Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Surat Palsu di Depan Pintu Baja
Surat itu ditempelkan ke kamera gerbang sebelum orangnya mengetuk.
Kertas putih.
Map cokelat.
Stempel merah yang miring sedikit.
Di layar ruang kontrol, Hendra membaca judul besar di bagian atas: Surat Pengambilalihan Sementara Aset untuk Kepentingan Darurat.
Ia hampir tertawa.
Hampir.
Di luar, suhu malam masih 43°C. Lampu mobil hitam menyorot pagar bunker. Udara panas membuat wajah setiap orang tampak mengilap dan lelah, tetapi keserakahan mereka belum ikut melemah.
Manajer Bonar berdiri paling dekat dengan kamera. Kemejanya basah oleh keringat. Tangan kanannya memegang map, tangan kirinya berkali-kali menyeka leher. Ia dulu masuk ke lahan ini sebagai kontraktor yang tersenyum sopan.
Sekarang ia kembali sebagai penunjuk jalan.
Di belakang Bonar, Pak Bahtiar berdiri di bawah payung hitam yang dipegang seorang pria bersenjata. Payung itu tidak banyak berguna melawan panas, tetapi masih berguna untuk menunjukkan siapa yang ingin terlihat lebih tinggi dari orang lain.
Delapan pria lain menyebar di depan gerbang.
Empat membawa senjata api laras pendek.
Dua membawa linggis dan alat potong.
Dua lagi berdiri dekat mobil, menjaga jalan keluar.
Mereka pikir angka di kertas bisa membuka pintu baja tiga puluh sentimeter.
Hendra menyalakan mikrofon gerbang.
"Pak Bonar," katanya pelan, "Anda datang malam-malam membawa rombongan seperti ini untuk apa?"
Bonar mendongak. Begitu mendengar suara Hendra, wajahnya langsung berubah lega. Ia seperti orang yang akhirnya menemukan saklar di ruangan gelap.
"Pak Hendra, syukurlah Anda di dalam." Suaranya dibuat sopan, tetapi napasnya kasar. "Situasi darurat. Kota kacau. Banyak orang butuh tempat perlindungan. Ini ada instruksi sementara dari Pak Bahtiar."
Pak Bahtiar melangkah maju.
Wajah tua itu masih mencoba mempertahankan wibawa, tetapi panas membuat topengnya retak. Kerah bajunya terbuka. Bibirnya kering. Matanya terus melirik dinding beton, pos kecil, dan kamera.
Ia bukan datang untuk menolong warga.
Ia datang karena melihat benteng.
"Hendra Wijaya," ujar Pak Bahtiar. Ia memakai nada rapat resmi, seolah masih duduk di ruangan ber-AC. "Dalam keadaan darurat, aset strategis pribadi dapat dipakai untuk kepentingan umum. Buka gerbang. Kami akan masuk, memeriksa, lalu mengatur penggunaan tempat ini."
Hendra memandang surat di layar.
"Aset strategis pribadi?"
"Gudang pendingin bawah tanah," potong Bonar cepat. "Saya yang membangun, Pak. Saya tahu kapasitasnya. Saya tahu pintu, ventilasi, jalur listrik. Tempat ini tidak bisa dibiarkan dipakai satu orang."
Kalimat itu keluar terlalu lancar.
Berarti ia sudah menyiapkannya sebelum panas mencapai puncak.
Hendra menyandarkan punggung ke kursi kontrol. Di layar samping, kamera termal menampilkan sepuluh titik panas di luar gerbang. Jalan tanah kosong dari orang lain, kendaraan, dan saksi.
Dunia lama sedang padam.
Mereka memilih waktu terbaik untuk merampas.
Dan sekaligus waktu terbaik untuk menghilang.
"Suratnya palsu," kata Hendra.
Pak Bahtiar tertawa pendek. "Kau bukan ahli hukum."
