~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 AIR MATA
Lisa ingin tertawa lagi tetapi melihat sorot mata sang Grand Duke yang menajam, ia tahu diri dan langsung berdiri.
“Kalau begitu... saya akan pamit dulu, Grand Duchess,” ucap Lisa cepat, sedikit menunduk hormat dan melangkah mundur perlahan. “Ada... eh... urusan penting di dapur yang harus saya selesaikan.”
Pintu menutup pelan di belakangnya.
Kini tinggal mereka berdua.
Darian menatap Iris dengan tenang. Lalu ia berkata, “Kau kembali terlalu cepat ke meja kerjamu.”
Iris meletakkan penanya, lalu bersandar ringan pada sandaran kursi. “Kondisiku baik. Aku tidak pingsan selama dua minggu terakhir. Rekor pribadi yang membanggakan, bukan?”
Darian tidak menanggapi candanya.
Sebaliknya, ia melangkah pelan ke meja dan memandangi surat-surat yang tersebar rapi. “Kenapa tidak memintaku membantu menyortir laporan dari distrik perbatasan utara?”
Iris mengangkat alis, sedikit terkejut. “Kau sibuk. Lagipula... kau tak menyukai laporan yang bertele-tele.”
“Benar,” gumam Darian pelan. “Tapi aku lebih tidak menyukai saat kau lebih banyak tersenyum pada Lisa dibanding padaku.”
Iris terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. Suaranya jernih dan tenang.
“Darian,” ucapnya sambil berdiri, mendekatinya, “apakah itu... cemburu yang kudengar?”
Darian mengalihkan pandangannya, ekspresinya masih seperti batu pualam. “Itu bukan hal produktif.”
“Ya, tapi sangat manusiawi,” balas Iris sambil menyentuh lengannya perlahan. Sentuhan hangat itu membuat kulit dingin sang Panglima Tertinggi bereaksi sejenak.
Darian menatapnya. Sorot matanya tetap tajam, tapi nadanya melembut.
“Kalau aku mengetuk pintumu sepuluh kali dan kau tidak menyambut karena tenggelam dalam laporan ini... aku mungkin mulai menendang pintu.”
Iris terkekeh. “Kalau begitu, mungkin aku akan mengunci pintunya... agar aku bisa melihat ekspresi itu.”
Darian menggeleng pelan. “Jangan bermain api, Iris.”
“Kalau aku terbakar, pastikan kau yang memadamkannya.”
Keheningan mengalir di antara mereka. Hangat. Dalam.
Darian kemudian mendekat, mengusap perut Iris yang kini lebih membulat dengan telapak tangannya yang besar namun lembut.
“Sebaiknya kau beristirahat,” katanya. “Untukmu. Dan untuk... dia.”
Iris menatapnya lembut. “Tapi... pekerjaanku belum selesai.”
“Biarkan aku membantumu.”
“Darian... kau benar-benar akan duduk dan membaca keluhan Countess tentang patung air mancur?”
Darian menatapnya datar. “Kalau patung itu hancur karena ledakan atau pemberontakan, ya.”
Iris menahan tawa. “Baiklah. Tapi kau harus membacanya dengan ekspresi serius.”
Darian menatapnya lama, lalu mengnoduk pelan.
“Selama kau duduk di sisiku.”
Iris menatap ke luar jendela, ke arah taman istana yang mulai bermekaran dengan bunga-bunga musim semi. Angin sore berembus lembut membawa aroma segar. Langit berwarna keemasan, dan daun-daun muda berkilau di bawah sinar mentari.
“Bagaimana kalau... kita keluar sebentar?” katanya pelan. “Aku ingin merasakan udara segar.”
Darian memiringkan kepala. “Kau ingin berjalan-jalan?”
Iris mengnoduk. “Ya. Kau tahu, sebelum perutku menjadi sebesar gerobak dan aku hanya bisa duduk seperti putri naga di atas bantal-bantal empuk.”
Darian menghela napas kecil. “Kau terlalu banyak membaca dongeng.”
“Tapi kau menyukaiku bahkan ketika aku mengigau tentang naga. Itu artinya cinta.”
Tak lama kemudian, Iris muncul di lorong dengan gaun bludru warna anggur tua yang menonjolkan siluet anggunnya. Rambut peraknya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helaian yang melambai lembut di sekitar pelipis. Meski kehamilannya baru menginjak bulan keempat, perutnya sudah mulai terlihat, membuat aura kebangsaannya semakin terpancar. Anggun, kuat, namun lembut.
Darian sudah menunggunya di kaki tangga, mengenakan kemeja putih bersih dan jas abu gelap yang berpotongan rapi. Penampilannya gagah seperti biasa, namun sore ini... ada kehangatan yang berbeda di wajahnya.
“Jika semua jenderal tampan seperti ini, tak heran banyak perempuan ingin transmigrasi ke dunia kerajaan,” gumam Iris setengah bercanda.
Darian menatapnya, lalu mengulurkan tangan. “Kalau aku tahu kau akan secantik ini, aku akan memesan seluruh taman agar kosong.”
