NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengulum Senyum

 Langit masih gelap pekat, dihiasi taburan bintang yang tampak begitu jelas di udara pegunungan, seakan membawa keheningan yang nyaris sempurna bagi Danendra dan Niken.

 Saat itu, Niken masih terlelap. Sementara Danendra memiringkan tubuhnya menghadap sang istri, wajah Niken terlihat begitu damai, dengan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya. Ia lalu tersenyum tipis, permintaan maaf yang akhirnya terucap seolah telah mengurangi beban di dadanya.

 Pelan, Danendra bangkit dari tempat tidur, berusaha agar tidak membangunkan istrinya. Namun, saat baru saja ia berdiri, terdengar suara lirih dari belakang.

 "Mas..."

 Danendra menoleh ke arah Niken yang sedang membuka matanya perlahan. "Sudah bangun?" tanyanya.

 "Iya. Maaf, aku kesiangan."

 Danendra menggeleng sambil tersenyum. "Belum juga. Kamu biasanya memang bangun lebih pagi?"

 "Iya, takut terlambat sholat subuh."

 Danendra lalu menatap jam dinding, jarumnya baru menunjukka pukul lima kurang seperempat. "Masih sempat," katanya, yang dijawab anggukan oleh Niken.

 Beberapa saat kemudian...

 Usai sholat Subuh, merapikan tempat tidur, dan bersiap, Niken turun ke dapur seperti biasanya, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Danendra sudah lebih dulu berada di sana.

 Lelaki itu sedang membuat kopi, namun begitu melihat Niken bubuk kopinya tumpah sedikit di atas meja.

 Niken menahan tawa, "Mas, kopinya tumpah."

 Wajahnya tampak sedikit canggung, "kamu sudah selesai?"

 "Iya." Jawab Niken sambil berjalan mendekat, lalu mengambil lap kecil untuk membersihkan mejanya.

 "Maaf, aku jadi mengotori meja." Ucap Danendra, "aku kira membuat kopi itu mudah."

 Niken tersenyum sambil meliriknya, "memang mudah. Hanya saja Mas menuangkannya sambil lihat aku."

 Danendra hanya mengaruk punggung lehernya, sementara Niken menyelesaikan membersihkan meja, lalu mengambil alih membuatkan kopi untuknya.

 "Mas duduk saja, biar aku yang buat." Kata Niken yang dijawab anggukan patuh oleh suaminya.

 Danendra lalu duduk, ia berpura-pura sibuk melihat layar ponsel yang menampilkan jadwal rapat sambil sesekali melihat ke arah Niken.

 Beberapa saat kemudian, dua cangkir minuman telah tersaji, satu kopi hitam untuk Danendra, satu teh hangat untuk Niken.

 Bi Inah yang hendak menuju ke dapur sampai menghentikan langkahnya. "Lho, Mas Danen di dapur?"

 Niken menoleh, "pagi, Bi."

 "Pagi, Mbak Niken." Ucap Bi Inah sambil melanjutkan langkahnya.

 Sementara Danendra tersenyum tipis. "Memangnya kenapa, Bi?"

 "Nggak apa-apa sih, cuma Bi Inah baru lihat." Kata Bi Inah yang membuat mereka tertawa.

 Di ruang makan, Pradipta sudah menunggu sambil membaca koran. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Danendra dan Niken datang bersama sambil membawa minuman masing-masing.

 "Pagi," sapa Pradipta penuh semangat.

 "Pagi, Yah." Jawab Danen yang langsung disusul oleh Niken.

 "Pagi, Ayah."

 Mereka lalu duduk santai, menunggu Bi Inah selesai memasak dan menyajikan sarapan sambil menikmati minum hangat mereka masing-masing.

 Tak lama kemudian, setelah Bi Inah meletakkan hidangan di atas meja, terdengar langkah kaki Ratih menuruni tangga. Wanita itu berjalan anggun menuju ruang makan dengan wajah yang sulit ditebak. Tatapannya langsung tertuju pada Danendra dan Niken yang duduk berdampingan.

 Danendra yang semula hendak mengambilkan piring untuk Niken, spontan menghentikan gerakannya.

 "Selamat pagi, Bu," sapa Niken sambil berdiri.

 "Pagi."

 Ratih menjawab singkat, lalu menuangkan teh ke dalam cangkirnya tanpa banyak bicara, kemudian duduk di kursi paling ujung di dekat Pradipta.

 Setelah Bi Inah selesai menyajikan semua hidangan, mereka pun mulai bersarapan. Ratih melihat Danendra mendorong piring lauk lebih dekat ke arah Niken agar lebih mudah dijangkau. Ia juga melihat putranya menuangkan air minum ke gelas Niken yang masih kosong.

