Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 18: Diintai
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Arya serius, melainkan seberapa jauh rencana lelaki itu telah berjalan tanpa sepengetahuannya selama ini.
Dua hari kemudian, pertanyaan itu berubah menjadi rasa takut yang lebih nyata.
Kirana pertama kali menyadarinya di perpustakaan. Kilatan kamera muncul dari balik rak, tetapi ketika ia memeriksa, lorong buku kosong.
Di meja baca, tasnya masih terbuka dan satu lembar jadwal kuliah bergeser dari posisi semula. Tidak ada barang hilang. Meski begitu, Kirana menutup ritsleting dan pindah ke meja dekat petugas.
“Lo kenapa?” tanya Winda.
“Kayaknya ada yang foto.”
Winda melihat sekeliling. “Akun gosip lagi?”
Sejak unggahan tentang Arya, beberapa foto Kirana muncul di media sosial kampus. Sebagian diambil di tempat umum, tetapi sudutnya semakin dekat. Satu foto memperlihatkan ia membuka pintu unit 803. Foto lain diambil saat ia membeli obat di minimarket bawah apartemen.
“Yang ini bukan di kampus,” kata Winda saat melihat layar. “Orang itu tahu tempat tinggal lo.”
“Bisa saja penghuni apartemen.”
“Atau orang yang sengaja ikut.”
Mereka melaporkan foto tersebut kepada moderator akun dan menyimpan tangkapan layar. Kirana juga memberi tahu petugas keamanan gedung agar tidak membiarkan orang asing naik tanpa konfirmasi. Saat itu, ia masih berharap langkah sederhana cukup.
Sore berikutnya, ia melihat bayangan bertopi yang sama di kaca kantin. Ketika Kirana berbalik, orang itu sudah pergi. Rasa tidak nyaman berubah menjadi tekanan tetap di belakang tengkuk.
Winda menawarkan menemani ke setiap kelas, tetapi jadwal mereka tidak selalu sama. Kirana menolak membuat sahabatnya meninggalkan kuliah hanya untuk mengawal.
Kedua kalinya terjadi di halte depan kampus. Seorang laki-laki bertopi berdiri beberapa meter darinya, menundukkan ponsel begitu Kirana menoleh. Ketika ojek online datang, laki-laki itu naik motor lain dan mengikuti sampai dua persimpangan sebelum menghilang.
Malamnya, Kirana menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Mawar satu tangkai lebih cocok daripada 999, ya?
Di bawahnya ada foto Kirana saat menerima bunga dari Arya di lobi apartemen.
Jari Kirana langsung dingin.
Ia mengunci pintu 803, memeriksa jendela, lalu menelepon Winda. Sahabatnya masih dalam perjalanan dari Bekasi dan baru bisa tiba satu jam lagi.
“Telepon Prof. Arya sekarang,” kata Winda. “Jangan tunggu gue.”
Kirana menatap dinding unit sebelah. Harga dirinya ingin mengatakan ia bisa menangani sendiri. Ketakutan di perutnya menolak.
Ia mengetuk 805.
Arya membuka pintu masih mengenakan kemeja kerja. Senyum tipisnya lenyap saat melihat wajah Kirana.
“Ada apa?”
Kirana menyerahkan ponsel.
Mata Arya membaca pesan dan foto. Udara di sekelilingnya seketika membeku.
“Sejak kapan?”
Kirana menceritakan perpustakaan, halte, dan motor yang mengikuti. Arya menariknya masuk, mengunci pintu, lalu menelepon Rian.
“Kirim tim keamanan ke apartemen dan kampus. Ambil rekaman tiga hari terakhir. Lacak nomor ini lewat jalur resmi dan siapkan laporan.”
“Baik, Pak.”
“Empat jam.”
“Saya usahakan.”
“Bukan usahakan.”
Arya menutup telepon. Rahangnya keras, tetapi saat menghadap Kirana, suaranya turun.
“Kamu tinggal di sini malam ini.”
“Winda akan pulang.”
“Dia juga tinggal di sini sampai situasinya jelas.”
“Mas, jangan panik.”
“Seseorang mengikuti kamu sampai dekat rumah.”
“Saya cuma nggak mau Mas melakukan sesuatu yang ilegal.”
Arya menatapnya beberapa detik. “Saya akan menemukan dia, mengamankan bukti, lalu menyerahkan proses kepada kampus atau polisi sesuai hasilnya. Tidak ada tindakan di luar hukum.”