“Terlalu dramatis. Tapi kau benar-benar tahu cara membuat wanita merasa seperti ratu,” ujarnya sambil menerima tangan itu.
Mereka berjalan perlahan menyusuri jalur batu taman utama Kastil Ravengard, melewati kolam bundar tempat angsa putih berenang dengan tenang. Pohon-pohon sakura liar mekar sempurna di kedua sisi, menjatuhkan kelopak lembut yang mengapung tertiup angin.
Beberapa pelayan yang tengah menyiram tanaman dan menjaga halaman sempat menghentikan aktivitas mereka. Mata mereka mengikuti langkah tenang pasangan kerajaan itu dengan hormat, dan mungkin... sedikit takjub. Grand Duke yang dingin dan Duchess yang dahulu misterius, kini berjalan berdampingan dengan kehangatan yang begitu nyata.
“Lihat mereka...” bisik seorang pelayan muda.
“Seperti lukisan hidup,” timpal yang lain.
Darian tidak menggubris. Namun tangannya sedikit menggenggam jemari Iris lebih erat.
“Kau sadar,” ucap Iris pelan, “kalau berjalan bersamamu di taman seperti ini bisa membuat seluruh istana berbisik selama dua minggu.”
“Biarkan mereka berbisik. Mereka tidak tahu apa yang kurasakan saat melihatmu seperti ini.”
Iris menoleh. “Seperti apa?”
“Seperti musim semi yang datang terlalu cepat. Menyulitkan. Tapi tak bisa ditolak.”
Iris terkekeh. “Darian... itu puisi?”
“Jangan terlalu berharap. Aku hanya panglima perang, bukan penyair istana.”
Mereka tertawa kecil bersama. Angin sore membawa tawa itu menjauh, mengusir sepi dari taman yang selama ini terlalu sunyi.
Darian kemudian menghentikan langkahnya di sebuah bangku batu yang menghadap ke danau kecil. Ia menoleh ke Iris.
“Duduklah. Kau sudah cukup berjalan.”
“Memerintah lagi?” goda Iris, namun ia menurut. Ia duduk perlahan, membiarkan punggungnya bersandar.
Darian duduk di sampingnya. Tangannya masih menggenggam jemari Iris.
“Iris,” katanya pelan.
“Hm?”
“Boleh aku mengatakan sesuatu yang... bodoh?”
Iris menoleh, wajahnya lembut. “Tentu.”
Darian menarik napas. “Aku... kadang takut. Bahwa semua ini terlalu indah. Terlalu rapuh. Aku... tidak tahu bagaimana cara melindungi sesuatu yang begitu lembut sepertimu.”
Iris mengatupkan bibirnya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Darian.
“Lalu jangan lindungi. Cukup temani aku. Di setiap musim. Itu saja sudah cukup.”
Darian memejamkan mata sejenak. Lalu mengangguk pelan.
“Baiklah. Kalau begitu... janji.”
“Janji,” balas Iris.
Dan sore itu, di bawah langit emas musim semi, Ravengard untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun terasa hidup kembali berkat dua hati yang perlahan mulai saling menyembuhkan.
Malam turun perlahan di atas Ravengard, membawa keheningan yang nyaris sakral. Tirai-tipis berwarna gading bergoyang pelan di jendela, diterpa angin malam musim semi yang lembut dan harum. Cahaya lampu minyak menyala temaram di sisi tempat tidur berkanopi tinggi, memantulkan bayangan halus di dinding batu yang hangat.
Darian sudah tertidur.
Lelaki itu terlelap di sisi kirinya, satu tangannya masih melingkar di atas perut Iris, seperti perisai diam yang tak pernah lepas sejak mereka kembali dari taman. Napasnya berat dan tenang, dada bidangnya naik-turun perlahan, bibirnya sedikit terbuka.
Iris tetap terjaga.
Matanya menatap ke langit-langit ukiran, kosong. Tapi pikirannya riuh. Berat. Ada kegelisahan samar yang menggerogoti ketenangan malam ini, seperti bisikan kecil yang terus menyenggol dari dasar jiwa.
Tangannya yang bebas mengelus pelan perutnya yang membuncit. Gerakan halus. Lembut. Penuh keraguan.
“Maafkan aku...”
Bisikan itu nyaris tak terdengar, seperti doa patah yang terselip di antara desahan angin.
“Maaf... karena aku bukan dia. Bukan Iris yang seharusnya...”
Ia menoleh perlahan ke arah Darian. Laki-laki itu masih tidur dengan tenang, jari-jarinya yang kasar namun hangat menempel erat di sisi perutnya. Posisi yang sama sejak mereka berbaring, seolah tubuhnya tahu bahwa sesuatu yang penting sedang tumbuh di sana.
“Darian... kalau kau tahu... bahwa jiwa perempuan di sampingmu ini... bukan istrimu yang dulu, bukan darah bangsawan, bukan bagian dari istanamu... apakah kau masih akan memandangku seperti saat di taman tadi?”
Iris mengatup bibirnya, menahan gejolak di dadanya.
