Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Saldo 576 Miliar
Pagi setelah insiden HAZE Club, Hendry datang ke Bank Nasional Indonesia dengan pakaian paling biasa yang ia punya.
Kemeja polos. Celana gelap. Sepatu yang sudah lama dipakai.
Bagus menatapnya dari samping mobil. "Pak Hendry yakin tidak mau pakai jas?"
"Aku mau mengurus rekening, bukan menghadiri pesta."
"Tapi orang bank suka jas."
"Kalau mereka hanya menghormati jas, berarti bank ini punya masalah."
Bagus berpikir sebentar, lalu mengangguk seolah mendapat pelajaran besar. "Saya tunggu di luar. Kalau ada yang perlu dipukul, panggil."
"Ini bank."
"Orang sombong ada di mana-mana, Pak Hendry."
Hendry tidak bisa membantah sepenuhnya.
Gedung Bank Nasional Indonesia cabang pusat Kota Biru berdiri tinggi dengan kaca biru dan lantai marmer. Di sisi kanan lobi ada area umum dengan antrean panjang. Di sisi kiri, sebuah pintu kaca bertuliskan `VIP Priority Banking`.
Hendry berjalan ke arah pintu kaca.
Seorang pria muda berjas abu-abu yang berdiri di dekat meja penerima tamu langsung menghalangi dengan senyum profesional yang terlalu tipis.
"Maaf, Pak. Area ini khusus nasabah prioritas."
"Saya mau bertemu manajer VIP."
Pria itu menilai Hendry dari sepatu sampai kerah kemeja. Senyumnya tidak hilang, tetapi matanya sudah berubah.
"Apakah Bapak sudah punya janji?"
"Belum."
"Apakah Bapak membawa kartu priority?"
Hendry mengeluarkan kartu debit hitam polos dari dompet. Kartu itu diberikan Budiman bersama amplop kontak. Tidak ada logo mencolok, hanya chip dan nama Hendry Pratama.
Pria itu mengambilnya dengan dua jari, seperti takut kotor. Ia melihat sebentar, lalu mengembalikan.
"Ini bukan kartu priority cabang kami, Pak. Untuk layanan umum, silakan ambil nomor antrean di sana."
"Saya perlu transaksi besar."
Pria itu tertawa pendek. "Semua orang di sini merasa transaksinya besar."
Beberapa nasabah yang duduk di sofa VIP menoleh. Salah satunya tersenyum geli.
Hendry menatap nama di kartu identitas pegawai pria itu: Doni, VIP Relationship Manager.
"Doni, kau belum mengecek kartu saya."
"Saya sudah cukup sering melihat kartu nasabah besar, Pak." Nada Doni mulai dingin. "Kalau Bapak benar nasabah prioritas, Bapak tidak akan datang tanpa janji, tanpa asisten, dan..." Matanya turun lagi. "Dengan pakaian seperti ini."
Hendry menatapnya selama dua detik.
Lalu ia berbalik ke area umum.
Doni tersenyum puas, seolah baru mengusir gangguan kecil dari ruangannya.
Di antrean biasa, Hendry mengambil nomor dan menunggu. Tidak ada amarah di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat seorang teller perempuan di loket tiga memperhatikannya ketika nomornya dipanggil.
Nama di mejanya: Sherly Puspita.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Sherly bertanya dengan suara ramah yang sedikit lelah.
"Saya ingin cek saldo dan melakukan beberapa transaksi."
"Baik, Pak. KTP dan kartu rekeningnya."
Hendry menyerahkan kartu dan KTP. Sherly mengetik data. Awalnya gerakannya biasa. Lalu layar di depannya berubah.
Jari Sherly berhenti di atas keyboard.
Matanya melebar.
Ia membaca sekali.
Dua kali.
Lalu menelan ludah.
"Pak..." suaranya turun. "Apakah... apakah Bapak Hendry Pratama?"
"Ya."
Sherly menatap layar lagi. Tangannya mulai gemetar.
Di layar internal bank, saldo utama yang muncul bukan jutaan. Bukan ratusan juta.
Rp 576.000.000.000.
Lima ratus tujuh puluh enam miliar rupiah.
Sherly hampir menjatuhkan kartu.
"Ada masalah?" tanya Hendry.
"Tidak, Pak. Maaf. Tidak." Sherly langsung duduk lebih tegak. Wajahnya berubah pucat. "Mohon tunggu sebentar. Saya... saya perlu memanggil atasan."
"Untuk cek saldo?"
"Untuk memastikan layanan Bapak sesuai prosedur prioritas tertinggi."
Kalimat itu terdengar terlalu formal karena ia sedang panik.
Di belakang Hendry, beberapa nasabah biasa mulai penasaran. Doni dari area VIP juga melihat ke arah loket, awalnya dengan malas. Ketika ia melihat Sherly berdiri terburu-buru membawa kartu hitam itu ke ruang belakang, senyumnya perlahan hilang.
Kurang dari satu menit, seorang pria berusia lima puluhan keluar dari ruang manajemen dengan langkah cepat. Jasnya rapi, wajahnya tegang. Sherly mengikutinya di belakang, masih memegang map.
"Pak Hendry Pratama?" pria itu langsung membungkuk sedikit. "Saya Kepala Cabang, Arman Wijaya. Mohon maaf karena Bapak harus menunggu di antrean umum."
Lobi bank mendadak sunyi.
