NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam panas 2

" ahhhh "

Pekikan tertahan langsung lolos dari bibir Aratala ketika tangan besar Elio, tanpa aba-aba, meremas dada ranumnya yang terbalut kain tipis. Cengkeraman itu terasa begitu pas dan mutlak, menenggelamkan bentuk payudaranya di dalam genggaman hangat sang suami.

"Eghh—! S-Sialan...!" Aratala mendesis putus asa, punggungnya melengkung ke atas secara refleks karena terkejut luar biasa.

Sentuhan langsung yang begitu intens itu membuat seluruh aliran darah di tubuhnya berdesir hebat, mengirimkan sengatan kenikmatan sekaligus kepanikan yang teramat sangat. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi, sementara cengkeramannya di seprai kasur sudah sepenuhnya berubah menjadi remasan putus asa. Di bawah dominasi Elio yang kian beringas.

Sentuhan telak di dadanya membuat Aratala benar-benar kehilangan sisa-sisa kewarasannya. Ia tersenggak hebat, kepalanya menengadah dengan napas yang terputus-putus, sementara bibirnya terbuka demi meraup oksigen yang mendadak terasa begitu tipis di dalam ruangan itu.

Elio sama sekali tidak memberi ampun. Gerakan tangan pria itu di balik kain tipis dress polkadot tersebut semakin menuntut, meremas dan membentuk tekstur lembut di dalam genggamannya.

"Pa... ah... please..." rintih Aratala pecah, suaranya berubah menjadi desahan putus asa yang lolos begitu saja dari bibirnya. Air matanya terus meleleh, tetapi tubuhnya justru berkhianat, merespons setiap sentuhan itu dengan kebasahan dan debar yang kian menggila di dalam dadanya.

"Lepasin"

"Nggak akan," geram Elio rendah, suaranya terdengar serak dan nyaris tak berbentuk di dekat kulit leher Aratala.

Pria itu sama sekali tidak berniat mengendurkan cengkeramannya. Alih-alih melepaskan, Elio justru semakin menindih tubuh gadis itu dengan penuh dominasi. Bibirnya kembali membungkam bibir Aratala dalam sebuah ciuman menuntut yang meredam sisa-sisa protes dan isakan tertahan, memaksa gadis itu untuk sepenuhnya menyerah dan tenggelam dalam pusaran emosi yang mereka ciptakan sendiri.

Ciuman Elio berubah menjadi semakin menuntut dan liar, melumat bibir Aratala tanpa memberikannya celah sedikit pun untuk bernapas. Di saat bersamaan, kedua tangan besar pria itu tidak berhenti bergerak di dada Aratala, meremas dan memijatnya dengan ritme konstan yang kian cepat dan menenggelamkan.

"Hmmpgh—!" Aratala meronta lemah, dadanya kian turun naik dengan liar di dalam rengkuhan sang suami. Setiap remasan berirama itu menghantam kesadarannya bagai hantaman bertubi-tubi, memicu gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat pertahanan terakhirnya hancur lebur tak bersisa.

"Emmhh... stop, pa Elio..." rintihan itu terdengar semakin parau dan patah di tengah ciuman mereka yang kian mendalam. Namun, desakan fisik yang diberikan pria itu justru semakin membakar habis sisa pertahanan Aratala, memaksanya untuk pasrah, menyesakkan sekaligus memabukkan.

Rasa sakit yang tajam seketika merobek ciuman menuntut itu. Elio mendengus tertahan, refleks menarik sedikit wajahnya ke belakang saat bibir bawahnya merasakan gigitan yang cukup keras dari Aratala hingga mengecap sedikit rasa amis darah.

Manik mata Elio langsung menajam, memelototi sang istri dengan kilatan amarah yang kian membara akibat perlawanan mendadak tersebut. Cengkeramannya di dada Aratala mengencang sejenak, menghukum tindakan nekat gadis itu.

"Berani kamu melawan, Tala?" desis Elio berbahaya, rahangnya mengeras tegas sementara ibu jarinya dengan kasar mengusap sisa darah tipis di bibirnya sendiri. Namun, tatapan lapar di mata pria itu sama sekali tidak surut—ia justru semakin terlihat tertantang oleh gigitan kecil yang baru saja dilayangkan sang istri.

" Bapa kita ini cuma nikah kontrak " ucap aratala nafasnya masih memburu

"Nikah kontrak?" ulang Elio dengan nada mengejek, suaranya terdengar dingin dan mengiris di tengah napas mereka yang memburu.

Pria itu mendekatkan wajahnya kembali, matanya menatap tajam manik mata Aratala yang basah oleh air mata ketakutan. Cengkeraman tangannya di dada Aratala tidak sedikit pun melonggar, justru semakin menekan kuat seolah menegaskan batasan mutlak di antara mereka.