"Tanda tangan hasil pindai. Nomor agenda tidak sesuai format. Stempel miring karena dicetak dari gambar. Dan kantor yang Anda pakai sebagai kop surat sudah mati listrik sejak sore."
Wajah Bonar membeku.
Pak Bahtiar tidak.
Orang seperti dia tidak butuh surat benar. Ia hanya butuh orang lain takut pada surat itu.
"Buka," kata Pak Bahtiar. "Jangan membuat saya mengambil langkah keras."
Hendra menatap mereka satu per satu.
Di kehidupan lalu, hukum tidak runtuh dalam satu hari. Ia retak dulu. Orang kaya membeli jalan. Orang bersenjata menguasai air. Orang yang membawa stempel palsu bicara seperti penyelamat.
Lalu yang lemah mati sambil masih percaya besok ada kantor yang menerima laporan.
Hendra sudah membayar kepercayaan seperti itu dengan empat tahun darah.
Kali ini, tidak.
"Saya buka gerbang luar," katanya.
Bonar langsung menoleh ke Pak Bahtiar. Senyum kecil muncul di ujung bibirnya.
Mereka mengira menang.
Hendra menekan satu tombol.
Gerbang luar bergerak pelan.
Derit motor listrik terdengar di halaman malam. Celah pagar melebar. Udara panas dari luar bergulung masuk ke area lahan seperti napas tungku.
"Masuk," kata Hendra lewat mikrofon.
Pak Bahtiar mengangkat dagu.
Delapan pria bersenjata masuk lebih dulu. Bonar menyusul. Pak Bahtiar masuk terakhir, dilindungi dua orang di kiri kanan. Tiga mobil hitam merayap melewati gerbang.
Begitu mobil terakhir masuk, Hendra menutup gerbang.
Klak.
Kunci magnetik turun.
Di atas pagar, lampu sorot menyala.
Putih.
Terang.
Kejam.
Rombongan itu berhenti di tengah halaman beton. Untuk pertama kalinya, mereka terlihat jelas: sekelompok orang kepanasan yang membawa kertas palsu dan senjata.
Bonar mengangkat tangan ke arah kamera.
"Pak Hendra, kami sudah masuk. Sekarang buka pintu gudang. Jangan salah paham. Ini cuma pengaturan sementara."
"Sementara?" Hendra bertanya.
"Sampai kondisi stabil."
Kondisi tidak akan stabil lagi.
Hendra berdiri.
Ia memakai rompi tipis, sarung tangan kulit, dan pistol dari stok kapal di pinggang. Tetapi ia tahu senjata itu hanya cadangan.
Unsur Logam sudah tuntas.
Tulangnya bukan lagi tulang yang sama.
Ia keluar dari ruang kontrol melalui koridor samping menuju pintu layanan atas yang tersembunyi di balik bangunan gudang. Pintu itu bukan akses utama, hanya celah inspeksi satu orang yang dari luar tertutup panel logam. Bonar tahu denah lama, tetapi tidak tahu Hendra mengubah panel terakhir setelah proyek selesai.
Ketika Hendra muncul di bawah lampu sorot, halaman langsung sunyi.
Bonar menatapnya seperti melihat kesalahan perhitungan yang berjalan dengan kaki sendiri.
"Pak Hendra," katanya, mencoba tersenyum. "Bagus. Kita bicarakan baik-baik."
Pak Bahtiar menunjuk pintu utama bunker.
"Buka."
Hendra berjalan turun ke halaman.
Setiap langkahnya tenang.
"Anda pernah menandatangani pernyataan tidak mengganggu proyek dan aset saya," katanya. "Anak Anda juga."
Wajah Pak Bahtiar mengeras.
"Itu sebelum keadaan darurat."
"Tidak." Hendra berhenti lima meter di depan mereka. "Itu sebelum Anda merasa tidak ada yang bisa menghukum Anda."
Salah satu preman mengangkat pistol.
Gerakannya cepat untuk orang biasa.
Lambat bagi Hendra.
