NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:164.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa dihargai : 21

“Hah, kamu bilang apa barusan, Ardan?” Saniya duduk lagi, perkataan balita berbaju tidur gambar Sapi berhasil membuatnya terkejut.

“Papi, aku tu mau adek lima ekol!” Ia memberontak melepaskan belitan tangan ayahnya, dan duduk lagi. Tidak berkeinginan menjawab pertanyaan ibu tirinya.

Yarash membuka mata, sikapnya sangat santai mendengar permintaan si kecil, berbeda dengan Saniya.

“Mau yang ada apanya?” tanyanya menanggapi.

“Ada ekol nya, telus ada antenanya, ada apanya lagi ya …? Diketuk-ketuknya pelipis menggunakan jari telunjuk pendek.

“Sayap lebal sekali, sama kakinya banyak-banyak,” sambungnya antusias.

“Mas, yang dia maksud anak hewan, bukan orang?” Saniya melongo, tiba-tiba otaknya sangat lambat memproses informasi.

Yarash terkikik, merasa lucu mendapati ekspresi Saniya. ‘Ada dia disini, seperti mantra yang dapat menentramkan hati ini.’

“Iya. Kalau si bocil ini ngomong sesuatu, jangan buru-buru ditanggapi sebelum kita paham benar artinya. Jika tidak, bisa masuk perangkap nya,” katanya pelan.

“Papi!” Ardan menarik hidung ayahnya, merasa kesal karena diabaikan.

“Untuk apa adik sebanyak itu, Nak?” suaranya sengau karena hidungnya masih dijepit oleh Ardan.

“Bial cucuku punya teman, jadinya dia ndak stles. Ya Pi, ya?” rayuannya lebih ke pemaksaan.

“Memangnya Ardan tau apa itu stres?” Saniya sudah bisa tenang dari efek kejut barusan.

“Katanya lek Lele, gak punya kawan.” Ardan menoleh ke belakang. “Jawab benel gitu Ibu tili!”

Bukannya merasa terintimidasi oleh mata melotot Ardan, Saniya terkekeh geli. “Gak sepenuhnya benar, tapi ya tidak salah juga.”

Yang ditangkap oleh Ardan, kalimat tidak salah juga, diartikan dia berarti benar.

“Papi! Ayo beli adik lima ekol!” wajah ayahnya kembali diusik.

“Ini udah malam, mana ada yang jual hewan peliharaan seperti kamu ingin, Nak.” Yarash melipat tangan di bawah kepala, dijadikan bantal tambahan.

“Telus kapan dong?”

“Minta izin dulu sama mami Saniya, boleh tidak beli temannya Kecoa,” titahnya lembut.

“Kok sama Ibu tili?” protes Ardan. Biasanya cukup merayu ayahnya, jika tidak juga diizinkan ya tinggal memaksa.

Bukan hanya Ardan yang terkejut, Saniya juga merasakan hal sama. Tidak menyangka dirinya dilibatkan dalam memutuskan hal penting bagi sesuatu yang diinginkan anak suaminya.

'Terima kasih, aku merasa dihargai,' Saniya menunduk, berkata dalam hati saja.

“Ardan ….” ucapnya penuh kasih. “Bisa tidak manggilnya Mami, atau paling gak panggil Tante, jangan Ibu tiri?”

“Ndak boleh,” sahutnya cepat sambil geleng-geleng kepala. Ditatapnya polos mata sang ayah, ada keraguan ketika hendak berucap.

“Siapa yang gak bolehin manggil Mami? Bilang sama Papi, Papi janji gak bakalan marah sama Ardan maupun orang lain. Janji!” Jari kelingkingnya teracung, meyakinkan putranya.

Ardan menautkan jari kelingking mereka, sekarang dia percaya ucapan ayahnya. “Kak Tita suluh panggil Ibu tili, katanya … aku udah punya Mommy Jen.”

Hati Saniya seperti ditusuk duri tak kasat mata, suara bergetar, terbata-bata, dan gesture tidak nyaman Ardan, berhasil menarik rasa empatinya.

Siku Yarash menekan kasur, lalu dia duduk. Sangat lembut memeluk putranya, memberi pengertian sekaligus rasa aman. “Kak Tita sama Papi, kan lebih tua Papi, jadi … yang harus didengar omongannya ya Papi. Ardan mau kan belajar manggil mami Saniya?”

“Nanti nanti aja,” jawab Ardan masih merasa belum aman.

Saniya menggeleng, bibirnya berucap tanpa suara. Terbiasa berinteraksi bersama muridnya, jemari pun bergerak ikut menyuarakan. ‘Jangan dipaksakan, Mas.’

Anggukan pria diiringi senyum lembut. Ia menunduk mencium pucuk rambut harum strawberry. Wangi shampoo kesukaan Ardan.

“Sekarang minta izin dulu sama Mami, boleh gak beli temannya Kecoa,” ia berbisik, menepuk bokong empuk Ardan yang memakai popok.

Ardan turun memutar badan hingga duduk berhadapan dengan Saniya.

“Ibu tili, aku tu mau beli adik lima ekol. Halus boleh, jangan bilang nanti, besok, telus kapan-kapan,” cara memintanya memang beda, belajar dari pengalaman kalau sedang merayu oma dan opa nya yang kerap kali berkata demikian.

Saniya menepuk kasur di sebelahnya. “Kalau mau minta sesuatu, ngomongnya harus gimana bang, Ardan?”

