" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Kesalahpahaman
Sean tidak berkomentar apa-apa, malah dia duduk di kursinya dan kembali membakar satu batang rokok dan menghisapnya di depan Ara.
Ara berdiri mematung menatap Sean yang duduk terus menghisap rokok berulang kali dan Ara juga tidak mengerti kenapa Sean begini, bahkan dia tidak menjawab telepon Ara sejak semalam.
"Ayang, udah," kata Ara dengan suara kecil hampir menangis melihat Sean yang terus menghisap rokok hingga membuat Ara khawatir dengan kesehatannya.
Prangggg.
Ara yang sudah menangis itu langsung mengambil dan melempar sebotol bir yang dikeluarkan Sean dari bawah mejanya yang sudah habis seperempat botol.
Sean menatap sebotol bir yang sudah pecah di lantai karena dipecah Ara dengan sengaja.
"Ara bilang udah!" teriak Ara memukul Sean dengan kedua tangannya.
"Lepasin, nggak?" Ara benar-benar memukul kepala Sean dengan tangannya agar tidak mempertahankan rokok yang tinggal setengah itu.
Ara merebutnya dari tangan Sean dan menginjak rokok itu sampai hancur.
"Apa yang kamu tangiskan?" pertanyaan Sean yang masih duduk menatap Ara yang berdiri di hadapannya masih menangis.
"Ayang udah nggak sayang Ara?" pertanyaan Ara dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang," jawab Sean singkat.
"Terus kenapa udah nggak peduli pada kesehatan sendiri?" pertanyaan Ara menatap rokok dan pecahan sebotol bir di atas lantai.
"Ayang kenapa?" pertanyaan Ara melihat wajah tanpa ekspresi Sean.
"Kenapa dari semalam nggak jawab telepon Ara?" tanya Ara lagi yang masih tidak paham apa yang membuat Sean seperti ini.
"Pulanglah," kata Sean yang tidak ingin berantem dengan Ara karena emosinya sangat tidak stabil sejak semalam.
"Ayang ngusir Ara?" tanya Ara mengusap air matanya.
"Iya, pergilah temui dosen kesayangan kamu itu," ketus Sean yang tak bisa lagi mengendalikan perasaannya.
"Keluar dari ruanganku," perintah Sean ketika melihat Ara malah tersenyum tanpa ada rasa bersalahnya.
"Mmm, nggak mau," kata Ara malah duduk di pangkuan Sean.
"Aku bilang keluar," kata Sean dengan tegas tidak mau menatap Ara sekalipun duduk di pangkuannya.
"Tidak, Ara mau peluk Ayang," kata Ara dengan manja melingkarkan kedua tangannya di leher dan bersandar ke dada bidang Sean.
Sean memegang pinggang Ara yang duduk miring di atas pangkuannya dan mendudukkan Ara di atas meja kerjanya.
"Sudah tidak mencintaiku lagi?" pertanyaan Sean to the point menunduk hingga wajahnya sangat dekat dengan Ara.
"Ara cinta banget sama Ayang," jawab Ara mengecup pipi Sean yang menunduk ke arahnya.
Sean memegang tengkuk Ara dan semakin mendekatkan wajah mereka.
"Jika masih cinta padaku, mengapa dekat dengan pria lain?" pertanyaan Sean lagi.
"Sudah aku katakan jangan dekat-dekat lagi dengannya," suara tegas Sean mencium Ara dengan brutal.
"Ara," Sean tidak membiarkan Ara bicara terus menciumnya tanpa henti.
"Kamu itu milikku, milikku, jangan dekat-dekat dengan yang lain," ucap Sean dengan rasa posesif yang begitu berlebihan.
"Hanya untuk diriku saja!" teriak Sean dengan frustasi mengacak rambutnya ketika emosinya mulai tidak bisa dikendalikan, sementara Ara sudah menangis ketakutan karenanya.
Sean meninju dinding di belakangnya untuk meredam emosi dalam dirinya yang begitu panas membara setiap kali ingat Ara dengan pria itu.
Rasanya Sean ingin mengurung Ara saja agar tidak berinteraksi dengan siapa pun.
.....
Hampir sepuluh menit berlalu, Sean berbalik dan menatap Ara yang duduk di atas meja dengan perasaan menyesal.