"Kamu pikir pernikahan ini semainan, Tala? Kamu pikir semudah itu keluar dari sini setelah semua yang kamu lakukan?" bisik Elio tajam, ibu jarinya beralih mengusap kasar bibir bawah Aratala yang basah. "Kita terikat, dan kamu cuma milik saya sampai saya sendiri yang mutusin sebaliknya. Paham?"

"aku harus kuliah besok, lepasin"

"Biarin," balas Elio pendek tanpa keraguan sedikit pun, suaranya terdengar mutlak dan tak bisa diganggu gugat.

🌴🌴🌴

Pria itu sama sekali tidak memedulikan alasan atau isakan ketakutan yang keluar dari bibir istrinya. Sebaliknya, Elio kembali merapatkan jarak di antara mereka, membuat tubuh Aratala semakin terkunci rapat di bawah kukungannya. Tangan besarnya yang tadi sibuk menuntut kini beralih meluncur ke tengkuk Aratala, mencengkeramnya dengan erat untuk memastikan gadis itu tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk memalingkan wajah atau menghindar.

"Besok atau lusa, urusan kuliah kamu bukan prioritas saya malam ini," desis Elio rendah tepat di depan bibir Aratala, tatapannya menyiratkan dominasi penuh yang membuat nyali gadis itu semakin ciut. "Fokus kamu sekarang cuma satu: saya."

Isakan Aratala pecah semakin deras, bahunya bergetar hebat di bawah kungkungan mutlak sang suami. Air mata yang tumpah ruah itu tidak lagi mampu meluluhkan ketegaran Elio, justru semakin memancing sisi gelap dan posesif dari dalam diri pria tersebut.

"Jangan menangis untuk hal yang tidak bisa kamu ubah, Tala," bisik Elio dingin, sebelum kembali membungkam bibir gadis itu dengan ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut, menelan seluruh isakan dan protes yang tersisa di malam yang semakin panas itu.

Puas membungkam isakan istrinya, Elio sedikit melonggarkan ciuman mereka, membiarkan Aratala menghirup udara malam yang mendadak terasa begitu berharga. Namun, belum sempat gadis itu memulihkan napasnya yang tersengal, tangan Elio kembali bergerak liar—membawa telapak tangan besarnya menelusuri lekuk pinggang Aratala, merayap turun untuk menyingkap kain tipis dress yang membalut tubuh gadis itu, menuntut penyerahan yang lebih mutlak lagi dari malam yang panjang ini.

"Jangan... please, pa Elio..." isak Aratala semakin tak beraturan, jemarinya yang lemas mencengkeram erat bahu suaminya dalam gestur putus asa yang menyatu antara menolak dan memohon.

Sentuhan jemari Elio yang kian berani menelusuri bagian dalam pahanya membuat tubuh Aratala menegang hebat, mengirimkan kejutan listrik yang melumpuhkan seluruh logika. Pria itu sama sekali tidak memedulikan gemetar ketakutan di tubuh istrinya; tatapannya justru semakin gelap, dipenuhi oleh api posesif yang menuntut kepemilikan utuh tanpa syarat.

"Jangan panggil saya begitu, dan jangan pernah coba-coba menahan saya, Tala," desis Elio tajam, suaranya terdengar menggeram rendah di dekat telinga istrinya.

Dengan sebelah tangannya, Elio dengan mudah melepaskan cengkeraman Aratala dan menguncinya erat di atas kepala gadis itu, sementara tangan bebasnya kembali melanjutkan niatnya tanpa ampun.

Udara malam di dalam kamar itu terasa semakin menyesakkan, berpadu dengan aroma asing dan deru napas yang memburu tanpa henti. Di bawah pencahayaan lampu tidur yang temaram, tubuh Aratala sepenuhnya terekspos tanpa perlindungan, meninggalkan gadis itu dalam kerentanan yang paling mutlak di hadapan suaminya.

Aratala meringkuk kecil, mencoba menutup tubuhnya yang gemetar hebat dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, namun gerakan itu langsung diredam oleh Elio. Pria itu menepis tangan istrinya dengan mudah, membiarkan matanya menatap tajam seluruh pemandangan di bawahnya dengan kilatan mata yang kian gelap dan liar.

"Cantik," bisik Elio serak, suaranya berubah menjadi geraman rendah yang sarat akan nafsu dan kepemilikan yang tak terbendung.

Tanpa memberikan waktu bagi Aratala untuk menarik napas atau meratapi nasibnya, Elio merapatkan tubuhnya, memusnahkan jarak terakhir di antara mereka dan menenggelamkan isakan terakhir istrinya ke dalam sentuhan yang kian menuntut dan tak kenal ampun.

"Jangan... kumohon,." bisik Aratala parau, suaranya hampir hilang tersangkut di tenggorokannya yang tercekat akibat tangisan panjang.

