Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dua Mata di Puncak Awan Hitam
Angin malam di Puncak Awan Hitam berhembus cukup kencang, mengarak kabut tipis yang menyelimuti Istana Awan Hitam. Dedaunan pohon pinus purba bergesekan pelan, menciptakan nada sunyi di atas tebing terjal yang terisolasi dari keramaian murid sekte lainnya.
Di pelataran batu istana, Zhao Gou berdiri membelakangi pintu utama. Jubah murid inti berwarna hitam yang dikenakannya melambai lembut tertiup angin malam. Topeng kain hitam masih terikat rapi di wajahnya, menutupi separuh parasnya dan hanya menyisakan rahang tegas serta sepasang mata berwarna ungu keemasan yang jernih.
Langkah kaki yang sangat halus dan ragu-ragu terdengar menaiki anak tangga batu terakhir.
Zhao Gou tidak membalikkan badan, namun sudut bibirnya di balik topeng mengukir garis senyuman dingin. Tanpa perlu menoleh, aura sensitif dari Tulang Naga Kuno milik dirinya telah menangkap wewangian bunga anggrekin dan getaran energi Qi es yang sangat khas.
Xie Yanfeng tiba di puncak. Gaun putih saljunya sedikit ternoda oleh embun malam. Wajah cantiknya yang biasa dipuji bagaikan dewi tanpa cela kini tampak pucat, dan matanya yang jernih memancarkan campuran rasa takut, penasaran, dan penyesalan yang amat mendalam.
"Puncak Awan Hitam adalah area terlarang bagi murid lain di luar jam latihan," suara Zhao Gou meluncur pelan, berat dan bergetar halus oleh penyaluran Qi. "Nona Xie dari Klan Xie, keberanianmu cukup besar untuk menyusup ke tempatku di tengah malam."
Xie Yanfeng menghentikan langkahnya sepuluh tindak di belakang Zhao Gou. Tangannya yang mulus mengepal di balik lengan gaunnya yang lebar. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh kencang.
"Aku datang bukan untuk mencari masalah, Saudara Muda Xiao Long," ujar Xie Yanfeng, suaranya terdengar merdu namun bergetar pelan. "Aku hanya ingin mencari satu jawaban dari pertanyaan yang terus menggerogoti pikiranku."
Zhao Gou perlahan membalikkan badannya. Mata berwarna ungu keemasan dari balik topeng kain itu menatap lurus ke dalam manik mata Xie Yanfeng. Tatapan yang begitu dingin, dalam, dan tak terukur—bagaikan menatap jurang maut tanpa dasar.
"Pertanyaan?" Zhao Gou terkekeh pelan. "Apakah tanya jawab adalah hal yang biasa dilakukan oleh seorang dewi berdarah dingin dari Klan Xie?"
Mendengar nada ejekan tersebut, dada Xie Yanfeng berdesir hebat. Nada bicara itu, cara berdiri itu, dan rasa intimidasi tak kasat mata ini terasa begitu asing, namun di saat yang sama memicu ingatan kelam di dalam benaknya.
"Siapa kau sebenarnya?" bisik Xie Yanfeng, matanya mulai memerah oleh gejolak emosi yang tertahan. "Apakah kau... Zhao Gou?"
Keheningan seketika membekukan pelataran batu tersebut. Angin malam seolah berhenti berhembus saat nama itu diucapkan di udara terbuka.
Zhao Gou tidak terkejut. Ia justru melangkah maju dua tindak, mendekati Xie Yanfeng. Setiap pijakan kakinya di atas lantai batu melepaskan pendaran aura keemasan tipis yang membuat tekanan udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat berat.
"Zhao Gou?" Zhao Gou memiringkan kepalanya sedikit, suaranya sarat akan sindiran yang amat tajam. "Maksudmu pemuda dari keluarga miskin yang pertunangannya dibatalkan secara hina di rumah panggung reot tiga minggu lalu? Pemuda yang kau sebut hidup di dunia yang berbeda denganmu?"
Xie Yanfeng terperanjat mundur satu langkah, napasnya tertahan di tenggorokan. Konfirmasi terselubung itu menghantam jiwanya bagaikan godam raksasa!
"Kau... itu benar-benar kau..." air mata dingin menetes dari sudut mata Xie Yanfeng. Wajahnya kian pucat pasi. "Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin kau bisa berubah menjadi seperti ini dalam waktu singkat?"
"Mengapa tidak mungkin?" Zhao Gou melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ia berdiri tepat di hadapan gadis itu. Hawa panas dari Darah Naga di tubuhnya menguar tajam, bertabrakan dengan aura es milik Xie Yanfeng.
"Kau dan keluargamu memandang dunia kultivasi ini hanya dari kemewahan, batu spirit, dan status klan," bisik Zhao Gou dingin, menatap lurus ke mata gadis yang gemetaran di hadapannya. "Kalian mengira dengan menginjak-injak orang lemah, kalian akan menjadi penguasa abadi. Kau datang ke rumahku membawa kehinaan, menyaksikan orang tuaku menunduk demi menyelamatkanku, dan kau membuang pertunangan itu bagaikan membuang sampah tak berharga!"
