NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Katakan! Ada Apa Ini!

Tangan kasar itu belum sempat mencengkeram penuh.

Laras menghantamkan buku tebal ke pergelangan si lelaki. Pegangannya lepas. Pada saat yang sama, ia berteriak sekeras mungkin.

"Tolong! Ada lima orang menyerang saya!"

Suara itu menggema di antara rak.

Lelaki berkaus abu-abu mengumpat. "Tutup mulutnya!"

Laras melempar buku kedua ke wajah orang di sisi kiri, lalu menyelinap melalui celah yang terbuka. Tas kain dan belanjaannya tertinggal. Ia tidak berhenti untuk mengambil apa pun.

Satu tangan menangkap ujung bajunya. Kain tertarik keras, tetapi jahitan lepas lebih dulu. Laras terus berlari menuju lorong utama.

"Pegawai! Panggil polisi!"

Pelanggan menoleh. Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Pegawai kasir mengangkat telepon, sementara petugas keamanan toko berlari dari depan.

Salah satu preman menyusul Laras dan menyambar rambutnya. Laras menunduk, memutar tubuh, lalu menghantamkan siku ke perutnya. Tidak cukup untuk menjatuhkan, tetapi cukup membuat pegangan lepas.

Ia hampir mencapai pintu ketika Bang Somad masuk dari luar.

Tubuh lelaki itu lebih besar daripada anak buahnya. Tato gelap terlihat di lengan. Ia berdiri tepat di jalur keluar.

"Mau ke mana, Bu Tentara?"

Laras berhenti mendadak.

Di belakang, empat orang yang masih bisa bergerak menyebar. Petugas keamanan toko ragu mendekat ketika melihat jumlah mereka.

"Kalian sudah terekam kamera," kata Laras. Napasnya cepat. "Pergi sekarang sebelum polisi datang."

Bang Somad tertawa. "Kami cuma menyampaikan pesan. Jauhi Bram. Berhenti sok jadi istri hebat di rumah orang."

Nama suaminya memastikan serangan ini bukan perampokan acak.

"Siapa yang membayar?"

"Tidak perlu tahu."

Lelaki termuda yang tadi menatap tubuh Laras mendekat dari belakang. "Bos, kalau dia masih keras kepala, biar saya ajari."

Tangannya bergerak ke pinggang Laras.

Laras berbalik dan menamparnya dengan punggung buku yang masih dipegang. Sudut sampul mengenai hidung. Darah langsung mengalir.

"Sialan!"

Lelaki itu menerjang.

***

Pintu toko terbuka keras.

Bram masuk tepat ketika lelaki berhidung darah mengangkat tangan ke arah Laras.

Ia tidak berteriak. Ia menangkap lengan penyerang, memutarnya ke belakang, dan menjatuhkan tubuh itu ke lantai dengan satu gerakan. Bunyi benturan membuat semua orang membeku.

"Sentuh dia sekali lagi," kata Bram sangat pelan, "dan kalian jelaskan akibatnya kepada polisi dari ranjang rumah sakit."

Bang Somad mengenali bahaya lebih cepat daripada anak buahnya. "Jangan cari masalah, Pak. Ini urusan pribadi."

"Istri saya adalah urusan saya. Pengepungan dan penyerangan adalah urusan polisi."

Dua preman menyerang bersamaan.

Bram mendorong Laras ke belakang petugas keamanan, lalu bergeser dari pukulan pertama. Sikutnya menghantam rusuk penyerang secukupnya untuk mematahkan keseimbangan. Kaki lelaki kedua disapu dari samping. Ia jatuh menabrak tumpukan keranjang.

Preman ketiga meraih botol dari rak pajangan. Bram menendang pergelangan tangannya sebelum botol terangkat. Benda itu jatuh dan pecah jauh dari Laras. Bram menahan bahu si penyerang, membenturkannya ke dinding tanpa mengenai kepala, lalu memaksanya berlutut.

Gerakannya cepat dan terukur. Tidak ada pukulan liar. Setiap serangan berakhir dengan sendi dikunci atau keseimbangan diambil.

Bang Somad mencoba keluar.

Laras menunjuk. "Yang itu pemimpinnya!"