Saat Sean bisa mengendalikan emosinya, justru rasa bersalah langsung menghantam relung hatinya karena sudah membuat Ara takut.
"Baby, Aku adalah versi paling berbeda dari Ayahku selama ini, tapi ternyata ketika mencintai seseorang sikapku sama dengannya," ucap Sean yang baru menyadari hal itu.
Sedari dulu Sean selalu benci dan bertanya-tanya mengapa Ayah terlalu posesif sampai mengekang kebebasan Ibu, ternyata sangat menyakitkan melihat wanita yang kita cintai bersama orang lain.
Rasa posesif dan keegoisan dalam diri Ayah perihal cinta rupanya juga menurun pada Sean sampai rasanya Sean akan gila memikirkan Ara bersama orang lain.
"Dengar, Baby, jangan dekat-dekat dengan pria lain apalagi sampai menyukainya, cintai aku saja, Baby," kata Sean seperti orang mabuk memeluk Ara sambil terus mengungkapkan perasaannya.
"Ya, jangan menangis lagi," ucap menghapus air mata Ara.
"Ara mau pulang," mewek Ara.
"Tidak, Baby, kita akan menyelesaikan masalah dulu," kata Sean mengangkat Ara dan membawanya duduk di sofa.
"Ayang jangan marah-marah lagi, Ara takut," ucap Ara ketika Sean mendudukkannya di atas sofa.
"Iya," kata Sean mengatur napas berkali-kali mencoba mengembalikan ketenangan dalam dirinya.
"Kemarin kamu ngapain lagi sama dosen itu?" tanya Sean dengan baik-baik.
"Apa kamu masih menjadi asistennya?" pertanyaan Sean yang diangguki Ara.
"Kemarin Ara ikut seminar," kata Ara.
"Lalu kenapa tidak mengangkat teleponku?" tanya Sean yang menelepon sampai lima kali.
"Ponsel Ara di dalam ransel, jadi nggak kedengaran bunyi," jujur Ara.
"Tapi Ara telepon balik, nggak ada Ayang angkat," sambung Ara yang bahkan sampai pagi ini Sean tidak mengangkat teleponnya.
"Kemarin aku datang ke kampus dan melihat kamu memberikan hadiah pada dosen itu," ucap Sean yang tidak bisa menutupi ekspresi cemburunya.
"Hadiah apa?" bingung Ara yang merasa tidak memberi hadiah pada siapa pun.
"Ara dengar, aku adalah pria dewasa ketika ada masalah dalam hubungan kita, maka aku akan introspeksi diri tentang apa yang kurang dalam diriku hingga kamu mencari lain," ucap Sean mengatakan pilu hatinya.
"Aku bukan ABG labil yang akan tantrum dan mengajak kamu berdebat tentang siapa yang salah, katakan, Baby, kurang aku di mana biar aku berubah. Kamu tidak perlu mencari pria lain lagi," ucap Sean sampai memohon di akhir kalimatnya.
"Ayang, Ara tidak pernah mengasih hadiah apa pun pada siapa pun kemarin," ucap Ara dengan valid setelah mengingatnya.
"Aku melihat kamu memberikan topi pada dosen itu, apa istimewanya dia dariku? Bukankah sejak awal kamu mengejar aku karena cinta?" ucap Sean membayangkan betapa excited-nya Ara selalu memepetnya sejak pertama kali bertemu.
"Lalu setelah berhasil mendapatkan cintaku, kamu malah mencintai pria lain," kata Sean dengan rasa sakit di hatinya.
"Kamu satu-satunya wanita yang berhasil membuat aku jatuh cinta dan satu-satunya wanita yang selalu aku cari dengan penuh kerinduan," pernyataan Sean.
"Ara bukan kasih Pak Arya hadiah, tapi memang itu topinya yang dipinjamkan sama Ara," pengakuan Ara yang bisa menyimpulkan ternyata Sean salah paham padanya.
"Kamu jangan bohong," ucap Sean tidak percaya.
"Astaga, kita bisa menelepon Pak Arya untuk menanyakan jika Ayang tidak percaya," ucap Ara yang membuat Sean terdiam.
"Maafkan aku, Baby, aku tidak seharusnya begitu posesif," ucap Sean minta maaf pada Ara.
"Minta maaf dengan cara yang benar," ucap Ara.