"Aku... aku tidak bermaksud mempermalukan orang tuamu!" potong Xie Yanfeng dengan suara emosional yang pecah, bibirnya gemetaran. "Orang tuaku yang mendesak pembatalan itu! Aku hanya... aku hanya naif dan mengira bahwa memutus hubungan adalah hal terbaik agar klan kami tidak terseret ke dalam masalah keluargamu!"
"Hal terbaik?" Zhao Gou tertawa keras—sebuah tawa yang sarat akan kepahitan dan kebuasan yang membakar. "Kalian melempar lima puluh batu spirit murah ke wajah ayahku dan menyebutnya sebagai keputusan terbaik?! Kau menyebut dirimu dewi yang anggun, Xie Yanfeng, tapi di mataku... kau hanyalah boneka polos yang tidak memiliki empati sedikit pun pada penderitaan orang lain!"
Setiap kata yang meluncur dari mulut Zhao Gou terasa bagaikan belati tajam yang merobek dada Xie Yanfeng. Gadis yang selama ini disanjung dan dibesarkan dalam pujian itu kini merasa sangat kecil, kotor, dan penuh dosa di hadapan pemuda di depannya.
"Aku tahu... aku tahu keluargaku salah!" jerit Xie Yanfeng pelan, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulus. "Kakak Lin telah hancur kultivasinya, klan kami telah menjadi lelucon di Kota Awan Biru, dan kau telah membalas kami! Apakah semua penderitaan ini belum cukup untuk memadamkan amarahmu, Zhao Gou?!"
Zhao Gou menatap tangisan Xie Yanfeng tanpa sedikit pun kilatan belas kasihan di matanya. Rasa sakit yang dirasakan ibunya saat menangis di dapur dan rasa perih di paru-paru ayahnya yang terluka selama tiga tahun jauh lebih berat dari sekadar air mata seorang gadis yang terdesak.
Bum
Zhao Gou mendadak melepaskan sebagian kecil aura Qi Naga Kuno dari dalam tubuhnya!
Tekanan aura dominasi yang amat sangat dahsyat meledak secara mendadak, menindih pundak Xie Yanfeng bagaikan bobot seluruh gunung batu!
"Ngh!"
Xie Yanfeng tidak sanggup menahan tekanan luar biasa tersebut. Kedua lututnya yang gemetaran terhempas keras ke atas lantai batu pualam, memaksanya berlutut di hadapan Zhao Gou di bawah pendaran cahaya rembulan!
Zhao Gou menundukkan kepalanya, menatap turun pada dewi yang kini berlutut pasrah di bawah telapak kakinya.
"Penderitaan kalian baru saja dimulai, Xie Yanfeng," bisik Zhao Gou dengan suara yang bergema bagaikan guntur di dasar bumi. "Darah Esensi Kuno yang ditelan sepulumu adalah harga awal. Klan Xie yang mengandalkan kejahatan untuk berkembang akan melihat seluruh pondasinya runtuh batu demi batu."
Xie Yanfeng mendongak dengan tubuh gemetaran hebat, menatap sepasang mata berwarna ungu keemasan di balik topeng hitam itu. "Lalu... apa yang ingin kau lakukan padaku? Apakah kau ingin membunuhku di sini?"
Zhao Gou mengangkat tangan kirinya, jemarinya secara perlahan meraba dagu Xie Yanfeng, memiringkan wajah cantik gadis itu ke atas. Sentuhan kulit tangan Zhao Gou terasa begitu panas membakar, membuat saraf Xie Yanfeng membeku oleh rasa takut dan sensasi aneh yang tak terjelaskan.
"Membunuhmu terlalu mudah dan tidak berguna," ujar Zhao Gou dingin, menarik kembali tangannya dengan santai. "Tetaplah hidup, Xie Yanfeng. Masuklah ke dalam Sekte Awan Langit, capailah puncak kultivasi yang kau impikan, dan saksikan dari dekat bagaimana anjing yang dulu kau hinakan ini meratakan seluruh musuh-musuhnya."
Zhao Gou membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam Istana Awan Hitam tanpa menoleh kembali.
"Ingat posisi berlututmu malam ini," suara Zhao Gou bergema dari dalam istana sebelum pintu kayu tebal itu tertutup rapat. "Karena saat saatnya tiba... kau dan klanmu akan memohon ampun pada setiap tetes darah yang telah dialirkan orang tuaku."
Brak
Pintu istana tertutup rapat, dan tekanan aura yang menindih tubuh Xie Yanfeng mendadak lenyap tanpa sisa.
Xie Yanfeng terduduk lemas di atas lantai batu yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil terisak pelan. Penyesalan yang teramat sangat besar kini mengunci jiwanya. Ia tahu, tidak ada jalan kembali dari takdir berdarah yang telah mereka ukir sendiri.
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
ttp semangt...💪💪💪
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
adu taktik...bikan tiktok...