10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAWAN ATAU KAWAN?
...----------------...
Hari menjelang sore saat aku mengakhiri meditasiku.
Bejo dan nining anteng sekali. Bahkan tertidur. Selama bermeditasi aku juga menyalurkan energiku kepada mereka, dengan harapan mereka cepat besar, lebih kuat dan gesit. Juga bisa menghasilkan banyak telur.
Aku berencana memberi mereka kandang terbuka, mereka bebas berkeliaran asalkan gak buang air sembarangan aja. Kalo mau pup harus di kebun. Biar jadi pupuk.
...----------------...
Aku membuka layar system.
8/1.825
Jumlah penyintas :
Global :
Sebelumnya : 10.000.000
Saat ini : 9.999.717
Regional :
Sebelumnya : 1.500
Saat ini : 1.466
Aku hanya bisa mendesah.
Hukum alam berlaku.
Mereka yang tak mampu bertahan harus tersingkirkan.
Kudoakan ketenangan mereka yang sudah gugur. Semoga keluarga nya diberi ketabahan.
Aku tak berniat melihat chat global dan regional. Aku tak mau tau apa apa dulu. Biar semua berjalan sebagaimana mestinya. Biar seleksi alam yang bicara.
...----------------...
Aku memasak ditemani kedua piyikku. Mereka asik mematuki beras yang kugerus hingga jadi butiran kecil.
Kali ini aku membuat sup wortel, kentang, tomat, dengan lauk udang, gurita, dan potongan sosis.
30 menit kemudian aku mengirimkan ke mas ben seporsi nasi dan sup.
-Aku : dimakan ya mas. Aku juga mau makan dulu, ditemani bejo dan nining.
-Ben : siapa itu sayang?
-Aku : anak anak aku.
-Ben : hah? Gimana bisa? Kita kan masih jauhan. Anak dari mana?
-Aku : anak ayam. Hihihi..
-Ben : sayang punya ayam?
-Aku : masih piyik mas. Hasil aku netasin. Ayam mutan. Lucu tau warna warni.
-Ben : jadi penasaran, yang.
-Aku : kalo bisa kirim foto beneran kukirim. Lucu banget loh mas. Bejo warnanya biru ijo, nining warnanya nila kuning.
-Ben : hahaha.. Kocak kamu sayang.
-Aku : udah ayo makan dulu. Biar enak lagi badannya. Besok masih harus tempur lagi kan.
-Ben : iya sayang. Makasih ya. Cup!!
...----------------...
Setelah makan malam, aku menuju bengkel. Bejo dan nining tentu saja harus ikut.
Aku menaruh mereka di meja gambar, mereka langsung bertengger di sisi atasnya, menontonku bekerja. Aku tersenyum geli melihat mereka.
"Sabar ya. Ibu mau gambar dulu." Ujarku, dibalas ciap ciap bersemangat dari keduanya.
Inilah yang kubutuhkan, saat aku bersuara, ada yang membalas ucapanku secara real, bukan virtual di kepalaku saja.
Aku mulai menggambar desain kandang untuk bejo dan nining. Kandang yang bertingkat. Bilik kamar dibagian atasnya, area bebas dibawahnya. Setelah selesai, aku menampilkan secara hologram, menentukan ukurannya.
Lalu aku melirik ke arah bejo dan nining. "Kalian suka gak?" Keduanya membalas ciap ciap sambil mengepakkan sayap mungilnya. Aku tertawa pelan. Lucunya anak anak ayamku.
"Celia. Ke depannya aku pengen kandang ini di upgrade menyesuaikan ukuran tubuh mereka."
"Tentu naya."
"Tolong keluarkan material yang sesuai untuk kandang ini. Dan buat potongan sesuai ukuran pada hologram. Aku pengen ngerangkai sendiri."
"Baik naya."
Semua material dengan ukuran potongan yang kuinginkan muncul di meja kerja bengkel.
Aku mulai merangkainya hingga mulai terlihat bentuk kandang untuk kedua piyikku.
...----------------...
Sejam aku berada di bengkel. Langit sudah sangat gelap. Tapi toh aku punya night vision. Obor kan hanya formalitas.
Saat keluar. Aku merasakan energi anomali lainnya. Lebih kuat dari macan kumbang. Entah apa yang muncul kali ini.
Aku meletakkan kandang di dekat pintu dapur. Kedua piyik tak mau kutinggal, mereka bertengger di bahuku.
Lalu aku melangkah menuju area belakang, dekat batas wilayah ku yang mengarah ke hutan.
