"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tarikan nafas
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden memperlihatkan kekacauan di dalam kamar tidur mereka. Aratala mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang menerpa wajah, hingga kesadarannya perlahan kembali bersamaan dengan rasa nyeri hebat yang langsung menghantam sekujur tubuhnya.
Belum sempat ia sepenuhnya mengumpulkan tenaga, sebuah suara berat dan hangat menyapanya begitu dekat.
"Hei... sudah bangun?"
Aratala terkesiap hebat. Tepat beberapa sentimeter di depan wajahnya, Elio tengah berbaring miring dengan kepala menopang tangan. Pria itu menatapnya lekat, menampilkan senyuman tipis yang terasa begitu kontras dengan sifat dingin dan beringasnya semalam.
Seketika, memori tentang apa yang terjadi semalam menyeruak di kepala Aratala. Kepanikan langsung merayap saat ia menyadari bahwa dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut tipis tersebut. Dengan gerakan terburu-buru, Aratala mencoba bangkit, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya nyaris mengaduh. Ia buru-buru menarik selimut itu hingga sebatas dada, mendekapnya erat-erat sambil menatap Elio dengan mata yang menyiratkan kemarahan terselubung.
Elio tidak bergerak dari posisinya. Pria itu justru semakin memajukan wajah, menikmati reaksi defensif istrinya dengan tatapan yang menyiratkan rasa puas yang mendalam. Jari-jarinya yang panjang terulur begitu saja, dengan santai menyelipkan beberapa helai rambut Aratala yang berantakan ke belakang telinga gadis itu.
"Jangan bergerak terburu-buru, Tala," suara Elio terdengar lembut, namun mengandung perintah mutlak yang tak terbantahkan. "Tubuhmu butuh istirahat setelah apa yang kita lewati semalam."
Aratala semakin mengeratkan dekapannya pada selimut, menepis tangan elio dengan gerakan cepat penuh ampunan yang tertahan.
"Jangan sentuh aku..." suara Aratala bergetar hebat, parau dan nyaris tak berbentuk akibat tangisan panjang semalam. Ia menatap tajam pria di hadapannya, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga diri yang tersisa di atas ranjang tersebut. "Lepasin aku,pa Elio. Sesuai perjanjian kita... kita cuma terikat kontrak. Kamu tidak berhak memperlakukanku seperti ini! ini salah"
Mendengar kata-kata itu, senyuman hangat di wajah Elio perlahan memudar, berganti dengan kilatan gelap yang dingin dan berbahaya. Pria itu mengubah posisinya, kini mencondongkan tubuh sepenuhnya untuk mengurung Aratala di bawah kukungannya, memastikan gadis itu tidak memiliki ruang sedikit pun untuk menghindar.
" Kita lihat saja nanti, soal jadwal pagi ke kampus aku sudah minta izin pada pa Irwan bahwa kamu ga bisa hadir karna sakit.
Jemari Elio kembali terulur, kali ini mencengkeram dagu Aratala dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam maniknya yang menghitam.
"Pak Irwan tidak akan mendengarkan alasan apa pun selain dariku, Aratala," bisik Elio tepat di depan bibir istrinya, suaranya terdengar tenang namun mutlak. "Jadi, simpan tenaga dan suaramu. Hari ini, kamu tidak pergi ke mana-mana. Kamu tetap di sini, di bawah pengawasanku."
Aratala memalingkan wajahnya
Gerakan menepis itu membuat cengkeraman Elio terlepas dari dagunya. sebelum Aratala sempat menarik wajahnya lebih jauh, pandangan pria itu teralihkan pada satu detail kecil di atas seprai kusut yang mereka tiduri.
Beberapa bercak merah kecokelatan yang tertinggal di atas kain putih bersih itu tertangkap oleh penglihatan Elio. Sudut bibir pria itu terangkat semakin tinggi, membentuk sebuah seringai kepuasan yang telak dan mutlak.
"Dan aku senang..." bisik Elio dengan nada rendah yang sarat akan kemenangan, "...saat tahu kamu masih sepenuhnya milikku dari awal."
