bima. "Yang salah orang yang menjual rasa takut."
Di ruang tamu, Ratna memutar rekaman suara. Bima mendengarkan tanpa memotong. Setelah itu ia mengeluarkan ponsel lain. Di layar, rekaman Drone Bayangan dari sudut atas warung tampil jernih. Calvin menutup jalan, David mencatat nama, Purnomo memberi ancaman tersirat. Wajah mereka semua terlihat jelas.
Zahra menutup mulut. "Mas, itu dari kamera mana?"
"Kamera pribadi," jawab Bima datar.
Ratna mengenal nada itu. Artinya jangan tanya lebih jauh.
Bima membuka modul Peretas Tingkat Tinggi. Jarinya bergerak cepat. Dari nomor motor, wajah, dan jejak media sosial publik, identitas mereka mulai tersusun.
Calvin Wijaya. Dua puluh tiga tahun. Pernah tercatat dalam laporan pengeroyokan, selesai lewat damai.
David Hartono. Dua puluh dua tahun. Sering menjadi pencatat setoran parkir liar di sekitar kampus.
Purnomo Santoso. Dua puluh empat tahun. Pernah dilaporkan penganiayaan ringan, saksi mencabut keterangan.
Bima membaca semua itu dengan mata dingin. Tidak ada kemarahan yang meledak. Yang ada hanya pintu-pintu yang mulai terkunci dari dalam kepala.
"Sementara, kalian jangan keluar sendiri setelah jam enam," katanya. "Kalau harus pulang malam, kabari aku sebelum berangkat. Bu Tuti, tolong catat siapa saja penghuni yang pernah diminta uang. Tidak perlu paksa mereka tanda tangan dulu. Cukup nama, kamar, tanggal kira-kira."
Bu Tuti mengangguk cepat.
Koko ragu. "Mas, kalau kami lapor polisi, mereka bisa makin nekat."
"Kalau lapor tanpa bukti, iya. Kalau bukti lengkap, mereka yang mulai kehilangan ruang."
Ratna menatap kakaknya. "Jadi kita tunggu mereka berbuat lagi?"
Bima memasukkan ponsel ke saku. "Kita beri mereka kesempatan berhenti. Kalau mereka cukup pintar, masalah selesai sampai di sini."
"Kalau tidak?"
Bima berdiri. Di luar, suara motor Calvin lewat pelan di depan kos, seperti sengaja menggesek udara.
Bima juga meminta Koko menyimpan bukti transfer lama dari penghuni lain. Nama David di buku catatan kini punya pasangan: nomor rekening dan tanggal setoran.
"Besok kamu kuliah seperti biasa," katanya. "Kakak yang urus."