Bram mengejar sampai trotoar. Bang Somad mengayunkan helm. Bram menahan dengan lengan, masuk ke jarak dekat, lalu menjatuhkannya menggunakan berat tubuh sendiri. Helm menggelinding ke jalan.

Dalam waktu kurang dari dua menit, lima orang berada di lantai atau ditahan petugas yang akhirnya berani membantu.

Namun lelaki berhidung darah belum menyerah. Ketika Bram membelakanginya, ia merangkak mengambil pecahan botol.

"Mas Bram, belakang!"

Peringatan Laras datang lebih cepat. Bram menoleh, menahan pergelangan tangan lelaki itu dengan sol sepatu, lalu menyingkirkan pecahan kaca menggunakan ujung rak besi.

Petugas keamanan akhirnya menindih punggung si penyerang.

"Diam! Polisi sudah dekat!"

Seorang pelanggan muda yang sejak tadi merekam dari balik rak keluar dengan wajah pucat. "Pak, saya punya videonya. Dari saat mereka mengejar ibu itu sampai bapak datang."

"Jangan dikirim ke siapa pun," kata Bram. "Simpan salinan asli untuk polisi. Jangan unggah wajah istri saya."

Pemuda itu langsung mengangguk.

Laras menatap Bram. Bahkan ketika amarah membuat urat di lehernya menegang, lelaki itu masih memikirkan martabatnya.

Sirene terdengar dari kejauhan.

Bram tidak langsung mengurus para penyerang. Ia kembali kepada Laras.

"Lihat saya."

Laras mencoba menjawab, tetapi giginya bergemeletuk.

"Kamu terluka?"

"Tidak tahu."

Bram memeriksa wajah, lengan, dan bagian baju yang robek tanpa menyentuh area sensitif. Ada bekas merah di bahu dan goresan pada siku. Tidak terlihat cedera berat.

"Duduk."

"Bang Somad akan lari."

"Dia tidak ke mana-mana. Duduk."

"Tanganmu kena helm."

"Hanya memar."

"Jangan bohong hanya karena kamu ingin saya tenang."

Bram terdiam sesaat. Kemudian ia membuka dan menutup jarinya di depan Laras. "Masih bisa bergerak. Nanti diperiksa bersama lukamu."

Laras menarik napas, tetapi dadanya tetap sesak. "Kalau kamu terlambat sedikit saja..."

"Saya tidak terlambat."

Nada Bram tetap datar, tetapi tangannya mengepal di samping paha. "Dan mulai sekarang, kamu tidak menghadapi orang-orang seperti ini sendirian."

Baru setelah Laras berada di kursi dan petugas keamanan menemaninya, Bram kembali mengikat tangan Bang Somad dengan tali plastik barang toko sementara menunggu polisi.

***

Polisi tiba dan memisahkan para pelaku.

Rekaman kamera, pesan lokasi Laras, rekaman suara yang ternyata berhasil aktif, serta kesaksian pegawai diamankan. Dari ponsel Bang Somad ditemukan percakapan dengan nomor tanpa nama. Pesan terakhir jelas: `Pastikan dia paham harus menjauh dari Bram.`

Petugas memotret baju Laras yang robek, memar di bahu, serta goresan di sikunya. Pegawai perempuan menemani agar pemeriksaan tetap sopan. Laras juga diminta menjelaskan urutan kejadian tanpa dilebihkan.

"Mereka menghalangi jalan keluar, menarik baju saya, dan salah satu mencoba menyentuh pinggang saya," katanya.

Lelaki berhidung darah menyela dari lantai. "Dia duluan yang mukul!"

"Saya mempertahankan diri setelah dikepung lima orang," jawab Laras. "Kamera akan menunjukkan semuanya."

Petugas menegur lelaki itu dan mencatat pernyataan Laras. Bram tidak ikut memotong. Ia membiarkan istrinya berbicara dengan suaranya sendiri, hanya berdiri cukup dekat agar Laras tahu ia tidak sendirian.

"Siapa pengirimnya?" tanya petugas.

Bang Somad menutup mulut.

Bram berdiri di hadapannya. "Nomor itu bisa dilacak. Kalau kamu bicara sekarang, keteranganmu dicatat sebagai kerja sama. Kalau tidak, kamu menanggung semua sendiri."