Dari rerimbunan aku melihat sepasang mata kuning emas yang terpantul cahaya obor menatapku. Dia mengeluarkan energi menantang. Geraman rendah terdengar.
Aku menatapnya dengan tenang, lalu aku pun mengeluarkan energiku, menantangnya. "Kamu mau menyerah atau kuhabisi, itu pilihanmu. Kita akan bertarung besok pagi. Kuberi waktu buatmu memilih. Aku tau kamu cuma sendiri dan seberapa kekuatanmu. Kamu mungkin lebih kuat daripada kedua kawanmu yang kuhabisi tadi pagi, tapi kamu gak lebih kuat dari aku. Menantangku, berarti siap mati." Aku berujar ke arah kegelapan. Tapi aku tau dia masih disana, dan karena aku memiliki skill hewan serta dominasi, dia pasti faham kata kata ku.
Lalu aku berbalik, melangkah kembali ke arah rumahku.
Kubawa kandang ayamku ke dalam rumah. Menaruhnya di ruang utama.
"Sekarang ini rumah kalian, tidurnya disini ya. Gak boleh pupup sembarangan. Itu sudah dikasi alas tanah buat pupup. Jangan diacak acak. Tidurnya naik ke atas." Aku memberi instruksi pada para piyik.
Mereka melompat masuk ke kandang tanpa pintu itu. Lalu berputar putar, naik turun.
Aku berjongkok di depan kandang, masih mengamati pergerakan mereka, untuk ukuran piyik baru netas mereka aktif sekali, bahkan kurasa ukurannya agak lebih besar dari sejak netas. Mungkin karena mutan ya, jadi kecepatan pertumbuhannya gak ngotak.
...----------------...
"Celia, aku mau upgrade skill api. Apa saja syaratnya?"
Layar hologram terbuka.
Skill khusus api.
Dapat di upgrade jika salah satu misi terpenuhi :
* penggunaan unsur api, 466/1.000
* meditasi, 16/50
* menemukan tanaman unsur api, 0/1
* menciptakan senjata dengan unsur api, 1/5
"Celia, senjata unsur api yang kupunya apa?"
"Cambuk energimu naya. Mengandung unsur api."
"Oh, jadi kalo aku bikin bentukan lain dari energi api yang bisa dijadikan senjata, bakal dihitung juga ya. Baik lah." Aku manggut-manggut.
"Ok. Kayaknya emang gak bisa digeber, perlu santai. Ga papa.
Celia malam ini aku gak bakal tidur, mau meditasi aja semaleman. Tapi sebelumnya. Gandain semua hadiahku hari ini dan buka."
"Ok naya."
...----------------...
Dari aktifitas ku hari ini aku mendapat kan hadiah :
* 10.000 poin system.
* 2 desain cambuk logam.
* 2 kulit macan kumbang.
* 2 skill tambahan kecepatan.
"Pakai 2 skill kecepatan, celia."
"Ok naya."
Energi hangat terasa dari ubun ubun perlahan menyelubungi tubuhku. Berlangsung selama 30 menit.
Dan kini aku merasa badanku jauh lebih ringan. Aku tersenyum senang. Bakal seru nih kalo di pake tempur.
...----------------...
Semalaman hingga alarm hpku berbunyi, aku habiskan dengan bermeditasi. Simpul energiku bertambah dengan skill kecepatan. Meski masih tipis, namun terasa keberadaannya.
Setelah bebersih, sarapan, dan olahraga selama 2 jam. Aku siap tempur.
Aku memutuskan akan menggunakan tangan kosong kali ini, dengan skill kecepatan aku yakin gerakanku akan lebih gesit. Apalagi lawanku hanya 1.
Sejauh ini aku tak merasakan pancaran energi lainnya.
Aku bergerak menuju arah samping rumah. Didekat batas wilayahku. Menghadap ke hutan. "Sini keluar." Ucapku.
Seekor harimau keluar dari dalam hutan. Badannya jelas lebih besar dari kedua macan kumbang kemarin. Tampak bobotnya diatas 100kg.
Aku melipat tanganku di dada. Bejo dan nining bertengger di kedua bahuku.
"Tau gak sih kamu, temenmu yang kemarin kuhabisi jadi apa?! Jadi bakal karpet di rumahku. Mungkin kamu berminat gabung sama mereka. Lumayan kan gw punya karpet lebar."
Harimau itu menggeram marah. Menampakkan taringnya.
...----------------...