 "Terima kasih, Mas." Ucap Niken yang dijawab anggukan serta senyum kecil oleh Danendra.

 Tangannya yang hendak mengambil sayur berhenti di udara, ketika Niken menyadari tatapan Ratih yang agak sinis. "Maaf, Bu, saya ambil duluan."

 Ratih mengangguk pelan. "Iya."

 Niken beberapa kali menundukan kepala, seolah takut melakukan sesuatu yang dianggap kurang sopan, terlebih ibu mertuanya memang lebih banyak diam karena belum begitu mempercayainya.

 Danendra menyadari kegelisahan istrinya, kemudian ia berbisik pelan tanpa menarik perhatian siapa pun. "Jangan tegang. Makan saja."

 Niken mengangguk kecil. "Baik, Mas."

 Bisikan singkat itu tidak luput dari pengamatan Ratih, ia memandang putranya beberapa detik, namun memilih tidak mengatakan apa-apa.

 Sementara Pradipta tersenyum sendiri melihat tingkah mereka, kemudian sengaja mengalihkan pembicaraan. "Danen, hari ini apa rencanamu?"

 Danendra menelan suapan terakhirnya sebelum menjawab. "Pagi ini ada rapat dengan tim operasional. Setelah itu aku meninjau pembangunan area glamping."

 Pradipta mengangguk pelan. "Bagaimana progresnya?"

 "Hampir selesai, Yah. Tinggal menyempurnakan beberapa gazebo dan jalur pejalan kaki. Kalau cuaca mendukung, bulan depan sudah bisa dibuka."

 "Wah, bagus." Pradipta tampak puas mendengarnya, "lalu area edukasi untuk anak-anak?"

 "Sudah mulai ditanami sayuran musim panen. Kebun stroberi juga sedang dipersiapkan. Insyaallah akan segera siap menerima kunjungan dari sekolah."

 Mendengar itu, Niken tanpa sadar ikut tersenyum.

 "Niken." Panggil Pradipta setelah menangkap ekspresi menantunya itu.

 "Iya, Ayah?"

 "Nanti kalau sudah dibuka, ajak anak-anak dari sekolahmu berkunjung. Karena kami juga akan mengenalkan pertanian sejak dini."

 Matanya langsung berbinar. "Baik, Yah."

 Niken lalu menoleh ke arah Danendra. "Mas, anak-anak pasti senang sekali," katanya yang dijawab anggukan oleh Danendra.

 "Makanya aku ingin kamu melihat langsung tempatnya."

 Ratih yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bicara. "Danen."

 "Iya, Bu."

 "Kamu yakin tidak mengganggu pekerjaanmu kalau harus antar jemput Niken setiap hari?"

 Nada bicaranya terdengar datar, tetapi cukup membuat suasana menjadi hening, meski begitu Danendra hanya menatap ibunya dengan tenang.

 "Tidak, Bu. Selama masih bisa kuatur waktu. Kalau ada rapat atau urusan mendadak, baru sopir yang menjemput."

 "Ibu cuma tidak ingin, urusan rumah membuat pekerjaanmu terbengkalai."

 "Ratih." Sahut Pradipta, "antar jemput istri itu bukan pekerjaan tambahan, tapi itu bagian dari tanggung jawab suami."

 Kalimat itu membuat Ratih terdiam, ia tidak membantah perkataan suaminya.

 Danendra melirik Niken sekilas, perempuan itu tampak menundukkan kepala, mungkin karena merasa pembicaraan itu berkaitan dengannya. Lalu tanpa berpikir panjang, Danendra berkata pelan. "Niken tidak pernah meminta aku mengantar atau menjemputnya, tapi aku sendiri yang ingin."

 Niken langsung memandang suaminya, tatapan mereka bertemu sesaat yang membuat sudut bibir Niken langsung terangkat ke atas. Begitu juga dengan Pradipta, ia pun ikut mengulum senyum saat melihat ekspresi keduanya. Lain dengan mereka, Ratih justru hanya diam.

 "Pertahankan," ucap Pradipta. "Karena rumah tangga yang baik dibangun dari perhatian-perhatian kecil seperti ini."

 Danendra mengangguk mantap. "InsyaAllah, Yah."

 Di ujung meja, Ratih hanya menghela napas. Meski belum sepenuhnya luluh, namun tatapannya kepada Niken kini tidak lagi setajam sebelumnya. Sedikit demi sedikit ia mulai melihat bahwa kehadiran Niken bukanlah penghalang bagi putranya.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!