“Aku tak tahu bagaimana aku bisa berada di tubuh ini... Tapi sejak hari pertama aku membuka mata sebagai dia, semuanya terlalu nyata. Kamar ini, rasa dari teh lavender yang diseduh Lisa, suara langkah Darian di koridor... bahkan rasa sakit di perutku saat bayi ini bergerak.”
Tangannya memijat pelan sisi perutnya. Seketika, ada gerakan kecil dari dalam. Tendangan ringan. Disusul gerakan memutar seperti gelombang kecil.
“Kau mendengarku ya, Nak?” lirihnya.
Ia tersenyum lemah, menahan rasa nyeri halus yang mulai menjalar. Bayi itu sedang aktif. Lebih dari biasanya. Mungkin ikut merasakan kegundahan ibunya.
“Maaf... Aku tidak bermaksud membuatmu gelisah. Aku hanya... aku hanya bingung. Seharusnya aku tidak terbiasa. Tidak sebahagia ini. Tapi... semakin lama aku tinggal di tubuh ini, semakin sulit rasanya berpura-pura tidak peduli. Aku mulai memikirkan apa yang kau suka nanti. Apa warna rambutmu. Apakah kau akan memiliki mata tajam seperti Ayahmu, atau senyum pelan seperti Lisa bilang aku miliki.”
Gerakan itu terasa lagi. Lebih kuat kali ini. Iris meringgis dan menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sejenak, menahan rasa tak nyaman yang tiba-tiba menghujam sisi bawah perutnya.
“Astaga... kau benar-benar aktif malam ini.”
Darian bergumam dalam tidurnya, tubuhnya bergerak sedikit, namun tangannya tetap di tempat yang sama melindungi.
Iris menoleh lagi ke wajah suaminya. Terlihat begitu damai. Tak ada kecurigaan. Tak ada kemarahan. Lelaki yang terkenal sebagai Grand Duke kejam, yang ditakuti di medan perang, kini tertidur dengan tenang... di samping seorang wanita yang bukan istri aslinya.
“Aku takut, Darian...” bisik Iris. “Aku takut suatu hari kau tahu kebenarannya. Dan semua ini akan hancur. Perasaan ini... rumah ini... bayi ini...”
Ia menarik napas dalam-dalam. “Tapi lebih dari itu, aku takut kehilangan semuanya. Kehilanganmu.”
Ia memeluk perutnya dengan kedua tangan sekarang, seperti berusaha merangkul dunia kecil yang sedang tumbuh di dalamnya.
“Kau tahu, Sayang... aku tidak pernah berpikir bisa mencintai bayi dalam rahim yang bahkan bukan milikku sejak awal. Tapi entah bagaimana, setiap kali kau bergerak... setiap kali aku memikirkan nama untukmu... ada bagian dari diriku yang ikut tumbuh bersamamu.”
Ia tersenyum, meski matanya mulai basah.
“Aku bahkan... mulai membayangkan seperti apa suara tangismu nanti. Apakah kau akan memanggilku Ibu... meski aku bukan siapa-siapa di dunia ini selain roh yang tertukar.”
Iris menunduk, mencium lengan tangan Darian yang masih di perutnya. Lalu membisikkan sesuatu, sangat pelan.
“Aku tahu mungkin suatu hari nanti kau akan tahu semuanya. Dan jika hari itu datang... dan kau memilih untuk membenciku, aku akan menerimanya. Tapi tolong... jangan benci anak ini. Dia tak bersalah.”
Tiba-tiba gerakan dari dalam perut makin terasa. Iris menahan napas. Rasa sakit itu muncul lagi lebih tajam, menusuk dari sisi ke bawah. Ia meringkuk sedikit, menahan rasa tak nyaman.
Darian menggeliat dalam tidurnya, kali ini benar-benar membuka matanya. Butuh beberapa detik baginya untuk sadar.
“Iris?”
Suara itu berat. Serak. Tapi begitu mendengar nada pelan itu, air mata Iris yang tertahan akhirnya jatuh.
“Aku... baik-baik saja. Hanya sedikit... kram. Mungkin karena terlalu banyak berjalan sore tadi.”
Darian bangkit sedikit, duduk di sisinya dan menyentuh wajahnya.
“Kau menangis.”
Iris menggeleng. “Hormon kehamilan. Kau tahu, kadang kami menangis hanya karena roti yang terlalu renyah.”
Darian tidak tertawa. Ia menatapnya dalam. “Kau gemetar.”
“Aku hanya... berpikir terlalu banyak. Tentang masa depan.”
Darian diam. Ia mengelus pipi Iris, lalu menunduk dan mengecup lembut dahinya.
“Tak ada yang bisa kau pikirkan sendirian. Apapun itu, bagilah bersamaku. Karena kau... adalah satu-satunya masa depan yang kuinginkan.”
Kata-kata itu merobek pertahanan terakhir Iris. Ia menangis pelan, tubuhnya gemetar dalam pelukan suaminya.
Dan di dalam perutnya, bayi itu kembali bergerak. Tapi kali ini... dengan tenang. Seolah tahu bahwa di balik semua kebingungan dan rahasia, ada cinta tulus yang tumbuh di antara keheningan malam.