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan liar di atas bantal, mencoba merapatkan kedua kakinya dalam gestur pertahanan terakhir yang sia-sia. Namun, di bawah berat tubuh Elio yang mengunci pergerakannya, pertahanan itu runtuh dalam sekejap.

Elio sama sekali tidak mengindahkan permohonan tersebut. Dengan satu sentakan tangan yang tegas dan mutlak, pria itu memaksa membuka ruang di antara kedua kaki istrinya. Matanya menatap tajam tanpa ampun pada kepasrahan mutlak yang terpampang di hadapannya, sebelum akhirnya ia menenggelamkan diri sepenuhnya ke dalam pelukan malam yang menuntut itu.

" ahhhhh....hemmmm"

Pepekikan tertahan itu lolos begitu saja dari bibir Aratala, berpadu dengan suara isakan yang langsung terputus tatkala rasa sakit yang luar biasa menghantam tubuhnya secara telak. Sensasi penuh dan menyesakkan itu merayap naik, membuat seluruh otot di tubuh Aratala serta-merta menegang kaku di bawah kungkungan suaminya.

Elio menghentikan gerakannya sesaat, membiarkan napas mereka saling beradu dalam keheningan malam. Pria itu menunduk, memperhatikan wajah istrinya yang berkerut menahan sakit dengan air mata yang kembali tumpah ruah membasahi pipi. Alih-alih melunak, rahang Elio justru mengeras, menikmati setiap detik ketidakberdayaan yang terpampang jelas di hadapannya.

"Relaks, Tala," bisik Elio rendah, suaranya terdengar serak dan mengintimidasi tepat di telinga gadis itu. "Jangan dilawan... biarkan tubuh kamu menerima saya."

Tanpa menunggu persetujuan atau jeda bagi Aratala untuk beradaptasi, Elio kembali menghujamkan tubuhnya perlahan namun pasti, menuntut penyerahan mutlak hingga pertahanan terakhir gadis itu benar-benar runtuh tak bersisa.

Refleks pertahanan Aratala yang mencoba merapatkan kembali kakinya langsung dipatahkan dengan mudah oleh gerakan tangan Elio yang cepat dan tanpa kompromi. Pria itu menepis paha istrinya, membuka ruang di antara mereka dengan paksa.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Aratala untuk menarik diri, Elio mengangkat sedikit pinggul gadis itu dan dengan cekatan menyelipkan sebuah bantal tebal tepat di bawah bokongnya. Posisi itu membuat tubuh Aratala semakin terangkat, terekspos sepenuhnya tanpa ada tempat untuk bersembunyi atau mengurangi sudut penetrasi.

"Jangan ditutup, Tala," desis Elio rendah, suaranya sarat akan dominasi mutlak yang membuat darah Aratala berdesir dalam ketakutan. "Biarkan saya melihat kamu sepenuhnya milik saya malam ini."

Dengan posisi yang kini sepenuhnya mengunci dan terekspos itu, Elio kembali merangsek maju. Sudut penetrasi yang semakin dalam membuat Aratala terkesiap hebat, pekikan tertahannya kembali lolos bersamaan dengan air mata yang tumpah semakin deras membasahi wajahnya.

Pria itu tidak lagi memberi ampun. Setiap dorongan yang diberikan terasa begitu berat dan menuntut, menghancurkan sisa-sisa pertahanan fisik Aratala hingga gadis itu merasa seluruh dunianya berputar dalam pusaran rasa sakit dan sentuhan yang membakar. Di bawah kungkungan mutlak itu, Aratala hanya bisa membiarkan tubuhnya diombang-ambingkan oleh ritme ganas sang suami, menyerah sepenuhnya pada takdir malam yang tak kenal belas kasihan.

Gerakan Elio terhenti sesaat ketika ia merasakan dinding otot istrinya yang masih terlampau tegang dan mencengkeram erat. Pria itu mendengus pelan, menarik napas dalam-dalam untuk meredam gejolak yang kian mendesak, sebelum akhirnya memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari pelukan tubuh Aratala.

Aratala langsung terkesiap, meringkuk lemas dengan napas yang memburu dan air mata yang terus meleleh di pipinya. Rasa perih yang luar biasa masih mendera tubuh bagian bawahnya, membuat gadis itu tak sanggup bergerak sedikit pun dari posisinya di atas bantal.

Tanpa membuang waktu, Elio bangkit setengah badan. Tangannya terulur meraih laci nakas di samping tempat tidur, mencari sesuatu di dalam keremangan cahaya kamar sebelum akhirnya kembali menghadap istrinya dengan benda yang ia butuhkan di dalam genggaman.

Aratala tersentak hebat begitu sensasi dingin yang kontras menyentuh kulitnya yang sedang meradang. Gadis itu kembali merintih pelan, berusaha menjauhkan diri saat jari-jari Elio yang dingin mulai meratakan cairan pelumas tersebut ke area yang paling sensitif.

🌴🌴🌴

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!