Hendra maju satu langkah.
Tangannya menangkap pergelangan pria itu.
KRAK!
Pistol jatuh ke beton.
Pria itu belum sempat menjerit penuh ketika lutut Hendra menghantam perutnya. Tubuhnya terlipat dan jatuh tanpa suara kedua.
Tujuh orang lain bergerak serentak.
Tembakan pertama meledak.
DOR!
Peluru melewati bahu Hendra karena ia sudah miring setengah langkah. Tembakan kedua menghantam panel baja di belakangnya dan memercikkan api.
Hendra masuk ke tengah mereka.
Tidak ada gerakan indah.
Tidak ada teriakan.
Hanya keputusan yang jatuh satu per satu.
Satu siku patah.
Satu rahang remuk.
Satu dada dihantam sampai napasnya putus.
Linggis mengayun ke kepala Hendra. Ia menangkap batang besinya dengan telapak tangan kosong.
Besi itu berhenti.
Preman yang memegangnya membelalak.
Hendra menarik.
Orang itu terseret maju, lalu pingsan ketika punggungnya menghantam sisi mobil.
Bonar mundur sambil jatuh duduk.
"Tunggu! Pak Hendra! Saya cuma ikut perintah!"
Hendra tidak melihatnya dulu.
Masih ada empat.
Dua mencoba lari ke gerbang. Gerbang tertutup, kunci magnetik aktif, pagar di atas mulai mengalirkan listrik rendah sebagai peringatan. Mereka menempelkan tangan ke besi, lalu tersentak mundur.
Dua lainnya menembak membabi buta.
DOR! DOR! DOR!
Peluru menghantam beton, mobil, tiang lampu.
Hendra mengambil linggis dari lantai.
Satu lemparan.
Linggis itu menghantam tangan penembak pertama dan membuat pistolnya terpental.
Hendra sudah berada di depan penembak kedua sebelum orang itu mengganti arah laras.
Telapak tangannya menekan dada pria itu.
BUKK!
Tubuh itu terlempar ke kap mobil dan tidak bangun lagi.
Dalam waktu kurang dari satu menit, delapan pria bersenjata yang datang untuk merampas benteng sudah tergeletak di halaman.
Lampu sorot masih menyala.
Kamera masih merekam.
Suhu luar masih 43°C.
Pak Bahtiar berdiri kaku di samping mobil kedua. Payung hitamnya sudah jatuh. Wajahnya tidak lagi membawa wibawa. Hanya ada napas pendek dan mata yang baru mengerti bahwa surat palsu tidak bisa menahan tangan orang yang siap hidup tanpa negara.
"Kau..." Suaranya serak. "Kau tahu siapa saya?"
Hendra mengambil map cokelat dari tangan Bonar yang gemetar.
Ia membuka surat itu, membaca sekali lagi, lalu merobeknya di depan Pak Bahtiar.
Sobekan kertas jatuh ke beton panas.
"Saya tahu," kata Hendra. "Itu sebabnya pintu ini tidak boleh jatuh ke tangan Anda."
Pak Bahtiar merogoh saku.
Hendra bergerak lebih dulu.
Ponsel tua keluar dari saku itu, bukan pistol. Layarnya menunjukkan panggilan darurat yang belum tersambung. Sinyal hilang. Jaringan kota lumpuh.
Pak Bahtiar menatap layar kosong itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat benar-benar tua.
"Kita bisa bicara," katanya.
"Anda sudah bicara," jawab Hendra.
Ia menunjuk surat yang sudah robek.
"Dengan itu."
Bonar merangkak mendekat. "Pak Hendra, saya bisa bantu. Saya tahu kontraktor lain. Saya tahu jalur material. Saya bisa perbaiki apa pun. Saya salah, tapi saya berguna."
Hendra menatap Bonar.
Di Bab 8, pria ini tersenyum di depan gambar bunker. Di Bab 15, ia menerima bonus percepatan. Setiap beton, setiap kabel, setiap baut pintu, sebagian lewat tangannya.