Pandangan Elio beralih kembali menatap manik mata Aratala yang kini membelalak ngeri, menyadari ke arah mana tatapan suami kontrak nya tertuju. Bagi Elio, noda kecil itu bukan sekadar bukti dari malam pertama mereka, melainkan stempel kepemilikan yang semakin mengikat Aratala dalam jerat kuasanya, memastikan gadis itu tak akan pernah bisa lepas dari genggamannya.
"Minggir, Pa. Aku mau mandi," ucap Aratala dengan suara yang bergetar hebat, mencoba menyembunyikan rasa sesak dan air mata yang mendesak di pelupuk matanya.
Namun, Elio sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru semakin merapatkan tubuhnya, menjadikan dadanya sebagai dinding kokoh yang menghalangi jalan Aratala untuk turun dari ranjang. Tatapan mata Elio menyipit tajam, menilai setiap inci ketegaran palsu yang coba ditunjukkan oleh istrinya.
"Mandi?" ulang Elio dengan nada rendah yang terdengar mengejek. "Dengan kondisi fisikmu yang masih gemetar begitu, apa kamu yakin bisa berdiri sendiri di kamar mandi, Tala?"
Tanpa menunggu jawabannya, Elio langsung meraup tubuh Aratala—mengabaikan pekikan kaget dan protes tertahan dari gadis itu—lalu membopongnya begitu saja menuju kamar mandi, memastikan istrinya tidak memiliki kendali sedikit pun atas tubuhnya sendiri pagi ini.
Suara air yang mulai mengalir dari pancuran kamar mandi terdengar memecah keheningan, tetapi tidak mampu meredam debar jantung Aratala yang berpacu kencang dalam kepanikan. Gadis itu terkesiap saat tubuhnya didudukkan di atas kursi kayu kecil tepat di dekat area basah, sementara Elio berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sama sekali tidak mengendurkan dominasinya.
"Jangan bertingkah macam-macam, Aratala," ujar Elio dingin, jemarinya terulur mulai membuka lilitan selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Kamu hanya perlu duduk diam dan biarkan aku mengurusmu."
Aratala menggeleng cepat, mencoba menepis tangan suaminya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Aku bisa sendiri, pa Elio! Jangan sentuh aku!" bentaknya, meski suaranya terdengar parau dan nyaris tenggelam oleh deru air.
penolakan itu diabaikan begitu saja. Elio meraih gagang pancuran, membiarkan air hangat mengguyur tubuh mereka berdua di dalam bilik kaca yang sempit itu. Pria itu mengambil spons mandi, lalu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat dan penuh kendali, ia mulai membersihkan sisa-sisa malam panjang dari kulit Aratala—sebuah bentuk perhatian yang terasa begitu menyesakkan karena dibungkus oleh cengkeraman kekuasaan yang mutlak.
Aratala refleks Kedua tangannya disilangkan di depan dada, berusaha menutupi diri dari tatapan tajam sang suami, sementara kakinya dirapatkan erat-erat seolah ingin menciptakan benteng pertahanan terakhir terhadap dominasi pria di hadapannya.
Gerakan defensif itu dilakukan, di mata Elio, gestur tersebut sama sekali tidak terlihat sebagai sebuah perlawanan yang berarti. Sebaliknya, hal itu justru memancing seringai tipis yang sarat akan rasa memiliki yang semakin tak terbendung.
Pria itu sama sekali tidak berniat meredam kuasanya. Dengan satu gerakan tangan yang tenang namun tegas, Elio meraih pergelangan tangan Aratala, lalu menariknya perlahan hingga pertahanan rapuh itu runtuh seketika di bawah cengkeramannya.
"Tidak ada yang perlu kamu tutupi dariku, Tala," bisik Elio tepat di depan telinga istrinya, suaranya terdengar begitu rendah, menghanyutkan, sekaligus mengunci mati setiap ruang gerak yang tersisa.
Air hangat dari pancuran terus mengalir, membasahi sekujur tubuh Aratala yang masih duduk kaku di atas kursi. Setiap sentuhan spons di kulitnya terasa begitu kontras—lembut namun sarat akan kekuasaan yang membuat gadis itu merasa seolah tak punya ruang untuk bernapas.