Kirana mengembuskan napas. “Janji?”
“Janji.”
Winda tiba dua puluh menit kemudian dan langsung memeluk Kirana. Arya meminta keduanya tidak mengunggah lokasi, tidak membalas nomor tersebut, dan menyimpan semua pesan sebagai bukti.
Tim keamanan gedung memeriksa lantai mereka. Rian datang membawa laptop, dua staf, dan salinan rekaman CCTV. Unit 805 berubah menjadi pusat penyelidikan kecil.
“Motor yang mengikuti terdeteksi keluar kampus pukul 17.12,” lapor Rian. “Platnya terlihat di kamera gerbang.”
“Pemilik?”
“Masih dicocokkan.”
Kirana duduk di sofa dengan selimut. Ia tidak pernah melihat seorang dosen memiliki tim yang bergerak seperti operasi perusahaan besar.
“Mas,” bisiknya ketika Arya membawa susu hangat. “Sebenarnya Mas bekerja di perusahaan apa?”
“Bukan waktu yang tepat.”
“Justru sekarang saya perlu tahu kenapa Mas bisa menggerakkan semua orang.”
Arya duduk di depannya. “Saya punya sumber daya. Saya akan menjelaskan lebih banyak, tapi malam ini prioritasnya memastikan kamu aman.”
Kirana ingin membantah. Suara Rian memanggil memotong mereka.
Kurang dari empat jam setelah panggilan pertama, identitas penguntit ditemukan. Ia pekerja lepas yang dibayar akun gosip kampus untuk mengambil foto Kirana dan Arya. Pesan menakutkan dikirim agar Kirana bereaksi dan memberi materi baru.
“Siapa yang membayar akun itu?” tanya Arya.
Rian menggeleng. “Pembayaran lewat dompet digital perantara. Belum ada nama sumber awal.”
“Lanjutkan telusuri.”
Petugas keamanan kampus dan perwakilan pengelola apartemen datang menerima bukti. Karena pelaku mengikuti sampai tempat tinggal dan mengirim pesan, Kirana membuat laporan resmi. Polisi dihubungi untuk pencatatan dan tindak lanjut, sementara akses pelaku ke lingkungan kampus serta apartemen diblokir.
Kirana menandatangani laporan dengan tangan yang tidak lagi gemetar.
“Dia nggak akan mendekat lagi?” tanya Winda.
“Kalau melanggar, rekaman dan laporan ini memperkuat tindakan berikutnya,” jawab petugas.
Setelah semua orang pergi, malam sudah lewat tengah malam. Winda tidur di kamar tamu. Kirana berdiri di balkon 805, memandang lampu kota yang buram oleh udara lembap.
Arya menyampirkan selimut ke bahunya.
“Mas menang dalam empat jam,” kata Kirana.
“Belum. Orang yang memberi uang masih belum ditemukan.”
“Tapi orang yang mengikuti saya sudah berhenti.”
“Mulai besok ada pengawal berpakaian biasa.”
Kirana menoleh. “Saya nggak mau diikuti orang Mas juga.”
“Mereka tidak mengambil foto dan menjaga jarak.”
“Tetap harus saya setujui.”
Arya menutup mata sesaat, menahan dorongan untuk memutuskan sendiri. “Baik. Dua orang di gerbang kampus dan lobi, tidak mengikuti kelas. Kamu pegang nomor koordinator.”
“Satu orang tiap lokasi.”
“Dua.”
“Satu, Mas.”
“Satu terlihat, satu cadangan.”
Kirana hampir protes, lalu melihat kecemasan yang belum hilang dari mata Arya. “Untuk satu minggu. Setelah itu evaluasi.”
“Setuju.”
Arya menyentuh pipinya, menunggu sampai Kirana tidak mundur. “Kalau takut, datang ke saya. Jangan menunggu sampai bahaya mengetuk pintu.”
Kirana mengangguk dan menyandarkan dahi ke dada Arya.
Untuk malam itu, ia membiarkan lelaki tersebut menjadi tempat paling aman yang dimilikinya.
Namun di layar laptop Rian, aliran dana dari dompet digital perantara masih berakhir pada nama yang belum diketahui.
Seseorang telah membeli ketakutan Kirana sebagai tontonan murahan, dan Arya belum akan berhenti sebelum menemukan siapa yang sebenarnya berdiri di belakang semua itu di kemudian hari nanti.