Bang Somad melirik Laras. Perempuan itu duduk dengan selimut darurat di bahu, masih pucat, tetapi menatapnya tanpa takut.

"Tania," gumamnya.

"Nama lengkap."

"Tania. Perawat. Anak Pak Suryadi di kompleks perwira. Dia bayar kami cuma untuk menakut-nakuti. Saya tidak menyuruh anak buah menyentuh macam-macam."

"Tapi kamu membiarkan," kata Laras.

Bang Somad menunduk.

Polisi meminta semua pihak datang ke kantor untuk laporan resmi. Bram setuju. Namun sebelum itu, ia meminta petugas mengizinkan Pak Suryadi diberi tahu bahwa putrinya disebut sebagai penyuruh. Polisi menegaskan konfrontasi tidak boleh mengganggu proses atau menjadi kekerasan baru.

"Kami datang bersama petugas," kata Bram. "Tidak ada yang main hakim sendiri."

***

Rumah Pak Suryadi hanya beberapa blok dari kompleks lama keluarga Adiprawira.

Kedatangan mobil polisi, Bram, Laras, dan Bang Somad yang dibawa terpisah segera menarik perhatian warga. Beberapa orang keluar ke teras. Penjaga kompleks mencoba membatasi kerumunan, tetapi kabar bergerak cepat.

"Bukankah itu menantu Pak Hardjono?"

"Bajunya kenapa robek?"

"Katanya anak Pak Suryadi menyewa preman."

Bisikan itu menjalar dari pagar ke pagar. Laras tidak menyukai tatapan orang, tetapi kali ini ia tidak menunduk. Ia berdiri di sisi Bram dengan selimut masih menutupi bahunya. Seorang polisi perempuan berada di sisi lain, memastikan tidak ada warga mendekat terlalu jauh.

Bram hendak mengajaknya menunggu di mobil, tetapi Laras menggeleng.

"Saya ingin mendengar sendiri jawabannya."

"Kalau kamu mulai pusing, bilang."

"Saya tidak akan jatuh sebelum orang yang menyuruh mereka mengaku."

Bram menatap wajah pucat itu, lalu berdiri setengah langkah di depannya tanpa menutup pandangannya.

Pak Suryadi membuka pintu dengan wajah bingung. Pensiunan kapten itu masih mengenakan baju rumah.

"Bram? Ada apa?"

Petugas memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa nama Tania muncul dalam dugaan penyewaan preman untuk mengintimidasi Laras.

Wajah Pak Suryadi kehilangan warna.

"Tidak mungkin. Tania di rumah sakit."

"Kami perlu menghubunginya dan meminta keterangan."

Saat itu, sebuah sepeda motor berhenti di depan pagar. Tania turun dengan tas kerja, lalu membeku melihat mobil polisi.

Bang Somad yang berada di dekat petugas langsung menunjuk. "Itu dia. Dia yang bayar saya."

Tania mundur satu langkah. "Aku tidak kenal kamu."

"Jangan bohong, Mbak. Pesanmu ada di ponsel."

Pak Suryadi menoleh perlahan kepada putrinya. "Tania?"

"Papa, ini salah paham. Aku hanya minta dia bicara. Bukan menyerang."

"Kamu membayar preman mendatangi istri orang?"

"Aku ingin melindungi Mas Bram! Perempuan itu menjebaknya!"

Bram bergerak hendak bicara, tetapi Laras menahan lengannya. Ini saatnya Tania menunjukkan dirinya sendiri.

Pak Suryadi berjalan turun dari teras. Matanya jatuh pada baju Laras yang robek dan memar merah di bahu.

"Kamu melakukan ini kepada istri seorang prajurit, di tengah kota, memakai orang bayaran?"

"Papa tidak mengerti!"

"Saya mengerti cukup banyak."

Tangan Pak Suryadi terangkat dan menampar pipi Tania satu kali.

Suara tamparan memecah kerumunan.

Tania memegang wajah, tidak percaya.

Pak Suryadi menunjuk Bang Somad, lalu Laras, kemudian putrinya sendiri. Suaranya meledak di depan seluruh warga.

"KATAKAN! Ada apa ini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!