“Tu kan Pi, gak dibolehin,” bola matanya berair, bibir bawah dimajukan, dia siap menangis kencang.

“Mami belum ada bilang gak boleh loh, cuma mengajari Ardan, kalau mau minta sesuatu harus dengan suara pelan, tidak boleh keras-keras seperti tadi,” Yarash menaruh rasa hormat ke Saniya, enggan membela putranya.

“Ibuuuu tiliiii … aku mau beli adik lima ekol. Boleh ya? Kalau ndak boleh nanti tak lempal itu!” Dagunya terangkat, dan terarah ke meja rias terdapat skincare Saniya.

Saniya Syamira melonggarkan kedisiplinan, tak mungkin langsung tegas terhadap Ardan yang memiliki sifat keras kepala.

“Pilih satu saja, Ardan mau hewan apa?”

“Maunya lima bukan satu!” rasa kesalnya langsung mendera. Lirikan mata penuh perhitungan.

Saniya merapikan anak rambut ke belakang telinga, lalu dia duduk tegak dengan kaki tertutup selimut. “Memangnya bang Ardan bisa merawat lima ekor sekaligus?”

“Gak bisa. Kan lek Lele pintal belsihin eek, kasih makan.”

“Kasihan lek Lawi kalau harus merawat banyak-banyak. Nanti gimana semisal lek Lawi sakit, terus siapa yang mau ngurusin hewan peliharaan bang, Ardan?” Saniya memancing kepekaan anak sambungnya.

“Papi!” jawab Ardan tanpa pikir panjang.

Yarash langsung menyahut. “Papi gak suka merawat hewan. Nanti yang ada lupa kasih makan. Apa Ardan mau Kecoa dan teman-temannya kelaparan?”

“Telus siapa, ya …?”

“Ardan kan bisa belajar merawatnya,” Saniya sudah menduga jawaban balita yang duduk sambil berpikir keras mirip orang dewasa.

“Gak mau!” Kepalanya menggeleng. “Aku ndak suka bau eek Colo-colo.”

“Kalau gitu, beli satu dulu. Apa yang paling Ardan mau. Soalnya … gak semua hewan bisa berteman, mereka juga terkadang berantem. Kita coba dekatkan dulu Kecoa sama teman barunya, bisa akur gak mereka,” Saniya menjelaskan dengan nada ramah.

“Bisa ya meleka belantem?”

"Bisa. Sewaktu rebutan makanan, tempat tinggal, dan masih banyak penyebab lainnya. Beli satu dulu ya?”

“Kapan belinya?” secara tidak langsung, dia patuh.

Saniya pun senang, Ardan masih bisa dikasih paham. "Tanya Papi, kan Papi yang bisa nyetir."

"Kapan, Pi?" Ardan langsung menagih.

"Empat hari lagi." Yarash menekuk jari jempol tangan kanannya, lalu yang lain teracung.

"Lama itu. Maunya waktu telang," maksudnya besok pagi, secepatnya.

"Abang ganteng, empat hari sebentar loh," Saniya membantu menenangkan balita menunjukkan tanda-tanda mau tantrum.

Hahaha …. “Papi, Ibu tili bilang aku ganteng.” Dia masih suka tersipu dipuji tampan.

Bibir Yarash terkatup rapat, sementara matanya memandang geli balita yang guling-guling di atas kasur.

Disisi lain, gadis remaja baru saja menggeser layar hijau ponsel terhubung dengan seseorang yang tadi mengabaikan panggilannya sebanyak 7 kali.

“Sayang, maafkan Mommy ya, tadi ada meeting dengan klien. Tatiana … kamu dengar suara Mommy, 'kan?”

.

.

Bersambung.

1
Damn Nwtch
cucumu d hamilin siapa ardan
dewi rofiqoh
Dari salim, ntar ditambah ccium kening ya mas yarash
sutiasih kasih
covernya baru lgi kak cublik....
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
Humaira
yang lalu biarlah berlalu
Ummu Syu'aib
sampulnya yg ini sdh pling bgus masyaAllah
jngn di ganti lg ya kak cublik
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
cover nya sudah di ganti yaa ka cublik... suka yg terbaru cover nyaa... 🥰🥰🥰
Shee_👚
ini bab di hapus apa kak kemaren? buka ada pemberitahuan bab di hapus
Teti Hayati
Suamimu oy.... suamimu.... 🤭🤭
lyani
sdh si skg mah
novel destiny
jangan yaaaa san..
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
KAGET : baru mau buka untuk vote ,ehh ada tulisan novel telah di hapus😱
jumirah slavina: bab d'hapus Kak
total 1 replies
Ray Aza
ga pny email cadangan ya Kak? kl aq semua akun email, sosmed berikutnya passwordnya aq kirim ke email satunya. cm mmg aq bikinnya telat stlh lupa password jg msk ke ig jd msknya jg pakai akun fb. 😅😅😅
putri
aku juga kangeeennn...
dahayu apa kabarrr...
Nita Nita
pasfi nonton drakor dech 😄😄😄🤭
FiaNasa
lobster n rajungan...aq mau Lo yarash dikirimin banyak² pun tak apa🤣🤣🤣
FiaNasa
hp ku pernah kecemplung disungai,,untung cepat tak angkat,,aq ketuk pelan² agar airnya keluar,,Alhamdulillah Sampek skrg masih terpkai😀
Hanima
ok tks
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ardan ampun dah semua propesi hrs mami Saniya bisa 😂😂
Bang Fay
kenapa belum lupa mantan pacar Sania ....
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
done author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!