Doni berjalan mendekat dengan wajah bingung. "Pak Arman, ada apa?"
Kepala Cabang menoleh. "Doni, siapa yang menangani Pak Hendry saat beliau datang?"
Doni membeku.
"Saya... saya hanya mengikuti prosedur. Beliau tidak membawa kartu priority cabang--"
"Kau mengecek CIF nasabah?"
"Belum, Pak."
"Kau mengecek saldo?"
"Belum."
"Jadi atas dasar apa kau mengusir nasabah dengan saldo prioritas tertinggi dari area VIP?"
Kata-kata `saldo prioritas tertinggi` jatuh seperti batu ke lantai marmer.
Wajah Doni langsung memutih.
Nasabah yang tadi tersenyum geli kini duduk tegak. Beberapa pegawai menunduk, pura-pura sibuk tetapi telinga mereka jelas mendengar semuanya.
"Pak Hendry," Kepala Cabang berkata dengan hormat, "mohon ikut ke ruang VIP. Semua kebutuhan transaksi Bapak akan kami layani langsung."
Hendry tidak bergerak.
Ia menunjuk Sherly. "Dia yang melayani saya."
Sherly terkejut. "Pak?"
Kepala Cabang langsung mengangguk. "Tentu. Mulai hari ini, Sherly Puspita akan menjadi personal relationship manager Bapak. Doni, mulai sekarang kau dibebastugaskan dari layanan VIP sampai evaluasi selesai."
Doni seperti ingin bicara, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Hendry berjalan melewatinya tanpa menoleh.
Di ruang VIP, kopi disajikan, tetapi Hendry tidak menyentuhnya. Sherly duduk di seberang meja dengan tablet bank, masih berusaha menenangkan napas.
"Pak Hendry, transaksi apa yang ingin Bapak lakukan?"
"Pertama, siapkan dana Rp 20 Miliar untuk proses escrow pembelian HAZE Club. Notaris akan mengirim dokumen hari ini."
Sherly mengetik cepat. "Baik, Pak."
"Kedua, saya butuh rekening koran dan mutasi terkait beberapa transaksi ke PT Daun Kreasi, vendor mereka, dan rekening atas nama Yudi Mulyadi."
Kepala Cabang yang berdiri di samping langsung serius. "Apakah ini terkait sengketa bisnis?"
"Terkait dugaan manipulasi pembayaran dan pengalihan dana vendor. Saya punya kuasa dari pihak terdampak."
Hendry mengirim dokumen digital yang sudah disiapkan Budiman: surat kuasa dari Jessica sebagai direktur PT Daun Kreasi, permintaan audit transaksi, dan daftar rekening terkait. Semua rapi. Semua legal.
Kepala Cabang memeriksanya, lalu mengangguk.
"Kami bisa memberikan data transaksi yang memang terkait rekening PT Daun Kreasi dan rekening yang memiliki hubungan pembayaran langsung. Untuk data pihak ketiga, kami lampirkan sesuai prosedur permintaan tertulis dan jejak transfer yang sah."
"Saya hanya perlu yang legal."
Sherly bekerja hampir dua puluh menit. Satu per satu file muncul: transfer kecil berulang ke vendor yang tiba-tiba dibatalkan, pembayaran dari rekening perantara ke orang dekat Yudi, dan rekaman CCTV ATM saat seseorang mengambil uang setelah transfer masuk.
Lalu satu file video muncul.
Sherly menatap Kepala Cabang. "Pak, ini dari permintaan arsip CCTV tanggal yang sama. Ada Yudi Mulyadi di mesin setor tunai."
Video diputar.
Di layar, Yudi Mulyadi terlihat jelas memasukkan uang tunai ke rekening perantara. Wajahnya tertangkap kamera. Tanggal dan jamnya cocok dengan hari vendor PT Daun Kreasi tiba-tiba membatalkan pengiriman.
Hendry tersenyum tipis.
Senyumnya datar.
Senyum pemburu yang akhirnya melihat jejak darah.
"Kirim semua salinan digital ke email ini. Simpan chain of custody internal. Jangan bocorkan ke siapa pun."
Kepala Cabang mengangguk cepat. "Tentu, Pak."
Sherly menyerahkan tablet untuk tanda tangan digital. "Pak Hendry, semua sudah diproses. Dan... terima kasih karena mempercayai saya."
"Kamu bekerja sesuai prosedur. Itu cukup."
Bagi Sherly, kalimat itu terasa lebih besar daripada pujian.
Ketika Hendry keluar dari ruang VIP, Doni masih berdiri di dekat pintu dengan wajah hancur. Ia menunduk dalam.
"Pak Hendry, saya minta maaf. Saya salah menilai."
Hendry berhenti sebentar.
"Jangan menilai orang dari sepatunya di bank. Nilai dari datanya."
Doni tidak berani mengangkat kepala.
Di luar gedung, Bagus yang bersandar di mobil langsung berdiri.
"Selesai, Pak Hendry?"
Hendry menatap folder digital di ponselnya. Mutasi rekening. Rekaman CCTV. Nama Yudi Mulyadi yang akhirnya punya bentuk, angka, dan waktu.
"Selesai."
"Kita makan?"
Hendry berjalan ke mobil. Matanya dingin, tetapi sudut bibirnya naik tipis.
"Sebentar lagi. Ada orang yang harus kubuat kehilangan selera makan dulu."
Ia membuka file video Yudi sekali lagi.
"Sekarang giliranmu, Yudi."