Ia tahu terlalu banyak.
Dan ia memilih menjual pengetahuan itu pada malam pertama kiamat.
"Anda memang berguna," kata Hendra.
Mata Bonar menyala sesaat.
"Untuk mengingatkan saya," lanjut Hendra, "bahwa orang yang pernah kubayar pun bisa menjadi celah."
Senyum Bonar mati.
Malam itu, Hendra menutup semua celah.
Tidak ada teriakan yang keluar dari halaman. Pagar beton menahannya. Generator menelan suara kecil. Panas menelan sisanya.
Setelah selesai, Hendra berdiri diam beberapa detik.
Tangannya tidak gemetar.
Itu yang membuatnya berhenti lebih lama.
Di kehidupan lalu, pertama kali ia membunuh manusia, ia muntah di salju sampai tenggorokannya berdarah. Ia gemetar semalaman. Ia terus bertanya apakah masih ada jalan lain.
Sekarang pertanyaan itu datang terlambat.
Karena jawaban sudah ada di halaman.
Jika ia membuka pintu, orang-orang itu akan mengambil bunker.
Jika ia ragu, mereka akan membawa lebih banyak orang.
Jika ia percaya surat, ia akan mati seperti kehidupan lalu: terlalu lama memberi kesempatan kepada orang yang tidak pernah berniat membalasnya.
Hendra menarik napas.
Udara panas masuk ke paru-paru.
Rasa bersalah ada.
Tetapi lebih kecil daripada ingatan mati karena racun.
Ia mulai bekerja.
Senjata dikumpulkan: empat pistol, dua senapan pendek tipe umum, beberapa magasin, pisau lipat, alat potong, dan radio genggam. Semua benda mati itu masuk ke Ruang Penyimpanan setelah ia pastikan tidak ada pelacak aktif yang menyala.
Tiga mobil hitam juga masuk satu per satu.
Ruang Penyimpanan menerimanya tanpa suara.
Yang tidak bisa masuk, ia urus dengan cara lama.
Di belakang lahan, masih ada lubang bekas galian drainase proyek yang belum sepenuhnya ditutup. Hendra menyalakan ekskavator kecil yang dulu dibeli untuk pekerjaan pemeliharaan. Mesin itu meraung pendek di bawah malam panas.
Tanah dibuka.
Tanah ditutup.
Tidak ada nama.
Tidak ada batu.
Hanya satu garis gelap di belakang lahan yang nanti akan tertutup rumput liar bila dunia masih sempat menumbuhkan rumput.
Menjelang dini hari, halaman kembali kosong.
Hendra menyemprot beton, memeriksa rekaman kamera, lalu menyimpan salinan video ke beberapa media penyimpanan. Bukan untuk pengadilan.
Untuk dirinya sendiri.
Ia perlu mengingat malam ini dengan jernih.
Rasa bangga tidak ada di sana.
Karena sejak malam ini, pintu bunker bukan lagi garis antara kaya dan miskin.
Pintu itu garis antara hidup dan mati.
Ia masuk kembali ke ruang kontrol. Suhu dalam bunker tetap 22°C. Di luar, termometer turun sedikit ke 41°C, tetapi udara masih cukup untuk membunuh orang lemah.
Radio darurat hanya mengeluarkan derau.
Tidak ada berita tentang Pak Bahtiar.
Tidak ada pengumuman pencarian.
Tidak ada sirene menuju bukit.
Hendra duduk di depan layar kamera sampai langit mulai pucat.
Ketika matahari naik, kota tidak menjadi lebih hidup.
Ia hanya menjadi lebih panas.
Hari pertama berlalu.
Hari kedua berlalu.
Pada hari ketiga, tidak ada satu pun orang datang mencari rombongan yang hilang.
Dan saat malam ketiga turun, langit yang sudah terlalu lama terbakar akhirnya retak.