Elio melangkah lebih dekat, menempatkan kedua tangannya di sisi kursi untuk mengurung tubuh Aratala sepenuhnya di bawah terjuran air. Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napas panasnya bercampur dengan uap air kamar mandi.
"Jangan membangkang, Tala," bisik Elio rendah, suaranya terdengar begitu tenang "Semakin kamu melawan, semakin aku memastikan kamu tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari kamar ini."
Aratala hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahnya hingga pucat demi menahan isak tangis yang mendesak keluar. Dengan sisa harga diri yang diinjak-injak, ia terpaksa membiarkan suaminya merampas seluruh kendali atas tubuh dan kebebasannya pagi itu.
Air hangat yang terus mengguyur tubuh mereka seolah tak mampu melunturkan ketegangan yang mendinding di dalam bilik kamar mandi tersebut. Aratala terkesiap saat pergelangan tangannya ditarik dengan mudah, membuat pertahanan terakhirnya runtuh tanpa bisa ia cegah.
Elio membiarkan tangan istrinya terlepas, namun tatapan pria itu sama sekali tidak beralih dari lekuk tubuh Aratala yang sepenuhnya terekspos di bawah pengawasannya. Alih-alih merasa iba melihat tubuh mungil itu bergetar hebat akibat dingin dan tekanan mental, Elio justru semakin mendekat, menempelkan telapak tangannya yang hangat langsung pada permukaan kulit Aratala.
"Tubuh ini milikku, Aratala," ucap Elio dengan nada rendah yang mutlak, ibu jarinya mengusap lembut namun tegas pada rahang istrinya yang menegang. "Setiap jengkalnya, setiap napas yang kamu ambil sekarang... semuanya hanya ada karena aku mengizinkannya."
Aratala hanya bisa memalingkan wajah, membiarkan air mata bercampur dengan percikan air shower di pipinya. Rasa putus asa menyelimuti dadanya, menyadari bahwa jerat sang suami telah menutup rapat setiap celah kebebasan yang tadinya ia yakini masih ia miliki.
🌴🌴🌴
Selesai dengan ritual pembersihan yang terasa bagaikan siksaan psikologis bagi Aratala, Elio akhirnya mematikan aliran air dari pancuran. Suasana kamar mandi mendadak berubah hening, menyisakan deru napas keduanya yang berkejaran dengan uap air hangat.
Tanpa memberi kesempatan pada Aratala untuk bergerak sendiri, Elio kembali membungkus tubuh istrinya yang basah dan menggigil ke dalam handuk tebal, lalu membopongnya keluar menuju ranjang. Di atas seprai kusut yang masih menyisakan bercak noda kepemilikan semalam, Elio meletakkan gadis itu dengan hati-hati—seperti memperlakukan barang berharga miliknya yang paling rapuh.
Pria itu kemudian menyambar handuk kering lainnya, mulai mengeringkan rambut Aratala dengan gerakan telaten yang kontras dengan sikap otoriternya.
"Jangan coba-coba memikirkan pakaian kantormu, Tala," ucap Elio di sela-sela kegiatannya, suaranya terdengar mutlak tanpa celah negosiasi. "Aku sudah menyiapkan pakaian yang pantas untukmu kenakan hari ini. Tetaplah di atas tempat tidur sampai aku kembali dengan sarapanmu."
Aratala hanya bisa menatap sebal punggung Elio yang melangkah pergi meninggalkan kamar tidur, meninggalkan dirinya seorang diri di atas ranjang.
Dengan tangan yang sedikit dihenakan Aratala meraih kemeja longgar bersih yang telah disiapkan di atas nakas oleh suaminya.
baju apaaan sih ini batin aratala.
Kain katun lembut itu terasa begitu kontras dengan panasnya amarah dan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tidak ada pilihan lain; ia mengenakannya dalam diam.
Beberapa menit kemudian, suara kunci berputar kembali. Elio masuk membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Pria itu menatap Aratala yang kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan pandangan kosong.
"Makan," perintah Elio singkat, duduk di tepi ranjang dan membawa mangkuk tersebut tepat di hadapan Aratala. "Jangan membuatku harus menyuapimu sendiri, Tala."
" ikh geer siapa juga yang mau di suapi bapa "
🌴🌴🌴